Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Kelembagaan Kelompok Tani Hutan Nekamese Pada Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sisimeni Sanam, Desa Ekateta, Kecamtan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Diana Astuti Atok; Lusia Sulo Marimpan; Roni Haposan Sipayung; Nixon Rammang
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2471

Abstract

Forest areas in Indonesia are often experience pressure due to the limited economic capacity of surrounding communities, which leads to illegal forest utilization. Therefore, the social forestry program emerged as a solution, providing legal access for communities to manage forests sustainably. One of its implementations is through the forestry partnership scheme in the Special Purpose Forest Area (KHDTK) Sisimeni Sanam, which established the Nekamese Forest Farmer Group (KTH Nekamese) as a partner in managing the area. This study aims to analyze the institutional system of KTH Nekamese and identify the factors influencing its institutional development. The research uses a qualitative method with a descriptive approach, involving interviews and field observations of 25 respondents, consisting of 16 KTH members and 9 forestry officers. The results show that the institutional system of KTH Nekamese was analyzed based on main aspects: institutional management, area management, and business management, as stipulated in the Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 89 of 2018 concerning Guidelines for Forest Farmer Groups. These three aspects indicate that KTH Nekamese has a complete and structured institutional system, but its supported by factors such as land availability, organizational structure, and assistance from forestry extension officers. However, the institutional is not yet functioning optimally due to serveral inhibiting factors, such as low member participation, weak administrative recordkeeping, and small-scale group enterprises with limited market access.
Pola Persebaran Pohon Ka Sebagai Bahan Pembuatan Pakaian Adat Di Kampung Adat Tradisional Suku Kabola Desa Kopidil Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor Johan Rizaldi Penlaana; Nixon Rammang; Pamona Silvia Sinaga; Norman P.L.B. Riwu Kaho
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.2636

Abstract

Dalam pemanfaatan hasil hutan sering menimbulkan perdebatan antara kepentingan dan konservasi hutan yaitu eksploitasi hutan yang mengancam kepunahan jenis tumbuhan yang berpengaruh terhadap jumlah spesies dan dapat membentuk pola pola persebaran. Pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat suku Kampung Adat Kabola yaitu kulit kayu dari pohon Ka denganmenebang langsung pohonnya yang menunjukkan bahwa kelestarian dan pertumbuhan pohon merupakan kunci utama. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola persebaran pohon Ka, dampak pengambilan dan upaya konservasi dengan menggunakan metode eksplorasi dan pengamatan pada kawasan pengambilan spesimen di buat petak tunggal berukuran 20 m x 20 m dengan empat kategori pengelompokan spesies yaitu, semai, pancang, tiang dan pohon. Data dianalisis menggunakan indeks morisita dengan hasil analisis diperoleh pola persebaran pohon Ka mengelompok dengan nilai Ip 0,44 yang dipengaruhi oleh faktor biotik (mahkluk hidup) dan abiotik (lingungan). Dampak pemanfaatan kulit kayu pohon Ka dirasakan dari sektor ekonomi, pariwisata dan sosial budaya. Mengingat pentingnya pohon Ka, masyarakat sudah melakukan upaya konservasi sebagai kawasan konservaasi in-situ dengan melakukan penanaman bibit pohon Ka.
Pengelolaan Hutan Berbasis Kearifan Lokal di Hutan Lindung Pong Dode, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur Maria Heldiana Jemian; Nixon Rammang; Pamona Silvia Sinaga; Lusia Sulo Marimpan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3650

Abstract

Forest management is not solely the responsibility of the government; it is also the duty of the community to preserve the forest while improving their own welfare. One of the principles in forest protection and management is the utilization of local community wisdom. Local wisdom is a key asset for communities in advancing themselves without disrupting the social balance that harmonizes with the surrounding natural environment. The application of local wisdom can be found in various regions, such as in forest areas located in East Manggarai Regency, South Lamba Leda Subdistrict. Local wisdom in Mano Village is used to protect and preserve the forest. The purpose of this study is to identify the forms of local wisdom possessed by the community in managing the Pong Dode Protected Forest and to understand the impact of the application of local wisdom in managing the Pong Dode Protected Forest. This research uses a qualitative method with data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The results of this study show that there are two forms of local wisdom: prohibitions and invitations. Local wisdom has a positive impact on the preservation of the Pong Dode Protected Forest, as it instills a fear among the community of damaging the forest and its ecosystems.
Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Mangrove Di Cagar Alam Maubesi (Studi Kasus Desa Kletek Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka) Angela Yunita Kehi; Nixon Rammang; Fadlan Pramatana; Pamona Silvia Sinaga
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3749

Abstract

Indonesia is one of the archipelagic countries that possesses rich marine and coastal resources, both biological and non-biological, one of which is the mangrove forest ecosystem. One of the regencies that has a distribution of mangrove forest ecosystems in East Nusa Tenggara (NTT) is Malaka Regency, specifically in the Maubesi Mangrove Forest Nature Reserve. Theft and logging occurring in the area, particularly involving the santigi mangrove species, can damage the mangrove ecosystem. These issues arise due to the lack of government oversight and limited community participation in protecting the area. Therefore, community involvement is necessary to preserve the mangrove forest. This study aims to determine the level of community participation in Kletek Village in preserving the mangrove forest. Data collection was conducted through field observation, interviews, and documentation using a qualitative descriptive analysis method. Sampling was carried out using purposive sampling. The results of the study indicate that the participation of the Kletek Village community in preserving the mangrove forest is divided into three stages: the planning stage, the implementation stage, and the evaluation stage. The planning stage showed a moderate level of participation at 65.42%, the implementation stage showed a high level of participation at 83.75%, and the evaluation stage showed a moderate level of participation at 63.37%. Factors influencing the level of community participation in preserving the mangrove forest include the level of education, livelihood influences, and the level of public awareness.
PENGOLAHAN SAMPAH DI TEMPAT IBADAH SEBAGAI MEDIA PROMOSI PENGOLAHAN SAMPAH DI SUMBER DI KOTA KUPANG I Gusti Bagus Adwita Arsa; I Wayan Nampa; Yosep Seran Mau; Antonius S. Ndiwa; Nixon Rammang; Fadlan Pramatana
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.39475

Abstract

Sampah masih menjadi salah satu isu utama lingkungan di Kota Kupang. Tata kelola sampah yang belum optimal pada akhirnya menjadi beban lingkungan, baik lingkugan fisik maupun sosial. Fokus penanganan yang dilakukan selama ini lebih banyak pada mobilisasi sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Terlebih TPA yang digunakan masih menggunakan teknologi open dumping. Pengabdian ini dilakukan di salah satu tempat ibadah di kota Kupang. Tempat ibadah dipilih karena menjadi salah satu potensi penyumbang sampah yang cukup besar, baik sampah organik maupun anorganik. Pengolahan sampah di tingkat sumber (tempat ibadah) akan memberikan manfaat ekonomi dan juga menjadi model pengelolaan sampah yang baik, sehingga dapat menjadi acuan dalam pengelolaan sampah rumah tangga atau komunitas. Pengabdian dilaksanakan dengan metoda partisipatif kolaboratif, melalui pemetaan permasalahan, potensi sumber bahan baku (sampah), perencanaan site plan, pengadaan alat pencacah sampah pelatihan proses pembuatan kompos, pengemasan kompos dan pemasarannya. Hasil kegiatan menunjukan bahwa kegiatan PKM ini telah mampu meningkatkan efisiensi pengolahan dan upaya penganganan sampah. Unit pengolahan yang dibangun sudah mampu berproduksi secara berkelanjutan. Teknologi mesin pencacah mampu meningkatkan efisiensi kerja, yaitu hasil yang lebih halus dan waktu yang lebih efisien. Produktivitas pencacahan sampah basah mencapai 60 kg/jam dan sampah kering 34,8 kg/jam. Hasil kegiatan PKM ini juga mampu menyelesaikan pemasalahan yang dihadapi mitra, menghasilkan insentif ekonomi, dan menjadi media promosi penaganan sampah di tingkat sumber. Pelaksanaan kegiatan secara sharing cost (65% mitra 35% PKM) memotivasi mitra untuk menjalankan usaha secara berkelanjutan karena telah turut berinvestasi.
ANALISIS SENYAWA BIOAKTIF DAN UJI KELAYAKAN SIMPLISIA EKSTRAK KULIT BIDARA LAUT (STRYCHNOS LUCIDA) DAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI ANTIMALARIA Carmelia Emerensi Baro; Fadlan Pramatana; Yusratul Aini; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa aktif pada bidara laut(Strychnos lucida) dan daun kelor (Moringa oleifera) secara kualitatif dan kuantitatif sertamenguji kelayakan simplisia kulit bidara laut (Strychnos lucida) dan daun kelor (Moringaoleifera). Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pengujian fitokimia secarakualitatif menggunakan senyawa kimia untuk melihat keberadaan dari metabolit sekunder padatumbuhan obat. Lalu, pengujian secara kuantitatif, dilakukan dengan pengujian fenolik totaldan flavonoid total menggunakan reagen standar Gallic acid dan Catechin.Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam pengujian kualitatif, kulit bidara lautmengandung senyawa flavonoid, alkaloid dan tanin, sedangkan daun kelor mengandungalkaloid dan tanin. Hal ini dapat dipengaruhi oleh metode maserasi yang digunakan, serta faktorinternal dan eksternal yang dapat memengaruhi kandungan metabolit sekunder pada tumbuhanobat. Berikutnya, hasil pengujian kuantitatif menunjukkan bahwa kadar fenolik total pada kulitbidara laut dan daun kelor itu setara sebesar 77.61 mg GAE/g, yang mungkin terjadidikarenakan metode ekstraksi dan kondisi analisis yang dilakukan hampir sama. Sedangkanpada pengujian flavonoid total, nilai kulit bidara laut lebih besar dibandingkan dengan daunkelor yaitu 77,99 mg CA/g untuk kulit bidara laut dan 68,42 mg CA/g untuk daun kelor.Kata Kunci: Senyawa Bioaktif, Simplisia, Bidara Laut, Kelor, Malaria
POTENSI BIOMASSA DAN SERAPAN CO₂ PADA TEGAKAN HUTAN DI BLOK PEMANFAATAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG Rahel Sarina Kartika Robo Tadu; Lusia Sulo Marimpan; Roni Haposan Sipayung; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui kemampuannyamenyerap karbon dioksida (CO₂) dan menyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Informasimengenai potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO₂ pada kawasan konservasidiperlukan sebagai dasar pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta mendukung upaya mitigasiperubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomassa, simpanan karbon,serapan CO₂, dan valuasi ekonomi karbon pada tegakan hutan di blok pemanfaatan TamanWisata Alam (TWA) Camplong, Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 menggunakan metode non destructive dengan teknik line plot sampling pada 57plot pengamatan. Perhitungan biomassa dilakukan menggunakan persamaan allometrik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomassa tegakan hutan sebesar 256,82 ton/hadengan simpanan karbon sebesar 120,75 ton/ha. Potensi serapan CO₂ pada blok pemanfaatanTWA Camplong sebesar 443,14 ton/ha dengan total serapan mencapai 10.068,41 ton CO₂.Berdasarkan nilai tersebut, diperoleh valuasi ekonomi karbon 38.360,68 US Dollar atau setaradengan Rp 592.023.046.. Tingginya potensi biomassa, karbon, dan serapan CO₂ menunjukkanbahwa tegakan hutan di TWA Camplong masih berperan penting sebagai penyerap karbon(carbon sink) yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, pengelolaandan perlindungan kawasan perlu ditingkatkan untuk menjaga fungsi ekologis dan nilai ekonomikarbon yang dimiliki kawasan tersebutKata Kunci : Biomassa, Karbon, Serapan CO2, Valuasi Ekonomi Karbon, TWA Camplong.
UJI KUALITAS DAN UJI ANTIBAKTERI PADA MADU LEBAH HUTAN Apis dorsata (Studi Kasus: Desa Waisika Kabupaten Alor dan Kelurahan Lelogama Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur) Delfiliana Pandie; Lusia S. Marimpan; Nixon Rammang; Bertila Avila Delvion
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat kesehatan, termasuk sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas madu lebah hutan Apis dorsata dan aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Cutibacterium acnes. Penelitian dilakukan menggunakan dua sampel madu yang berasal dari Desa Waisika Kabupaten Alor dan Kelurahan Lelogama Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pengujian kualitas madu meliputi kadar air dan kadar gula menggunakan metode refraktometri. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi sumuran agar. Aktivitas antibakteri diukur berdasarkan diameter zona hambat dan persentase penghambatan terhadap kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air madu Alor sebesar 23,8% dan madu Lelogama sebesar 27,1%,sehingga belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 3545, 2013) karena melebihi batas maksimum 22%. Kadar gula madu Alor sebesar 74,6°Brix dan madu Lelogama sebesar 71,1°Brix telah memenuhi standar mutu madu dengan minimal standar gula menurut SNI 3545, 2013 sebesar 65%. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa kedua madu memiliki aktivitas penghambatan terhadap seluruh bakteri uji pada setiap konsentrasi. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada konsentrasi 100%,dengan persentase penghambatan terhadap bakteri Staphylococcus aureus sebesar 32,44% pada madu Lelogama dan 24,89% pada madu Alor, terhadap Escherichia coli sebesar 22,31% pada madu Lelogama dan 22,67% pada madu Alor, serta terhadap Cutibacterium acnes sebesar 26,67% pada madu Lelogama dan 24,69% pada madu Alor.Kata kunci : Apis dorsata, Kualitas madu, Antibakteri.
PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER MATA AIR DI SUAKA MARGASATWA KATERI OLEH MASYARAKAT DUSUN NUMBEI, DESA KATERI, KECAMATAN MALAKA TENGAH, KABUPATEN MALAKA Maria Angela Trinita Seran; Nixon Rammang; Norman P. L. B. Riwu Kaho; Maria M. E. Purnama
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan memegang peran penting dalam fungsi hidrologis yakni sebagai pengatur dan penyedia sumber daya air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan peran kearifan lokal dalam menjaga keberlanjutan sumber mata air bagimasyarakat Dusun Numbei sebagai pengguna mata air We Kafatu yang terletak di dalam kawasan suaka margasatwa (SM) Kateri, serta merumuskan strategi pengelolaan yang dapat diterapkan untuk mendukung kelestarian sumber mata airtersebut berdasarkan hasil analisis SWOT. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana, didukung oleh analisis SWOT melalui wawancara mendalam terhadap 10 informan kunci. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bentuk kearifan lokal masyarakat Dusun Numbei yang meliputi aturan dan larangan, ritual adat “Halamak Wematan” dan sanksi adat memiliki peran penting dalam pengelolaan mata air We Kafatu. Peran tersebutmencakup dua aspek utama yaitu aspek ekologis dalam menjaga fungsi kawasan dan aspek sosial-budaya dalam memperkuat kesadaran dan membentuk mekanisme pengendalian perilaku masyarakat dalam pemanfaatan sumber mata air. Penelitian ini menekankan tiga strategi utama berdasarkan hasil analisis SWOT yaitu penguatan peran masyarakat melalui kemitraan konservasi, pengembangan pelatihan teknisi dan pemeliharaan vegetasi di sekitar mata air.Kata Kunci: Kearifan lokal, mata air We Kafatu, pengelolaan sumber air, Suaka Margasatwa Kateri
EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI BIOMORDAN ALAMI DARI LOBA (Symplocos sp) DAN TARUM (Indigofera tinctoria L) SERTA APLIKASINYA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEWARNAAN KAIN TENUN Cindy seran; Astin Elise Mau; Bertila Avila Delvion; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi dan mengkarakterisasi biomordan alami daridaun Loba (Symplocos sp.) dan Tarum (Indigofera tinctoria L.), serta mengevaluasi efektivitasnyadalam meningkatkan kualitas pewarnaan kain tenun. Dua metode ekstraksi diterapkan, yaitumaserasi dan sokletasi, menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwametode maserasi menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan sokletasi, yaitu12,99% untuk Loba dan 10,13% untuk Tarum. Uji fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrakmengandung tanin, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vismenunjukkan kadar tanin lebih tinggi pada Tarum, yaitu 16,39% (maserasi) dan 22,49%(sokletasi), dibandingkan Loba yang memiliki kadar 7,50% (maserasi) dan 6,35% (sokletasi).Aplikasi biomordan dilakukan menggunakan teknik pasca-mordanting pada tiga warnabenang (merah, biru, oranye). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak Loba menghasilkan intensitaswarna lebih cerah dan stabil dibandingkan Tarum. Pengukuran warna menggunakan colorimeterWR-10 memperlihatkan nilai lightness, redness, dan yellowness yang cenderung lebih tinggi padabenang yang dimordanting dengan Loba. Uji ketahanan luntur berdasarkan standar SNI ISO 105-C06:2010 menunjukkan bahwa Loba memiliki ketahanan luntur lebih baik (nilai grey scale 4 untukmerah dan biru, 3 untuk oranye) dibandingkan Tarum (nilai 3 untuk merah dan biru, 2 untukoranye). Meskipun Tarum mengandung tanin lebih tinggi, keberadaan Al₂O₃ pada Loba berperanpenting dalam membentuk ikatan kuat antara serat dan pewarna, sehingga meningkatkan intensitaswarna dan ketahanan luntur. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa Loba berpotensi sebagaibiomordan alami yang lebih efektif dibandingkan Tarum dalam aplikasi pewarnaan tenun, sertamemberikan dasar ilmiah untuk pengembangan teknik pewarnaan ramah lingkungan yangmendukung pelestarian budaya tenun Nusa Tenggara Timur.Kata kunci: Symplocos, Indigofera tinctoria, biomordan, tanin, pewarna alami, tenun ikat,ketahanan warna, spektroskopi UV–Vis