Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

TABOT Upacara Tradisi Masyarakat Pesisir Bengkulu Renta, Person Pesona
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 6, No 1: 2011
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.415 KB) | DOI: 10.14710/sabda.6.1.47-55

Abstract

The traditional ceremony of Tabot in Bengkulu is basically to commemorate the suicide of Hassan and Hussein, the grandson of the Prophet Muhammad as martyrs in the field of Karbala. Ceremony of Tabot in Bengkulu was brought by Muslims from India who were working to build the Port of Marlborough in the 17th century AD. Tabot laden with religious rituals, ranging from the preparation, implementation until the end of the ceremony. Tabot is also laden with religious symbols that contain the meaning within. Although not an original culture, Tabot in Bengkulu has become a tradition that does not conflict with the local culture, so that it can be accepted by the community. Ceremony of Tabot in Bengkulu is a tradition held annually by the family descendants of the Tabot from date 1 to date 10 Muharram in Hijri and ends with "Tabot tebuang" in Karbela at Padang Jati area, Bengkulu.
Pathogenic Assay of Probiotic Bacteria Producing Proteolytic Enzymes as Bioremediation Bacteria Against Vannamei Shrimp Larvae (Litopenaeus vannamei) Wilis Ari Setyati; Muhammad Zainuddin; Person Pesona Renta
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.161 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.22.2.93-98

Abstract

Application of bacteria in bioremediation of shrimp culture ponds is one of the methods used to clean internal pollutants. This study aimed to evaluate the pathogenicity of extracellular proteolytic enzyme produced by the probiotic bacteria as bioremediation bacteria on vannamei shrimp larvae culture. There were five probiotic bacteria, which were successfully isolated from the sediments served as substrate in mangrove area. The isolated bacteria were coded in number as 13, 19, 30, 33, and 36. Pathogenic bacteria Vibrio harveyi was used as positive control. Pathogenic assay was carried out in two different bacterial concentrations, i.e. 10⁸ and 10⁶ cells.mL-1. The results showed that the lowest survival rate (SR) of shrimp larvae in positive control V. harveyi was 53 and 65%. Whereas isolates with the highest SR value (100%) were obtained from bacteria coded as 13 and 30. Isolates no. 19, 33 and 36 had SR of more than 90%. Total plate count (TPC) data showed that the bacteria increased significantly at the end of the study with an average increase value of 24%. The smallest TPC value was shown by bacterial isolate no. 19, while the largest was obtained from the isolate no. 13. These results suggest that all probiotic bacteria were not pathogenic to the vannamei shrimp larvae. Keywords: aquaculture, shrimp, bioremediation, pathogenesis, vibrio.
Bakteri Simbion Gastropoda Pleuroploca trapesium Dari Perairan Ternate, Sebagai Alternatif Antibakteri MDR (Bacterial Symbiont Gastropoda Pleuroploca trapezium from Ternate, as Alternative Antibacterial MDR) Delianis Pringgenies; Person Pesona Renta
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.195 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.1.55-62

Abstract

Bakteri yang resisten terhadap beberapa jenis antibakteri ini dikenal dengan bakteri multi drug resistant (MDR).Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan pencarian senyawa antibiotik baru yang lebih efektif dan efisien dalam mengatasi permasalahan bakteri MDR. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri yang bersimbiosis dengan gastropoda Pleuroploca trapezium sebagai sumber antibakteri MDR. Sampel Moluska dikoleksi dari perairan Ternate, Maluku. Tahapan penelitian meliputi isolasi bakteri, skrining  bakteri simbion yang potensi sebagai anti bakteri MDR, uji antibakteri, isolasi bakteri patogen klinis MDR; uji sensitivitas anti-bakteri, ekstraksi, amplifikasi dan sekuensing DNA. Hasil 16S urutan r-DNA dianalisis dan diedit menggunakan program Genetix dan diikuti dengan analisis urutan 16S rDNA. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 19 isolat bakteri dengan 5 bakteri aktif yang berasosiasi dengan Pleuroploca trapezium. Berdasarkan besarnya zona hambat yang dibentuk dan konsistensi munculnya zona hambatan, isolat terbaik adalah TPT 4.7. Isolat ini memiliki hubungan yang dekat dengan Paracoccus  sp. MBIC4019 dengan homologi sebesar 95% yang menunjukkan kekerabatan ditingkat genus. Hasil penelitian ini memberikan harapan adanya potensi besar sebagai bahan antibakteri baru. Kata kunci: antibakteri, simbion, Pleuroploca trapezium, multi drugs resistantThe bacteria resistant to some antibiotics are known as multi drug resistant (MDR). To overcome the problem, it is needed to search for a new antibiotic compounds more effectively and efficiently. This study aims to identify potential from symbionts of Pleuroploca trapezium as a source of antibacteria MDR and identifying the bacteria that were active against the MDR. Samples were collected from Ternate, Maluku. Isolation of symbiotic bacteria, screening for bacteria which producing secondary metabolites as anti-MDR bacteria, antibacterial test, isolation of clinical pathogenic bacteria of MDR. Conducting anti-bacterial sensitivity test,  sensitivity test for antibacterial,  DNA exctraction, DNA amplification based on PCR method, DNA sequencing.  Result of 16S r-DNA sequence was then analyzed and edited using GENETYX program and followed by 16S rDNA sequence analysis. Screening of bacteria associated with P. trapezium resulted in 19 isolates with 5 active bacteria. Based on the size of the zone forming and the consistency of zone, so the best isolate is TPT 4.7. The identification shows that TPT 4.7 has a close relationship with the Paracoccus sp. MBIC4019 with homologi of 95%, which shows the relationship at the genus level. Its suggest that these results are very promising as a new antibacterial material. Keywords: antibacterial, symbiotic bacteria, Pleuroploca trapezium, multi drugs resistant
PERANAN DAN PEMANFAATAN MIKROALGA Tetraselmis chuii SEBAGAI BIOETANOL Bertoka Fajar SP Negara; Nining Nursalim; Nurlaila Ervina Herliany; Person Pesona Renta; Dewi Purnama; Maya Angraini Fajar Utami
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.374 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.2.136-147

Abstract

Bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang berasal dari pelapukan sisa mahluk hidup. Bahan bakar fosil bersifat tidak terbaharukan, maka pencarian bahan bakar alternatif yang terbarukan perlu dilakukan salah satunya bioetanol. Tetraselmis chuii dapat dijadikan bahan baku pembuatan bioetanol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui volume bioetanol yang dihasilkan dari Fermentasi Tetraselmis chuii. Kultur Tetraselmis chuii selama 6 hari. Hidrolisis dilakukan dengan menambahkan H2SO4 0,2 M pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atm selama 30 menit, Fermentasi dengan Saccharomyces cereviseae selama 5 hari. Penelitian ini menghasilkan gula reduksi Tetraselmis chuii dengan kadar gula 4% dan hasil fermentasi Tetraselmis chuii menghasilkan 12 ml etanol dengan konsentrasi 1%.THE ROLE AND UTILIZATION OF MICROALGAE Tetraselmis chuii AS BIOETHANOL. Fossil fuels are the fuel produced from the weathering of living things. Fossil fuels are non-renewable, therefore the research of renewable energy is needed. Bioethanol could be good solution. Tetraselmis chuii can be used as the raw material for bioethanol. The purpose of this study was to determine the volume of ethanol through fermentation of Tetraselmis chuii. Tetraselmis chuii was cultured for 6 days. The hydrolysis used 0.2 M H2SO4 at 1210C and pressure of 1 atm for 30 minutes, and the fermentation used Sacscharomyces cereviseae for 5 days. The results showed that Tetraselmis chuii produced 4% sugar and The fermentation produced 1% bioethanol with volume was 12 ml.
ANALISIS PARAMETER OSEANOGRAFI DAN LINGKUNGAN EKOWISATA PANTAI DI PANTAI PANJANG KOTA BENGKULU Apriliansyah Apriliansyah; Dewi Purnama; Yar Johan; Person Pesona Renta
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.65 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.2.211-227

Abstract

Ekowisata pantai adalah kegiatan ekowisata yang dilakukan di daerah pantai pada umumnya memanfaatkan sumberdaya pantai dan permukaan air. Pantai Panjang Kota Bengkulu merupakan pantai yang terdapat di bagian barat Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pantai Panjang yang membentang sepanjang 7 km dengan luas 84,09 ha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter oseanografi dan lingkungan ekowisata pantai di Pantai Panjang Kota Bengkulu. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survei. Hasil penelitian ini diperoleh sebaran parameter oseanografi dan lingkungan dalam kondisi mendukung untuk kegiatan ekowisata pantai. Parameter-parameter tersebut yaitu tipe pantai, lebar pantai (m), material dasar perairan, kecepatan arus, kecerahan perairan (%), penutupan lahan pantai, biota berbahaya, ketersediaan air tawar (m) dan kedalaman perairan (cm).
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL RUMPUT LAUT Gracilaria edulis TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila Afti Ayu Putri Sinurat; Person Pesona Renta; Nurlaila Ervina Herliany; Bertoka FSP Negara; Dewi Purnama
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.792 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.1.105-114

Abstract

Aeromonas hydrophila merupakan jenis bakteri penyebab penyakit yang paling banyak ditemukan pada usaha budidaya  perikanan. Alternatif pengobatan yang paling sering digunakan yaitu obat-obatan kimia yang tidak ramah lingkungan dan memberikan resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekstrak metanol rumput laut Gracilaria edulis dengan konsentrasi yang berbeda sebagai antibakteri terhadap bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini dimulai dengan preparasi rumput laut guna memperoleh ekstrak rumput laut kemudian melakukan preparasi bakteri yang bertujuan untuk mendapatkan bakteri Aeromonas hydrophila murni. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar. Konsentrasi ekstrak metanol yang digunakan yaitu 3%, 6%, 9%, dan 12%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak rumput laut Gracilaria edulis menggunakan pelarut metanol memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap bakteri patogen Aeromonas hydrophila. Ekstrak metanol dengan konsentrasi 12% memiliki zona hambat yang paling besar (rata-rata 19,7 mm) dibandingkan dengan konsentrasi metanol lainnya. Semua ekstrak Gracilaria edulis memiliki sifat bakteriostatik.ANTIBACTERIAL ACTIVITIES OF SEAWEED METHANOL EXTRACTS Gracilaria edulis AGAINST Aeromonas hydrophila BACTERIA. Aeromonas hydrophila is the most common type of disease-causing bacteria found in aquaculture. The most commonly used alternative treatment is chemical drugs that are not environmentally friendly and provide bacterial resistance. This study aims to analyze the methanol extract of Gracilaria edulis seaweed with different concentrations as antibacterial against the bacterium Aeromonas hydrophila. This study began with the preparation of seaweed in order to obtain seaweed extract and then made bacterial preparations aimed at obtaining pure Aeromonas hydrophila bacteria. Antibacterial activity test using agar diffusion method. The concentrations of methanol extract used were 3%, 6%, 9%, and 12%. Each treatment was repeated three times. The results showed that Gracilaria edulis seaweed extract using methanol solvent had the potential as an antibacterial against the pathogenic bacterium Aeromonas hydrophila. Methanol extract with a concentration of 12% had the largest inhibition zone (average 19.7 mm) compared to other methanol concentrations. All Gracilaria edulis extracts had bacteriostatic properties.
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MOJO KABUPATEN PEMALANG JAWA TENGAH Person Pesona Renta; Rudhi Pribadi; Muhammad Zainuri; Maya Angaraini Fajar Utami
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.802 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.2.1-10

Abstract

Pengelolaan ekosistem mangrove dalam menunjang ekonomi masyarakatpesisir dewasa ini menjadi penting dan menjadi sebuah perhatian khususdikarenakan oleh fungsi dan peran hutan mangrove yang beraneka ragam.Ekosistem Mangrove di Desa Mojo mengalami perubahan luasan dikarenakankegiatan rehabilitasi, faktor alam dan faktor manusia seperti pemukiman, tambak,dan penggunaan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenismangrove dan struktur vegetasi di ekosistem mangrove Desa Mojo, KabupatenPemalang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposif(Purposive Sampling Method) dengan metode sample plot untuk pengamatanstruktur dan komposisi vegetasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwaditemukan 3 spesies mangrove yaitu jenis Avicenia marina, Avicenia alba,Rhizopora mucronata. Kondisi vegetasi mangrove di Desa Mojo pada tingkatpohon didominasi oleh Avicenia marina dengan Indeks Nilai Penting (INP)sebesar 153.24, vegetasi mangrove pada tingkat anakan didominasi olehRhizophora mucronata dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 171,404sedangkan pada tingkat semai tidak ditemukan mangrove di dalam transek. 
PREVALENSI DAN JENIS PENYAKIT YANG MENGINFEKSI KARANG DI PERAIRAN PULAU ENGGANO BENGKULU Person Pesona Renta; Dewi Purnama; Bertoka Fajar Surya Prawira Negara; Dwi Ari Yasinto Rahmantyo; Nico Deodatus Adhi; Raja Aditya Sahala Siagian; Aradea Bujana Kusuma
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.768 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.5.1.101-112

Abstract

Penyakit karang merupakan salah satu permasalahan ekosistem terumbu karang yang diakibatkan oleh manusia. Penyakit karang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan daya imun karang yang ditandai dengan terhambatnya laju pertumbuhan pada karang dan berdampak pada matinya karang di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyakit dan bentuk pertumbuhan karang yang sering terinfeksi penyakit serta menganalisis prevalensi penyakit karang di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengambilan data penyakit karang dengan metode transek sabuk (Belt Transect). Hasil penelitian didapatkn 9 jenis penyakit yang ditemukan di Pulau Enggano, yaitu Yellow Band Desease, Black Band Desease, White Band Desease, Red Band Desease, Dark Plague,  White Plague, Pink Plotch, dan Ulcerative White Spots,  serta White Spot. Sedangkan bentuk pertumbuhan (lifeform) karang yang terinfeksi adalah Coral Massive dan Acropora Branching. Tingkat prevelensi karang tertinggi terdapat pada lokasi Kahabi, sedangkan terendah pada Pulau Dua di bagian windward. Tingginya tingkat prevalensi di Kahabi dimungkinkan karena tingginya kedalaman di lokasi tersebut. Rendahnya tingkat prevalensi karang pada Pulau Dua di sisi windward dimungkinkan karena pada sisi ini merupakan daerah yang terkena arus tiap saat, sehingga membantu karang dalam membersihkan sedimen yang menempel pada permukaan yang dimungkinkan membawa bakteri penyebab penyakit karang.CORAL DISEASE PREVALENCE IN ENGGANO ISLAND, BENGKULU. Coral disease is one of the coral reef ecosystem problems caused by humans. Coral disease causes a decrease in the quality and immunity of corals characterized by stunted growth rates on corals and impacts on the death of corals in waters. This study aims to identify the types of coral disease and coral lifeform that are often infected and analyze the prevalence of coral disease in Enggano Island Waters, Bengkulu. This research used survey method. Coral disease data were obtained using the belt transect method. The results obtained 9 types of coral diseases found on Enggano Island, namely Yellow Band Desease, Black Band Desease, White Band Desease, Red Band Desease, Dark Plague, White Plague, Pink Plotch, and Ulcerative White Spots, and White Spot. While infected lifeforms were Coral Massive and Acropora Branching. The highest level of coral prevalence was at the Kahabi site, while the lowest was on Pulau Dua in the windward area. The high prevalence rate in Kahabi might be due to the high depth at the location. The low level of coral prevalence on Pulau Dua on the windward side might be caused by being exposed to the current at any time, thus helping the coral in cleaning sediments attached to the surface which could carry the bacteria that cause coral disease.
STUDI IDENTIFIKASI KERUSAKAN WILAYAH PESISIR DI KABUPATEN BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU Zamdial Zamdial; Dede Hartono; Deddy Bakhtiar; Eko Nofridiansyah; Person Pesona Renta; Ali Muqsit; Ari Anggoro
JURNAL ENGGANO Special Issue SEMINAR NASIONAL VIRTUAL
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.3.510-528

Abstract

Kabupaten Bengkulu Utara merupakan satu dari 7 kabupaten/kota  di Provinsi Bengkulu yang terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera. Wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara berada pada garis pantai sepanjang ± 115,9 km. Perubahan iklim yang mendorong naiknya permukaan air laut, bencana alam dan aktivitas manusia memberi dampak kerusakan terhadap kondisi wilayah pesisir yang semakin cepat dan kritis. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi kerusakan wilayah pesisir berdasarkan analisis kerentanan di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Kegiatan penelitian yang meliputi observasi lapang,  wawancara, pengolahan dan analisis data, serta  verifikasi hasil penelitian, dilakukan selama 15 hari. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Kerusakan wilayah pesisir yang diukur dari indeks kerentanan, dihitung menggunakan Rumus IKP (Indeks Kerentanan Pantai). Sepanjang wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara, terdapat 22 lokasi yang sudah menunjukkan gejala kerusakan dan dan sudah mengalami kerusakan. Serangai merupakan lokasi dengan IKP tertinggi (wilayah merah), yaitu 67,1 dan 75,0. Ada 8 lokasi yang IKP rendah, 11 lokasi IKP sedang, dan  3 lokasi IKP tinggi. Secara umum, kondisi wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara sudah mengalami kerusakan. Penyebab kerusakan adalah degradasi hutan pantai, abrasi dan longsor, pertambangan-Galian C, alih fungsi hutan pantai, pemukiman, kerusakan muara sungai, pendulang emas tradisional, galian tanah untuk industri batu bata, pertambakan, sedimentasi/akresi, intrusi air laut, dan alur pelabuhan.North Bengkulu Regency is one of 7 regencies / cities in Bengkulu Province which is located on the West Coast of Sumatra Island. The coastal area of North Bengkulu Regency is located on the coastline along ± 115.9 km. Climate change, which has led to rising sea levels, natural disasters and human activities, has had an increasingly rapid and critical impact on coastal conditions. The research objective was to identify damage of coastal areas based on a vulnerability analysis in North Bengkulu Regency, Bengkulu Province. This research was conducted using a survey method. Research activities which include field observations, interviews, data processing and analysis, and verification of research results, were carried out for 15 days. Data analysis was carried out descriptively. Damage of coastal areas measured from the vulnerability index is calculated using the CVI formula (Coastal Vulnerability Index). Along the coastal area of North Bengkulu Regency, there are 22 locations that have shown signs of damage and have already suffered damage. Serangai is the location with the highest CVI (red area), namely 67.1 and 75.0. There are 8 locations with low CVI, 11 locations with medium CVI, and 3 location with high CVI. In general, the condition of the coastal area of North Bengkulu Regency has been damaged. The causes of damage are degradation of coastal forests, abrasion and landslides, mining-C excavation, conversion of coastal forests, settlements, damage to river estuaries, traditional gold panning, excavation for the brick industry, aquaculture, sedimentation / accretion, sea water intrusion, and channels port.
JENIS DAN BOBOT SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) PANTAI PANJANG KOTA BENGKULU Yar Johan; Person Pesona Renta; Dewi Purnama; Ali Muqsit; Pinsi Hariman
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.74 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.2.243-256

Abstract

Pantai panjang telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi ekowisata yang ada di Kota Bengkulu. Terdapat 2 jenis marine debris (sampah organik dan sampah anorganik) yang meyebabkan permasalahan di Pantai Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 macam marine debris yang digolongkan ke dalam sampah organik di Pantai Panjang yaitu kayu, kertas, kelapa, daun, akar, kardus, bambu, kulit durian, pinang, ketapang, serabut, pohon jagung dan mangrove. Sedangkan jenis sampah anorganik ditemukan 21 macam marine debris yaitu plastik, botol kaca, busa, kain, sepatu, pipet, sendal, tutup botol, tali, pecahan kaca, mainan plastik, karpet, pena, boneka, steorofom, karet, gabus, rem dan sikat gigi. Jenis sampah organik yang mendominasi adalah sampah kayu, sedangkan untuk sampah anorganik yang mendominasi adalah sampah plastik. Jumlah potongan sampah laut dan berat sampah laut tertinggi didominasi oleh sampah organik.TYPES AND WEIGHT OF MARINE DEBRIS IN PANJANG BEACH BENGKULU CITY. Panjang beach has been established as one of the ecotourism destinations in Bengkulu city. There were 2 types of marine debris (organic waste and inorganic waste) which cause problems at Pantai Panjang. The results showed that there were 13 types of waste classified as organic waste in Pantai Beach, namely wood, paper, coconut, leaves, roots, cardboard, bamboo, durian, areca nut, ketapang, fibers, corn and mangrove. While inorganic waste types were found 21 kinds of marine debris, namely plastic, glass bottles, foam, cloth, shoes, pipettes, sandals, bottle caps, ropes, broken glass, plastic toys, carpets, pens, dolls, steorofomes, rubber, cork, brakes and tooth brush. The dominant type of organic waste was wood waste, while for inorganic waste that dominates was plastic waste. The highest number of pieces of marine debris and the weight of marine debris was dominated by organic waste.