Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tumpeng sebagai Simbol: Tinjuan Etnolinguistik Makna Makanan Pada Tradisi Baritan di Dataran Tinggi Dieng Sarwiji Suwandi; Titi Setiyoningsih; Chafit Ulya; Ari Suryawati Secio Chaesar; Eko Setyawan; Sugit Zulianto
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4909.395-410

Abstract

Javanese people use food in various traditional rituals as symbols that represent certain meanings and philosophies, one of which is Tumpeng and is used in the Baritan tradition by people in Java. This research aims to reveal the meaning of food in the form of tumpeng in the Baritan tradition practiced by people in the Dieng Plateau, Central Java. This research uses a qualitative approach with ethnolinguistic methods to study and explain the meaning of food. Data and data sources include food used in the traditions held. Data collection techniques through field observations, interviews and documentation. The data was analyzed using meaning triangle analysis to decipher symbols through the stages of understanding concepts, signs and signifiers. The results of the research show that the food used in the Baritan tradition by the people of the Dieng Plateau includes tumpeng with various special colors which have meanings and philosophical elements which also come in various shapes accompanied by complementary foods such as ingkung chicken and apem. The use of this food has meaning and has philosophical value in the form of expressing gratitude to God, hope for abundant sustenance from nature, and apologizing to God and fellow humans. The Baritan tradition in the Dieng Plateau has the meaning of strengthening the relationship between humans, humans and nature, humans and their ancestors, and the relationship between humans and God. Thus, food, especially tumpeng, is not only used for tradition, but also has deep meaning and philosophy so that it represents people's beliefs. AbstrakMasyarakat Jawa menggunakan makanan dalam berbagai ritual tradisi sebagai simbol yang merepresentasikan makna dan filosifi tertentu salah satunya yakni Tumpeng dan digunakan pada tradisi Baritan oleh masyarakat di Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna makanan berupa tumpeng pada tradisi Baritan yang dilakukan oleh masyarakat di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnolinguistik untuk mengkaji dan menjabarkan makna makanan. Data dan sumber data berupa makanan yang digunakan dalam tradisi yang digelar. Teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta dokumentasi. Data dianalisis dengan analisis segitiga makna guna menguraikan simbol melalui tahapan pemahaman konsep, tanda, dan petanda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan yang digunakan pada tradisi Baritan oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng meliputi tumpeng dengan beragam warna khusus yang memiliki pemaknaan dan unsur filosofis yang juga beragam bentuknya disertai dengan makanan pelengkap seperti ayam ingkung dan apem. Penggunaan makanan tersebut memiliki makna dan memiliki nilai filosofos berupa ungkapan rasa syukur pada Tuhan, harapan akan rezeki yang melimpah dari alam, serta permohonan maaf pada Tuhan dan juga sesama manusia. Tradisi Baritan di Dataran Tinggi Dieng memiliki makna memperkuat hubungan antara sesama manusia, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, makanan khususnya tumpeng tidak hanya dimanfaatkan untuk tradisi, tetapi juga memiliki makna dan filosofi mendalam sehingga merepresentasikan keyakinan masyarakat.
KETIDAKADILAN GENDER DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TEKS DRAMA SAMPEK ENGTAY SERTA PEMANFATAANNYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Muhammad Rizal Akbar Hapsoro; Suyitno Suyitno; Sugit Zulianto
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 9, No 2 (2021): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v9i2.52473

Abstract

Fenomena ketidakadilan gender dapat ditemukan di masyarakat dan potensial diangkat dalam karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk ketidakadilan gender dalam naskah drama Sampek Engtay karya N. Riantiarno; (2) nilai pendidikan karakter dalam naskah drama Sampek Engtay karya N. Riantiarno; (3) relevansi naskah drama Sampek Engtay karya N. Riantiarno dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik validasi data menggunakan triangulasi teori. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis mengalir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh perempuan dalam naskah drama Sampek Engtay berupa marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban kerja; (2) dalam naskah drama Sampek Engtay mengandung lima jenis representasi nilai pendidikan karakter, meliputi religius, nasionalisme, mandiri, gotong royong, dan integritas; (3) hasil analisis naskah drama Sampek Engtay karya N. Riantiarno ini relevan dan dapat digunakan sebagai materi untuk melatih berpikir kritis adanya masalah ketidakadilan gender pada kompetensi dasar menelaah struktur dan kebahasaan naskah drama di kelas XI SMA melalui model pembelajaran problem based-learning dengan metode jigsaw. Dapat disimpulkan teks drama Sampek Engtay memuat bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra untuk mengembangkan sikap anti ketidakadilan gender pada siswa.
PENGETAHUAN GURU TENTANG KONSEP WIRAUSAHA LITERASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA Keken Wulansari; Sugit Zulianto; Chafit Ulya
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 9, No 2 (2021): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v9i2.52824

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah merupakan pembelajaran berbasis teks produktif-apresiatif yang berpeluang bernilai wirausaha bagi siswa sehingga dibutuhkan bimbingan guru yang memiliki pengetahuan wirausaha literasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi  pengetahuan guru  Bahasa Indonesia tentang kompetensi wirausaha. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Sumber data adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Kota Surakarta. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner tertutup menggunakan skala Linkert. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan memperhatikan mean ideal dan standar deviasi ideal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek pengetahuan manajemen dan organisasi memiliki rerata persentase paling tinggi yaitu 35% dengan jumlah skor 429. Disusul oleh aspek pengetahuan bidang usaha yang ditekuni dengan rerata presentase sebesar 34% dan memiliki jumlah skor 557. Aspek yang paling rendah adalah aspek pengetahuan peran dan tanggung jawab dengan rerata presentase sebesar 31% dengan jumlah skor 337. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki pengetahuan yang memadai mengenai manajemen dan organisasi, namun kurang mengetahui tentang peran dan tanggung jawab dalam berwirausaha sehingga perlu ditingkatkan melalui pelatihan.
Dehumanization of Multicharacter Figures in Ludruk Traditional Art as Symbols of Imperialist Mental Agitation: A Case Study of the Play Sarip Tambak Oso Sugit Zulianto; Juairiah Juairiah
Javanologi: International Journal of Javanese Studies Vol 6, No 1 (2022): Javanologi Volume 6 No. 1: December
Publisher : Pusat Unggulan Ipteks Javanologi Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/javanologi.v6i1.71592

Abstract

In the story of the ludruk play which is legendary in Java-Indonesia, Sarip Tambak Oso is chased and captured by the invaders. He is claimed to be a criminal who is very humiliated. However, the Javanese people immortalized him as a public figure with character because of his concern and courage in defending the rights of the poor who were wronged by the colonial government. This research has a qualitative approach with a case study type. The main problem is, how is the multi-character of Sarip Tambak Oso's play dehumanized by the colonialists? For this reason, the data source is in the form of documents, both printed (published manuscripts) and electronic (ludruk performances with the play Sarip Tambak Oso). The research data is in the form of language (expressions, words, phrases, sentences) in the story. Next, verbal data is described qualitatively. The results showed that Sarip Tambak Oso had the characters of (1) caring, (2) devotion, (3) nationalism, and (4) religious, and (5) fair. In conclusion, the five characters are necessary when dealing with colonial era invaders. In fact, now, its fluctuating actualization needs to be considered as thoroughly as possible in the millennial era. This is necessary because the dehumanization of the multi-characteristics of public figures is not a natural characteristic of the Javanese nation in the world, except when fighting for national independence, as exemplified by Sarip Tambak Oso in East Java, Indonesia.Keywords: dehumanization, characters, Sarip Tambak Oso, imperialism, ludruk plays, Javanese oral literature
Maintaining National Adab in the Digitalization Era: A Case Study of Points of Value in the Arrays of the Jula-Juli Ludruk Song in East Java Juairiah Juairiah; Sugit Zulianto
Javanologi: International Journal of Javanese Studies Vol 6, No 2 (2023): Javanologi Volume 6 No. 2: June
Publisher : Pusat Unggulan Ipteks Javanologi Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/javanologi.v6i2.75862

Abstract

AbstractThe morals of life are often spoken and passed down by the ancestors in the form of songs accompanied by Javanese gamelan. It was intended to maintain the quality of the civilization of the coming regeneration. This study aims to describe the values of sublime speech values in the chants of songs sung by comedians of the ludruk arts in East Java. Using a qualitative case study type approach, the source of the data is in the form of widely published documents of the July-July hymns. Verbal data collected were analyzed descriptively-qualitatively. The results of the research show that the lines of the jula-juli hymn contain substance in various fields of life. As an example, the points of civility in the global era are presented, namely (1) nationalism, (2) heroism, (3) education, and (4) security, (5) economy, and (6) religion. From these findings it can be concluded that etiquette for life needs to be taught through oral literary arts, especially songs in jula-juli so that the dynamics of regeneration remain grounded and side with the identity of the ancestor's speech.Keywords: nation's manners, songs, jula-juli ludruk