Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Performa Itik yang diberI Pakan Silase lImbah Sayuran Pasar (The Ducks Performance fed by Silage Vegetable Waste) S. Herijanto; . Supranoto; E. Tugiyanti
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.249 KB) | DOI: 10.20956/jitp.v5i2.3070

Abstract

Duck is monogastric that have higher ability to digest cellulose than other fowl, so there is a possibility that vegetable waste, which high fber content, can be used as feed. The objective of the research was to evaluate the performance of male duck fed by vegetable waste silage. The materials used were 75 male ducks of 3 to 4 week old (average body weight of 275-336g). The study was carried out according to completely randomized design, which consisted of fve treatments and three replications. The treatments were control, dried vegetable, vegetable waste fermentated with Lactobacillus casei, vegetable waste fermentatied with 20% cassava and 20% rice bran, and vegetable preserved with KMnO4, there were fve ducks in each experimental unit. Male ducks werefed on 16% protein and 2,900 ME kcal/kg with vegetable waste as much 20% for 13 weeks. Results showed that the use of vegetable waste in the ration signifcantly affected the body weight but had no effects on carcass percentage, liver percentage, and blood cholesterol. The highest ducks body weight 1,243.9 ± 33.4 g fed with vegetable waste fermentation with Lactobacillus casei, the best carcass percentage 64.85 ± 1.09% fed with dried vegetable, the highest liver percentage 2.6 ± 0.3% fed with 20% cassava and 20% rice bran, and the lowest blood cholesterol 137.04 ± 27.96mg/dl fed with vegetable preserved with KMnO4 . In conclusion, male duck fed with vegetable waste
Klasifikasi Linier pada Sapi Perah S. Herijanto; W. Hardjosubroto; J. Maria Astuti
Buletin Peternakan Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v20i1.1684

Abstract

Artikel dalam bentuk PDF
Carcass Production and Meat Tenderness Characteristics of Culled Quail Fed with Azolla microphylla Flour Supplemented Basal Feed Elly Tugiyanti; Soegeng Herijanto
Buletin Peternakan Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v42i4.36368

Abstract

The aim of this research was to understand the effect of Azolla microphylla flour supplementation in the basal feed on carcass production and meat tenderness characteristics of culled quail. The materials used in this research were 100 culled quails at 48-week-old age and commercial quail feed. The research was conducted as an experimental research and used Completely Randomized Design. Four treatments were done in this research, which was basal feed without Azolla microphylla flour supplementation; basal feed supplemented with 1% Azolla microphylla flour; basal feed supplemented with 2% Azolla microphylla flour, and basal feed supplemented with 3% Azolla microphylla flour. Each treatment was done 4 times with each fed into 5 quails. The observed variables include carcass production (carcass percentage, breast meat percentage, thigh meat percentage, back meat percentage, and wing meat percentage) and meat tenderness characteristics (meat fat content, collagen content, pH and meat tenderness). The obtained data were then analyzed by analysis of variance and if the result showed a significant effect, further analysis will be done by honestly significant difference test. The analysis of variance showed that Azolla microphylla flour supplementation showed significant effect (P<0.05) on the carcass percentage, breast meat percentage, meat fat content, collagen content, and meat tenderness but showed no significant effect (P>0.05) on the thigh meat percentage, back meat percentage, wings meat percentage and meat pH. The research concluded that Azolla microphylla flour supplementation in the basal feed will increase carcass production and meat tenderness of culled quail meat at maximum 2% of supplementation level.    
TINGKAT KEASINAN DAN UJI ORGANOLEPTIK TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU PERENDAMAN YANG BERBEDA Umbang Arif Rokhayati; Soegeng Herijanto
Jambura Journal of Animal Science Vol 4, No 1 (2021): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v4i1.11429

Abstract

The purpose of this study was to determine the organoleptic value of salty taste in eggs soaked in salt solution with different soaking times. The materials used in this study were 90 eggs, rubbing ash and crust salt (table salt). The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. The parameters observed in this study were the organoleptic value and salinity level. The results showed that the duration of soaking eggs in a salt solution had a significant effect on the organoleptic value and salinity of the eggs (P 0.05) on the organoleptic value and the salinity level of the panelists preferred the results of soaking in a salt water solution with a long soaking time of 12 days.
Manipulasi Pola Pemberian Pakan Ternak untuk Peningkatan Kinerja Produksi Kambing Peranakan Etawa (PE) Soegeng Herijanto; Eko Nurwantini
Media Peternakan Vol 19, No 2 (2017): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.172 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui kinerja produksi kambing yang dipelihara dengan frekuensi dan waktu pemberian pakan pada siang dan malam hari. Materi penelitian menggunakan 16 ekor kambing PE jantan umur 6 sampai 10 bulan dengan bobot badan l6 sampai 35 kg. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lcngkap, sebagai perlakuan adalah Waktu pemberian pakan pada siang hari, dan frekuensi pemberian satu kali (jam 06.00) (P1), Waktu pemberian pakan pada siang hari, dan frekuensi pemberian dua kali (jam 06.00 dan 13.00) (P2), Waktu pemberian pakan pada malam hari, dan frekuensi pemberian satu kali (jam 18.00) (P3 ), dan Waktu pemberian pakan pada malam hari, dan frekuensi pemberian duau kali (jam 18.00 dan 22.00) (P4). Setiap perlakuan diulang empat kali, dan setiap ulangan menggunakan satu ekor kambing. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis kovariansi, dan sebagai kovariat adalah bobot badan awal. Hasil penelitian diperoleh rataan pertambahan bobot badan sebesar 1,94kg, rataan pertambahan lingkar dada sebesar l,5 cm, rataan pertambahan panjang badan sebesar 1,44cm, rataan pertambahan tinggi badan sebesar 0,44cm, dan konversi pakan sebesar 67,75. Berdasarkan hasil analisis kovariat diketahui bahwa frekuensi dan waktu pemberian pakan yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan, pertambahan lingkar dada, pertambahan panjang badan, pertambahan tinggi badan, dan konversi pakan. Simpulan hasil penelitian adalah pemberian pakan satu kali pada siang hari memberikan hasil pertambahan bobot badan, pertambahan lingkar dada dan konversi pakan terbaik. Kata kunci: Kambing PE jantan, pola pemberian pakan, kinerja
PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI SUSU KAMBING TERHADAP AROMA DAN WARNA PADA SABUN PADAT Elin Melinda; Soegeng Herijanto; Fani Dwi Evadewi
Media Peternakan Vol 24, No 1 (2022): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.283 KB)

Abstract

Penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Susu Kambing Terhadap Aroma dan Warna Pada Sabun Padat” telah dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2022 sampai dengan tanggal 09 Maret 2022 di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan susu kambing terhadap aroma dan warna pada sabun padat. Salah satu bahan tambahan alami pembuatan sabun adalah susu kambing, dimana kandungan protein dan lemak di dalam susu kambing mempunyai manfaat untuk kulit yaitu dapat mencerahkan dan melembabkan kulit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji sifat fisik sabun padat meliputi uji organoleptik yaitu pengujian menggunakan penilaian indera dengan memanfaatkan panca indera manusia pada aroma dan warna sabun. Hasil penelitian menunjukkan penambahan konsentrasi susu kambing setiap perlakuan berpengaruh terhadap aroma dan warna pada sabun padat. Kata kunci : sabun padat, susu kambing, aroma dan warna
KAJIAN SISTEM PERKANDANGAN (CLOSE HOUSE DAN TRADISIONAL) TERHADAP PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER Ahmad Musofa; Soegeng Herijanto; Citopartusi Margaluna Purnama Tjahyani
Media Peternakan Vol 23, No 1 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.757 KB)

Abstract

       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem perkandangan (close house dan tradisional) terhadap penghasilan peternak ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tetap tertinggi pada sistem closed house berturut-turut adalah biaya peralatan 53,97%, biaya penyusutan kandang 25,97%, penyusutan gudang 14,03%, bangunan listrik 4,51%, dan tendon air 1,50%. Sedangkan pada peternak tradisional berturut-turut dari tertinggi adalah biaya kandang 67,79%, biaya peralatan 24,48%, gudang 6,61%, dan tendon air 1,11%.       Proporsi biaya variabel tertinggi pada kedua kelompok peternak adalah biaya pakan, biaya DOC, tenaga kerja, listrik, medicine dan bahan bakar. Proporsi biaya variabel pada kedua kelompok lebih dari 97 % dari total biaya. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh peternak ayam pedaging yang menggunakan sistem close house lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem tradisional.       Pendapatan per periode produksi yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan sistem close house Rp34.323.888 lebih tinggi bila dibandingkan dengan peternak sistem tradisional Rp16.790.140. Demikian juga rasio antara penerimaan dengan biaya (R/C) bahwa pada usaha peternakan ayam pedaging dengan sistem close house lebih tinggi (1,16) bila dibandingkan dengan pada sistem tradisional (1,09). Secara keseluruhan penghasilan yang diterima sebesar Rp134.004.925 untuk kandang dengan sistem close house, dan Rp122.559.536,01 untuk kandang tradisional.Kata kunci: ayam broiler, sistem close house, sistem tradisional, penghasilan, pendapatan 
RENDEMEN DAN TINGKAT KESUKAAN KEJU SEGAR DENGAN PENAMBAHAN JUS TERONG BELANDA SEBAGAI PENGASAM Yani Karlina; Soegeng Herijanto; Sulistyaningtyas -
Media Peternakan Vol 23, No 1 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.386 KB)

Abstract

Keju merupakan bahan makanan hewani yang dikenal luas dan digemari di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jus terong Belanda pada berbagai konsentrasi terhadap rendemen dan tingkat kesukaan keju segar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan konsentrasi jus terong Belanda yaitu P1 = 6%, P2 = 12%, dan P3 = 18 persen. Parameter yang diamati adalah rendemen dan tingkat kesukaan warna, aroma dan rasa keju segar. Hasil Analisa menunjukkan bahwa penambahan jus terong Belanda dengan konsentrasi 6%, 12% dan 18% berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap tingkat kesukaan warna, aroma dan rasa keju segar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi jus terong Belanda menghasilkan warna, aroma dan rasa keju segar yang disukai, namun disarankan menggunakan konsentrasi jus terong Belanda 6 persen untuk mendapatkan rendemen yang terbaik. Kata kunci : terong Belanda, rendemen, tingkat kesukaan, keju segar
SKEMA OPTIMALISASI RESPON TRANSFER EMBRIO SAPI : ANALISIS DESKRIPTIF MANAJEMEN KELOMPOK TERNAK DONOR DAN RESIPIEN Citopartusi Margaluna Purnama Tjahyani; Soegeng Herijanto; Yanita Mutiaraning Viastika
Media Peternakan Vol 23, No 2 (2021): Media Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.08 KB)

Abstract

Optimalisasi keberhasilan program Transfer Embrio (TE) dapat diupayakan dengan manajemen ternak donor dan resipien melalui rangkaian kegiatan primer; sehingga responsif terhadap perlakuan superovulasi dan dapat digunakan untuk TE. Menurut Tuti (1997) PGF2a dapat meningkatkan kualitas korpus luteum (CL) pada hewan yang mempunyai intensitas estrus rendah (83%), di bawah kondisi alamiah; Kualitas CL meningkat pada 14 dari 18 sapi (77%) yang memiliki kualitas CL kurang baik dibawah kondisi normalnya. Dengan demikian, deteksi kualitas CL tujuh hari setelah estrus disamping pengamatan intensitas estrus adalah penting untuk mempersiapkan resipien TE. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diketahui bahwa respon sinkronisasi estrus dapat distimulasi dengan injeksi PGF2a satu kali, atau dua kali dengan interval 11 - 12 hari; Respon superovulasi adalah optimum jika dimulai pada hari ke-9 dengan injeksi tunggal PMSG, atau injeksi berulang maupun tunggal FSH selama empat hari berturut-turut hingga hari ke-12 dari siklus estrus sapi karena berlangsung di dalam stadium bifase. Pada stadium bifase biasanya tumbuh folikel-folikel dominan yang tidak pernah berovulasi sehingga akan berdegenerasi dan menjadi folikel-folikel atresi. Selanjutnya, inseminasi buatan (IB) dilakukan pada hari ke-14 dari siklus estrus, tanpa pengamatan estrus (jika injeksi PGF2a dua kali masing-masing satu dosis) dan dengan pengamatan estrus (jika injeksi PGF2a satu kali dengan satu dosis). Kata kunci : superovulasi dan TE, optimalisasi manajemen, sapi, donor, resipien Abstract Optimizing the success of the Embryo Transfer (ET) program can be pursued by managing donor and recipient livestock through a series of primary activities; so it will be responsive to superovulation treatment and can be used for ET. According to Tuti (1997) PGF2a could improve the quality of the corpus luteum (CL) in animals that have low estrus intensity (83%), under natural conditions; CL quality improved in 14 of the 18 cows (77%) that had poor CL quality under normal conditions. Thus, detection of CL quality seven days after estrus in addition to observing the intensity of estrus was important for preparing ET recipients. Based on the results of the descriptive analysis, it is known that the estrus synchronization response can be stimulated by injection of PGF2a once, or twice with an interval of 11 - 12 days; The superovulatory response was optimum when started on day 9 with a single injection of PMSG, or repeated nor single injection of FSH during four consecutive days until day 12 of the bovine estrus cycle because it took place in the biphase stage. In the biphase stage, dominant follicles that never ovulate will usually degenerate and become atretic follicles. Furthermore, artificial insemination (AI) was performed on day 14 of the estrus cycle, without observation of estrus (if PGF2a injection was twice with one dose of each) and with observation of estrus (if PGF2a injection was once with one dose). Keywords : superovulation & ET, optimization of management, cattle,donor, recipient
ARAH PENELITIAN PERUBAHAN IKLIM PADA PRODUKSI TERNAK: ANALISIS BIBLIOMETRIK Supranoto, Supranoto; Sukmaningsih, Tri; Herijanto, Soegeng; Tuswati, Sari Eko; Setyaningrum, Nuning
STOCK Peternakan Vol 5, No 2 (2023): Stock Peternakan
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/sptr.v5i2.1073

Abstract

Analisis bibliometrik tentang penelitian perubahan iklim dalam produksi ternak menyoroti pentingnya memahami dampak perubahan iklim terhadap produksi ternak dan perlunya strategi adaptasi. Analisis mengkaji tren dan arah penelitian selama dua dekade terakhir dari tahun 2003 sampai 2022. Studi mengidentifikasi fokus penelitian, produktivitas publikasi, dan kesenjangan dalam penelitian. Metodologi yang digunakan adalah mencari artikel yang diekstraksi dan dibangun pada platform Scopus. Pencarian data diperoleh menggunakan program Harzing’s Publish or Perish (PoP).  Kata kunci yang digunakan adalah “climate change” OR “climate changes” AND “livestock production”. Hasil pencarian disimpan dalam format RIS/Refmanager dan format CVS, untuk selanjutnya dataset ditarik menggunakan program Mendeley Desktop, Excel, dan VOSviewer 1.6.19. untuk dianalisis. Hasil analisis bibliometrik pengaruh perubahan iklim terdapat produksi ternak didapatkan 973 artikel,  2.653 kata kunci yang membentuk 10 klaster tema artikel. “Climate Change” merupakan jurnal yang banyak mempublikasikan artikel perubahan iklim kaitannya dengan produksi ternak. Beberapa jurnal yang berpengaruh adalah "Climate Change," "Animals," "Animal Production Science," dan "Livestock Research for Rural Development." Artikel-artikel yang banyak disitasi membahas tentang metodologi penilaian dampak lingkungan, dampak perubahan iklim terhadap produksi ternak, dan adaptasi dan mitigasi terkait perubahan iklim. Penelitian tentang perubahan iklim dan produksi ternak, memunculkan novelty atau kebaruan untuk arah penelitian baru di masa yang akan datang.