Claim Missing Document
Check
Articles

PENGENALAN POTENSI GULA SEMUT JAHE INSTAN KEPADA KELOMPOK PKK DI DESA MUARA GULA BARU PROVINSI SUMATERA SELATAN Onne Akbar Nur Ichsan; Merkuria Karyantina
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 4, No 5 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.456 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v4i5.2930

Abstract

Abstrak: Gula aren atau gula merah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Provinsi Sumatera Selatan sebagai salah satu bahan pelengkap pempek, yaitu cuko. Gula merah berasal dari nira tanaman aren. Nira banyak diolah menjadi berbagai macam produk pangan, salah satu di antaranya adalah gula semut yang merupakan gula aren instan berbentuk serbuk. Diversifikasi pengolahan gula semut akan meningkatkan nilai jual dari gula aren. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan produk gula semut yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan gula aren balok.Gula semut lebih tahan lama, praktis, dan dapat dikonsumsi secara langsung serta akan menghasilkan gula aren dengan sifat fisik kering, berkristal, dan tidak lengket. Produk gula semut juga ditambahkan dengan ekstrak jahe untuk menambahkan nilai fungsional. Pelaksanaan pelatihan Kelompok PKK Desa Muara Gula Baru ini adalah dengan penyampaian materi dan praktik pembuatan gula semut jahe instan. Anggota PKK banyak menjadi petani dan ibu rumah tangga sehingga usaha produksi gula semut diharapkan mampu meningkatkan taraf perekonomian kelompok. Hasil dari pelatihan ini adalah masyarakat khususnya kelompok PKK Muara Gula Baru mengetahui proses pembuatan gula semut jahe instan sebesar 66,67% dari total peserta dan potensi usahanya sebagai peluang bisnis masyarakat Desa Muara Gula Baru, Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim.Abstract: Brown sugar is widely used by the people of South Sumatra province as a complement to pempek, namely cuko. Brown sugar comes from the palm sap. Nira is widely processed into various kinds of food products, one of which is granular sugar. Diversification of the processing of ant sugar will increase the selling value of palm sugar.This training aims to introduce granular sugar products which have many advantages than palm sugar. Granular sugar is more durable, practical, and can be consumed directly and also dry, crystalline, and non-sticky physical properties.The granular sugar product is also added with ginger extract for added functional value.Training The Empowerment of Family WelfareMuara Gula Baru is by delivering materials and practices for making instant ginger granular sugar. The members become farmers and housewives so that granular sugar production business is expected to be able to increase the group's economic level. The result of this training are the group can understand the process of making granular sugar about 66,67% and the potential for sugar business which is given ginger extract as a enterpreneurship opportunity for that community in Muara Gula Baru village, Ujanmas, Muara Enim.
PENINGKATAN PEMAHANAN SISWA DALAM MENDETEKSI KANDUNGAN FORMALIN PADA MAKANAN Merkuria Karyantina; Akhmad Mustofa
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.717 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v6i2.6978

Abstract

Abstrak: Pesatnya perkembangan usaha kuliner mendorong persaingan antar pedagang yang kurang sehat antara lain penggunaan bahan pengawet berbahaya guna meningkatkan keuntungan. Fenomena tersebut menuntut masyarakat agar cukup jeli dalam memilih produk makanan. Anak sekolah SMP sebagai sasaran penyuluhan, dengan pertimbangan, mereka diharapkan semakin jeli memilih produk makanan. SMP Kristen Kalam Kudus terletak di pusat kota yang dikeliling oleh penjual makanan dan minuman, menjadi sasaran khusus pada program pengabdian. Kegiatan bertujuan untuk menambah pengetahuan siswa kelas 8 SMP Kalam Kudus Surakarta (67 orang) tentang deteksi dini kandungan formalin pada produk pangan. Semua siswa mengetahui formalin berbahaya bagi tubuh, namun 100% belum mengetahui cara deteksi dini formalin pada produk yang dikonsumsinya. Kegiatan dilakukan dengan metode penyuluhan (daring) serta visualisasi deteksi dini kandungan formalin dengan menggunakan ekstrak bunga ruellia. Pada akhir kegiatan, dilakukan pemantauan melalui kuisener, tentang deteksi dini formalin pada makanan yang sering dikonsumsi siswa. Hasil kuisener menunjukkan bahwa 80% siswa telah melakukan deteksi dini dan 50% produk yang diuji menunjukkan kandungan formalin.Abstract: The rapid development of the culinary business encourages unhealthy competition between traders, including the use of harmful preservatives. This phenomenon requires people to be quite observant in choosing food products. Junior high school children as the target of counseling, with consideration, they are expected to be more observant in choosing food products. The located of SMP Kalam Kudus was surrounded by food and beverage vendors, becoming a target the program. The aims to increase the knowledge of 8th graders (67 students) about early detection of formalin content in food. Students know that formaldehyde is harmful, but they not know how to detect formaldehyde early in the products they consume. The activity was carried out using online methods and visualization of early detection of formalin content using ruellia flower extract. At the end of the activity, monitoring was carried out through a questionnaire, regarding the early detection of formalin in foods that students often consume. The results of the questionnaire showed that 80% of students had carried out early detection and 50% of the products tested showed formaldehyde content.
Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Melalui Pengelolaan Sampah Dewi Saptantinah P; Fadjar Harimurti; Merkuria Karyantina
WASANA NYATA Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : STIE AUB Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.095 KB) | DOI: 10.36587/wasananyata.v2i2.357

Abstract

Kegiatan Usaha Kecil Menengah pada saat ini memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal ini terjadi pada usaha home industry bank sampah Handono Mulyo dan Bank sampah Dewaruci yang mengelola sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual, yaitu membuat pupuk kompos padat maupun cair dari sampah organik dan mmbuat berbagai kerajinan asesoris dari sampah anorganik. Hasil kerajinan tersebut dijual dan hasilnya dikelola oleh bank sampah untuk kemudian dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini berusaha untuk memfasilitasi berbagai masalah yang ada pada mitra dan menawarkan berbagai solusi agar kegiatan mitra dapat berkembang serta dapat lebih produktif. Disamping itu dengan adanya pengelolaan sampah maka mitra memiliki keuntungan selain untuk meningkatkan pendapatan masyarakat juga dapat mengelola sampah untuk dapat mengurangi permasalahan sampah di masyarakat.Kata Kunci: Sampah organik, sampah anorganik, pendapatan
KOMBUCHA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Lin) SEBAGAI AGENSIA PROBIOTIK Merkuria Karyantina Sumarmi
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 2 No. 1 (2018): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1772.717 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v2i1.2007

Abstract

Kombucha merupakan salah satu jenis minuman segar tradisional yang dihasilkandari proses fermentasi air teh manis selama 7 – 10 hari dengan bantuan pertumbuhansimbiosis antara yeast dan bakteri serta mengandung alkohol  0,5 – 1 % dan pH  3 –5,5. Bakteri berperan dalam proses fermentasi kombucha dan senyawa yang dihasilkancukup kompleks, dinataranya baketeri yang berpotenasi sebagai agensia probiotik.Kombucha merupakan penyeimbang metabolik yang efektif, sebagai probiotik(mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan dalam saluran pencernaan).Menurut Naland (2004); Stainkrauss (1983); Indrati (1990); Sugianto, (1972); danKasper, (2007), mikrobia yang berperan dalam fermentasi kombucha adalah hasilhubungan simbiosis antara yeast dan bakteri. Bakteri yang berperan adalah bakteri asamasetat dan bakteri asam laktat. Bakteri asam asetat merupakan golongan bakteri yangbersifat aerob sehingga tidak berpotensi sebagai probiotik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 isolat dari kelompok Lactobacillus dan 4isolat dari kelompok Pediococcus. Isolat yang lainnya tidak terindikasi sebagai asam laktat.Kata kunci : Kombucha Rosela, probiotik, isolat
KOMBUCHA ROSELA SEBAGAI MINUMAN PROBIOTIK Merkuria Karyantina & Sumarmi
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.096 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.3076

Abstract

Kombucha adalah salah satu jenis minuman segar tradisional yang berasal dari fermentasi air teh manis selama 7-10 hari. Selama fermentasi, terjadi pertumbuhan simbiotik antara ragi dan bakteri serta kandungan alkohol ± 0,5 hingga 1% dan pH ± 3 hingga 5,5. Jenis substrat, bahan baku yang digunakan, jumlah gula, waktu fermentasi dan kompoisi jamur sangat mempengaruhi jenis mikroorganisme yang berkembang pada kombucha. Peneltian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Bakteri asam laktat yang berperan dalam fermentasi kombucha rosella serta aplikasinya pada profil lipid tikus Sprague dawley. Hasil identifikasi menggunakan API 50CH KIT, menunjukkan bahwa dominansi bakteri asam laktat pada kombucha rosela adalah spesies Lactobacillus delbrueckii dan Lactococcus lactis. Selanjutnya, kombucha rosella diaplikasikan pada hewan coba untuk melihat profil lipidnya. Hasil menunjukkan bahwa kombucha rosella mempunyai efek positif terhadap perubahan profil lipid (penurunan kadar total kolesterol, total Trigliserida, total LDL serta menurunkan Total HDL) hewan coba dibandingkan dengan hewan coba perlakuan hiperkolesterol. Selama perlakuan, total kolesterol pada hewan coba dengan konsumsi kombucha rosella cenderung menurun (104,90 mg/dl) secara signifikan pada akhir perlakuan, dibandingkan perlakuan hiperkolesterol (197,75 mg/dl). Total trigliserida perlakuan kombucha rosella cenderung menurun (79,17 mg/dl) pada akhir perlakuan dibandingkan perlakuan hiperkolesterol (135,59 mg/dl). Total LDL perlakuan kombucha rosella cenderung naik (68,03 mg/dl) pada akhir perlakuan dibandingkan perlakuan hiperkolesterol (21,88 mg/dl). Total LDL perlakuan kombucha rosella cenderung menurun (34,50 mg/dl) pada akhir perlakuan dibandingkan perlakuan hiperkolesterol (82,68 mg/dl).Kata kunci : kombucha rosella, probiotik, profil lipid, hewan coba
KARAKTERISTIK COOKIES DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG GANYONG (Canna edulis Ker) DENGAN BERBAGAI PERLAKUAN PENDAHULUAN Indriastuti Wiharto, Linda Kurniawati & Merkuria Karyantina
JITIPARI Vol 1 No 1 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.562 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i1.1508

Abstract

Cookies adalah jenis biskuit (kue kering) yang biasanya dibuat dari tepung terigu sehingga ketergantunganterhadap impor terigu sangat besar. Pemanfaatan tepung ganyong sebagai bahan substitusi tepungterigu dalam pembuatan cookies akan mengurangi impor tepung terigu dan mendayagunakan bahan panganlokal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji karakteristik cookies dengan substitusitepung ganyong. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari2 faktor yaitu : kadar substitusi tepung ganyong (25%, 50%, 75% dan 100%) dan jenis perlakuan pendahuluan(tanpa perlakuan pendahuluan, perendaman Na bisulfit 0,2% selama 20 menit dan blanching uap selama 10menit). Data yang diperoleh dianalisis kimia dan fisika dengan Uji Sidik Ragam dan dilajutkan ke DMRT, untukmengetahui beda nyata antar perlakuan pada tingkat signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkanbahwa cookies yang paling disukai panelis dibuat dari substitusi tepung ganyong 25% dan jenis perlakuanpendahuluan perendaman Na bisulfit 0,2% selama 20 menit dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia(SNI). Hasil analisis menunjukkan bahwa cookies tersebut mempunyai kadar air 3,6953%; kadar abu1,2972%; kadar gula total 20,9976%; dan kadar protein 6,1809%; volume pengembangan 0,7985%; warnacoklat muda (1,8333); rasa sedikit berasa ganyong (1,5833); renyah (2,0833); dan disukai panelis (3,000).Kata kunci : cookies, tepung ganyong, subsitusi, perlakuan pendahuluan.
KARAKTERISTIK KUE MOCHI DENGAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava) DAN JAHE (Zingiber officinale) Athanasia Lungga, Merkuria Karyantina & Linda Kurniawati
JITIPARI Vol 1 No 1 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.823 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i1.1513

Abstract

Kue mochi dikenal sebagai salah satu kue basah yang terbuat dari beras ketan. Kue mochi dapatdimodifikasi dengan menggunakan bahan lain sebagai substitusi untuk meningkatkan nilai fungsionalnya.Salah satunya dengan penambahan ekstrak daun jambu biji merah. Ekstrak daun jambu merah mempunyairasa sepat. Oleh karena itu perlu diimbangi dengan penambahan bubuk jahe yang diharapkan mampumengurangi rasa sepat kue mochi sehingga disukai konsumen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi daun jambu dan konsentrasi bubuk jahe yangtepat dalam pembuatan kue mochi yang berkualitas dan disukai konsumen. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu konsentrasi daun jambu biji (30, 40, 50, dan60%) dan konsentrasi bubuk jahe (0, 1, dan 2%).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kue mochi daun jambu biji yang berkualitas dan disukaikonsumen yaitu kue mochi dengan perlakuan konsentrasi daun jambu merah 60% dan konsentrasi bubukjahe 1% yang mempunyai karakteristik sebagai berikut: kadar air 47,58%; kadar abu 0,23%; kadar gula total14,59%; dan kadar vitamin C 71,06%. Uji oganoleptik kue mochi diperoleh warna hijau dengan skor 2,67(2,67); aroma jahe sedikit terasa dengan skor 2,13 (2,13); dan rasa yang tidak terlalu sepat dengan skor 1,60(1,60).Kata Kunci: Kue mochi, daun jambu biji merah, bubuk jahe
Sodium Tripolyphosphate (STPP) SEBAGAI BAHAN PENGGANTI BLENG PADAT PADA PEMBUATAN KARAK DENGAN VARIASI JENIS BERAS Eucharistea Patrina Nugraha, Merkuria Karyantina & Linda Kurniawati
JITIPARI Vol 1 No 2 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.628 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i2.1522

Abstract

Kerupuk gendar atau karak dibuat dari campuran beras (Oryza sativa Linn) dan bleng padat. Bleng padat merupakan bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan oleh Departemen Kesehatan karena mengandung boraks. Pemerintah menganjurkan STPP (Sodium Tripolyphosphate) sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk digunakan. Untuk menambah nilai gizi dari karak maka digunakan jenis beras yang lain seperti beras merah dan beras hitam. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan dua faktor pembanding, yaitu konsentrasi penambahan STPP (0; 0,15; 0,30; dan 0,45%) dan variasi jenis beras (beras putih, beras merah, dan beras hitam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karak yang terbaik adalah pada kombinasi perlakuan konsentrasi STPP 0,15% dengan jenis beras putih. Hasil karak yang terbaik mengandung kadar air 12,81%; kadar abu 3,36%; kadar pati 71,63%; kadar amilosa 20,03%; volume pengembangan 68,01%; warna disukai panelis (3,06); rasa berbeda dengan karak kontrol (3,06); sangat renyah (3,86); dan disukai panelis (3,13).Kata kunci: Beras putih, beras merah, beras hitam, karak, STPP
KARAKTERISTIK KERUPUK BUAH DENGAN VARIASI KONSENTRASI TEPUNG TAPIOKA DAN JENIS BUBUR PISANG (Musa paradisiaca sp) Ambrosia Rini Utami, Yustina Wuri Wulandari & Merkuria Karyantina
JITIPARI Vol 1 No 2 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.858 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i2.1525

Abstract

Kerupuk merupakan makanan tradisional yang disukai oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bahan baku utama pembuatan kerupuk adalah tepung tapioka dan fungsinya dalam proses pembuatan kerupuk sebagai pengikat. Pisang adalah salah satu buah yang digemari masyarakat Indonesia. Buah pisang merupakan produk yang mudah rusak. Salah satu penganekaragaman pengolahan pangan adalah pembuatan kerupuk buah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pembuatan kerupuk pisang dengan faktor rasio berat tepung tapioka-pisang dan jenis bubur pisang.Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap, menggunakan dua faktor pembanding, yaitu berat rasio tepung tapioka-pisang dan jenis pisang. Faktor yang pertama yaitu rasio tepung tapioka-bubur pisang (100-50 g, 110-40 g, dan 120-30 g). Faktor kedua yaitu jenis bubur pisang (pisang raja nangka, pisang tanduk, pisang kepok kuning, dan pisang kepok putih).Hasil penelitian menunjukkan bahwa karak yang terbaik adalah pada kombinasi perlakuan rasio tepung tapioka 100 g-bubur pisang 50 g dan jenis bubur pisang tanduk. Kerupuk pisang ini mempunyai karakteristik sebagai berikut: kadar air 3,99%; kadar abu 2,35%; kadar pati 56,77%; kadar gula total 56,98%; volume pengembangan 29,63%; warna 2,00 (cokelat kekuningan); rasa 3,73 (rasa pisang terasa); kerenyahan 3,80 (sangat renyah), dan tingkat kesukaan 3,53 (suka).Kata kunci: tepung tapioka, jenis pisang, kerupuk buah.
KERUPUK SAYUR DENGAN VARIASI KONSENTRASI BUBUR SAWI HIJAU (Brassica rapa) DAN RASIO TEPUNG TERIGU-TAPIOKA Yoga Irawan, Yustina Wuri Wulandari & Merkuria Karyantina
JITIPARI Vol 2 No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.761 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1529

Abstract

Kerupuk sangat populer di Indonesia, mengandung pati cukup tinggi, serta dibuat dari bahan dasar campuran tepung terigu-tapioka. Kerupuk dapat juga dimodifikasi dengan bahan dari sayuran salah satunya substitusi sawi hijau. Sawi hijau mudah rusak bila terlalu lama disimpan, terkena paparan sinar matahari dan tidak segera diolah. Sawi hijau yang diolah menjadi kerupuk akan meningkatkan nilai fungsional dan gizi sawi.Variasi kerupuk sangat beragam dari bahan baku dan juga bahan pembantu. Salah satunya adalah dengan penambahan bubur sawi dalam adonan kerupuk. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pembuatan kerupuk sayur dengan variasi konsentrasi bubur sawi hijau dan rasio tepung terigu-tapioka. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu rasio tepung terigu-tapioka (1:3, 2:2, 3:1) dan konsentrasi bubur sawi hijau dalam 250 ml air (50 g, 100 g, 150 g, 200 g).Hasil penelitian kerupuk sawi hijau yang paling disukai panelis yaitu rasio tepung terigu 100 g, tepung tapioka 100 g (2:2) dan konsentrasi bubur sawi hijau 50 g/250 ml air. kerupuk sawi hijau tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut : kadar air 7,25%; kadar abu 1,30%; kadar lemak 22,35%; kadar serat kasar 9,75%; warna hijau muda (2,13); rasa sawi hijau terasa (2,33); tekstur (3,20); dan disukai panelis (3,33).Kata kunci : kerupuk, sawi hijau, tepung terigu-tapioka.