Adi Santoso
Department Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Diponegoro University

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Kajian Kesesuaian Dan Daya Dukung Kawasan Pesisir Pantai Nglambor Kab. Gunungkidul Yogyakarta Sebagai Kawasan Wisata Bahari Fery Surya Nugraha; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.257 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25905

Abstract

ABSTRAK : Dalam perkembangan dunia pariwisata sekarang ini, jenis pariwisata di Indonesia yang sedang digemari adalah pariwisata yang berbasis lingkungan (alam) dan pariwisata yang berbasis sejarah. Obyek wisata Pantai Nglambor merupakan sebuah pantai yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Pantai Nglambor berada dalam satu kawasan dengan Pantai Siung. Pantai Nglambor memiliki berbagai potensi alam dan budaya yang cukup menarik, namun potensi yang ada belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah desa maupun masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk pengembangan kegiatan wisata bahari, mengetahui luasan area pengembangan kegiatan wisata bahari, mengetahui luasan area pengembangan kegiatan wisata pantai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-November 2016. Metode penelitian ini digunakan dalam bentuk metode deskriptif. Untuk analisis data penelitian ini menggunakan metode non parametrik yaitu indeks kesesuaian wisata (IKW) dan analisis daya dukung kawasan (DDK). Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, seluruh stasiun pengamatan (stasiun 1, 2, dan 3) memiliki nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) diatas 80% dengan rincian sebagai berikut: di stasiun 1 dengan nilai IKW sebesar 98,85%; di stasiun 2 nilai IKW 94,25%; serta stasiun 3 memiliki nilai IKW sebesar 90,804%, yang artinya bahwa di semua stasiun pengamatan (stasiun 1,2 dan 3) masuk kedalam kategori kesesuaian wisata sangat sesuai (S1) sebagai kawasan wisata pantai. Kegiatan wisata yang dapat dikembangkan antara lain, Snorkeling, Berjemur dan Susur pantai. Luas area yang dapat dimanfaatkan adalah sekitar 159,798 m2 dan memiliki daya tampung maksimal 392 orang untuk melakukan kegiatan wisata pantai efektif harian. ABSTRACT : In the development of world tourism, the environmental and hystorical based tourism are most popular tourism in Indonesia right now. Tourism of Nglambor Beach is a beach located in the village of Purwodadi, Tepus sub-Regency, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta. Nglambor beach is located in an area with Siung beach. Nglambor Beach has a variety of natural and cultural potential which is interesting enough, but the potential has not yet been managed optimally by the Government of the village as well as the local community. This Study inteded to assign suitable location for development marine tourism activity, know extents area development and capacity unit area that intended of tourism activity beach tourism. The research has been done from March till November 2016. This research methods used tourism compliance index (IKW) and carrying capacity analysis (DDK). Based on the calculations that have been done, the whole observation station (station 1, 2, and 3) has an suitability analysis of the area (IKW) above 80% with details as: at station 1 with a value of IKW 98,85%; at station 2 value of IKW 94.25%; as well as the station 3 has a value of 90,804%, the IKW. This area has a category S1 (very suitable). Other tourism activities that can be developed are Snorkeling, Sun bathing, and Fringing the beach. The area can be promoted is 159.798 m2 and has capacity of maximum 392 person tourist effective daily.
Simpanan Karbon Enhalus acoroides LF. Royle 1839 (Angiosperms: Hydrocharitaceae) di Pantai Gelaman dan Pantai Alang-Alang, Karimunjawa Jepara Viny Ratnasari; Ali Djunaedi; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.555 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25303

Abstract

ABSTRAK: Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai aktifitas kegiatan manusia yang menghasilkan gas karbon diokasida ke atmosfer bumi yang akan berdampak pada pemanasan global. Ekosistem padang lamun memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar dari atmosfer yang dapat mengurangi emisi karbon. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kerapatan, tutupan lamun, biomassa dan simpanan karbon pada lamun Enhalus acoroides di Pantai Gelaman dan Pantai Alang-Alang. Penelitian menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode line transect quadrant yang mengacu pada metode LIPI. Sampling dilakukan pada titik 50 m setiap substasiun dengan metode pencuplikan. Pengukuran karbon pada sampel lamun menggunakan metode LOI.Kerapatan lamun di Stasiun 1 sebesar 1235 ind/m2 dan nilai tutupan lamun sebesar 68,76%. Kerapatan Stasiun 2 sebesar 1135 ind/m2 dan tutupan lamun sebesar 51,78%. Nilai rata-rata estimasi simpanan karbon lamun Enhalus acoroides di Stasiun 1sebesar 119.27 gC/m2 dan di Stasiun 2 sebesar 91.57 gC/m2. ABSTRACT: Climate change is caused by various human activities that produce carbon dioxide gas into the earth atmosphere which will have an impact on global warming. Seagrass ecosystem is able to absorb and store large number of carbon from the atmosphere that can reduce carbon emissions. This research were to determine the density, seagrass cover, biomass and carbon storage in seagrasses at Gelaman Beach (Station 1) and Alang-Alang Beach (Station 2). Survey and sampling. Were conducted using quadrant transect referring to LIPI method. Observation of the density value, the percentage of seagrass coverage was conducted in all points, while the sampling was conducted at the point 50 m on each substation by sampling method. Carbon measurement in seagrass sample used LOI method. Total seagrass density in Station 1 was 1235 ind/m2 and the total value of seagrass percentage cover was 68,76%. Total seagrass density in Station 2 was 1135 ind/m2 and total value of seagrass percentage cover was 51,78%. Average value for carbon savings estimated seagrass Enhalus acoroides in Station 1 was 119.27 gC/m2 and Station 2 was 91.57 gC/m2.
Potensi Risiko Kesehatan Manusia Akibat Konsumsi Perna viridis yang Mengandung Kadmium Farhan Ghifari; Adi Santoso; Jusup Suprijanto
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32338

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu Kawasan yang padat penduduk dan terdapat banyak aktivitas seperti industri, Pelabuhan dan menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah hasil kegiatan industri, Pelabuhan dan rumah tangga diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat kadmium (Cd) di perairan dan mempengaruhi biota laut seperti kerang hijau ( Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) serta mengetahui potensi risiko Kesehatan yang timbul   apabila   mengkonsumsi kerang hijau (Perna viridis) tersebut. Penelitian ini   dilaksanakan pada   bulan Desember 2020, Januari 2021, dan Maret 2021 dengan metode deskriptif. Analisis kandungan logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam berat pada air berkisar <0,001-0,696 mg/L, sedimen <0,001-1,931 mg/kg, dan jaringan lunak kerang hijau (Perna viridis) 0,070-1,693 mg/kg. Berdasarkan perhitungan Estimasi Asupan Harian (EDI) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,000026-0,000626 mg/kg/hari dan pada perempuan dewasa berkisar 0,000035-0,000835 mg/kg/hari. Sedangkan nilai tingkat risiko (THQ) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,026-0,626. Dan untuk perempuan berkisar 0,035-0,835. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di perairan Tambaklorok Semarang di air, sedimen dan jaringan lunak kerang hijau sudah terindikasi tercemar logam berat Cd. Kewaspadaan mengkonsumsi kerang hijau perlu dilakukan meskipun dari aspek kesehatan berdasarkan perhitungan EDI dan THQ masih aman dan belum menunjukkan tingkat bahanya. Tambak Lorok Semarang is one of the densely populated areas. There are many activities such as industry, ports, and becoming a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. The waste resulted is suspected of causing heavy metal cadmium (Cd) pollution in the waters and affecting marine biota such as green mussels (Perna viridis). This study aimed to determine the content of Cd in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) and to determine the potential health risks that arise when consuming the mussels. The field study occurred in December 2020, January 2021, and March 2021 with a descriptive method. Analysis of the Cd content was conducted at the Environmental Engineering Laboratory Diponegoro University by the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results of the heavy metal content in water, sediment, and mussels' soft tissue respectively ranged from <0.001-0.696 mg/L, <0.001-1.931 mg/kg, and 0.070-1.693 mg/kg. The Estimated Daily Intake (EDI) for adult males' values ranged from 0.000026-0.000626 mg/kg/day, and for adult females from 0.000035-0.000835 mg/kg/day. While the value of the risk level (THQ) for adult males showed a value ranging from 0.026-0.626. And for females, it ranged from 0.035 to 0.835. It showed that Cd contaminated the water, the sediment, and soft tissue of green mussels in Tambaklorok Waters. Even though a health aspect is still safe and has not shown the danger, people have to be precaution in consuming the mussels.
Kandungan Logam (Pb) pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal Serta Batas Aman Konsumsi untuk Manusia Arya Fernandes; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35251

Abstract

Kegiatan pembangunan industri yang berkembang cukup pesat di kawasan industri Kabupaten Kendal diduga menjadi penyebab meningkatnya limbah buangan industri yang didalamnya terkandung logam berat timbal (Pb), sehingga limbah tersebut berkontribusi menurunkan kualitas perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar logam (Pb) pada air, sedimen, dan kerang darah (A. granosa) serta batas maksimal konsumsi mingguan kerang darah (A. granosa) yang mengandung logam timbal (Pb) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret dan April 2022. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deksriptif sedangkan penentuan lokasi penelitian dengan metode purposive sampling. Analisis konsentrasi logam berat Pb dilakukan di Laboratorium Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry), sedangkan untuk analisis batas aman konsumsi mingguan dihitung dengan MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil penelitian ditemukan konsentrasi logam Pb di perairan Bandengan sebesar <0,003 mg/l, sedimen berkisar 15,32-24,21 mg/kg, dan kerang darah berkisar 0,209-0,731 mg/kg. Berat maksimal mengkonsumsi kerang darah (A. granosa) perminggu dari perairan Bandengan, Kabupaten Kendal individu dengan berat badan 60 kg sebesar 2,051-7,177 kg/minggu. Sedangkan, individu dengan berat 45 kg yaitu 1,538-5,382 kg/minggu. Industrial development activities have been developing quite rapidly in the Kendal Regency industrial area and are suspected to be the cause of the increase in the waste containing lead (Pb) heavy metal. It might contribute to reducing the quality of Bandengan waters. This study was to know the levels of metal (Pb) in water, sediment, and blood cockles (A. granosa) and the maximum weekly consumption of the cockles containing lead (Pb) in the waters. The study conducted in March and April 2022 used the descriptive method and purposive sampling to determine the locations. Analysis of Pb concentration was at the Laboratory of the Center for Industrial Pollution Prevention Technology (BBTPPI) using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) method. The analysis of the safe limit for weekly consumption was using the formula of MTI (Maximum Tolerable Intake). The results showed that Pb concentrations in water, sediment, and tissue in Bandengan waters were <0.003 mg/l, 15.32 - 24.21 mg/kg, and 0.209 - 0.731 mg/kg, respectively. The maximum weight of consuming blood cockles (A. granosa) per week from Bandengan waters, Kendal Regency of 60 kg individuals weighing was 2,051 - 7,177 kg/week. Meanwhile, individuals weighing 45 kg were 1,538 - 5.382 kg/week.
Nilai Simpanan dan Harga Karbon Ekosistem Mangrove Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah Fifi Nur Hidayah; Subagiyo Subagiyo; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i2.34616

Abstract

Pemanasan global merupakan salah satu fenomena alam  yang sedang berlangsung dan disebabkan oleh adanya peristiwa efek rumah kaca. Penyebab terjadinya efek rumah kaca diantaranya adalah meningkatnya konsentrasi gas Karbondioksida (CO2) di atmosfer. Hutan mangrove berperan sebagai upaya mitigasi akibat dari pemanasan global karena salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah sebagai penyimpan karbon (C). Tujuan dari peneitian ini secara umum dilakukan untuk mengevaluasi simpanan karbon pada rehabilitasi mangrove desa Pasar Banggi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yang dilakukan pada tiga stasiun. Masing-masing stasiun dibagi menjadi tiga plot yang bertujuan untuk menghitung nilai biomassa menurut rumus alometrik. Estimasi simpanan karbon pada substrat didapat dari pengambilan sampel sedimen di setiap stasiun yang selanjutnya dilakukan analisis kandungan bahan organik dengan metode LOI (Loss on Ignation) di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Universitas Diponegoro. Setelah mendapatkan hasil nilai simpanan karbon pada tegakan dan substrat kemudian dilakukan perhitungan nilai ekonomi karbon. Berdasarkan hasil penelitian di Ekosistem Mangrove Desa Pasar Banggi didapatkan nilai simpanan karbon pada tegakan sebesar 74.986,95 ton/ha pada substrat sebesar 202,61 ton/ha. dan untuk nilai ekonomi sebesar Rp 6.302.937 untuk harga pasar sukarela dan untuk harga pasar wajib sebesar Rp 16.476.737.063,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai simpanan karbon dan nilai ekonomi mangrove di Desa Pasar Banggi Jumlahnya sangat Besar dan mampu menjadi salah satu solusi untuk perubahan iklim.Global warming is an ongoing natural phenomenon caused by the greenhouse effect. One of the causes of the greenhouse effect is the increased concentration of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. Mangrove forests act as mitigation efforts due to global warming because one of the functions of mangrove forests is to store carbon (C). The purpose of this research is generally to evaluate carbon storage in the mangrove rehabilitation of the Pasar Banggi Village. The method used in this study is a descriptive method which was carried out at three stations with different mangrove conditions. Each station is divided into three plots which aim to calculate the biomass value according to the allometric formula. Estimation of carbon deposits on the substrate was obtained from sediment sampling at each station which was then analyzed for organic matter content using the LOI (Loss on Ignation) method in the Nutrition and Feed Laboratory of Diponegoro University. After getting the results of the carbon storage value in the stand and substrate, then the calculation of the economic value of carbon is carried out. Based on the results of research in the Mangrove Ecosystem of Pasar Banggi Village, the value of carbon stored in the stands was 74,986.95 tons/ha on a substrate of 202.61 tons/ha. And for the economic value of Rp. 6,302,937 in the voluntary market and for the mandatory market, it is Rp. 16,476,737,063.5. These results indicate that the value of carbon storage and the economic value of mangroves in the Pasar Banggi Village is very large and can be one of the solutions for climate change.
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) di Perairan Bandengan Kendal serta Analisis Batas Aman Konsumsi Nadaa Salsabiila Nuri; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35276

Abstract

Perairan Bandenga Kendal termasuk dalam kawasan pantai utara di Laut Jawa. Perairan Bnadengan Kendal di kelilingi oleh berbagai industri, dan juga terdapat Pelabuhan Kendal, serta pemukiman warga. Hal ini dapat berpotensi adanya pencemaran laut. Perkembangan industri tersebut akan berdampak negatif bagi lingkungan laut termasuk organisme yang hidup di dalamnya seperti Kerang Bulu. Kerang Bulu menjadi komoditas penunjang ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan timbal yang terkandung dalam air, sedimen dan jaringan lunak kerang bulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2022 dan penelitian ini menggunakan analisis dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan timbal dalam kerang bulu pada bulan Maret – April 2022 berkisar antara 0,840 – 4,093 mg/kg, dalam air berkisar 0,134 - 0,47 mg/l dan dalam sedimen berkisar 5,251 – 12,303 mg/kg. Berdasarkan baku mutu yang ditetapkan oleh PP No 22 tahun 2021 kandungan timbal dalam air yaitu 0,008 mg/l., kandungan logam berat timbal di air dari perairan Bandengan Kendal sudah melebihi baku mutu. Berdasarkan ANZECC/ARMCANZ baku mutu logam berat timbal dalam sedimen yaitu 50 mg/kg, kandungan logam berat timbal dalam sedimen di Perairan Bandengan Kendal, Kabupaten Kendal masih di bawah baku mutu. Sedangkan, baku mutu logam berat timbal dalam kerang bulu menurut SNI 7387:2009 yaitu 1,5 mg/kg. Kandungan logam berat timbal dalam kerang bulu sudah melebihi batas baku mutu. Faktor konsentrasi logam berat dari sedimen ke air berkisar 19,463 – 42,440. Faktor biokonsentrasi (BCF) dari kerang bulu ke air berkisar antara 5,021 – 11,932 dan BCF dari kerang bulu ke sedimen berkisar antara 0,159 – 0,404.Bandengan Kendal waters are in the northern coastal area of the Java Sea. Industries, Bandengan Kendal Port, and settlements surrounding the waters potentially polute with heavy metal such as the lead. The industry development may harm the marine environment, such as for the Antique Ark (Anadara antiquata). A. antiquata is one of the commodities which can support the community's economy. This study aimed to measure the lead contents in the water, sediment, and the soft tissue of A. antiquata. The research did from March - April 2022, and it used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) analysis method. The results showed that the lead contents in water, sediment, and soft tissue were 0.134 - 0.470 mg/l, 5.251 - 12.303 mg/l, and 0.840 - 4.093 mg/kg, respectively. Based on the Quality Standards set by the Regulations of Government of Republic Indonesia no 22 in 2021 is 0.008 mg/l, the lead content in water from Bandengan Kendal waters had exceeded the quality standard. Based on ANZECC/ARMCANZ the standard quality of lead in sediments is 50 mg/kg, and the lead content in sediment in Bandengan Kendal waters was still below the quality standard. Meanwhile, the quality standard for lead in soft tissue according to SNI 7387:2009 is 1.5 mg/kg. The lead content in A. antiquata soft tissue had exceeded the quality standard limit. The concentration factor of heavy metals from sediment to water ranged from 19.463 – 42.440. The bioconcentration factor (BCF) from the clam to water ranged from 5.021 – 11.932, and BCF from the clam to sediment ranged from 0.159 – 0.404.
Strategy Rehabilitation and Management of Mangrove Based on SWOT Analysis in Betahwalang Village Bonang, Bonang Sub-District, Demak Regency, Central Java. Hanik Rahmawati; Rudhi Pribadi; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.26959

Abstract

The mangrove ecosystem in Demak District can be found one of them in Betahwalang Village, Bonang Sub District. Betahwalang Village. The management of mangrove ecosystem that is not environmentally friendly, especially in the village Betahwalang, District Bonang, Demak District This can certainly threaten the coastal area. The purpose of this study is to recommend a strategy of continuing rehabilitation and mangrove forest management in Betahwalang Village, Bonang Sub-district, Demak Regency, Central Java. This study was held in March-April 2019 in Betahwalang Village, Bonang Sub-district, Demak Regency, Central Java using descriptive method explorative. Based on the results of research obtained rehabilitation strategy and management of mangrove forest in Betahwalang Village produced 5 (five) priority is (1) active participation of the community in the efforts of mangrove rehabilitation (2) implementation Systems that are more structured for farmer groups such as the record of mangrove planting data (3) synergy between village regulations with local regulations in the efforts of mangrove rehabilitation (4) optimizing cooperation between Government and non-governmental institutions Government in the management of mangrove forests and efforts to professionals mangrove forest (5) utilization of technology and information in the management of mangrove and garbage in the area of mangrove forest. 
Mangrove Health Index di Kawasan Mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak Twiki Husnu Indrazora; Adi Santoso; Nirwani Soenardjo
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43270

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan vegetasi yang dapat tumbuh dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Keberadaan mangrove memiliki peran utama sebagai nilai ekologis, fisik, dan ekonomis yang tinggi, namun jika tidak dikelola dengan bijak, mangrove sangat rentan dengan kerusakan. Ekosistem mangrove di sekitar pantai utara jawa merupakan salah satu ekosistem mangrove yang mengalami degradasi. Pengelolaan kawasan hutan mangrove diperlukan agar hutan mangrove tetap lestari dan dapat bermanfaat bagi masyarakat hingga masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks kesehatan mangrove di kawasan hutan mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023. Lokasi pengamatan terbagi menjadi 2 stasiun. Pada Stasiun 1 didominasi mangrove dengan jenis Rhizophora mucronata sedangkan pada Stasiun 2 ditemukan mangrove dengan jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia marina. Data yang digunakan dalam dasar pengelolaan kawasan hutan mangrove dapat berasal dari menghitung Mangrove Health Index (MHI). Data yang digunakan meliputi diameter rata-rata batang, kerapatan anakan, tutupan kanopi mangrove, dan parameter perairan (suhu, pH, dan salinitas). Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi dengan pengamatan secara langsung disertai dengan analisis dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak memiliki kategori Mangrove Health Index (MHI) moderate dengan rata-rata nilai 54,25%. The mangrove ecosystem is vegetation that can grow under the influence of sea tides. The existence of mangroves has a major role as high ecological, physical and economic value, but if not managed wisely, mangroves are very vulnerable to damage. The mangrove ecosystem around the north coast of Java is one of the mangrove ecosystems that is experiencing degradation. Management of mangrove forest areas is necessary so that mangrove forests remain sustainable and can be useful for the community in the future. The aim of this research is to determine the mangrove health index in the mangrove forest area of Bedono Village, Sayung District, Demak Regency. This research was carried out in November 2023. The observation location was divided into 2 stations. At Station 1, mangroves are dominated by the Rhizophora mucronata type, while at Station 2, mangroves are found with the Rhizophora mucronata and Avicennia marina types. The data used in basic management of mangrove forest areas can come from calculating the Mangrove Health Index (MHI). The data used include average stem diameter, tiller density, mangrove canopy cover, and water parameters (temperature, pH, and salinity). The research method used is the observation method with direct observation accompanied by analysis and presentation of data. The research results show that Bedono Village, Sayung District, Demak Regency has a moderate Mangrove Health Index (MHI) category with an average value of 54.25%.
Kandungan Pb pada Perna viridis di Muara Sungai Kendal serta Analisis MTI Terhadap Manusia Muhammad Iqomatuddin; Ita Widowati; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.35252

Abstract

Muara Sungai Kendal terletak di pesisir utara Pulau Jawa yang dikelilingi oleh kegiatan industri dan aktivitas masyarakat yang mengalami pertumbuhan penduduk. Hal tersebut diduga menjadi sumber logam berat Pb diperairan dan mengontaminasi kerang hijau sebagai komoditas setempat. Pengaruh negatif yang dihasilkan Pb pada lingkungan dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Pb dalam air dan sedimen, faktor konsentrasi dan biokonsentrasi, serta batas aman konsumsi per minggu pada kerang hijau bagi masyarakat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – April 2022. Metode penelitian adalah deskriptif analitik dengan pemilihan lokasi berdasarkan purposive sampling. Analisa kandungan Pb pada sampel menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) dan analisis data yang dilakukan meliputi faktor konsentrasi, faktor biokonsentrasi dan MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil kandungan Pb dalam air berkisar 0,372 –0,572 ppm, pada sedimen berkisar 5,291-16,399 ppm, dan jaringan lunak kerang hijau berkisar 1,31–4,036 ppm. Nilai Bio Concentration Factor (BCF) kerang hijau terhadap air berkisar 3,4–9,24 dan sedimen berkisar 0,14–0,62 dengan kategori kadar rendah, sedangkan Faktor Konsentrasi (FK) berkisar 9,25–39,9 kali. Batas aman konsumsi kerang hijau per minggu untuk rata-rata berat badan laki-laki 60 kg adalah 0,37–1,15 kg per minggu sedangkan rata-rata berat badan perempuan 45 kg adalah 0,28–0,86 kg per minggu setiap individu. The estuary of the Kendal River is located on the northern coast of Java Island, surrounded by industrial activities and community activities that are experiencing population growth. This is suspected to be a source of heavy metal Pb in the waters and contaminates green mussels as a local commodity. Pb's negative effect on the environment can damage the environment and human health. This study aims to determine the Pb content in water and sediment, concentration and bioconcentration factors, and the community's safe limit for weekly consumption of green mussels. The research was conducted in March – April 2022. The research method was descriptive-analytic, selecting locations based on purposive sampling. Analysis of the Pb content in the sample used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) method, and the data analysis performed included concentration factors, bioconcentration factors, and MTI (Maximum Tolerable Intake). The results of Pb content in water ranged from 0.372 to 0.572 ppm; in sediments, it ranged from 5.291 to 16.399 ppm; and in green mussel meat, it ranged from 1.31 to 4.036 ppm. The Bio Concentration Factor (BCF) value of green mussels to water ranged from 3.4 to 9.24, sediment ranged from 0.14 to 0.62 in the lowgrade category, while the factor concentration (FK) ranged from 9.25 to 39.9 times. The safe limit of green mussel consumption per week for an average male body weight of 60 kg is 0.37–1.15 kg per week, while the average body weight of a female of 45 kg is 0.28–0.86 kg /week/individual