Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Aceh Anthropological Journal

Eksistensi Permainan Tradisional Tamtam Buku dalam Membentuk Keterampilan Sosial Ratnawati, Dewi; Karsiwan, Karsiwan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15874

Abstract

Social skills can be explained as a person's ability to adapt to society and get along with other people (socializing). Social skills include the ability to communicate, build relationships with other people, respect individuals and other people, give or receive input, give or receive criticism, act according to existing norms and rules, and so on. Social skills are not a person's innate ability but rather are acquired through a learning process from parents, peers and the environment. Therefore, every child must be trained and accustomed to interacting with other people from an early age so that the child will grow into a person who has maturity in thinking and acting. This research study aims to improve and develop children's social skills through book tamtam games and to preserve traditional games by making them a learning medium in schools. The method used in this research is qualitative, data collection through interviews, observation and documentation notes. Research findings show that book tamtam games are still quite popular among elementary school students. This game is used as a learning medium in scout activities as a place for interaction and socialization between peers, teachers and those at the place where they study. In this paper, it is revealed that the book tamtam game is able to improve children's social skills in various aspects such as children's interpersonal behavior, behavior related to themselves, behavior related to academic success, peer acceptance, and communication skills.Abstrak: Keterampilan sosial dapat dijelaskan sebagai kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan masyarakat dan bergaul dengan orang lain (bersosialisasi). Keterampilan sosial meliputi kemampuan berkomunikasi, membina hubungan dengan orang lain, menghargai individu dan orang lain, memberi atau menerima masukan, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang ada, dan lain-lain. Keterampilan sosial bukanlah kemampuan bawaan seseorang melainkan diperoleh melalui proses belajar dari orang tua, teman sebaya, dan lingkungan. Oleh karena itu setiap anak harus dilatih dan dibiasakan untuk bergaul dengan orang lain sejak dini sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai kematangan dalam berpikir dan bertindak. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan sosial anak melalui permainan tamtam buku serta untuk melestarikan permainan tradisional dengan cara menjadikannya sebagai media pembelajaran di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan catatan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa permainan tamtam buku masih cukup eksis di kalangan siswa sekolah dasar. Permainan ini dijadikan sebagai media pembelajaran dalam kegiatan pramuka sebagai ajang berinteraksi dan bersosialisasi antara teman sebaya, guru, dan pihak yang ada di tempat mereka belajar. Di dalam tulisan ini mengungkapkan bahwa permainan tamtam buku mampu meningkatkan keterampilan sosial anak dalam berbagai aspek seperti perilaku interpersonal anak, perilaku berhubungan dengan diri sendiri, perilaku berhubungan dengan keberhasilan akademis, penerimaan teman sebaya, dan keterampilan komunikasi.
Membentuk Karakter Pemuda melalui Pencak Silat Sekinci-Kinci Suranti, Bibit; Karsiwan, Karsiwan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15974

Abstract

The increasing tide of globalization penetrating Indonesia is having an impact on the erosion of the moral character of Indonesian youth. Globalization causes between nations in the world to no longer have a boundary wall, so that information, culture, and negative impacts from other countries easily enter Indonesia. The character of Indonesian youth, which should be based on Pancasila and the Constitution as the identity of the nation, has been replaced by characters that should not be such as hedonism, capitalism and individualism. Pencak silat is a typical Indonesian culture that can be used as a means of building the character of the nation's youth. Pencak Silat training, incorporating both spiritual and physical elements, aims to cultivate individuals with civility and good character. Qualitative research is applied to this research by utilizing a number of data sources from interviews, documentation, internet content, literature reviews, and observations. The results of this study can be concluded if the character of the youth can be formed through the practice of pencak silat sekinci-kinci based on art, martial arts, sports, brotherhood, and spiritual. Meanwhile, the characters that can be formed in young people are such as, love of the country, love of local culture, simple, confident, polite and polite. Harmonization of the concept of youth character building with the aim of pencak silat sekinci-kinci, namely; Maintaining kinship, solidarity, mutual love and nurturing within the framework of the unity of the Indonesian nation based on the teachings of Islam, Pancasila and the 1945 Constitution.Abstrak: Arus globalisasi yang semakin meningkat berdampak pada terkikisnya karakter moral yang dimiliki para pemuda Indonesia. Globalisasi menyebabkan antar bangsa di dunia tidak lagi memiliki dinding pembatas, sehingga informasi, budaya, serta dampak negatif dari negara lain mudah masuk ke Indonesia. Karakter pemuda Indonesia yang seharusnya berdasarkan Pancasila dan UUD sebagai identitas jati diri bangsa telah beralih dengan karakter yang tidak seharusnya seperti hedonisme, individualis, dan kapitalisme. Pencak silat ialah kebudayaan khas Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter pemuda bangsa. Unsur rohani serta jasmani yang terkandung pada latihan pencak silat diharapkan dapat melahirkan individu yang beradab dan berkarakter baik. Penelitian kualitatif diterapkan pada penelitian ini dengan memanfaatkan sejumlah sumber data dari hasil wawancara, dokumentasi, konten internet, tinjauan pustaka, serta observasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan jika karakter para pemuda bisa dibentuk melalui latihan Pencak Silat Sekinci-kinci berdasarkan pada kesenian, bela diri, olahraga, persaudaraan, serta spiritual. Sementara karakter yang dapat terbentuk di dalam diri pemuda yakni seperti, cinta tanah air, cinta kebudayaan lokal, sederhana, percaya diri, sopan dan santun. Harmonisasi konsep pembentukan karakter pemuda dengan tujuan Pencak Silat Sekinci-kinci yakni; menjaga kekeluargaan, kesetiakawanan, saling asah asih dan asuh dalam kerangka persatuan bangsa indonesia berdasarkan ajaran islam, pancasila dan UUD 1945.