Claim Missing Document
Check
Articles

KOMPARASI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KIMIA DAN KETERAMPILAN BERFIKIR KRITIS SISWA ANTARA YANG DIBELAJARKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING DAN DISCOVERY LEARNING NI NYOMAN RUSMINIATI .; DR. RER. NAT I WAYAN KARYASA, S.Pd.,M.Sc .; DRS. I NYOMAN SUARDANA, M.Si. .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.165 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran PjBL dan DL, 2) perbedaan peningkatan pemahaman konsep kimia antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan PjBL dan DL, 3) perbedaan peningkatan keterampilan berfikir kritis siswa antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan PjBL dan DL. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Susut tahun pelajaran 2014/2015. Rancangan penelitian ini menggunakan pretest-postest non equivalent control group design dengan populasi siswa kelas X yang berjumlah 144 yang terdistribusi dalam 4 kelas. Pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Dari 4 kelas yang sudah setara akan dirandom untuk menentukan 2 kelas sebagai sampel penelitian, yakni 1 kelas akan memeproleh pembelajaran Model PjBL dan 1 kelas lagi akan memperoleh pembelajaran Model DL. Data dikumpulkan dengan tes pemahaman konsep kimia dan tes keterampilan berfikir kritis. Data dianalisis dengan statistic deskriptif dan inferensial menggunakan multivariate analysis of variance (MANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan berfikir kritis siswa yang signifikan antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran PjBL dan DL (Fhitung= 8.991), 2) terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep kimia yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan PjBL dan DL (Fhitung= 7.262 ), 3) terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berfikir kritis siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan PjBL dan DL (Fhitung=16.603). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman konsep dan berfikir ktitis siswa dengan model PjBL relative lebih tinggi dibandingkan dengan model DLKata Kunci : Project based learning (PjBL), discovery learning(DL), pemahaman konsep kimia, keterampilan berpikir kritis This research aims at analyzing: (1) the difference in improvement of concept understanding and critical thinking skill between students which were taught by PjBL and those taught by using DL, (2) the difference in improvement of chemical concept understanding between students which were taught by PjBL and those taught by using DL, (3) the difference in improvement of critical thinking skill between students which were taught by PjBL and those taught by using DL. This study was conducted in SMA Negeri 1 Susut in academic year 2014/2015. The research design is pretest-postest non equivalent control group design and the population is 144 tenth grade students which distributed into 4 classes by using simple random sampling technique, then 2 classes would be randomly selected as sample of this research; 1 class were treated by PjBL learning model and 1 other class were treated by DL learning model. Data were collected by chemical concept understanding and critical thinking skill tests, which then analyzed by inferential and descriptive statistics using multivariate analysis of variance (MANOVA). The research discovers: 1) there is significant differences in improvement of concept understanding and critical thinking skill between students who were taught by PjBL and DL (Fcount = 8.991), 2) there is significant differences in improvement of chemical concept understanding between students who were taught by PjBL and DL (Fcount = 7.262), 3) there is significant differences in improvement of critical thinking skill between students who were taught by PjBL and DL (Fcount = 16.603). The result of this study shows that the improvement of concept understanding and critical thinking skill treated by using PjBL is higher than DL modelkeyword : project based learning (PjBL), discovery learning (DL), chemical concept understanding, critical thinking skill
ANALISIS STANDAR LABORATORIUM KIMIA DAN EFEKTIVITASNYA TERHADAP CAPAIAN KOMPETENSI ADAPTIF DI SMK NEGERI 2 NEGARA Luh Sami Asih .; Wayan Muderawan; I Wayan karyasa
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.846 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis daya dukung fasilitas laboratorium, intensitas penggunaan laboratorium, use factor alat dan bahan serta efektivitas penjabaran standar laboratorium kimia terhadap capaian kompetensi adaptif di SMK Negeri 2 Negara.Penelitian ini merupakan penelitian ex-post facto.Daya dukung fasilitas laboratorium yang sesuai standar meliputi jenis ruang dan fasilitas umum 53% (kategori kurang),jumlah alat 45% (kategori kurang),dan jumlah bahan kimia 48% (kategori kurang).Intensitas penggunaan laboratorium pada tahun ajaran 2012/2013 pada kelas X adalah 33,3% (kategori sangat rendah), kelas XI adalah 100% (kategori sangat tinggi), dan kelas XII adalah 59,3% (kategori cukup). Use factor alat adalah 58% (kategori cukup) dan bahan 75,3% (kategori tinggi). Pengelolaan laboratorium kurang optimal.Hasil penjabaran standar laboratorium kimia di SMK Negeri 2 Negara efektif dalam mencapai kompetensi adaptif kimia. Jika alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum tersedia dan atau tergantikan, rerata nilai siswa sebesar 80,3 (melampaui KKM). Kata Kunci: Standar laboratorium, efektivitas, dan kompetensi adaptif   Abstract This research was aimed to analyze facilitycarrying capacity, intensity of using laboratory, use factor equipment and chemical, laboratory management, and effectiveness chemistry laboratory standard to adaptive competence achievement.in SMK Negeri 2 Negara. This research was ex-post facto. Laboratory carrying capacitythat appropriate laboratory standard include rooms and common facility is 53% (less category),equipmentsis 45% (less category), andchemical is48% (less category).Intencity using laboratoryin 2012/2013 study yearinclass X is 33.3% (less category), class XIis 100% (very high category), and class XIIis59.3% (enough category). Equipment use factor is 58% (enough category) andchemical is 75.3% (high category). Laboratory management less optimal.The result ofsubsections of laboratory standard in SMK Negeri 2 Negara is effective to adaptive competence achievement. If equipment and chemical needed are available and or substituted, the average of student test comprehension score is 80.3 (higher than KKM).   Keywords: laboratory standard, effectiveness, andadaptive competence
KOMPARASI LITERASI SAINS ANTARA SISWA YANG DIBELAJARKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GI (GROUP INVESTIGATION) DAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) DINTINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI SISWA SMP I NYOMAN BAGIARTA .; DR. RER. NAT I WAYAN KARYASA, S.Pd.,M.Sc .; DRS. I NYOMAN SUARDANA, M.Si. .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.9 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keunggulan komparasi literasi sains antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) dan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) ditinjau dari motivasi berprestasi siswa SMP. Penelitian eksperimen ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Banjarangkan semester 2 tahun pelajaran 2014/2015, dengan rancangan The Posttest-Only Control Group Design dan faktorial 2x2 sebagai desain penelitiannya. Kelas yang digunakan sebagai sampel ditentukan dengan tehnik Cluster Sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe GI (group investigation) yang dikenakan pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing yang dikenakan pada kelompok kontrol. Motivasi berprestasi berperan sebagai moderator, yang dipilah menjadi dua tingkatan, yaitu motivasi berprestasi tinggi dan rendah. Sebagai variabel terikat adalah literasi sains siswa. Data motivasi berprestasi siswa dikumpulkan dengan kuisioner motivasi berprestasi dan data literasi sains siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes literasi sains. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis Varians (ANAVA) dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut: (1) terdapat perbedaan signifikan literasi sains antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe GI dan kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing, (2) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap literasi sains, (3) tidak terdapat perbedaan yang signifikan literasi sains antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe GI dan kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing pada siswa yang memilliki motivasi berprestasi tinggi, (4) terdapat perbedaan yang signifikan literasi sains antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe GI dan kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing pada siswa yang memilliki motivasi berprestasi rendah. Berdasarkan temuan hasil penelitian, disimpulkan bahwa model pembelajaran dan motivasi berprestasi mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap literasi sains. Selanjutnya disarankan kepada guru IPA sebelum merancang model pembelajaran agar motivasi berprestasi tinggi menggunakan model pembelajaran tipe GI atau Inkuiri Terbimbing sedangkan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GIKata Kunci : Model Pembelajaran, Motivasi Berprestasi, dan Literasi Sains This study aims to determine the comparative advantages of scientific literacy among students that learned by cooperative learning model GI (Group Investigation) and Guided Inquiry learning model (Guided Inquiry) in terms of achievement motivation junior high school students. This experimental study was conducted in SMP Negeri 2 Banjarangkan second semester of the academic year 2014/2015, using The Posttest-Only Control Group Design and as a 2x2 factorial design study. Classes are used as the sample is determined by cluster sampling technique. The independent variable in this study is a cooperative learning model GI (Group Investigation) imposed in the experimental group and Guided Inquiry learning model imposed in the control group. Achievement motivation role as moderator, which divided into two levels: high and low achievement motivation. As the dependent variable is the science literacy of students. Data collected by student achievement motivation achievement motivation questionnaire and data collected by the scientific literacy of students using science literacy test. The data collected were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and two lanes. The results showed as follows: (1) there is a significant difference in scientific literacy among groups of students who take the GI cooperative learning model and a group of students who take the guided inquiry learning model, (2) there is an interaction between the model of learning and achievement motivation toward science literacy, ( 3) there is no significant difference in scientific literacy among the group of students who follow the GI cooperative learning model and the group of students who take the guided inquiry learning model student who has a high achievement motivation, (4) there is a significant difference in scientific literacy among the group of students who take GI cooperative learning model and a group of students who take the guided inquiry learning model student who has a low achievement motivation. Based on the research findings, it was concluded that the model of learning and achievement motivation have considerable influence on science literacy. Furthermore, it is suggested to science teacher before designing a learning model that uses high achievement motivation learning model GI type or Guided Inquiry whereas students with low achievement motivation using cooperative learning model type GIkeyword : Model of Learning, Achievement Motivation, and Science Literacy
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KIMIA YANG MENERAPKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PUTU FANNY SASTRADEWI .; PROF. DR. I WAYAN SADIA, M.Pd .; DR. RER. NAT I WAYAN KARYASA, S.Pd.,M.Sc .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 5, No 1 (2015):
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.231 KB)

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk : (1) menguji validitas perangkat pembelajaran kimia yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, (2) menguji kepraktisan perangkat pembelajaran kimia yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) saat diimplementasikan di kelas, (3)Menguji efektivitas perangkat pembelajaran kimia yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. Penelitian ini diawali dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang menerapkan model Problem Based Learning (PBL) menggunakan system pendekatan model pengembangan menururt Dick & Carey, dengan uji pakar melalui focus group discussion (FGD), dilanjutkan uji paktisi melalui desk-evaluation, dan uji empiris dengan melibatkan 36 orang siswa SMA kelas X dengan topik reaksi oksidasi an reduksi (redoks). Hasil uji pakar digunakan untuk menyempurnakan model pembelajaran. Masukan pakar dalam FGD digunakan untuk penyempurnaan perangkat pembelajaran, khusunya penyempurnaan terhadap buku pedoman guru dan buku pedoman siswa. Hasil desk-evaluation oleh guru Kimia SMA menunjukkan bahwa semua komponen perangkat model pembelajaran yang mencakup silabus, RPP, buku pedoman guru, buku siswa, LKS telah memenuhi syarat validitas.Hasil uji empiris model pembelajaran PBLuntuk meningkatkan pemahaman konsep kimia dengan menggunakan rancangan Dick & Carey menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL yang dikembangkan dalam penelitian ini efektif dalam meningkatkan karakter siswaKata Kunci : Problem Based Learning (PBL), pemahaman konsep kimia This research aims at: (1) testing the validity of chemistry teaching and learning documents which apply Problem Based Learning model (PBL) to improve the understanding of the students’ concept, (2) testing the simplicity of chemistry teaching and learning documents which apply Problem Based Learning model (PBL) when it’s implied in the classroom, (3) testing the effectivity of chemistry teaching and learning documents which apply Problem Based Learning model (PBL) to improve the understanding of the students’ concept. This research was started by the development of teaching and learning documents which apply Problem Based Learning model (PBL) using approaching system of development model of Dick & Carey, with expert test through focus group discussion (FGD), continued by practitioner test through desk-evaluation, and empirical test which involved 36 the X Grade students of senior high school with oxidation and reduction topics. The result of the expert test was used to make the teaching and learning model complete. The inputs given by the expert in FGD were used to make the teaching and learning model complete, especially in completing the teacher’s book and the student’s book. The result of the desk-evaluation by the chemist teacher of senior high school showed that all components of the documents of teaching and learning model which include syllabus, teaching scenario (RPP), teacher’s book, student’s book, student’s worksheet (LKS) has completed the validity requisite. The result of empirical test of PBL teaching and learning model to improve the understanding of chemistry concept using Dick & Carey design showed that there was a significant improvement of understanding of students’ concept. It’s showed that PBL teaching and learning model developed in this research is effective in improving the character of the studentskeyword : Problem Based Learning (PBL), concept understanding of chemistry
KONTRIBUSI TES KEMAMPUAN AKADEMIK, INTELIGENSI, DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA PADA SMA NEGERI 1 BANGLI EKA SUJANA .; Prof. Dr. I Made Candiasa,MI.Kom .; Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa,S.Pd,M.Sc .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.276 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi tes kemampuan akademik, inteligensi, dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar Kimia pada SMA Negeri 1 Bangli. Penelitian ini adalah penelitian ex-post facto, dengan sampel sebanyak 182 siswa. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan analisis jalur pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kontribusi kemampuan akademik terhadap motivasi berprestasi sebesar 6,8 %, 2) kontribusi intelegensi terhadap motivasi berprestasi sebesar 27,6%, 3) kontribusi kemampuan akademik terhadap hasil belajar kimia sebesar 1,7%, 4) kontribusi intelegensi terhadap hasil belajar kimia sebesar 5,8%, 5) kontribusi motivasi berprestasi terhadap hasil belajar kimia sebesar 33,9%. Dari tiga variabel yang digunakan sebagai prediktor hasil belajar, diketahui variabel motivasi sebagai variabel terkuat yang mengkontribusi hasil belajar siswa dibanding dua variabel lain yaitu kemampuan akademik dan inteligensi. Motivasi Berprestasi siswa perlu mendapat perhatian yang serius. Guru sebagai fasilitator hendaknya dapat mengakomodasikan motivasi berprestasi siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.Kata Kunci : kemampuan akademik, intelegensi, motivasi, hasil belajar kimia. This study aims to determine the contribution of the academic ability, intelligence, achieve-ment motivation toward chemistry learning outcomes at SMAN 1 Bangli. This study is an ex-post facto, with 182 student samples. Samples were taken with a random sampling technique. Data were analyzed using path analysis at a significance level of 5 %. The results showed that: 1) the contribution academic ability toward achievement motivation of 6,8%, 2) the contribution intelligence toward achievement motivation of 27,6%, 3) the contribution academic ability toward chemistry learning outcomes of 1,7%, 4) the contribution intelligence toward chemistry learning outcomes of 5,8%, 5) the contribution achievement motivation toward chemistry learning outcomes of 33,9%. Of the three variables used as predictors of learning outcomes, motivation variable is known as the strongest variables that contribute to student learning outcomes than the two other variables, namely academic ability and intelligence. Achievement motivation students need serious attention. Teacher as facilitator should be able to accommodate students' achievement motivation so as to achieve maximum learning results.keyword : academic ability, intelligence, motivation, chemistry learning outcomes.
PENGARUH MODEL SELF REGULATED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA SMA NI NYOMAN WIDIYANINGSIH .; Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa,S.Pd,M.Sc .; Drs. I Nyoman Suardana,M.Si .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan kemampuan pemecahan masalah dan kecerdasan emosional antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model self regulated learning dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan rancangan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Kecamatan Banjar yang berjumlah 159 siswa. Sampel penelitian berjumlah 130 siswa yang dibagi menjadi 2 kelas kelompok eksperimen dan 2 kelas kelompok kontrol yang diambil dengan teknik cluster sampling. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah dan kecerdasan emosional. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan MANOVA satu jalur dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah dan kecerdasan emosional antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model self regulated learning dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung, 2) terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model self regulated learning dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung, 3) terdapat perbedaan yang signifikan antara kecerdasan emosional antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model self regulated learning dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung.Kata Kunci : kecerdasan emosional, pemecahan masalah, model self regulated learning This research was aimed describe the differences of problem-solving ability and emotional intelligence between group of students who studied with self-regulated learning model and direct learning model. This quasi-experimental research used a post-test only control group design. The 11th grade science students SMA Negeri at Banjar district which 159 students were used as the research population. The samples consisted of 130 students were divided into two classes for experiment group and two classes for control group taken by cluster sampling. Two main variables in this research were problem-solving ability and emotional intelligence. The data were analyzed by using descriptive statistics and a one-way MANOVA at the significant level of 5 %. The results of this research showed that: 1) there are significant differences problem-solving ability and emotional intelligence between group of students who studied with self-regulated learning model and direct learning model, 2) there is significant differences problem-solving ability intelligence between group of students who studied with self-regulated learning model and direct learning model, 3) there is significant differences emotional intelligence between group of students who studied with self-regulated learning model and direct learning model.keyword : emotional intelligence, problem solving, self-regulated learning model,
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN SETTING SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PEMAHAMAN KONSEP KIMIA SISWA NI LUH EKA NINGSIH .; DR. RER. NAT I WAYAN KARYASA, S.Pd.,M.Sc .; DRS. I NYOMAN SUARDANA, M.Si. .
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia Vol 5, No 1 (2015):
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.475 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran kimia dengan setting sains teknologi masyarakat (STM) yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep kimia siswa. Pengembangan dilaksanakan dengan mengacu pada model Dick & Carey, meliputi: (1) penetapan materi pembelajaran dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) pengembangan perangkat pembelajaran, dan (4) uji coba perangkat pembelajaran. Subjek dari penelitian ini adalah ahli, guru, dan siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Bangli tahun pelajaran 2014/2015. Metode penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif tentang validitas, kepraktisan, dan efektivitas perangat pembelajaran. Hasil penelitian diperoleh: (1) validitas perangkat pembelajaran yang terdiri dari nilai validitas silabus dengan rata-rata 3,67; RPP 3,70; LKS 3,63; Buku Pegangan Siswa 3,66; Buku Pegangan Guru 3,66. Sehingga secara keseluruhan perangkat pembelajaran ini berada pada kategori sangat valid. (2) kepraktisan perangkat pembelajaranyang terdiri dari rata-rata nilai keterlaksanaan perangkat pembelajaran 3,51, rata-rata respon guru 3,69 dan respon siswa 3,62. Secara keseluruhan perangkat pembelajaran ini sangat praktis. (3) rata-rata keterampilan proses sains siswa meningkat setelah perangkat pembelajaran yang dikembangkan,penerapan pertama= 55,3; penerapan kedua= 70,2; penerapan ketiga= 80,9 dan penerapan keempat = 91,2. (4) terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemahaman konsep kimia sebelum dan setelah perangkat pembelajaran diterapkan. Kata Kunci : perangkat pembelajaran STM, keterampilan proses sains, pemahaman konsep This aims at developing valid, practical, and effective chemistry instruction with society technology science setting to improve students’ science process skill and students’ chemistry understanding. The development is done by using Dick & Carey model consisting of four steps, namely: (1) establishing the learning material and basic competency, (2) need analysis, (3) developing instruction tool, and (4) trying out learning tool. The subjects of this research are experts, teachers, and students of XI IPA 2 SMAN 2 Bangli in the academic year 2014/2015. The analysis method done by using descriptive analysis about validity, practicality, and effectiveness of learning tool. This research discovers: (1) the validity learning tool consisting of syllabus validity with average of 3,67; lesson plan of 3,70; worksheet of 3,63; students’ main book of 3,66, teachers’ book of 3,66. So that, all instruction is in very valid. (2) the practicality of the instruction tool consisting of the average score of learning tool application of 3,51, the average of teachers’ response of 3,69 and students’ response of 3,62. So that, all the learning tool is categorized into very practical. (3) the average score of students’ science process skill improve after the implementation of the developed instruction tool from implementation I = 55,3; Implementation II = 70,2; Implementation III = 80,9 and Implementation IV = 91,2. (4) there is a significant difference on students’ chemistry concept understanding before and after the instruction tool is implemented. keyword : science technology society instruction, scientific science skill, concept understanding
INTRODUKSI TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN KUANTITAS BATU CADAS ABASAN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN STIL BALI I Ketut Sudiana; I Nyoman Selamat; I Wayan Karyasa
Ngayah: Majalah Aplikasi IPTEKS Vol. 9 No. 1 (2018): Ngayah: Majalah Aplikasi IPTEKS
Publisher : Forum Layanan IPTEKS Bagi Masyarakat (FLipMAS) Wilayah Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu cadas Abasan adalah sebuah produk bahan galian atau tambang yang memiliki keunggulan dari warna, tekstur dan kekuatannya, namun belum banyak dikenal dan belum digunakan secara luas. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya teknologi yang digunakan menambang dan memotong batu sehingga menghasilkan kualitas potongan batu cadas yang masih kurang memenuhi standar penggunaan khususnya untuk bangunan berarsitektur Bali dan produktivitas yang rendah. Teknologi tepat guna pemotongan batu dalam bentuk pelatihan dan pendampingan telah diintroduksibagi UKM Paras Sari yang merupakan satu-satunya usaha tambang batu cadas tradisional di Dusun Abasan Sangsit Buleleng. Kegiatan initelah melibatkan Kelompok Tukang Bangunan Stil Bali di Desa Bongkasa Badung sebagai mitra yang menggunakan langsung, memperluas penggunaan, dan memperkenalkannya di Bali Selatan. Hasil pelaksanaan kegiatan introduksi teknologi tepatguna adalah (1)meningkatkan presisi dimensi potongan balok cadas (dari 30% menjadi 100%), (2) meningkatkan kuantitas produksi (dari 2.500 menjadi 3.200 biji/bulan/orang), (3) meningkatkan lebih dari 25% omzet penjualan batu cadas Abasan,dan (4) dua buah kompleks bangunan berarsitektur Bali tradisional yang menggunakan cadas Abasan sekitar 8.000 buah telah dikerjakan oleh Kelompok Tukang Bangunan Stil Bali dari Desa Bongkasa yaitu satu di Kota Singaraja (Bali Utara) dan satunya lagi adadi Ubud (Bali Selatan). Indeks kepuasan pelanggan terhadap kualitas pengerjaan bangunan stil Bali yang menggunakan batu cadas Abasan berkatagori sangat memuaskan yang direspon oleh pemilik bangunan dan masyarakat sekitarnya. Rock stone of Abasan is a mining product which has excellences in color, tecsture and strength, but it has not yet been wellknown and not widely applied. This is caused by the lack of technology used for mining and cutting the rock hence the quality of the cutting rocks can not fullfill the standards application especially for Balinese architectural building and the productivity of the mining is low. An appropriate technology was introduced in form of training and coaching of cutting tool technology for small mining entreprises UKM Paras Sari, who is the only one traditional rock mining at Abasan Sangsit Village of Buleleng Regency. The activity involved A Skilled Builder Group for Balinese Style Buildings from Bongkasa Village of Badung Regency as a partner in order to directly uses of the rocky building material as well as to introduce the building material in Southern Bali. Results of the approriate technology inttroduction activity are (1) the increase the dimmension precision of rocky block cuts (from 30% into 100%), (2) the increase of production quantity (from 2,500 to 3,200 piecess/month/person), (3) the increase of selling omzet of Abasan rocky blocks more than 25% , and (4) two Balinese Style building complexes that used about 8,000 pieces of Abasan rocky blocks wreer already built by the Skilled Builder Group for Balinese Style Buildings (one at Singaraja City (Northen Bali), and the other one at Ubud (Southern Bali) The customer satisfaction index of the work quality of the Balinese style buildings using the Abasan rocky blocks is in catagory of very satisfaction.
PEMBUATAN PAPAN PARTIKEL DARI LIMBAH PLASTIK POLYPROPHYLENE (PP) DAN TANGKAI BAMBU Ida Ayu Putu Wida Septiari .; Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa,S.Pd,M.Sc .; Drs.Ngadiran Kartowasono, M.Pd. .
Jurnal Pendidikan Kimia Undiksha Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpk.v1i1.4027

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan tekanan papan partikel terbaik dilihat dari daya serap air minimum dan kuat tekan maksimumnya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 2 variabel bebas yaitu komposisi dan tekanan. Eksperimen pertama, papan partikel dibuat dengan cara plastik polyprophylene dilarutkan dalam xylene dan dipanaskan pada suhu 170°C. Kemudian matrik plastik dicampurkan dengan serbuk tangkai bambu tali sebagai filler hingga homogen dengan komposisi filler berbanding matrik yang digunakan adalah 90%:10%, 80%:20%, 70%:30%, 60%:40%, dan 50%:50%. Selanjutnya campuran yang homogen dicetak pada tekanan 25 kgf/cm2 selama 1 jam. Papan partikel yang dihasilkan dikeringkan kemudian diuji kuat tekan dan daya serap air. Komposisi cetakan papan partikel yang daya serap airnya minimum dan kuat tekannya maksimum digunakan untuk eksperimen kedua. Eksperimen kedua, papan partikel dibuat menggunakan  perbandingan komposisi filler dan matrik yang terbaik dengan variasi tekanan pada saat pencetakan yaitu berturut-turut 15 kgf/cm2, 20 kgf/cm2, 25 kgf/cm2, 30 kgf/cm2, dan 35 kgf/cm2 masing-masing selama 1 jam. Hasil penelitian eksperimen pertama yaitu daya serap air 14,34% dan kuat tekan 671 kgf/cm2 dan pada eksperimen kedua yaitu tekanan terbaik saat proses pencetakan papan partikel yaitu 35 kgf/cm2 dengan nilai daya serap air 6,93% dan nilai kuat tekan 878 kgf/cm2. Hasil penelitian dari papan partikel yang terbuat dari plastik PP dan serbuk tangkai bambu tali mempunyai nilai daya serap air dan nilai kuat tekan yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2105-2006.Kata Kunci : papan partikel, polyprophylene, tangkai bambu, daya serap air, kuat tekan The aim of the study was to determine the best composition and pressure conditions in making particle board for having minimum water absorption and maximum compressive strength properties. The study used two independent variables, there were composition and pressure. Firstly experiment, polyprophylene plastic were dissolved in a xylene and heated at the temperature of 170°C. Then, the plastic matrix was mixed with bamboo stalks rope as filler until homogeneous in certain compositions 90%:10%, 80%:20%, 70%:30%, 60%:40%, and 50%:50%. Finally, the homogeneous mixtures were pressure of 25 kgf/cm2 for 1 hour. The results were dried particle board then tested compressive strength and water absorption. The composition of particle board that the minimum water absorption and maximum compressive strength was used for the second experiment. The second experiment, particle board were made by using the best comparison filler and matrix composition with the variation of pressure at the time of printing the consecutive 15kgf/cm2, 20kgf/cm2, 25kgf/cm2, 30kgf/cm2, and 35kgf/cm2 each for 1 hour. The results of the first experiment of water absorption 14,34% and compressive strength 671 kgf/cm2 and in the second experiment pressure data obtained during the process of mold that is particle board 35 kgf/cm2 with water absorption 6,93% and 878 kgf/cm2 compressive strength. Results show that the particle board made of plastic PP rope and bamboo stalk powder has a value of water absorption and compressive strength fulfilling the requirement of SNI 03-2105-2006.keyword : particle board, polyprophylene, stalk of bamboo, water absorption, compressive
ANODIZING LOGAM ALUMINIUM DENGAN VARIASI BEDA POTENSIAL Aa Kt. Wisnu A.k .; Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa,S.Pd,M.Sc .; Drs. I Nyoman Suardana,M.Si .
Jurnal Pendidikan Kimia Undiksha Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpk.v1i1.4448

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik permukaan logam aluminium melalui proses anodizing. Variabel bebas yang digunakan adalah besar beda potensial yang diberikan pada proses anodizing. Kualitas karakteristik permukaan logam aluminium ditentukan dengan analisis data yang berupa ketebalan dan lebar pori yang terbentuk selama proses anodizing yang diperoleh dari uji Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray. Pada penelitian ini digunakan logam aluminium dengan kemurnian 99% dengan ketebalan 3 mm berukuran 6 cm x 1,5 cm yang sudah dibersihkan menggunakan aquades, sabun, dan alkohol, selanjutnya direndam dalam larutan NaOH 1M selama 2 menit, kemudian dilanjutkan dengan proses anodizing dengan variasi beda potensial yang diberikan yaitu 15 V, 20 V, dan 25 V. Tahap selanjutnya dilakukan uji Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray terhadap sampel sehingga didapatkan data Ketebalan dan lebar pori yang terbentuk selama proses anodizing pada permukaan logam aluminium serta data komposisi penyusun logam aluminium hasil anodizing. Hasil analisis data ketebalan dan lebar pori yang diperoleh dari uji Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray menunjukkan beda potensial 25 V memberikan hasil yang paling baik.Kata Kunci : aluminium, beda potensial, anodizing The Aim of this study was to determine the characterization of aluminium surfaces that have been anodized. Independent variable of this experiment is voltage variations in anodizing processes. Quality of the aluminium surfaces is determined by analyzing data of the aluminium oxide pores thickness and width that occurred from Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray instrument test. In this study is used an aluminium metals with 99% purity with thickness approximately 3 mm and 6 cm x 1,5 cm dimension and have been cleaned by aquadest, soap, and alcohol. After that, it degreased with NaOH 1 M solution in 2 minutes and then continuing with anodizing processes with voltage variation (15 V, 20 V, and 25 V). The next step is it tested by Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray instrument. In these processes, the data of aluminium oxide pores thickness and width is occurred. Data of the composition of aluminium after anodized is occurred from Energy Dispersive X-ray test. The results show that the best condition of aluminium surfaces is occurred at 25 V.keyword : aluminium, voltage, anodizing
Co-Authors Aa Kt. Wisnu A.k . Adiningsih, Made Darmaprathiwi Anak Agung Sri Yoni Astawa, I Gede Putu Banu Astawa, I Putu Gede Banu Desak Made Citrawathi Dr. I Nyoman Tika,M.Si . Drs.Ngadiran Kartowasono, M.Pd. . EKA SUJANA . Gede Agus Beni Widana Holyness Nurdin Singadimedja I DEWA AYU TRISNA HANDAYANI . I DEWA AYU TRISNA HANDAYANI ., I DEWA AYU TRISNA HANDAYANI I DEWA GEDE ANOM . I Gede Putu Astawa I Gusti Agung Komang Diafari Djuni Hartawan I Gusti Lanang Wiratma I Kadek Eka Karyawan I Ketut Sida Arsa, I Ketut Sida I Made Ardwi Pradnyana I Made Candiasa I MADE KARTAMA . I Nyoman Bagiarata I NYOMAN BAGIARTA . I NYOMAN BAGIARTA ., I NYOMAN BAGIARTA I Nyoman Suardana I Nyoman Sujana I Wayan Muderawan I Wayan Rai I Wayan Rai I Wayan Redhana I Wayan Sadia I Wayan Suja Ida Ayu Purnama Bestari Ida Ayu Putu Wida Septiari . Karyawan, I Kadek Eka Luh Sami Asih . M.Pd. Drs.Ngadiran Kartowasono . Made Agus Wijaya Made Darmaprathiwi Adiningsih Made Vivi Oviantari Minanti, Ni Nengah Astri Mudianta, I Wayan N. P. J. Artini NI KADEK SRI MULYANI . NI KADEK SRI MULYANI ., NI KADEK SRI MULYANI NI LUH EKA NINGSIH . NI LUH EKA NINGSIH ., NI LUH EKA NINGSIH NI LUH PUTU MANIK WIDIYANTI Ni Made Ary Widiastini Ni Nengah Astri Minanti NI NYOMAN RUSMINIATI . NI NYOMAN RUSMINIATI ., NI NYOMAN RUSMINIATI NI NYOMAN WIDIYANINGSIH . Ni Putu Dian Pertiwi, Ni Putu Dian Pradnyana, I Gede Ardwi PUTU FANNY SASTRADEWI . PUTU FANNY SASTRADEWI ., PUTU FANNY SASTRADEWI Putu Pratiwi Surya Rahayu . Wayan Muderawan Yoni, Anak Agung Sri Young, David James