Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

KAJIAN KINERJA CAMPURAN BERASPAL PANAS JENIS LAPIS ASPAL BETON SEBAGAI LAPIS AUS BERGRADASI KASAR DAN HALUS Rombot, Prylita; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 3 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapis aspal beton (LASTON) sebagai lapis aus atau AC-WC (Asphat Concrete–Wearing Course) adalah salah satu jenis perkerasan lentur dan merupakan lapis permukaan perkerasan yang berhubungan langsung dengan beban lalu lintas sehingga lapisan ini di rancang untuk tahan terhadap perubahan cuaca, gaya geser, serta memberikan lapis kedap air untuk lapisan dibawahnya. Menurut Spesifikasi Bina Marga 2010, revisi 2012 AC-WC terbagi menjadi dua yaitu AC-WC bergradasi kasar dan AC-WC bergradasi halus, dimana AC-WC kasar didominasi agregat kasar yaitu agregat yang tertahan saringan no. 8(2,36mm) sedangkan AC-WC halus didominasi agregat halus yakni agregat yang lolos saringan no.8 (2,36mm), Kinerja dari kedua campuran inilah yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Transportasi Universitas Sam Ratulangi  Manado yang bertujuan untuk mendapatkan kinerja dari campuran AC-WC bergradasi kasar dan halus ditinjau terhadap kriteria Marshall . Sebelum pengujian Marshall pada campuran dilakukan pemeriksaan terhadap material, secara terbatas hanya menggunakan material yang bersumber dari daerah Bolaang Mongondow dan sudah banyak digunakan. Dari kajian yang dilakukan, diperoleh bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara AC-WC kasar dan halus, nilai Stabilitas AC-WC kasar 1571,34 kg sedangkan AC-WC halus 1461,68 kg AC-WC kasar lebih tinggi 6,9% dari AC-WC halus, nilai Flow AC-WC kasar 3,5 mm dan AC-WC halus 3,8 mm untuk nilai Flow AC-WC halus lebih tinggi 8%  dari AC-WC kasar, nilai Marshall Quotient mengikuti perbadingan dari nilai stabilitas dan flow, untuk nilai VIM dan VMA AC-WC kasar lebih tinggi dari AC-WC halus sedangkan nilai VFB dari AC-WC halus lebih tinggi 4% dari AC-WC kasar, sehingga campuran dari AC-WC kasar dan Halus keduanya dapat dipakai sebagai alternatif dari campuran perkerasan jalan. Kata kunci : Kinerja campuran, AC-WC kasar, AC-WC halus, Kriteria Marshall
PENGARUH VISKOSITAS ASPAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL Senduk, Novita Lucia; Kaseke, Oscar H.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 1 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran beraspal panas (hotmix) adalah campuran dari agregat dan aspal yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tujuan dari pemanasan aspal adalah untuk menurunkan kekentalan (viskositas) sehingga mudah untuk dicampurkan dengan material lain (workabilitas tinggi). Viskositas aspal berhubungan dengan temperatur pemanasan; pada temperatur rendah viskositas tinggi sedangkan pada temperatur tinggi viskositas rendah. Viskositas merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan campuran, dan mempengaruhi karakteristik Marshall. Pengaruh viskositas terhadap karakteristik Marshall inilah yang akan menjadi topik penelitian. Penelitian ini menggunakan material dari dua lokasi yaitu Lolan dan Tateli dan menggunakan aspal pertamina penetrasi 60/70. Penelitian dimulai dengan pemeriksaan fisik terhadap material dan aspal yang akan digunakan berdasarkan Spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 2012, termasuk dengan pemeriksaan viskositas aspal dengan alat Saybolt Furol. Berdasarkan gradasi agregat yang didapat, dibuat komposisi agregat terbaik dan kadar aspal terbaik untuk campuran ideal. Selanjutnya dibuat masing-masing 3 benda uji berdasarkan campuran ideal dengan variasi viskositas aspal dan diuji Marshall untuk mendapatkan kadar aspal terbaik. Berdasarkan kadar aspal terbaik, dibuat benda uji dengan variasi viskositas aspal yang kemudian diuji, diperiksa dan didapatkan hasil uji Marshall dari masing-masing benda uji. Dengan variasi pemanasan aspal yaitu antara 1200C-2000C yang menghasilkan nilai viskositas aspal antara 41,40cSt-170,00cSt diperoleh hasil uji Marshall; dimana nilai stabilitas, flow, dan VFB cenderung meningkat seiring berkurangnya viskositas aspal sedangkan nilai MQ, VIM, dan VMA cenderung turun seiring berkurangnya viskositas. Pada viskositas 170cSt (temperatur 1500C) merupakan titik dimana semua karakteristik Marshall mencapai titik maksimum dan menghasilkan benda uji yang bermutu baik. Dapat disimpulkan bahwa batasan viskositas pencampuran yang baik berada pada rentang 41,40cSt-170,00cSt (temperatur 1200C-2000C) dengan suhu pemadatan 50C dibawah suhu pencampuran. Disarankan untuk sesegera mungkin mencampur dan memadatkan benda uji jika temperatur yang menghasilkan viskositas yang baik telah tercapai.   Kata kunci: viskositas, temperatur, workabilitas, karakteristik Marshall
PENGARUH PENGGUNAAN AGREGAT KASAR DAN HALUS YANG BERBEDA SIFAT FISIK DAN MEKANIK TERHADAP CAMPURAN ASPAL PANAS MODIFIKASI Tampi, Christina Karolina; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 1 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembuatan lapis perkerasan jalan dengan Campuran Beraspal Panas, dapat saja terjadi kemungkinan penggunaan agregat kasar dan agregat halus yang berbeda lokasi sumbernya, sehingga sifat fisik dan mekaniknya juga berbeda. Hal ini bisa terjadi akibat ketersediaan material yang terbatas disuatu lokasi, namun dapat disupply dari lokasi lainnya. Sehubungan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat lebih menggalakkan pembuatan Campuran Beraspal Panas yang menggunakan hasil olahan Aspal Buton, dalam Spesifikasi Teknik Tahun 2010 Revisi 3 disebut Campuran Beraspal Panas Modifikasi. Persyaratan campuran ini sedikit berbeda yang terlihat pada nilai stabilitas, juga tingkat keausan (abrasi) bahan agregat pada Campuran Aspal Panas Modifikasi disyaratkan ≤30% (pada Campuran Aspal biasa abrasi <40%). Penelitian ini menggunakan aspal Buton Retona Blend yang diproduksi oleh PT. Olah Bumi. Material yang digunakan adalah material yang berbeda sifat fisik (Berat Jenis dan Penyerapan agregat) dan mekaniknya (Abrasi Agregat, dalam hal ini material akan dipilih dari beberapa lokasi dengan cara memeriksanya. Hasil pemeriksaan dari Lokasi Lansot yang mewakili pemeriksaan sifat fisik dan mekanik agregat yang baik, didapatkan nilai abrasi=19%, kadar aspal terbaik untuk campuran agregat ini adalah 5,5%, hasil pengujian Marshall ; Stabilitas=1344Kg, Flow=3.59mm, VIM=3,75%, dan density=2.40Kg/m³, dan untuk hasil pemeriksaan agregat yang mewakili pemeriksaan sifat fisik yang kurang baik, diambil dari Lokasi Kakaskasen nilai abrasi 39%. Untuk sifat mekanik dari campuran agregat gabungan (agregat kasar dan agregat sedang dari Lokasi Lansot dan Abu batu dari Kakaskasen), kadar aspal terbaiknya  adalah 5,7%, hasil pengujian Marshall ; Stabilitas=1155Kg, Flow=3.48mm, VIM=5.34%, dan density=2.23Kg/m³.Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan material/agregat yang memiliki sifat fisik dan mekanik yang baik sangat berpengaruh pada kadar aspal optimum dan kriteria Marshall Campuran AC-Modifikasi. Namun jika ketersediaan material/agregat halus disuatu lokasi tidak cukup maka dapat menggunakan material/agregat halus dari lokasi berbeda walaupun hasil abrasi dari lokasi tersebut lebih dari >30%Kata Kunci:  Sifat Fisik Agregat, Sifat Mekanik Agregat, Abrasi (keausan), Campuran Beraspal Panas Modifikasi
KAJIAN KINERJA CAMPURAN LAPIS PONDASI JENIS LAPIS TIPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI (HRS-BASE) BERGRADASI SENJANG DENGAN JENIS LAPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI (AC-BASE) BERGRADASI HALUS Huwae, Meggie; Kaseke, Oscar H.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 3 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapis Pondasi Aspal (Asphalt Base) adalah bagian dari lapis perkerasan aspal, yang berada di bawah lapis aus (Wearing Course) dan Lapis Antara (Binder Course). Lapis perkerasan tersebut tidak berhubungan langsung dengan beban roda kendaraan, namun berperan untuk menahan beban yang disalurkan dari lapis-lapis diatasnya dan meneruskan ke lapis dibawahnya. Dalam spesifikasi Bina Marga dikenal 2 (dua) jenis campuran Asphalt Base yakni HRS-Base yang bergradasi senjang dan AC-Base yang bergradasi menerus. Kinerja dari kedua jenis campuran inilah yang akan diteliti perbedaannya. Pengujian dilakukan di Laboratorium Teknik Perkerasan Universitas Sam Ratulangi Manado dengan menggunakan material yang bersumber dari daerah Bolaang Mongondow (Lolan) yang sudah banyak digunakan dan aspal penetrasi 60/70. Pengujian menggunakan kriteria Marshall berdasarkan spesifikasi Bina Marga oleh Kementrian Pekerjaan Umum tahun 2010 revisi 2012. Hasil pengujian menunjukkan campuran HRS-Base dan AC-Base berbeda secara signifikan dilihat dari kriteria Marshall, nilai stabilitas AC-Base lebih tinggi 34.61 % dari HRS-Base, sebaliknya pada flow HRS-Base lebih tinggi 2.17% dari AC-Base, nilai Marshall Quotient mengikuti perbandingan nilai stabilitas dan flow. VIM dan VMA pada HRS-Base lebih tinggi dari AC-Base sedangkan pada VFB, AC-Base lebih tinggi dari HRS-Base. Kadar aspal terbaik dimana semua kriteria Marshall terpenuhi, pada kedua campuran ini berbeda. Nilai kadar aspal terbaik dari AC-Base lebih rendah yaitu 6.5% dibandingkan HRS-Base 7.5%. Stabilitas dari AC-Base lebih sensitif akibat perubahan kadar aspal dibandingkan dengan HRS-Base. Contohnya dengan fluktuasi kadar aspal ±1%, penurunan nilai stabilitas pada AC-Base 13.37% sedangkan pada HRS-Base 7.92% . Dalam pemilihan perkerasan pondasi aspal jalan raya jika membutuhkan stabilitas tinggi maka sebaiknya menggunakan campuran AC-Base, namun apabila terjadi kemungkinan fluktuasi perubahan kadar aspal dianjurkan menggunakan HRS-Base. Kata kunci : Kinerja campuran, HRS-Base, AC-Base, Asphalt Base, Kriteria Marshall
KAJIAN PERBEDAAN CAMPURAN BERASPAL PANAS YANG MENGGUNAKAN BAHAN AGREGAT DENGAN BERAT JENIS (SPESIFIK GRAFITY) YANG BERBEDA Wurara, Dionisius Natan; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 12 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat jenis agregat dari berbagai sumber tidak akan sama, tergantung pada sifat fisik dan mekanik. Campuran beraspal panas dari berbagai sumber itu akan berbeda satu sama lain, Berat jenis akan mempengaruhi parameter-parameter pengujian Marshall berupa Stabilitas, Flow, VIM, VMA, VFB, kepadatan, (Spesifikasi Bina Marga tahun 2010 revisi 3). Penelitian ini akan mengkaji perbedaan campuran beraspal panas yang menggunakan bahan agregat dengan berat jenis (spesifik grafity) yang berbeda. Benda uji Marshall dibuat dengan menggunakan material batu pecah yang bersumber dari tiga tempat yaitu Kakaskasen Tomohon, Tateli Minahasa dan Matali Kotamobagu, dengan aspal penetrasi 60/70 ex Pertamina sebagai bahan pembentuk campuran beraspal panas. Setelah dilakukan pemeriksaan bahan selanjutnya dicari komposisi agregat yang memenuhi syarat untuk masing-masing campuran yaitu AC-WC dan dibuat campuran benda uji untuk 5 variasi kadar aspal untuk setiap sumber material. Hasil penelitian untuk ketiga material yang kadar aspalnya dibuat sama dan penambahan PC sebesar 1%, Maka nilai-nilai marshall menunjukkan angka yang berbeda, seperti berat jenis material Matali termasuk tinggi, sehingga berada di angka 2.7. pada pengujian Marshall di kadar aspal 6.5%, nilai stabilitas di dapat sebesar 2045 kg; flow = 2.70 mm; VIM = 3.53%; VMA = 17.67%; VFB = 80.10%; density =2.40 gr/cc; rasio filler = 0.85. Berat jenis material Tateli termasuk rendah, sehingga berada di angka 2.4 dan 2.3. pada pengujian Marshall di kadar aspal 6.5%, nilai stabilitas di dapat sebesar 1450 kg; flow= 3.01mm; VIM = 3.67%; VMA = 15.43%; VFB = 76.24%; density = 2.18 gr/cc; rasio filler = 1.41. Berat jenis material Kakaskasen termasuk rendah, sehingga berada di angka 2.4 dan 2.3. pada pengujian Marshall di kadar aspal 6.5%, nilai stabilitas di dapat sebesar 1535 kg, flow = 3.49mm; VIM = 4.58%; VMA=15.10%; VFB = 69.71%, density= 2.15 gr/cc; rasio filler = 1.07. Jika harga satuan pekerjaan Hotmix aspal diukur dalam satuan berat, maka dalam 1ton/m³ campuran yang dikalikan dengan harga satuan pekerjaan masih relatif menguntungkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa material Matali merupakan material yang memiliki nilai density terbesar yaitu kisaran 2.40 sedangkan material Tateli dan material Kakaskasen memiliki nilai density yang relatif rendah sehingga menghasilkan nilai yang hampir sama yaitu sebesar 2.18 dan 2.15. hal ini disebabkan semakin tinggi nilai berat jenis pada material maka nilai density semakin tinggi. Jika satuan pembayaran dari campuran beraspal panas diukur dari satuan berat, maka menggunakan agregat yang mempunyai berat jenis yang lebih besar relatif lebih mengguntungkan. Dari kesimpulan tersebut disarankan pada pekerjaan perkerasan jalan, jika sebaiknya menggunakan material yang berat jenis tinggi seperti material Matali Kata kunci: Besaran Marshall, Berat jenis, AC-WC, Material, Density
PENGARUH VARIASI KANDUNGAN BAHAN PENGISI TERHADAP KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN BERASPAL PANAS JENIS LAPIS TIPIS ASPAL BETON – LAPIS AUS GRADASI SENJANG Hamzah, Risky Aynin; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 4, No 7 (2016): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh variasi kandungan Bahan Pengisi (Filler) terhadap kualitas campuran berdasarkan Metode Marshall dan batasan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknik Bina Marga Tahun 2010 diteliti di laboratorium terhadap jenis campuran Lapis Tipis Aspal Beton-Lapis Aus bergradasi senjang. Penelitian diterapkan pada campuran yang dirancang menggunakan bahan-bahan campuran yang terpilih dan diperiksa terlebih dahulu memenuhi syarat, kemudian dirancang komposisi berdasarkan gradasi menurut jenis campuran sesuai dengan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010, kemudian dibuat benda uji dengan variasi kadar aspal. Setelah diuji dan dianalisis, didapat komposisi terbaik yang memenuhi semua persaratan kriteria Marshall. Dengan berpatokan pada komposisi terbaik, dibuat lagi benda uji Marshall dengan mem-variasi-kan kandungan Bahan Pengisi (Filler), dimana gradasi berpatokan pada komposisi terbaik kecuali untuk prosentasi Bahan pengisi (Filler) yakni  lolos saringan ukuran No. #50 (=0,297 mm), No. #100 (=0,150 mm) dan No. #200 (=0,075 mm) yang berubah-ubah sesuai dengan variasi kandungan Bahan Pengisi tersebut. Kandungan Bahan Pengisi dirancang ber-variasi antara 4 % sampai dengan 12% dengan rentang 2% . Setelah pengujian dan besaran-besaran Marshall diperoleh, dilakukan analisis secara grafis hubungan antara variasi kandungan Bahan Pengisi (Filler) [%] pada sumbu mendatar dengan masing-masing besaran-besaran Marshall pada sumbu tegak. Dari hubungan antara Stabilitas dengan Kandungan Bahan Pengisi, Nilai Flow atau Kelelehan, untuk prosentasi Bahan Pengisi. Batasan Kandungan Bahan Pengisi, maka dapat disimpulkan bahwa variasi kandungan Bahan Pengisi sangat berpengaruh terhadap besaran kriteria Marshall campuran dan yang paling menentukan adalah nilai VIM yang membatasi kandungan Bahan Pengisi terendah dan tertinggi. Dengan demikian disarankan dalam pelaksanaan pembuatan Campuran Beraspal Panas bergradasi senjang sebagaimana yang diteliti ini, variasi kandungan Bahan Pengisi harus dibatasi sedemikian rupa, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah, tidak sekadar mengikuti batas terendah ataupun tertinggi  yang terdapat dalam Spesifikasi Teknik Bina Marga Tahun 2010. Kata kunci : Bahan pengisi (Filler), Kriteria Marshall, Lapis Tipis Aspal Beton.
PENGARUH VARIASI KANDUNGAN BAHAN PENGISI TERHADAP KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN LAPIS ASPAL BETON-LAPIS ANTARA BERGRADASI HALUS Ator, Praesillia Christien; Waani, Joice E.; Kaseke, Oscar H.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 12 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) atau Laston (Lapis aspal beton-lapis antara). Campuran ini terdiri dari agregat kasar, agregat halus dan filler (bahan pengisi). Menurut Spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 3, filler adalah bahan yang 100% lolos saringan No.100 dan tidak kurang 75% lolos saringan No.200. Dalam pelaksanaan pembuatan campuran beraspal panas menggunakan alat AMP (Asphalt Mixing Plant) kemungkinan terjadi fluktuasi kandungan filler. Pengaruh dari variasi kandungan filler dalam campuran ini yang akan diteliti terhadap kriteria Marshall. Dalam penelitian ini digunakan material agregat yang berasal dari desa Lolan dan telah melalui proses pemeriksaan sesuai dengan persyaratan agregat dalam campuran. Berdasarkan gradasi dicari komposisi campuran agregat dengan variasi kadar aspal kemudian diuji Marshall untuk mendapatkan kadar aspal terbaik. Berdasarkan gradasi yang diperoleh dan kadar aspal terbaik dibuat campuran yang mengikuti gradasi ideal, tetapi untuk membuat variasi filler pada ukuran saringan terbawah filler dan dua saringan sebelumnya turut divariasikan, setelah itu dibuat benda uji dengan variasi filler 2%,4%,6%,8%,10% terhadap berat total agregat kering. Hasil pengujian Marshall menunjukkan bahwa pada kadar filler 2% sampai dengan 10% nilai stabilitas adalah 1604 kg sampai dengan 2496 kg, nilai flow adalah 3,27 mm sampai dengan 4,35 mm, nilai VFB adalah 60,85% sampai dengan 83,09%, nilai ratio filler-bitumen efektif adalah 0,41 sampai dengan 2,03, hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi kadar filler nilai stabilitas, flow, VFB dan ratio filler-bitumen efektif meningkat. Sedangkan pada kadar filler 2% sampai dengan 10% nilai VIM adalah 7,58% sampai dengan 2,56% dan nilai VMA adalah 19,35% sampai dengan 15,14%, menunjukkan semakin tinggi kadar filler nilai VIM dan VMA menurun. Kadar filler yang terbaik memenuhi seluruh kriteria Marshall ada pada range tertentu dan dalam penelitian ini dibatasi oleh persyaratan nilai ratio filler-bitumen efektif, maka range kadar filler terbaik berada antara 5% sampai dengan 7%. Kata Kunci : AC-BC, Filler (Bahan Pengisi), Kriteria Marshall
KAJIAN PENGARUH FLUKTUASI GRADASI TERHADAP PENGGUNAAN KADAR SEMEN PADA CAMPURAN CEMENT TREATED BASE (CTB) Lonteng, Fani Oktavian; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.; Palenewen, Steve Ch. N.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 5 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini akan mengkaji dampak yang disebabkan oleh fluktuasi gradasi agregat terhadap penggunaan kadar semen pada campuran CTB serta mengetahui penggunaan kadar semen akibat dari fluktuasi gradasi yang terjadi karena pada proses pencampuran agregat di lapangan kemungkinan fluktuasi gradasi agregat dapat saja terjadi.Metode penelitian bersifat research di laboratorium, serta berpedoman pada rujukan yang dibuat oleh PUSLITBANG Jalan dan Jembatan SNI 8141: 2015 (Spesifikasi Lapis Fondasi Agregat Semen-LFAS). Adapun pengujian terhadap agregat seperti keausan agregat, berat jenis agregat, analisa saringan, batas cair, batas plastis, serta nilai indeks plastis. Pengujian terhadap campuran CTB dilakukan pengujian UCS (unconfined compressive strength) dan CBR (california bearing ratio) di laboratorium (menggunakan semen dan tidak menggunakan).Berdasarkan komposisi perbandingan agregat kasar dan agregat halus pada masing-masing gradasi agregat, diperoleh gradasi (satu) dengan perbandingan 48% dan 52%, gradasi (dua) 63% dan 37%, gradasi (tiga) 77% dan 23%. Hasil pengujian pemadatan berat (modified Proctor test) di laboratorium masing-masing komposisi gradasi agregat diperoleh nilai kadar air optimum (Wopt) dan berat isi kering maksimum (γdmaks) pada gradasi (satu) 8,50% dan 1,981 gr/cm³, gradasi (dua) 7,80% dan 2,009 gr/cm³, gradasi (tiga) 7,20% dan 1,992 gr/cm³. Masing-masing gradasi agregat dibuat komposisi campuran CTB menggunakan 5 variasi kadar (3% - 5%). Pengujian UCS ditinjau pada tegangan 50 kg/cm², diperoleh kadar semen pada gradasi (satu) 4,85%, gradasi (dua) 3,55%, gradasi (tiga) 4,50%. Pengujian CBR di laboratorium (tidak menggunakan semen) menunjukan penurunan nilai daya dukung apabila perbandingan agregat halus lebih banyak dari agregat kasar, setelah (menggunakan semen) terjadi peningkatan nilai daya dukung campuran diperoleh hasil gradasi (satu) 75,29% menjadi 141,04%, gradasi (dua) 99,11% menjadi 214,43%, gradasi (tiga) 105,78% menjadi 251,59%.Fluktuasi gradasi agregat menyebabkan bertambahnya penggunaan kadar semen pada campuran CTB yang berada pada 0,95% - 1,30%. Fluktuasi gradasi agregat juga berpengaruh pada daya dukung agregat itu sendiri, jika perbandingan persentase agregat halus lebih banyak terhadap agregat kasar akan memberikan daya dukung yang semakin rendah. Kata kunci : CTB, Fluktuasi, gradasi, agregat.
PENGARUH SUHU DAN DURASI TERENDAMNYA PERKERASAN BERASPAL PANAS TERHADAP STABILITAS DAN KELELEHAN (FLOW) Pangemanan, Vonne Carla; Kaseke, Oscar H.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 2 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu fungsi dari lapisan perkerasan aspal adalah sebagai lapisan penutup bagi perkerasan di bawahnya terhadap air, karena adanya air akan mengakibatkan perkerasan tersebut menurun dan juga lapis perkerasan dibawahnya akan menurun daya dukungnya. Terhadap lapisan perkerasan aspal dapat dilakukan pengujian Marshall untuk mengetahui pengaruh dari suhu dan durasi teredamnya terhadap nilai Stabilitas dan Kelelehan (Flow) melalui penelitian di laboratorium. Penelitian dilakukan terhadap campuran yang terbuat dari 2 jenis material agregat dari lokasi dua lokasi sumber berbeda yang memiliki sifat fisik berbeda, yakni material agregat dari lokasi sumber Tateli dan lokasi sumber Lolan. Penelitian diawali dengan memeriksa sifat-sifat bahan yang dugunakan dengan mengacu pada persyaratan Spesifikasi Teknik oleh Bina  Marga, sehingga didapatkan komposisi terbaik dari campuran. Selanjutnya dengan komposisi terbaik dibuat benda uji Marshall yang akan direndam dalam 3 variasi temperature, yaitu 25°, 45° dan 60° dengan 5 variasi lamanya waktu (durasi) perendaman; yaitu 30 menit, 60 menit, 12 jam, 24 jam dan 72 jam. Hasil pemeriksaan terhadap dua jenis material agregat menunjukkan material agregat lokasi sumber Lolan mempunyai resapan lebih kecil dibandingkan dengan agregat dari lokasi sumber Tateli, kemudian hasil penelitian terhadap dua jenis campuran yang terbuat dari agregat dari kedua lokasi sumber Tateli dan Lolan. Terlihat bahwa, setelah direndam dengan variasi suhu dan lamanya perendaman yang berfluktuasi terhadap kedua jenis campuran tersebut sama pengaruhnya, yaitu nilai Stabilitas dan Marshall Quotient (MQ) menurun dan nilai Flow meningkat. Hal ini membuktikan, bahwa temperatur dan lamanya (durasi) perendaman mempengaruhi kinerja pencampuran lapis perkerasan aspal. Semakin tinggi suhu perendaman dan semakin panjang durasi perendaman nilai Stabiltas Marshall semakin menurun dan nilai Flow semakin meningkat. Kata kunci: Stabilitas, Kelelehan (Flow), Suhu Perendaman, Lama Perendaman
PENGARUH JUMLAH KANDUNGAN FRAKSI BAHAN PENGISI TERHADAP KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN BERASPAL PANAS JENIS LAPIS ASPAL BETON-LAPIS AUS BERGRADASI HALUS Korua, Windy J.; Kaseke, Oscar H.; Elisabeth, Lintong
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 12 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapis Aspal Beton-Lapis Aus atau Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) terdiri dari aspal sebagai bahan pengikat dan agregat; yang terdiri dari 3 (tiga) fraksi yaitu, Agregat Kasar (Course Aggregate), Agregat Halus (Fine Aggregate), Fraksi Filler (Filler Fraction). Sampai saat ini, untuk mengevaluasi performance dari campuran AC-WC masih dapat menggunakan metode Marshall, dengan kriteria Marshall mengacu pada spesifikasi Teknik Bina Marga Tahun 2010 revisi 3. Pada saat pembuatan hot mix  dengan menggunakan Asphalt Mixing Plant (AMP) ada kemungkinan terjadi fluktuasi kandungan filler yang akan mempengaruhi kriteria Marshall. Pengaruh dari variasi kandungan filler  terhadap kriteria Marshall yang akan diteliti. Di laboratorium, benda uji akan dibuat dengan susunan ukuran butir (gradasi) sedapat mungkin mengikuti gradasi ideal, hanya fraksi filler yang dibuat bervariasi. Dari hasil pengujian Marshall untuk campuran AC-WC dengan kadar filler terendah 2% sampai dengan yang tertinggi 10% (dalam rentang 2%) terhadap berat kering total agregat diperoleh nilai stabilitas untuk kadar filler yang terendah yaitu 1779 kg dan untuk yang tertinggi yaitu 2392 kg, juga nilai flow untuk yang terendah yaitu 3,00 mm dan yang tertinggi yaitu 4,00 mm, selanjutnya secara berturut-turut nilai ratio filler bitumen content antara 0,41 sampai dengan 2,07, nilai VIM menurun dari 7,35% sampai dengan 2,79%, nilai VMA menurun dari 19,17% sampai dengan 15,19%, nilai VFB antara 61,72% sampai dengan 81,67%. Dalam penelitian ini, kriteria Marshall yang menentukan jumlah kandungan filler yaitu nilai ratio filler bitumen content dan nilai VIM. Setelah dievaluasi berdasarkan kriteria Marshall diperoleh range kadar filler berada antara 6% sampai dengan 7%, untuk memenuhi kriteria Marshall menurut batasan dalam spesifikasi Teknik Bina Marga Tahun  2010 revisi 3. Kata kunci: Lapis Aspal Beton- Lapis Aus, kriteria Marshall, filler fraction.