Claim Missing Document
Check
Articles

Dinamika Bahan Organik dan Total Nitrogen Tanah pada Pengelolaan Jerami Padi Sukma Elvayani, I Gusti Ayu Evi; Sulastri, Ni Nyoman; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jerami padi adalah salah satu sisa tanaman berlignoselulosa yang paling banyak di dunia. Jerami padi umumnya dikelola oleh petani diolah dengan metode pembenaman (straw incorporation) dan dibakar (straw burning). Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan dinamika Bahan Organik dan Total Nitrogen Tanah pada pengelolaan jerami padi dan menentukan kandungan hasil mineralisasi Nitrogen setelah perlakuan pengelolaan jerami. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Pola Tersarang (Nested Design) dengan 3 perlakuan yang terdiri dari pembenaman jerami dengan EM4 (SI), pembenaman jerami tanpa EM4 (SI0), dan pembakaran (BR). Pada setiap blok terdapat 3 kali ulangan di masing-masing ulangan diambil 4 sampel, sehingga total sampel tanah yang diambil berjumlah 36 sampel. Penelitian dilakukan dengan analisis laboratorium sampel tanah sebelum dan sesudah perlakuan pada parameter Bahan Organik Tanah (BOT), Total Kjeldahl Nitrogen (TKN). Kandungan BOT tanah sebelum dan sesudah perlakuan pengeloaan jerami berkisar antara 3,94% - 5.11%, klasifikasi BOT tanah tersebut termasuk sedang-tinggi. Peningkatan BOT tertinggi yaitu 29,7% terdapat pada perlakuan pembakaran. Hal ini dapat disebabkan karena meningkatnya mineralisasi karbon selama proses pembakaran jerami padi. Rata-rata TKN tanah berkisar antara 0,17% sampai 0,39% yang termasuk kategori rendah dan sedang. Analisis Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan bahwa perlakuan pembenaman jerami dengan EM4 dan Pembenaman jerami tanpa EM4, berpengaruh nyata terhadap TKN tanah (p<0,05). Sebaliknya pada perlakuan pembakaran tidak berpengaruh nyata terhadap TKN tanah (p>0,05). Rice straw is one of the most abundant lignocellulosic plant residues in the world. Farmers typically manage rice straw through incorporation and burning methods. This study aims to determine the dynamics of soil organic matter and total nitrogen in rice straw management and to assess the nitrogen mineralization content following straw management treatments. The research employs a Nested Design with three treatments: straw incorporation with EM4 (SI), straw incorporation without EM4 (SI0), and burning (BR). Each block contains three replicates, with four samples taken per replicate, totaling 36 soil samples. Laboratory analysis of soil samples was conducted before and after treatment on parameters such as Soil Organic Matter (BOT) and Total Kjeldahl Nitrogen (TKN). The SOM content of the soil before and after straw management ranged from 3.94% to 5.11%, which is classified as medium to high. The highest increase in SOM, 29.7%, was observed in the burning treatment, likely due to increased carbon mineralization during the rice straw burning process. The average soil TKN ranged from 0.17% to 0.39%, categorized as low to medium. The Wilcoxon Signed Ranks Test analysis indicated that straw incorporation with EM4 and without EM4 significantly affected soil TKN (p<0.05). Conversely, the burning treatment did not have a significant impact on soil TKN (p>0.05).
Pengaruh Variasi Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Mutu Kentang Konsumsi (Solanum tuberosum L) Guna, Kadek Mahendra Adhi; Pudja, Ida Ayu Rina Pratiwi; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p14

Abstract

Abstrak Tingginya produksi kentang di Indonesia tidak diimbangi dengan penanganan pascapanen yang tepat, sehingga banyak kentang yang mengalami kerusakan selama masa penyimpanan. Kemasan dengan perforasi dapat mempertahankan umur simpan umbi kentang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan pengaruh perforasi kemasan terhadap mutu kentang konsumsi selama penyimpanan serta menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan mutu kentang konsumsi selama penyimpanan. Penelitian dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan perforasi kemasan (0,42%, 0,63%, dan 0,84%). Setiap unit percobaan diulang 3 kali. Parameter yang diukur adalah susut bobot, kelembaban udara, suhu udara, color difference, dan tekstur umbi kentang. Laju peningkatan susut bobot untuk perlakuan kontrol, kemasan tanpa perforasi, kemasan perforasi 0,42%, kemasan perforasi 0,36%, dan kemasan perforasi 0,84% masing-masing adalah: 0,09 g/hari, 0,025 g/hari, 0,036 g/hari, 0,051 g/hari, 0,058 g/hari. Laju perubahan kelembaban udara untuk masing-masing perlakuan adalah: 0,10 %, 0,36 %, 0,30 %, 0,23 %, 0,16 %, dan laju perubahan suhu kemasan adalah: 0,03oC/hari, 0,056oC/hari, 0,020oC/hari, 0,026oC/hari, dan 0,033oC/hari. Laju perubahan color difference untuk masing-masing perlakuan adalah: 0,24 /hari, 0,36 /hari, 0,26 /hari, 0,27 /hari, dan 0,23 /hari. Laju perubahan tekstur dari masing-masing perlakuan adalah: 0,13 /hari, dan 0,53 N/hari, 0,65 N/hari, 0,53 N/hari, 0,56 N/hari, dan 0,63 N/hari. Kecukupan oksigen merupakan parameter penentu kualitas umbi kentang yang disimpan, maka perlakuan terbaik adalah perlakuan kemasan perforasi 0,84% dengan nilai penurunan susut bobot 8,77%, kelembaban 69,8%, perubahan suhu 28,8oC, color difference 6,95, tekstur 63,4 N. Abstract The high production of potatoes in Indonesia is not balanced with proper post-harvest handling, so many potatoes are damaged during storage. Packaging with perforations can maintain the shelf life of potato tubers. The aim of this research is to determine the effect of packaging perforation on the quality of consumption potatoes during storage and determine treatments that can maintain the quality of consumption potatoes during storage. Research with a completely randomized design (CRD) with packaging perforation treatment (0.42%, 0.63%, and 0.84%). Each experimental unit was repeated 3 times. The parameters measured were weight loss, air humidity, air temperature, color difference, and texture of potato tubers. The rate of increase in weight loss for the control treatment, packaging without perforation, 0.42% perforated packaging, 0.36% perforated packaging, and 0.84% perforated packaging were respectively: 0.09 g/day, 0.025 g/day, 0.036 g/day, 0.051 g/day, 0.058 g/day. The rate of change in air humidity for each treatment was: 0.10%, 0.36%, 0.30%, 0.23%, 0.16%, and the rate of change in packaging temperature was: 0.03oC/day, 0.056oC/day, 0.020oC/day, 0.026oC/day and 0.033oC/day. The color difference change rates for each treatment were: 0.24/day, 0.36/day, 0.26/day, 0.27/day, and 0.23/day. The rates of change in texture of each treatment were: 0.13 /day, and 0.53 N/day, 0.65 N/day, 0.53 N/day, 0.56 N/day and 0.63 N /day. Oxygen adequacy is a parameter determining the quality of stored potato tubers, so the best treatment is 0,84% perforated packaging with a weight loss value of 8,77%, humidity 69.8%, temperature change 28.8oC, color difference 6.95, texture 63,4 N.
Klasifikasi Kematangan Buah Kelapa Sawit Menggunakan Model Yolov8 Berbasis Deep Learning Muna, Mukhes Sri; Setiyo, Yohanes; Wirawan, I Putu Surya; Syarovy, Muhdan; Jaya, Gigieh Henggar
Journal of Agricultural and Biosystem Engineering Research Vol 6 No 1 (2025): Journal of Agricultural and Biosystem Engineering Research: Regular Issue
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jaber.2025.6.1.15953

Abstract

Determining the ripeness level of oil palm fruit is a crucial aspect in enhancing the efficiency and quality of palm oil production. To date, most ripeness classification processes are still manually conducted, leading to inconsistencies and human error. This study aims to develop an oil palm fruit ripeness classification model using YOLOv8, a state-of-the-art deep learning architecture known for its excellence in computer vision tasks. The dataset consists of six ripeness classes, divided into training, validation, and testing sets sourced from the Roboflow platform. The training process involved five YOLOv8 sub-models with optimized parameter configurations. Evaluation was carried out using MAPE and confidence score metrics to measure prediction accuracy. The results showed that all sub-models successfully classified fruit ripeness with high accuracy, with YOLOv8l-cls achieving the lowest MAPE value of 0.01167. These, confirm that the YOLOv8-based approach is highly effective in supporting automated classification of oil palm fruit ripeness, offering faster, more accurate, and consistent results, and holds strong potential for widespread application in the plantation industry.
Analisis Iklim Mikro di Greenhouse dengan Atap Tipe Arch untuk Budidaya Bunga Krisan Potong Yohanes Setiyo; S Sumiyati; Ni Putu Yuliasih
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 4 No. 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2019.v04.i01.p04

Abstract

Petani di Desa Candikuning membangun greenhouse untuk budidaya bunga krisan potong tanpa melakukan perhitungan teknis. Greenhouse tersebut dibangun berdasarkan pada ketersediaan bahan baku lokal, biaya tersedia dan topografi wilayah. Analisis iklim mikro pada greenhouse dengan atap tipe arch untuk optimasi kecepatan pertumbuhan dan kualitas bunga krisan yang dihasilkan menjadi obyek penelitian. Data-data yang dikumpulkan adalah: data iklim mikro (suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya), data pertumbuhan tanaman krisan (tinggi tanaman) dan data kualitas bunga (jumlah dan diameter bunga). Hasil penelitian terhadap intensitas cahaya rata-rata di greenhouse dengan tinggi atap 2,5 m, 3,0 m dan 3,5 m masing-masing adalah : 27.6 ± 5.5 k.lux, 27,5 ± 4,3 k.lux dan 29.5 ± 2,5 k.lux dengan suhu rata-rata adalah 21,1 ±0,2 oC, 27,5 ±0,17 oC dan 21,2 ±0,3 oC. Intensitas cahaya yang memasuki ruangan greenhouse sebesar 20 – 30 % dari intensitas cahaya yang mengenai atap bangunan. Kelembaban udara di ruang greenhouse tersebut masing-masing adalah 73,3 ± 0,5%, 77,5 ± 0,4 %, dan 86,3 ± 0,7 %. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah energi radiasi matahari yang diterima atap dan dinding greenhouse untuk menaikkan suhu ruangan dan intensitas cahaya dari greenhouse secara efektif untuk mendukung proses fotosintesis, sehingga tanaman berbunga pada ketinggian 70-80 cm dengan bunga pertama berdiameter rata-rata 7,5 ± 0,6 cm.
Kajian Proses Fermentasi Bioslurry Kotoran Sapi dengan Penambahan Molase I Made Mudiarta; Yohanes Setiyo; I Wayan Widia
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 3 No. 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2018.v03.i01.p03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi perlakuan penambahan molase dan penggunaan aerator pada proses fermentasi bioslurry kotoran sapi dan untuk mengetahui perlakuan terbaik pada proses fermentasi bioslurry kotoran sapi sesuai dengan persyaratan teknis minimal pupuk organik cair No.70./Permentan/SR.140/10/2011. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor dan tiga taraf perlakuan. Faktor pertama adalah penambahan 0, 2 dan 3 persen molase dan faktor kedua adalah penggunaan aerator 0, 1 dan 2. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati adalah suhu, biochemical oxygen demand, pH, total dissolved solids, electrical conductivity, C-organik, N-total, rasio C/N dan warna bioslurry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan penambahan molase dan penggunaan aerator berpengaruh pada proses fermentasi bioslurry kotoran sapi. Interaksi perlakuan penambahan molase 2 - 3 persen dengan penggunaan aerator 1-2 dapat mempercepat proses fermentasi bioslurry kotoran sapi dari 15 hari menjadi 10 hari. Hal ini ditandai dengan nilai biochemical oxygen demand yang sudah menurun pada hari ke 10 fermentasi. Dari sembilan perlakuan pada proses fermentasi bioslurry kotoran sapi, penambahan molase 3 persen dengan penggunaan 2 aerator merupakan perlakuan yang terbaik yaitu, menghasilkan total dissolved solids 6270 ppm, electrical conductivity 3,36 mS, C-organik 6,75 persen, N-total 0,44 persen, rasio C/N 15,82 dan warna hitam. Hasil ini sudah sesuai dengan standar No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Namun, untuk kandungan N-total bioslurry belum cukup memenuhi standar Permentan yaitu 3 - 6 persen.
Pengaruh Lama Penyimpanan Buah Kopi Arabika (coffea arabica L.) Petik Merah terhadap Kinerja Mesin Pulper Pengupas Kulit Daging Buah secara Basah: The Effect Of Storage Duration Of Red Picked Arabica Coffee (Coffea Arabica L.) On The Performance Of Wet Fruit Skin And Flesh Pulper Machine Ni Made Tuhu Yuliani; Yohanes Setiyo; I Wayan Widia
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Lama penyimpanan buah kopi Arabika petik merah mempengaruhi karakteristik fisik buah sebelum pengupasan secara basah. Penyimpanan menyebabkan perubahan kadar air dan sifat reologi buah, yang mempengaruhi koefisien gesek dan efektivitas mesin pulper. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh lama penyimpanan terhadap kinerja mesin pulper dan mutu biji kopi hasil pengupasan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan yaitu, tanpa penyimpanan (P0), penyimpanan tiga hari (P1), lima hari penyimpanan (P2), dan tujuh hari penyimpanan (P3). Setiap perlakuan dilakukan ulangan 5 kali dan setiap sampel percobaan menggunakan 5 kg buah kopi Arabika petik merah. Buah kopi dengan kadar air awal 55% disimpan hingga kadar air 45–50% sebelum dikupas menggunakan mesin pulper berkapasitas 300 kg/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kerja mesin menurun dari 290 kg/jam (P0) menjadi 204 kg/jam (P3), dengan efisiensi 68,0–96,7%. Semakin lama disimpan, kadar air berkurang, meningkatkan gesekan dan memperlambat pengupasan. Buah kopi Arabika petik merah yang disimpan 3 hari menghasilkan karateristik hasil pengupasan yang optimal yang dicirikan oleh persentase biji terkelupas sempurna 99,16%, persentase buah kulit kopi 42,4%, biji tercampur kulit 0,77%, dan biji pecah 0,26%, memenuhi batas maksimum biji pecah 1% menurut SNI 01-2907-2008. Sementara penyimpanan tujuh hari (P3) meningkatkan persentase biji pecah menjadi 1,15%, melebihi batas standar. Semakin lama penyimpanan, kadar air menurun, kulit mengeras, dan gaya gesek meningkat, menyebabkan kinerja mesin menurun dan kualitas hasil pengupasan memburuk. Disimpulkan bahwa penyimpanan selama tiga hari merupakan perlakuan optimal untuk mempertahankan kualitas biji kopi Arabika serta efisiensi kerja mesin pulper.   ABSTRACT The storage period of red-picked Arabica coffee cherries affects the physical characteristics of the cherries before wet pulping. Storage causes changes in the moisture content and rheological properties of the cherries, which affect the friction coefficient and effectiveness of the pulper machine. This study aims to evaluate the effect of storage period on the performance of the pulper machine and the quality of the peeled coffee beans. The study used a Completely Randomized Design with four treatments: no storage (P0), three days of storage (P1), five days of storage (P2), and seven days of storage (P3). Each treatment was replicated five times, and each experimental sample used 5 kg of red-picked Arabica coffee cherries. Coffee cherries with an initial moisture content of 55% were stored until they reached 45–50% moisture content before being peeled using a pulper machine with a capacity of 300 kg/hour. The results showed that the machine's working capacity decreased from 290 kg/hour (P0) to 204 kg/hour (P3), with an efficiency of 68.0–96.7%. The longer the storage period, the lower the moisture content, increasing friction and slowing down the pulping process. Red picked Arabica coffee cherries stored for 3 days produced optimal peeling characteristics characterized by a percentage of perfectly peeled beans of 99.16%, a percentage of coffee skinned fruit of 42.4%, beans mixed with skin of 0.77%, and broken beans of 0.26%, meeting the maximum limit of broken beans of 1% according to SNI 01-2907-2008. Meanwhile, seven days of storage (P3) increased the percentage of broken beans to 1.15%, exceeding the standard limit. The longer the storage period, the water content decreased, the skin hardened, and the friction force increased, causing machine performance to decrease and the quality of the peeling results to deteriorate. It was concluded that three days of storage was the optimal treatment to maintain the quality of Arabica coffee beans and the efficiency of the pulper machine
Perbandingan Kualitas Pengeringan Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) dengan Para-Para dan Pengeringan Konvensional: Comparison of Arabica Coffee Bean (Coffea arabica L.) Drying Quality using Para-Para and Conventional Drying Methods Noviera Inggrit Kurnia; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Kopi Arabika Kintamani merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan telah memperoleh status indikasi geografis. Namun, mutu biji kopi dari wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kadar air maksimum 12,5% sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-2008). Pengeringan merupakan tahapan krusial dalam proses pascapanen karena secara langsung memengaruhi kadar air dan kualitas akhir biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, serta kadar air pada biji kopi Arabika yang dikeringkan menggunakan metode para-para dan metode konvensional. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (konvensional), P1 (rak atas), P2 (rak tengah), dan P3 (rak bawah). Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mendukung interpretasi hubungan antara variabel lingkungan dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata pada P1 sebesar 37,5°C, kelembaban udara 49,8%, dan intensitas cahaya 136,5 lux, menghasilkan kadar air akhir sebesar 11,2%. Pada P3, suhu rata-rata tercatat 34,9°C, kelembaban udara 57,2%, dan intensitas cahaya 63,0 lux, dengan kadar air akhir 16,9%. Perlakuan P0 dan P2 masing-masing menunjukkan kadar air akhir sebesar 8,5% dan 10,0%. Analisis regresi menunjukkan adanya hubungan kuat antara waktu pengeringan dan penurunan kadar air pada semua perlakuan. Metode para-para, khususnya pada P1 (rak atas), menunjukkan pengeringan yang lebih stabil dan sesuai standar mutu, sehingga dapat direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam menjaga kualitas kopi Arabika.   ABSTRACT Kintamani Arabica coffee is one of Indonesia’s flagship commodities, recognized with a Geographical Indication status due to its distinctive flavor and regional characteristics. However, coffee beans from this region still face challenges in meeting the maximum moisture content requirement of 12.5% as stated in the Indonesian National Standard (SNI 01-2907-2008). Drying is a critical post-harvest stage that directly affects the moisture level and final quality of coffee beans. This study aims to compare temperature, humidity, light intensity, and moisture content of Arabica coffee beans dried using two methods: the para-para drying rack system and conventional sun drying. The treatments applied were P0 (conventional method), P1 (top rack), P2 (middle rack), and P3 (bottom rack). Data analysis was carried out using descriptive statistics and simple linear regression. The results were presented in tables and graphs to support the interpretation of relationships among environmental variables and moisture content. The study found that P1 recorded an average temperature of 37.5°C, relative humidity of 49.8%, and light intensity of 136.5 lux, resulting in a final moisture content of 11.2%. In comparison, P3 recorded a temperature of 34.9°C, humidity of 57.2%, and light intensity of 63.0 lux, with a final moisture content of 16.9%. P0 and P2 had final moisture contents of 8.5% and 10.0%, respectively. Regression analysis indicated a strong correlation between drying time and moisture reduction across all treatments. Drying at P1 (upper rack) demonstrated greater stability and compliance with quality standards, thus it can be recommended as an alternative method to preserve Arabica coffee quality.
Kajian Keterlibatan Family Restaurant Dalam Pengelolaan Sisa Hasil Produksi/Limbah Restaurant Ni Kadek Sita Natasha Dewi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): INPRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika timbulan sampah, komposisi jenis sampah, keterlibatan restoran, serta konsistensi praktik pengelolaan limbah di Kota Denpasar berdasarkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner berbasis skala Likert dan Guttman yang disebarkan kepada sejumlah restoran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar restoran menghasilkan sampah setiap hari dengan dominasi sampah organik. Pemilahan sampah telah dilakukan secara terbatas, namun masih belum menyeluruh dan berstandar. Praktik pengelolaan seperti penggunaan ulang bahan kemasan, penyediaan pelatihan kepada karyawan, dan kerja sama dengan bank sampah juga belum sepenuhnya merata. Berdasarkan analisis mean score dan distribusi frekuensi, diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan 3R berada pada kategori cukup baik, meskipun terdapat aspek-aspek yang memerlukan peningkatan. Sementara itu, hasil analisis skala Guttman menunjukkan indeks reproducibility sebesar 0.767 dan scalability sebesar 0.812, menandakan bahwa konsistensi jawaban responden cukup tinggi dan skala yang digunakan memiliki daya diskriminasi yang kuat. Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun sebagian restoran telah menunjukkan inisiatif dalam pengelolaan sampah, implementasi prinsip 3R belum sepenuhnya optimal dan masih membutuhkan dukungan kelembagaan serta penguatan pada level operasional.
Dampak Lama Proses Aerasi Terhadap Pembuatan Bio-urine Rambu Aniny Arista Imelda Eky Rambu Andiny; Yohanes Setiyo; Gede Arda
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2026.v14.i01.p11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama proses aerasi terhadap produksi biourin dari urin sapi. Selama penelitian dilakukan pengamatan terhadap empat parameter yaitu TDS (Total Dissolved Solids), EC (Electrical Conductivity), Ph (Derajat Keasaman), dan Temperatur. Temperatur fermentasi urin pada perlakuan A (pengadukan 0 menit), B (pengadukan 30 menit), C (pengadukan 60 menit), D (pengadukan 90 menit), dan E (pengadukan 120 menit). Titik puncak temperatur fermentasi dan gradien perubahan temperatur. Temperatur mengalami peningkatan pada perlakuan pengadukan nol menit, 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit berturut-turut yaitu: 0 – 9,56 hari, 0 – 9,02 hari, 0 – 7,31 hari, 0 – 6,0 hari, dan 0 – 7,65. Sedangkan temperatur mengalami penurunan mulai hari ke 9,56; 9,02; 7.31; 6.0 dan 7.65. Penurunan pH yang diamati selama fermentasi disebabkan oleh penguraian bahan organik oleh mikroorganisme menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ini termasuk asam organik, selama dekomposisi molase dan pematangan POC. Akibatnya, pelepasan kation berkurang dan produksi asam meningkat, yang mengakibatkan penurunan pH. Laju peningkatan TDS dalam urin sapi fermentasi dengan perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) Pada semua perlakuan, hubungan antara waktu fermentasi dan nilai TDS bersifat linear, dengan nilai TDS meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan nilai EC yang signifikan antar perlakuan (P1, P2, P3, P4, dan P5) selama fermentasi dan di akhir proses. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pengadukan selama 120 menit merupakan perlakuan terbaik untuk nilai EC. Perubahan nilai EC bio-urin berkaitan dengan proses fermentasi, perubahan pH, dan nilai TDS.
ANALISIS EFISIENSI POMPA IRIGASI UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AIR DI DESA BELANCAN KINTAMANI I Made Candra Adhi Pramana; Yohanes Setiyo; I Wayan Widia
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i01.p03

Abstract

Irrigation systems are a key factor in supporting agricultural productivity, especially in hilly areas such as Belancan Village, Kintamani. Meeting water needs in this area relies heavily on water pumps. This study aims to analyze the energy requirements of pumps used to meet the water needs of crops in the agricultural fields of Belancan Village, Kintamani District, Bangli Regency, Bali Province. The research method used quantitative analysis through observation and several interviews with 8 respondents to collect technical data on pumps (power, capacity, efficiency), topographical data (elevation of water sources and land), and water requirement data based on the types of crops cultivated. Calculations were performed using irrigation water requirement formulas (ETc and Kc of crops) and pump energy analysis based on total head, discharge, and system efficiency. The results of the study showed that the ETo value in Belancan Village based on the FAO Penman-Monteith calculation was 4 mm/day. The ETc values of several farmers who own irrigation pumps are 4.40 to 1.20 mm/day, while the water requirement for coffee (0.083–0.116 l/s/ha), orange (0.065-0.07 l/s/ha), cabbage (0.010-0.063 l/s/ha), potato (0.167-0.22 l/s/ha), tomato (0.130-0.236 l/s/ha), and avocado (0.333-0.433 l/s/ha). Based on Bernoulli's equation, the pump power (P1-P2)/(ρ.g) is 67.95 to 98.11 m O.
Co-Authors Ali Husyain Sakti Arief Sabdo Yuwono Dandy Zulfikar Sulthan Siata Desak Agung Hepi Desak Agung Hepi Dewa Bagus Putu Prabha Diptaya Gede Arda Gede Jaya Kusuma Putra Guna, Kadek Mahendra Adhi Gusti Bagus Eka Chandra Hadi K. Purwadaria Henggar Jaya, Gigieh I B Werdi Putra I Dewa Gde Mayun Permana I Gede Budi Sanjaya I Gst. Ngr. Apriadi A. I Gusti Ayu Evi Sukma Elvayani I Gusti Ayu Lani Triani I Gusti Ketut Arya Arthawan I Gusti Ketut Arya Arthawan I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara I K. Satriawan I Kadek Ari Andika I Kadek Ari Andika, I Made Andi Purnama Wijaya I Made Andi Purnama Wijaya I Made Anom Sutrisna Wijaya I Made Candra Adhi Pramana I Made Dwijantara Putra I Made Merta I Made Mudiarta I Made Nanda Suastika I Made Sudana I Made Suphartha Utama I NYOMAN RAI I Nyoman Semadi I Nyoman Sucipta I Putu Gde Suhartana I Putu Gde Suhartana I Putu Gede Budisanjaya I Putu Surya Wirawan I Putu Tantra Ardika I Putu Tantra Ardika I Wayan Arsa I Wayan Budiarta I Wayan Budiarta I Wayan Edy Wirawan I Wayan Krispedana I Wayan Satrio Wiantara I Wayan Sugiana I Wayan Sugiana I Wayan Tika I Wayan Tika I Wayan Tika I Wayan Widia I Wayan Widia I Wayan Widia I WAYAN WIRAATMAJA I. A. G. Bintang Madrini Ida Ayu Inten Dwi Sulatri Ida Ayu Mahatma Tuningrat Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja IDA AYU RINA PRATIWI PUDJA Ida Ayu Rina Puja Ida Bagus Putu Gunadnya Ida Bagus Putu Gunadnya Ida Bagus Wayan Gunam Ida Bagus Werdi Putra Jarinsen Yanardo Purba Kadek Mahendra Adhi Guna Kadek Mila Adiani KETUT BUDI SUSRUSA Komang Sri Diah Nirmala Dewi Komang Suteja Pramana Komang Suteja Pramana Lutfi Suhendra M Ikram M. Ahkam Subroto Made Arya Bhaskara Putra Made Arya Bhaskara Putra MADE MERTA Made Nada Made Pila Putra Made S Utama Malpindo Ambarita Merisa - Aritonang Merisa Aritonang Muhdan Syarovy Muna, Mukhes Sri Ni Kadek Eva Candra Devi Ni Kadek Sita Natasha Dewi Ni luh Devi Widyanti Ni Luh Putu Sarasulistian Ni Luh Trimayanti Ni Luh Yulianti Ni Made Eva Yulia Dewi Ni Made Tuhu Yuliani Ni Nyoman Sulastri Ni Putu Ayu Prya Chandani Ni Putu Yuliasih Ni Putu Yuliasih Ni Putu Yuliasih Ni Wayan Diana Sepriani Noviera Inggrit Kurnia NYOMAN SEMADI ANTARA Putu Citra Dewi Radi Rambu Aniny Arista Imelda Eky Rambu Andiny Rina Pratiwi Pudja I. A Ronni Agriva Sembiring roy zulkarnaen Sebastiao Massa Sri Markumningsih Sukma Elvayani, I Gusti Ayu Evi Sumiyati - Sumiyati - Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Utama, Made S Wayan Tika Yudha Kristyanto Leksono Yudha Kristyanto Leksono Zainul Arifin