Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ISLAM MENGHADAPI JUNTA MILITER DI MYANMAR Danar Widiyanta; Ririn Darini; Mudji Hartono
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.91 KB) | DOI: 10.21831/moz.v10i1.28766

Abstract

Islam mengalami pasang surut perkembangannya di Myanmar. Pada abad ke-1 Pedagang Arab sudah menempati wilayah sekitar Arakan. Pelaut Muslim telah datang ke Myanmar pada abad ke-9. Orang Arab muslim telah berperan dalam pemerintahan di Myanmar. Raja Sawlu (1077-1088), dididik oleh seorang guru muslim berkebangsaan Arab. Negara Islam didirikan di Arakan ketika Sultan Bengal yang beragama Islam Naseeuruddeen Mahmud Syah (1442-1459, membantu Raja Sulayman Naramitha membangun Negara Islam. Muslim di Myanmar juga melakukan perlawanan terhadap tindakan kesewenang-wenangan  yang dilakukan oleh Junta Militer. Salah satu bentuk perlawanan mereka adalah membentuk organisasi, salah satunya adalah Oganisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO). Organisasi ini merupakan gabungan dari Front Islam Rohingya (ARIF) yang dipimpin oleh Nurul Islam, Organisasi Solidaritas untuk Rohingya (RSO) yang dipimpin oleh Dr. Yunus dan RSO pimpinan Prof. Muhamma Zakaria. Tahun 1996 terjadi intensitas yang tinggi perlakuan sewenang-wenang dari pemerintahan militer Myanmar. Puncaknya pasca peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat mengakibatkan tekanan terhadap muslim Myanmar bertambah keras. Tercatat sekitar 1.500.000 muslim Myanmar harus mengungsi ke Malaysia, Bangladesh, Thailand dan lain-lain.
DINAMIKA PERJUANGAN BADAN FEDERASI UMAT ISLAM MENUJU KEMERDEKAAN INDONESIA, 1937-1945 miftahuddin miftahuddin; Danar Widiyanta
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 17, No 2 (2021): ISTORIA Edisi September, Vol. 17. No. 2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v17i2.44999

Abstract

Kajian ini akan melihat salah satu komponen masyarakat Islam awal abad ke-20 dalam usaha dan perjuangannya untuk mewujudkan kemerdekan Indonesia. Langkah-langkah kajian ini mencakup heuristik (pengumpulan sumber sejarah), verifikasi (kritik sumber), interpretasi, dan historiografi atau penyusunan fakta-fakta sejarah yang saling terkait yang diperoleh dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun. Hasil kajian ini adalah bahwa umat Islam melalui para tokohnya sadar bahwa tanpa adanya persatuan mustahil kemerdekan dapat diwujudkan. Untuk itu, muncullah organisasi MIAI (Majelis Islam ‘A’laa Indonesia), Masyumi (Majelis Syura Muslim Indonesia), dan Laskar Hizbullah sebagai alat perjuangan. MIAI adalah organisasi federasi yang bertujuan membicarakan dan memutuskan perkara yang dipandang penting bagi kemaslahatan umat Islam melalui jalur politik, walaupun bukan politik praktis. Demikian pula, Masyumi terbentuk sebagai suatu wadah perjuangan bagi umat Islam setelah MIAI dibubarkan pada masa Jepang, sementara dengan bersatunya tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah menjadikan organisasi Masyumi ini semakin kuat. Selanjutnya, salah satu faktor yang melatar belakangi timbulnya keinginan tokoh-tokoh Is­lam untuk mendirikan Hizbullah ialah, bahwa berperang untuk mempertahankan agama Allah hukumnya wajib. Dengan wadah Hizbullah ini diharapkan umat Islam bisa menopang cita-citanya dalam meraih kemerdekaannya.
PERKEMBANGAN SEKOLAH GURU B (SGB) I DI PURWOREJO TAHUN 1950-1961 Fitri Cahyani; Danar Widiyanta; Ririn Darini
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i2.51416

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui didirikannya SGB di Purworejo, penyelenggaraan SGB di Purworejo, dan dampak didirikannya SGB di Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri empat langkah yaitu heuristik, kegiatan pencarian dan pengumpulan sumber yang berhubungan dengan topik dalam penelitian ini yaitu Daftar Buku Induk SGB dan Surat Keputusan Penghapusan SGB. Kritik atau verifikasi, merupakan kegiatan penentu keautentikan dan kredibilitas sumber-sumber yang telah terkumpulkan. Aufassung atau interpretasi, kegiatan menafsirkan sumber yang sudah valid kebenarannya untuk memperoleh suatu peristiwa sejarah. Darstellung atau historiografi, kegiatan menyatukan seluruh hasil penelitiannya dalam suatu penulisan yang utuh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanakan Kewajiban Belajar mengalami kesulitan biaya, gedung dan tenaga pengajar. Purworejo didirikan SGB untuk mengatasi kurangnya guru untuk Sekolah Rakyat. Tahun 1950-1961 di Purworejo terdapat tiga SGB yaitu SGB I Purworejo SGB II Purworejo dan SGB Kutoarjo. SGB di Purworejo juga memberikan dampak lahirnya golongan priyayi dan lulusan SGB mampu untuk mensejahterakan kehidupannya. Adanya SGB  memunculkan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Kemudian SGB telah memenuhi kebutuhan guru untuk SR sehingga terjadi kelebihan jumlah guru.Kata Kunci: SGB, Purworejo, Kewajiban Belajar, Kesejahteraan hidup.
The Role Of Character Education In Forming Ethical And Responsible Students Tiara Ramadhani; Danar Widiyanta; Yena Sumayana; Rengga Yudha Santoso; Puspita Dian Agustin; Al-Amin
IJGIE (International Journal of Graduate of Islamic Education) Vol. 5 No. 2 (2024): September
Publisher : Master of Islamic Studies Masters Program in the Postgraduate Institute of Islamic Studies Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/ijgie.v5i2.3064

Abstract

Character education refers to an approach to learning that aims to help students develop moral and ethical values, such as honesty, responsibility and empathy. The integration of these values in the curriculum and school activities along with the active support of teachers, families and communities are the main efforts for character education to build individuals who are highly ethical and responsible in every aspect of their lives. In this study, the literature research method was used. From the results, it is evident that teachers who have undergone specialised training in character education play an important role as living examples of these values. In addition, a safe and supportive school environment greatly contributes to the ethical formation of students. Another opinion states that the active participation of parents and the community also strengthens the implementation of moral values in schools through their daily behaviour. This finding proves the synergy relationship between the collaborative participation of the main institutions, namely school, family and the wider community, can empower students with strong character, have good morals and be perfectly responsible.
Wujud Nasionalisme Tokoh Modernis Islam: Kontribusi K.H. Mas Mansur dalam Mengantarkan Indonesia Merdeka Miftahuddin, Miftahuddin; Widiyanta, Danar; Rafsanjani, Adnan
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 9, No 2 (2024): Colonialism, Nationalism, and Social Transformation
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v9i2.43482

Abstract

This study aims to reaffirm the role of K.H. Mas Mansur in the context of Indonesia's struggle for independence from colonial rule. The research employs historical research procedures, including heuristics (source gathering), verification (criticism of the collected sources), interpretation (analysis of historical facts), and historiography (writing of history). The results of this study indicate that K.H. Mas Mansur's contributions to Indonesia's independence were realized both in the fields of social-religious movements to advance Islam and in politics. K.H. Mas Mansur viewed his involvement in social-religious affairs as important, seeing it as a means of empowering society in relation to understanding Islam as a way of life. Similarly, K.H. Mas Mansur believed that achieving an independent Indonesia required the development of political awareness, as resistance against the colonizers would not succeed without this consciousness. The development of the Indonesian Islamic Party (PII), for example, cannot be separated from Mas Mansur's role as a high-ranking leader of Muhammadiyah. In this context, it is clear that, alongside his active participation in the social-religious organization Muhammadiyah and his leadership within it, Mas Mansur was also deeply involved in politics.
Oen Boen Ing’s Role during Indonesian Independence Revolution Period on 1945-1949 Herdadian, Herdiona Hellen; Widiyanta, Danar
JURNAL HISTORICA Vol. 8 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : History Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jh.v8i1.44600

Abstract

Oen Boen Ing, or better known in the public as “dr. Oen” is an Indonesian National Figure of Chinese ethnicity who has played an active role in his service to the nation and state. Especially in the health sector. Due to his deep love for Indonesia, dr. Oen was also often given the nickname as a kind doctor, a revolutionary patriot, and even a doctor for the poor during his lifetime. Dr. Oen is known for his services without asking for compensation from the community for his service. Across 5 periods, dr. Oen was given an award for his series of sacrifices for the Indonesian medical world and was respected by the community. Especially by the people of Surakarta and his name was immortalized, one of them in the naming of a large hospital in Surakarta, "dr. Oen Hospital”, as well as a form of final respect for him. This research aims to find out a brief biography of dr. Oen, the role of dr. Oen specifically during the War of Independence in Indonesia and various awards were given as a sign of respect from the Indonesian government and society for dr. Oen. This article was written based on the critical history method through the stages of topic selection, heuristics, verification, interpretation and historiography.
Jihād fī Sabīlillāh Ulama dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia: dari Surabaya ke Yogyakarta -, Miftahuddin; Widiyanta, Danar
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21103

Abstract

Abstract: The proclamation of Indonesian independence on August 17, 1945, was short-lived, as the Dutch subsequently reestablished their dominance. As such, the struggle for this nation's sovereignty continued, and the Indonesian people took up arms against the Dutch's attempt to reinstate their colonial rule. This study aims to investigate the role of the ulema in defending Indonesia's independence, focusing on the Hezbollah case in Surabaya and the Sabil Armed Forces in Yogyakarta. The ulema, in this context, provided not only fatwas but also led by example at the forefront of the battle against the Dutch's colonialism. The findings of this study revealed that in Surabaya and Yogyakarta, the ulama’s involvement in the fight against the Allies further fueled the Hezbollah members' enthusiasm as they witnessed the religious leaders directly participating in the battlefield. The presence of the clerics at the forefront, accompanied by the fatwa of jihād fī sabīlillāh and the slogan of living independently or dying as a martyr, effectively mobilized the students and youth to take up arms against the Dutch. Furthermore, the role of the clergy extended to the establishment of the Sabil War Force Ulama Headquarters (MUAPS) and its armed forces called the Sabil War Force (APS), which was responsible for defending the border area between Kedu and Semarang from Dutch attacks and was sent to Kebumen to block the Dutch's arrival.Abstrak: Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi kemerdekaan itu diusik kembali oleh Belanda. Perjuangan bangsa ini masih harus dilanjutkan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengangkat senjata melawan bangsa Belanda yang ingin meneruskan penjajahannya kembali. Kajian ini akan melihat peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melihat kasus Hisbullah di Surabaya dan Angkatan Perang Sabil di Yogyakarta. Ulama dalam konteks ini tidak hanya berfatwa saja, tetapi mereka memberi contoh memimpin di garis depan untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Surabaya dan Yogyakarta, bergabungnya para ulama dalam pertempuran melawan Sekutu, membuat semangat para anggota Hizbullah semakin berkobar dikarenakan para ulama ikut terjun langsung dalam medan peperangan. Dengan tampilnya ulama di garis depan disertai fatwa perang jihād fī sabīlillāh dan semboyan hidup merdeka atau mati syahid sangat efektif dalam memobilisasi para santri dan pemuda untuk mengangkat senjata melawan Belanda. APS (Angkatan Perang Sabil), yang ditugaskan untuk membantu mempertahankan wilayah di perbatasan antara daerah Kedu dan Semarang dari serangan Belanda dan dikirim ke Kebumen untuk menghadang kedatangan Belanda, juga atas peran ulama. Terbentuknya Markas Ulama Angkatan Perang Sabil (MUAPS) dan pasukan bersenjatanya yang bernama Angkatan Perang Sabil (APS) adalah berkat hasil musyawarah para ulama untuk ikut mempertahankan Indonesia.
NASIONALISME INDONESIA DALAM PERUBAHAN MASA REFORMASI DAN TANTANGAN GLOBALISASI Widiyanta, Danar; Miftahuddin, Miftahuddin
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v14i2.65836

Abstract

Nasionalisme Indonesia masa kini sedang mengalami degradasi dengan meningkatnya konflik-konflik antar etnik, antaragama, dan fenomena disintegrasi bangsa lainnya. Ketahanan integrasi bangsa sedang diuji kehandalannya karena kelalaian sejarah. Masa orde lama, orde baru telah keliru merasionalkan persatuan secara empiris. Pemerintah tidak memberi kesempatan masing-masing kelompok  etnik untuk mengekspresikan keleluasaannya dalam persatuan bangsa. Metode Penelitian yang digunakan adalah Metode sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Kesimpulan yang didapat bahwa nasionalisme Indonesia yang berkembang sejak masa kolonial sampai sekarang telah mengalami beberapa tahap perubahan. Dari nasionalisme anti penjajahan pada masa kolonial, menjadi nasionalisme yang nation oriented pada masa orde lama, berubah pada nasionalisme dengan  state oriented di masa orde baru. Di masa reformasi dan Era Global beberapa nilai Barat yang hendak dikembangkan ternyata tidak mendapat dukungan yang kokoh dari struktur sosial, ekonomi maupun politik.  Di sisi lain banyak hal contoh dan kasus yang menunjukkan situasi ekonomi, sosial, dan politik tidak dapat disimpulkan sepenuhnya bersandar pada nilai asli domistik yang ada.Kata Kunci : Nasionalisme, Indonesia, reformasi, globalisasi
The Expansionist Politics of Sultan Agung and Turning Away the Sea in the 17th Century: Rereading Javanese Historiography Miftahuddin; Ajat Sudrajat; Danar Widiyanta; Ita Mutiara Dewi; Kuncoro Hadi; Raymizard Alifian Firmansyah
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.24900

Abstract

Abstract: This article develops a thesis by Adrian B. Lapian and contextualizes the Islamic rule in Java that stimulated the movement of the sea people to turn their backs on the sea. It critiques conventional historiography that focuses only on heroic stories. Using critical maritime history studies, this article presents a re-reading of the political narrative of Sultan Agung's expansion into North and East Java. The history of Java is not only about political power and conflicts between Javanese kingdoms in the 17th century, but also about expansion, social problems, socio-political domination, and the erasure of collective memory of maritime culture. Therefore, this research attempts to write history with an alternative perspective to examine the "movement towards the sea" in Java, which has implications for the formation of an agrarian society. As a result of strengthening the legitimacy of royal power in the 16th-17th centuries, various violent incidents occurred in northern and peripheral Java. Under the pretext of expanding power and attempting to attack Batavia, this event was normalized, which becomes a phenomenon of historiographical problems in writing history, particularly regarding the minimal discussion about the oppression of the Javanese Maritime community under the political domination of Mataram (Sultan Agung).   Abstrak: Artikel ini, dengan mengembangkan tesis dari Adrian B. Lapian, membahas tentang kekuasaan Islam di Jawa yang menstimulasi gerak orang laut untuk memunggungi laut. Artikel ini juga bagian dari kritik terhadap historiografi konvensional yang hanya membahas tentang kisah-kisah heroik semata. Dengan menggunakan kajian sejarah maritim kritis, maka artikel ini menyajikan pembacaan ulang mengenai narasi politik ekspansi Sultan Agung ke daerah Jawa Utara dan Jawa Timur. Sejarah Jawa kenyataannya tidak hanya soal kekuasaan politik dan konflik politik kerajaan-kerajaan Jawa abad 17, tetapi juga soal ekspansi, masalah sosial, dominasi sosial-politik, sampai dengan penghapusan memori kolektif budaya maritim. Untuk itu, penelitian ini adalah bagian dari upaya penulisan sejarah dengan perspektif alternatif untuk melihat “gerak memunggungi laut” di Jawa, yang implikasinya berpengaruh terhadap terbentuknya masyarakat agraris. Akibat peneguhan legitimasi kuasa keraton, pada abad ke 16-17, di Jawa bagian utara dan pinggiran terjadi berbagai peristiwa yang penuh kekerasan. Dengan dalih perluasaan kekuasaan dan upaya penyerangan terhadap Batavia, membuat peristiwa ini dinormalisasi. Hal ini menjadi fenomena permasalahan historiografis dalam penulisan sejarah. Terutama, terkait pembahasan yang minim tentang ketertindasan masyarakat Maritim Jawa atas dominasi politik Mataram (Sultan Agung).