Jusup Suprijanto
Departemen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan., Universitas Diponegoro

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Marine Research

Mikroplastik pada Tentakel dan Pencernaan Cumi – Cumi dari TPI Tambak Lorok Dewi Basthika Makrima; Jusup Suprijanto; Bambang Yulianto
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35081

Abstract

TPI Tambak Lorok adalah salah satu TPI yang ada di Semarang.  Beberapa biota laut didaratkan di TPI tersebut salah satunya cumi–cumi. Penelitian cumi–cumi masih jarang dilakukan, seperti penelitian mengenai mikroplastik pada cumi – cumi, dikarenakan cumi–cumi merupakan salah satu biota konsumsi maka perlu diketahui apakah mikroplastik sudah masuk kedalam cumi – cumi. Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah, bentuk, warna dan ukuran mikroplastik pada tentakel dan pencernaan cumi- cumi dari TPI Tambak Lorok. Penelitian dilakukan bulan Juli–November 2020 di Semarang. Pengambilan sampel dilakukan di TPI Tambak Lorok.  Cumi – cumi yang didapatkan diukur menggunakan jangka sorong. Selanjutnya sampel dibedah menggunakan gunting dipisahkan tentakel dan pencernaannya. Pelarutan bahan organik menggunakan KOH 10% selama 24 jam. Pemisahan partikel mikroplastik menggunakan ZnCl2 selama 24 jam. Pemisahan partikel akan membentuk 2 lapisan yaitu cairan bening dan endapan. Cairan bening diambil 10 ml untuk dilakukan penyaringan menggunakan vacum pump. Hasil vacum pump dikeringkan dilanjutkan pengamatan visual menggunakan mikroskop untuk dihitung jumlah, diamati bentuk, warna dan ukuran mikroplastik. Mikroplastik ditemukan lebih banyak pada pencernaan 343 partikel dan pada tentakel 212 partikel. Bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fiber, film, fragmen dan pelet. Mikroplastik ditemukan 6 warna yaitu hitam, putih, merah, oranye, kuning, biru. Ukuran mikroplastik ditemukan 0,54–100,75 µm. TPI Tambak Lorok  is one of the TPI in Semarang. Some marine biota landed at the TPI, one of which was squid. Research on squid is still rarely done, such as research on microplastics in squid, because squid is one of the consumption biota, it is necessary to know whether microplastics have entered the squid. The purpose of this research is  to determine the total, shape, color and size of microplastics in the tentacles and digestion of squid from TPI Tambak Lorok. The research was conducted in July 2020 – November 2020 in Semarang. Sampling was carried out at TPI Tambak Lorok. The squid obtained were measured using a caliper. Next step, the sample was dissected using scissors to separate the tentacles and digestive tract. Dissolution of organic ingredients using 10% KOH for 24 hours. Separation of microplastic particles using ZnCl2 for 24 hours. Separation of particles will form 2 layers, namely clear liquid and precipitate. 10 ml of clear liquid was taken to be filtered using a vacuum pump. The results of the vacuum pump were dried followed by visual observations using a microscope to count the total, observe the shape, color and size of microplastics. Microplastics were found more in the squid digestion of 343 particles and in the squid tentacles of 212 particles. The shape of microplastics found were fiber, film, fragments and pellets. Microplastics were found in 6 colors that is black, white, red, orange
Potensi Risiko Kesehatan Manusia Akibat Konsumsi Perna viridis yang Mengandung Kadmium Farhan Ghifari; Adi Santoso; Jusup Suprijanto
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32338

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu Kawasan yang padat penduduk dan terdapat banyak aktivitas seperti industri, Pelabuhan dan menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah hasil kegiatan industri, Pelabuhan dan rumah tangga diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat kadmium (Cd) di perairan dan mempengaruhi biota laut seperti kerang hijau ( Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) serta mengetahui potensi risiko Kesehatan yang timbul   apabila   mengkonsumsi kerang hijau (Perna viridis) tersebut. Penelitian ini   dilaksanakan pada   bulan Desember 2020, Januari 2021, dan Maret 2021 dengan metode deskriptif. Analisis kandungan logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam berat pada air berkisar <0,001-0,696 mg/L, sedimen <0,001-1,931 mg/kg, dan jaringan lunak kerang hijau (Perna viridis) 0,070-1,693 mg/kg. Berdasarkan perhitungan Estimasi Asupan Harian (EDI) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,000026-0,000626 mg/kg/hari dan pada perempuan dewasa berkisar 0,000035-0,000835 mg/kg/hari. Sedangkan nilai tingkat risiko (THQ) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,026-0,626. Dan untuk perempuan berkisar 0,035-0,835. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di perairan Tambaklorok Semarang di air, sedimen dan jaringan lunak kerang hijau sudah terindikasi tercemar logam berat Cd. Kewaspadaan mengkonsumsi kerang hijau perlu dilakukan meskipun dari aspek kesehatan berdasarkan perhitungan EDI dan THQ masih aman dan belum menunjukkan tingkat bahanya. Tambak Lorok Semarang is one of the densely populated areas. There are many activities such as industry, ports, and becoming a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. The waste resulted is suspected of causing heavy metal cadmium (Cd) pollution in the waters and affecting marine biota such as green mussels (Perna viridis). This study aimed to determine the content of Cd in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) and to determine the potential health risks that arise when consuming the mussels. The field study occurred in December 2020, January 2021, and March 2021 with a descriptive method. Analysis of the Cd content was conducted at the Environmental Engineering Laboratory Diponegoro University by the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results of the heavy metal content in water, sediment, and mussels' soft tissue respectively ranged from <0.001-0.696 mg/L, <0.001-1.931 mg/kg, and 0.070-1.693 mg/kg. The Estimated Daily Intake (EDI) for adult males' values ranged from 0.000026-0.000626 mg/kg/day, and for adult females from 0.000035-0.000835 mg/kg/day. While the value of the risk level (THQ) for adult males showed a value ranging from 0.026-0.626. And for females, it ranged from 0.035 to 0.835. It showed that Cd contaminated the water, the sediment, and soft tissue of green mussels in Tambaklorok Waters. Even though a health aspect is still safe and has not shown the danger, people have to be precaution in consuming the mussels.
Analisis Kandungan Mikroplastik pada Sedimen di Perairan Semarang, Jawa Tengah Faisal Tegar Ibrahim; Jusup Suprijanto; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.36506

Abstract

Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah serta menjadi pusat bisnis, ekonomi, pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial. Hal ini menyebabkan kota ini memiliki produksi sampah yang besar. Sampah plastik, yang merupakan salah satu jenis sampah yang sering ditemukan dapat mengalami degradasi menjadi potongan plastik lebih kecil yang dinamakan mikroplastik. Perairan Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena Kota Semarang merupakan daerah dengan aktivitas manusia yang tinggi dan menghasilkan banyak limbah plastik yang dapat mengendap dalam sedimen laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pencemaran mikroplastik pada sedimen di Perairan Semarang. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada bulan April, Mei, Agustus, dan September 2021 secara purposive sampling menggunakan alat sediment grab di tiga titik berbeda yaitu muara, pantai, dan laut. Sedimen sebanyak 50 gram direndam dalam 100 ml larutan ZnCl2 selama 24 jam. Partikel mikroplastik yang mengambang dipisahkan kemudian direndam dalam 50 ml larutan H2O2 30% selama 24 jam dan disaring dengan menggunakan kertas saring MN (Macherey Nagel). Mikroplastik yang diperoleh diamati menggunakan mikroskop dan dianalisis bentuk, warna dan kelimpahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna dan bentuk mikroplastik yang diperoleh yaitu, berdasarkan bentuknya antara lain fragmen, pelet, film, dan fiber, berdasarkan warnanya antara lain hitam, coklat, merah, kuning, putih, hijau, dan ungu. Kelimpahan mikroplastik pada Bulan April sebanyak 2.577 partikel/kg, Bulan Mei sebanyak 2.058 partikel/kg, Bulan Agustus sebanyak 1.858 partikel/kg, dan Bulan September sebanyak 2.011 partikel/kg. Semarang City is the capital city of Central Java Province as well as being the center of business, economy, education, and various social activities.  Plastic waste, which is one type of waste that is often found, can experience degradation into smaller pieces of plastic called microplastics. Semarang Waters were chosen as the research location because Semarang City is an area with high human activity and produces a lot of plastic waste which will later settle in marine sediments. This research was conducted to determine microplastic pollution in sediments in Semarang Waters. Sampling was carried out 4 times in April, May, August, and September 2021 by a purposive sampling using a sediment grab tool at three different points, namely the estuary, beach, and sea. From each sample 50 grams of sediment was immersed in 100 ml of ZnCl2 solution for 24 hours. The floating microplastic particles were separated and then immersed in 50 ml 30% H2O2 solution for 24 hours and filtered using MN (Macherey Nagel) filter paper. The obtained microplastics were observed using a microscope and analyzed for shape, color and abundance. The results showed that these are microplastics in the shape of fragments, pellets, films, and fibers, with the colors of black, brown, red, yellow, white, green, and purple. The abundance of microplastics in April was 2.577 particles kg-1, in May 2.058 particles kg-1, in August 1.858 particles kg-1, and in September 2.011 particles kg-1.