Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kisah Karantina Paris of the East Safitry, Martina
Jurnal Sejarah Vol 3 No 1 (2020): Memburu Kisah Baru: Studi Sejarah dan Sumber Penelitiannya
Publisher : Masyarakat Sejarawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.533 KB) | DOI: 10.26639/js.v3i1.261

Abstract

BANJIR DAN UPAYA PENANGANAN PASCA KEMERDEKAAN TAHUN 1955 - 1971 DI TULUNGAGUNG Latif Kusairi; Martina Safitry; Faridhatun Nikmah
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.821 KB) | DOI: 10.21831/moz.v10i1.28948

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bencana banjir dan upaya penanganan pasca kemerdekaan tahun 1955-1971 di daerah Tulungagung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan dalam bentuk kata banjir dan penanganannya pasca kemerdekaan. Adapun tipe yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif interpretatif. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah daerah Tulungagung. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini masyarakat Tulungagung yang tahu dan mengalami banjir pasca kemerdekaan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua sumber, yaitu sumber primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian terdiri heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini bahwa terjadinya banjir terdiri dari beberapa faktor yang menanggulangi, seperti meluapnya aliran Sungai Brantas, meletusnya Gunung Kelud, iklim cuaca, dan curah hujan yang tinggi, dll. Dalam upaya penanganan banjir dapat dilakukan dengan cara pembuat Terowongan Neyama, pembuatan bendungan, perbaikan terowongan, penampungan pasir di Gunung Kelud, penyempurnakan Parit Raya, pembuatan waduk Kali Ngasinan dan Kali Ngrowo, pembuatan pintu Kali Ngrowo dan Gesikan, perbaikan daerah pengaliran Kali Ngrowo dan Kali Ngasinan, dan meninggikannya tanggul yang berada di Sungai Brantas
Pesantren Tradition and the Existence of Tarekat Syattariyah in the Java War of 1825-‎‎1830‎ Moh Ashif Fuadi; Moh. Mahbub; Martina Safitry; Usman Usman; Dawam Multazamy Rohmatulloh; M. Harir Muzakki
TSAQAFAH Vol 18, No 1 (2022): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v18i1.7666

Abstract

The Java War had its unique influence on the development of pesantren. Prince Diponegoro plays the struggle against the invaders with some of his soldiers who come from among the pesantren. After his defeat in the Java War of 1825-1830, many Diponegoro warriors spread to teach religion. This research will discuss the sustainability of the struggle of Diponegoro warriors in pesantren and the Islamic treasures of the Java War, such as strengthening pesantren traditions and the existence of tarekat syattariyah (syattariyah order). This research is classified as historical research through Kuntowijoyo's historical research methods: topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. This research yielded several conclusions, namely: First, after its defeat in the Java war, the struggle of Diponegoro warriors with a cleric-santri background continued through the establishment of pesantren with a change in strategy more to intellectual strengthening. Second, intellectual traditions during the Java War, one of which was through the study of yellow books typical of pesantren with fiqh and Sufi patterns such as Fatḥ al-Qarîb and Tuḥfah al-Mursalah ila Rûḥ al-Nabiy. Third, the existence of the tarekat syattariyah that had an anti-colonial character at that time was quite popular in Java, made the order followed by prince Diponegoro and some of his soldiers. Fourth, when compared to the Padri War, the typology of da'wah struggle developed by Diponegoro warriors is more moderately patterned identically to Walisongo's accommodating character.
Eksistensi Mas Nganten Awal Abad Ke-XX dalam Perkembangan Industri Batik Laweyan dan Sejarah Pergerakan di Indonesia Muh. Fajar Shodiq; Martina Safitry; Irma, Irma Ayu kartika
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11290

Abstract

Penelitian ini akan menyoroti eksistensi Mas Nganten  dalam industry batik sekaligus kontribusi mereka dalam sejarah pergerakan Sarikat Dagang Indonesia (SDI).Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang didukung  riset lapangan yang bersifat deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk menguak eksistensi Mas Nganten  dalam industri batik di Laweyan serta kontribusinya dalam sejarah pergerakan di Indonesia. Kemudian menggunakan teknik deskriptif analitik, yakni teknik yang digunakan terhadap suatu data yang telah dikumpulkan, kemudian disusun, dijelaskan dan selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan jika Mas Nganten  tidak sekedar membantu mengawasi proses produksi dan memimpin karyawannya bekerja, namun Mas Nganten  memiliki peran yang cukup penting dalam proses kreatif, menentukan pola ragam hias batik terbaru, agar tidak ditiru pasar sampai mengamati pergerakan motif dipasaran. Mas Nganten  yang paling menonjol saat itu adalah Samanhudi. Selain aktif dalam industry batik, Samanhudi juga aktif dalam SDI (Sarekat Dagang Islam). Sarekat Dagang Islam berubah nama menjadi Sarekat Islam dengan akte hukum organisasi baru pada tanggal 10 September 1912, dimana  Cokroaminoto yang diminta Samanhudi untuk membantu mengurusi SDI mengusulkan berubah nama menjadi Sarekat Islam agar cakupannya lebih luas, tidak hanya mengurusi masalah ekonomi, namun bisa merambah politik dan mudah menggaet massa.  Kata Kunci: Eksistensi;Mas Nganten ;Batik Laweyan; SDI
Modernization of Women's Education in Social Change in The Sultanate of Siak Sri Indrapura, Riau 1927-1950 Arianingrum, Nabila; Martina Safitry
Journal of Islamic History and Manuscript Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Islamic History and Manuscript
Publisher : Institute of Research and Community Service UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jihm.v4i2.13256

Abstract

This study explores the modernization of women's education in the Siak Sultanate during the early 20th century, focusing on the Sultanah Latifah School and Madrasatun Nisa’. The research addresses how women's education became a medium for social transformation within traditional Malay society amid colonial influence, Islamic reform, and local educational awareness. It investigates the social context and development of women's education in Siak Sri Indrapura, employing a qualitative historical method. Data were collected through archival research, oral history, and field observations. Sultanah Latifah School, initiated by Sultan Syarif Kasim II, adopted a Western-oriented curriculum including reading, writing, arithmetic, Dutch, etiquette, and Islamic studies. In contrast, Madrasatun Nisa’ emphasized Islamic modernist teachings, such as Arabic, women’s jurisprudence (fiqh), ethics, and reformist thought. These institutions represented a significant shift in traditional female roles, fostering public engagement and intellectual development. The findings highlight that both schools blended local customs, Islamic values, and modern pedagogy, marking a pioneering effort in localized women's educational reform. This modernization promoted not only religious and cultural continuity but also opened avenues for broader societal participation by women. The study concludes that the Siak Sultanate played a key role in advancing women's education within a framework respectful of tradition yet oriented toward progress. It emphasizes the need to preserve such historical educational models and to further explore the legacy of female graduates in shaping modern society. The integration of regional history into educational curricula is also recommended to enrich contemporary understanding
Keragaman Respons Umat Islam Terhadap Isu Penodaan Agama pada Media Massa di Jawa, 1918-1922 Rina Mutaharoh; Martina Safitry; Mutoharoh, Rina; Safitry, Martina
JURNAL JAWI Vol 7 No 2 (2024): Media, Resistance and Social Harmony
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jawi.v7i2.21695

Abstract

Isu penistaan agama akan menjadi isu nasional ketika disebarkan secara luas dan masif. Setelah menjadi isu nasional maka muncul pola-pola reaktif yang beraneka ragam. Pada Januari 1918 sebuah surat kabar di Solo menerbitkan tulisan yang membuat marah umat Islam. Artikel itu mengulas mengenai Tuhan umat Islam dan Nabi Muhammad SAW dengan ungkapan yang tidak pantas. Walhasil artikel tersebut mendaptkan berbagai reaksi dan protes dari umat Islam. Studi ini bertujuan untuk menganalisa sikap kelompok-kelompok masyarakat Islam dalam merepon isu penodaan agama di masa kolonial Belanda 1918-1922, dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Sumber primernya adalah berupa surat kabar sezaman, serta didukung oleh sumber sekunder berupa buku-buku yang relevan dengan topik ini. Hasil penelitian menemukan bahwa tiga pendekatan masyarakat dalam merespon peristiwa isu tersebut yaitu reaktif aksi lapangan, reaktif aksi hukum, dan reaktif damai. Dalam konteks kekinian, temuan kajian ini dapat diaplikasikan untuk melihat bagaimana masyarakat merespon kasus-karus serupa yang kerap terjadi di media massa.