Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Hubungan antara Status Gizi dengan Gingivitis pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Hanifah, Fenti; Kawengian, Shirley E.S.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19652

Abstract

Abstract: Gingivitis is an inflammation process of gingiva caused by accumulation of biofilm on plaques around the margin of gingiva as well as an inflammation response against bacteria. Nutritional status is affected by macro and micronutrient intake. Poor nutritional status can cause abnormality of function and structure of oral soft tissue resulting in increased plaque forming which leads to the occurence of gingivitis. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and the occurence of gingivitis. This was an analytical study using a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. There were 77 students as samples. The nutritional status was measured by using body mass index (BMI), and examination of oral cavity was performed to check the occurence of gingivitis. The result showed that 46.8% of students had gingivitis. The nutritional status of the students based on IMT were as follows: 19.5% were categorized as underweight, 65% as normal weight, 9% as overweight, and 6.5% as obese. The bivariate analysis using the Chi-square test showed a P value of 0.000 (<0.05). Conclusion: There was a significant relationship between the nutritional status and gingivitis in students of Dentistry Program, Sam Ratulangi University.Keywords: nutritional status, gingivitis Abstrak: Gingivitis merupakan reaksi inflamasi dari gingiva yang disebabkan oleh akumulasi biofilm pada plak di sekitar margin gingiva dan respon peradangan terhadap bakteri. Status gizi dipengaruhi oleh asupan gizi makronutrien dan mikronutrien yang seimbang. Gizi kurang dapat menyebabkan gangguan fungsi dan struktur jaringan lunak mulut sehingga pembentukan plak meningkat yang menjadi penyebab awal gingivitis. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan gingivitis. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total populasi sebanyak 77 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Status gizi diukur menggunakan rumus perhitungan IMT dan pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk melihat ada tidaknya gingivitis. Hasil penelitian menunjukkan 46,8% mahasiswa mengalami gingivitis. Penentuan status gizi berdasarkan IMT mendapatkan sampel kategori kurus (19,5%), normal (65%), berat badan lebih (9%), dan obesitas (6,5%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukkan nilai P = 0,000 (0,000 <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan gingivitis pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: status gizi, gingivitis
Hubungan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Kota Manado Pratama, Fauzan I.; Mayulu, Nelly; Kawengian, Shirley E. S.
e-Biomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v7i2.26873

Abstract

Abstract: Stunting is caused by many factors, including not getting exclusive breastfeeding, namely breastfeeding without any other additional foods and drinks at the age of zero months to 6 months. This study was aimed to determine the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting among children under two years old in Manado. This was an observational and analytical study with a case control design (retrospective). The chi-square test (x2) at the 95% of significancy was used to obtain the relationship between exclusive breastfeeding and the occurrence of stunting data. Furthermore, to determine the magnitude of the problem of children who did not get exclusive breastfeeding against the incidence of stunting, the odds ratio (OR) was calculated. The results obtained a p-value of 0.02 (<α=0.05) and an odds ratio (OR) of 2.65, which meant that there was a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting. In conclusion, there was a significant relationship between exclusive breastfeeding and stunting incidence among children under two years old in Manado.Keywords: stunting, exclusive breastfeeding, children under two years old Abstrak : Stunting disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya tidak mendapatkan ASI ekslusif, yakni pemberian ASI tanpa makanan dan minuman lain pada usia nol bulan sampai 6 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun (baduta) di Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan rancangan case control (retrospektif). Uji statistik terhadap hubungan meng-gunakan uji chi-square (x2) pada tingkat kemaknaan 95%. Untuk mengetahui besarnya risiko anak yang tidak mendapatkan ASI ekslusif terhadap kejadian stunting, dilakukan penghitungan odds ratio (OR). Hasil uji chi-square mendapatkan nilai p sebesar 0,02 (<α=0,05) yang berarti terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,65. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada anak baduta di Kota Manado.Kata kunci: stunting, ASI eksusif, baduta
HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DENGAN KADAR HS-CRP SERUM PADA MAHASISWA OBES DAN TIDAK OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Aprilianti, Fajar; Kawengian, Shirley E.S.; Bolang, Alexander S. L.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4355

Abstract

Abstract: Fat consumption is now a growing thing in the notice due to changes lifestyle. Excessive fat will increase the risk of obesity and accounted for heart disease. Fat is the most dense source of energy, which produces 9 kcal / gram with the the total dietary fat consumption which is good for health should be 20-30% of the total energy needs. High sensitive C-reactive protein (hs CRP) is a very sensitive test for the detection of cardiovascular risk, coronary heart disease (CHD). The objective of this study was to examine the association between dietary fat intake and levels of hs CRP among the medical students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado. This study was an analytical cross-sectional design, conducted in November - December 2012 with 59 respondents. Using the Mann Whitney test, the result showed that there was no difference in dietary fat intake of obes and non-obes (p = 0.85 > 0.05  with z =  -0,19). Levels of hs-CRP serum obes and non-obes showed that there was difference (p = 0.00 < 0.05 with z= -3,55). Spearman rank test, the result showed that there was no significant association between dietary fat intake and levels of hs-CRP among the medical students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. Manado (p = 0,61 > 0,05 with r = 0,06). Keywords: Dietary fat intake, hs-CRP levels, CHD, Obesity. Abstrak: Konsumsi lemak saat ini merupakan hal yang semakin di perhatikan karena perubahan gaya hidup. Lemak yang berlebihan akan meningkatkan obesitas dan menyumbang resiko penyakit jantung. Lemak menghasilkan 9 kkal/gram dengan konsumsi yang dianjurkan sebanyak 20-30% dari total kebutuhan energi. High sensitive-C reactive protein (hs-CRP) merupakan uji yang sangat sensitive  untuk mendeteksi resiko kardiovaskular,penyakit jantung koroner (PJK). Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan antara asupan lemak dengan kadar hs CRP mahasiswa obes dengan tidak obes pada Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Desain penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2012 dengan jumlah sampel sebanyak 59 orang. Hasil penelitian perbedaan asupan lemak obes dan non obes  menggunakan uji Mann Whitney dengan nilai p=0,85 >0,05 menunjukan tidak adanya perbedaan asupan lemak mahasiswa obes dengan tidak obes. Nilai p=0,00 < 0,05 menunjukan ada perbedaan kadar hs-CRP mahasiswa obes dan tidak obes. Uji Spearman rank dengan nilai p = 0,61 > 0.05 dengan nilai r = 0,06 menunjukan ada hubungan positif yang lemah tetapi tidak bermakna antara asupan lemak dengan kadar hs-CRP pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kata kunci: Asupan lemak, hs-CRP, PJK, Obesitas.
PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH TOMAT (LYCOPERSICON ESCULENTUM MILL.) TERHADAP PEMBERSIHAN STAIN EKSTRINSIK PADA RESIN KOMPOSIT Ibrahim, Kartika; Kawengian, Shirley E. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10160

Abstract

Abstract: Discoloration of the composite resin is an aesthetic problem that often occurs primarily in anterior teeth caused by extrinsic and intrinsic factors. Bleaching is a kind of treatment that can improve the problem of composite discoloration. One of the bleaching materials oftenly used in dentistry is H2O2. H2O2 compound contained in tomatoes can be used as an alternative treatment to cope with the composite discoloration. This study aimed to determine the effect of tomato juice as extrinsic stain cleaner of the composite resin. This was a laboratory experimental study with a pre and post control group design. Samples were 20 resin composites molded in 5mm diameter and 2mm thickness. Samples were soaked in coffee solution for 10 days to get the extrinsic stain and then discoloration was measured with a spectrophotometer discoloration Libra S12 UV / Visible Biochrom. After that, samples were divided into 2 groups: the control group, immersed in mineral water; and the treatment group, immersed in tomato juice for 3 days. After immersion, measurements were done again with a spectrophotometer. The results were tested statistically using the Wilcoxon test with a P value < 0.05. Conclusion: Tomato juice was a significant extrinsic stain cleaner of the composite resin.Keywords: tomato juice, extrinsic stain, resin compositesAbstrak: Perubahan warna tumpatan komposit merupakan masalah estetik yang sering terjadi terutama pada gigi anterior yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Salah satu perawatan untuk menangani masalah ini ialah bleaching dengan H2O2. Senyawa H2O2 terkandung dalam buah tomat yang dapat digunakan sebagai perawatan alternatif untuk mengatasi perubahan warna komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah tomat terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorium dengan desain pre and post control group. Jumlah sampel penelitian 20 resin komposit yang dibentuk dengan diameter 5mm dan tebal 2mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 10 hari untuk melihat adanya stain ekstrinsik kemudian dilakukan pengukuran perubahan warna dengan spektrofotometer Libra S12 UV/Visible BIOCHROM. Setelah itu sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol direndam dalam air mineral dan kelompok perlakuan di dalam jus buah tomat selama 3 hari. Setelah perendaman dilakukan pengukuran kembali dengan spektrofotometer. Hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji Wilcoxon mendapatkan nilai P < 0,05. Simpulan: Jus buah tomat berpengaruh secara bermakna terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit.Kata kunci: jus buah tomat, stain ekstrinsik, resin komposit
EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK L., Shinta Sartika; Kawengian, Shirley E. S.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9834

Abstract

Abstract: Tea is a kind of beverage which is consumed by many people. Tea has a wide range of beneficial properties to our health. Green tea catechins has an active component that can reduce the formation of Streptococcus mutans as a component of the formation of dental plaque. This study aimed to determine the effectiveness of rinsing with water steeping green tea in reducing plaque accumulation. This was an experimental study using pretest and posttest design. This study was conducted in Dental Study Program Sam Ratulangi University. There were a total of 50 samples. The results showed that the average value of the initial index plaque of the samples was 4.829; of day 1 was 4.140; of day 2 was 3.674; of day 3 was 3.200; of day 4 was 2.524; of day 5 was 1.895; of day 6 was 1.477; and of day 7 was 1.078. The Wilcoxon test showed a p value <0.05, which meant that there was a significant difference between plaque index before rinsing water steeping with green tea and plaque index after the rinse water steeping green tea. Conclusion: Rinsing with green tea was effective in decreasing dental plaque index.Keywords: green tea, dental plaque indexAbstrak: Teh merupakan minuman yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat. Teh memiliki berbagai macam khasiat bagi kesehatan. Teh hijau memiliki komponen aktif yaitu katekin yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans sebagai salah satu komponen pembentukan plak gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas berkumur dengan air seduhan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak. Metode penelitian yang digunakan ialah rancangan eksperimental dengan pretest dan posttest design. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Manado dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks awal plak pada sampel mempunyai nilai rerata 4,829; hari 1 sebesar 4,140; hari 2 sebesar 3,674; hari 3 sebesar 3,200; hari 4 sebesar 2,524; hari 5 sebesar 1,895; hari 6 sebesar 1,477; dan hari 7 sebesar 1,078. Hasil uji analisis statistik Wilcoxon menunjukkan p<0,05, yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara indeks plak sebelum dan setelah berkumur air seduhan teh hijau. Simpulan: Berkumur air seduhan teh hijau efektif terhadap penurunan indeks plak gigi.Kata kunci: teh hijau, indeks plak gigi
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ERUPSI GIGI PERMANEN SISWA SD NEGERI 70 MANADO Lantu, Virginia A. R.; Kawengian, Shirley E. S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6849

Abstract

Abstract: Tooth eruption is defined as movements of the teeth to oral cavity or as a process appearance of the teeth which begins during teeth inside the jaws. It was a different variation to each childre’s. Nutritional status is one of important that play role during tooth eruption process. Related to another research that has found children with normal category of nutritional status have a normal process of tooth eruption. Instead, there was interference to children’s with a malnutrition status. This study aimed to analyze the relation between nutritional status and tooth eruption of children in SDN 70 Manado. Total population of this study was taken from 1st up to 6th grades within the age group 6-12 years old. Samples were 83 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Anthropomentric and visual checking was used for measurement of nutritional status and permanent tooth eruption status. The results showed that most respondents had normal height and weight as well as normal process of permanent tooth eruption. Children who had malnutrition status were also had failure in permanent tooth eruption. The chi-square test showed a significant relation between nutritional status and permanent tooth eruption in SDN 70 Manado.Keywords: nutritional status, permanent tooth eruptionAbstrak: Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar dan merupakan proses yang bervariasi pada setiap anak. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berperan penting pada pertumbuhan dan perkembangan gigi termasuk tahapan erupsi gigi. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu ditemukan bahwa anak-anak dengan status gizi baik, proses erupsi gigi permanen umumnya berjalan normal sedangkan anak-anak dengan status gizi kurang baik beresiko mengalami gangguan pada proses erupsi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado. Populasi pada penelitian ini yakni siswa kelas I hingga kelas VI yang berusia 6 – 12 tahun, Sampel penelitian ialah seluruh anggota populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 83 sampel dengan menggunakan metode total sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan visual pada rongga mulut. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan sebagian besar responden memiliki tinggi dan berat badan normal sesuai usianya, diikuti oleh yang berstatus gizi kurus, obesitas dan gemuk. Status erupsi gigi permanen sebagian besar menunjukkan telah erupsi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado.Kata kunci: status gizi, erupsi gigi permanen
Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan di Kota Manado Setiadhi, Yudhaputra; Kawengian, Shirley E.S.; Mayulu, Nelly
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14633

Abstract

Abstract: Hypertension is a condition where the systolic blood pressure is >140mmHg and the diastolic blood pressure is >90mmHg measured by a sphygmomanometer. The measurements were performed at least 2 times in a span of one week. Uncontrolled hypertension can cause damage to the arteries, damage to the heart, damage to the brain, kidneys and eyes, as well as accelerating the onset of chronic cardiovascular diseases. Hypertension in pregnancy could affect such things as reduced blood flow to the placenta, fetal growth restriction, premature birth, fetal death, and increased risk of cardiovascular disease. One of the factors that affect the risk of hypertension is a family history of hypertension.The study aimed to see whether there is a relationship between a family history of hypertension and hypertension in pregnancy. The data were collected using cross-sectional method. This cross-sectional study was conducted in September-November 2016, in Bahu Public Health Center, Ranotana Public Health Center, Tuminting Public Health Center, Kombos Public Health Center, and Paniki Public Health Center. The sample were taken with total sampling method, with the total number of respondents that are willing around 144 respondent. Based on the research, from 50 respondent with a family history of hypertension, 1 respondent (2%) belong to the category of stage 1 hypertension, 20 respondent (40%) belong to the category of pre-hypertension and 29 respondents (58%) were normal. Conclusion: Based on the results, it can be deduced that a family history of hypertension mostly did not affect the incidence of hypertension in pregnant woman.Keywords: hypertension, maternal hypertension, family history of hypertension  Abstrak: Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah sistolik >140mmHg dan tekanan darah diastolik >90mmHg yang diukur dengan sphygmomanometer. Pengukuran dilakukan minimal 2 kali dalam rentang waktu 1 minggu. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah arteri, kerusakan pada jantung, kerusakan pada otak, ginjal dan mata, serta mempercepat terjadinya penyakit kardiovaskular yang kronis. Hipertensi pada wanita hamil dapat mempengaruhi beberapa hal seperti aliran darah ke plasenta berkurang, pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, bayi meninggal dalam kandungan, dan meningkatnya risiko terkena penyakit kardiovaskular. Salah satu faktor rikiko yang mempengaruhi hipertensi adalah riwayat hipertensi pada keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara riwayat hipertensi pada keluarga dan hipertensi pada kehamilan. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional. Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada bulan September-November 2016 di Puskesmas Bahu, Puskesmas Ranotana, Puskesmas Tuminting, Puskesmas Kombos dan Puskesmas Paniki. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan dengan metode total sampling dengan jumlah responden yang bersedia sebanyak 144 orang. Berdasarkan penelitian didapatkan dari 50 responden dengan riwayat hipertensi pada keluarga 1 responden (2%) masuk ke dalam kategori hipertensi stadium 1, 20 responden (40%) masuk ke dalam kategori pre-hipertensi dan 29 responden (58%) yang normal. Simpulan: Berdasarkan hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa riwayat hipertensi pada keluarga sebagian besar tidak mempengaruhi angka kejadian hipertensi pada ibu hamilKata kunci: hipertensi, hipertensi kehamilan, riwayat hipertensi pada keluarga
Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Mopuya Sanjaya, Gusti D.; Mayulu, Nelly; Kawengian, Shirley E.S.
eBiomedik Vol 6, No 1 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.6.1.2018.18797

Abstract

Abtract: Iron deficiency anemia remains as a public health problem with respect to its high prevalence and impact on maternal and infant health. This type of anemia often occurs because in pregnant women there is an increase in iron demand doubled due to increased plasma volume. This study was aimed to determine the relationship between hemoglobin level and maternal age, gestational age, parity, gestational distance, MUAC size, mother jobs, mother education, family income, and eating patterns. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design conducted at Mopuya Community Health Center, Bolaang Mongondow. Total respondents were 66 pregnant women obtained by using total sampling method. The relationship of hemoglobin level and the variables obtained the P-values as follows: 0.000 for mother age; 0,000 for pregnancy age; 0.000 for parity; 0.01 for pregnancy distance; 0.01 for MUAC; 0.01 for job status; 0.000 for mother education; 0.000 for family income; 0.000 for nuts diet; 0.000 for meat diet; 0.87 for fish diet; 0.000 for egg diet; all P-values were less than α=0.05, except fish diet that had a P-value higher than α=0.05. Conclusion: There were significant relationships between hemoglobin level and maternal age, gestational age, parity, pregnancy distance, LILA size, mother job, mother education, family income, as well as consumption pattern of eating nuts, meat, and eggs. However, there was no relationship between hemoglobin level and fish diet.Keywords: hemoglobin, anemia, pregnant mother Abstrak: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat sehubungan dengan prevalensinya yang tinggi dan dampak kesehatan terhadap ibu dan bayinya. Anemia jenis tersebut sering terjadi karena pada ibu hamil terjadi peningkatan kebutuhan zat besi dua kali lipat akibat peningkatan volume plasma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara usia ibu hamil, usia kehamilan, paritas, jarak kehamilan, ukuran LILA, status pekerjaan ibu, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan pola konsumsi makan dengan kadar hemoglobin (Hb). Jenis penelitian ialah analitik deskriptif dengan desain potong lintang, yang dilakukan di Puskesmas Mopuya Kecamatan Bolaang Mongondow. Terdapat total 66 responden, diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan nilai P sebagai berikut: 0,000 untuk usia ibu; 0,000 usia kehamilan; 0,000 paritas; 0,01 jarak kehamilan; 0,01 LILA; 0,00 status pekerjaan; 0,000 pendidikan; 0,000 pendapatan; 0,000 pola makan kacang-kacangan; 0,000 pola makan daging; 0,87 pola makan ikan; 0,000 pola makan telur; kesemuanya lebih kecil dibandingkan α=0,05 kecuali untuk pola makan ikan dengan nilai P lebih besar α=0,05. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin (Hb) dengan usia ibu, usia kehamilan, paritas, jarak kehamilan, ukuran LILA, status pekerjaan, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pola konsumsi makan kacang-kacangan, daging dan telur. Tidak terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan pola makan ikan.Kata kunci: kadar hemoglobin (Hb), anemia, ibu hamil
Hubungan Status Gizi dengan Karies pada Gigi Molar Pertama Bawah Permanen pada Anak Usia 6-8 Tahun di SDN 36 Manado Aulia, Avita; Gunawan, Paulina N.; Kawengian, Shirley E. S.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23307

Abstract

Abstract: Caries is the presence of a cavity on the tooth caused by the activity of microorganism on fermented carbohydrate. Nutritional status is resulting from food consumption, which is one of the factors that influence the occurence of dental caries. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and caries in permanent lower first molar among students of SDN 36 (elementary school) Manado. This was an analytical study using a cross sectional design. There were 48 students at SDN 36 Manado aged 6-8 years in this study obtained by using total sampling technique. We used the nutritional status based on length-for-age and BMI-for-age using the z-scores WHO anthropometrical standards for children aged 5-18 years and examined the oral cavity whether there was caries in permanent lower first molars. The results showed that caries in permanent lower first molars was found in 77.1% of subjects. Nutritional status based on length-for-age showed normal category (83.3%) and short stature/stunted (16.7%). The nutritional status based on BMI-for-age showed obese category (22.9%), overweight (8.3%), normal (60.5%), wasted (8.3%), and severely wasted (0.0%). The Fisher’s Exact test and the Chi-Square test showed that the relationship between length-for-age and the occurence of caries had a p-value of 1,000 meanwhile the relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurence of caries had a p-value of 0.024. Conclusion: There was a significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and caries in the permanent lower first molars in children aged 6-8 years at SDN 36 Manado.Keywords: dental caries, permanent lower first molar, nutritional status Abstrak: Karies adalah adanya rongga pada yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik terhadap karbohidrat yang dapat diragikan. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan, yang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling terhadap seluruh siswa di SDN 36 Manado berusia 6-8 tahun pada tahun 2019 yang berjumlah 48 orang. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran status gizi TB/U dan IMT/U berdasarkan SD dengan standar baku antropometri WHO untuk anak usia 5-18 tahun serta pemeriksaan rongga mulut untuk melihat ada tidaknya karies pada gigi molar pertama bawah permanen. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapatnya karies pada gigi molar pertama bawah permanen sebesar 77,1% subyek. Status gizi berdasarkan TB/U didapatkan subyek kategori normal (83,3%) dan pendek/stunted (16,7%). Status gizi berdasarkan IMT/U didapatkan kategori obesitas (22,9%), gemuk (8,3%), normal (60,5%), kurus (8,3%), serta sangat kurus (0,0%). Hasil uji Fisher’s Exact dan uji Chi-Square menunjukkan untuk TB/U nilai p=1,000 sedangkan untuk IMT/U nilai p=0,024. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado.Kata kunci: karies gigi, molar pertama bawah permanen, status gizi
Gambaran aktivitas antioksidan pada ekstrak beras hitam (Oryza sativa L.) kultivar Pare Ambo Sulawesi Selatan Katiho, Raven G.; Kawengian, Shirley E. S.; Mayulu, Nelly
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10858

Abstract

Abstract: The objective of this research is to determine the antioxidant activity of the extracts of black rice cultivars Pare Ambo, South Sulawesi. Black rice Pare Ambo cultivars, South Sulawesi extracted with 70% ethanol by maceration. After that, the extract tested antioxidant activity using DPPH with concentration 50, 100, 200, 400, 500 ppm, and methods FRAP for the determination of total content of antioxidants at concentrations 600, 700, 800, 900, 1000 ppm. Research results using DPPH antioxidant test showed a concentration of 50 ppm has an activity that is the lowest free-radical scavengers 22% and 400 ppm had a prophylactic activity of free radicals highest 84,60%. While FRAP method showed a concentration of 600 ppm had the lowest total antioxidant that is 177,64 mmol/g and a concentration of 1000 ppm has the highest total antioxidant that is 272,94 mmol/g. Results of this research concluded that the extract of black rice cultivars Pare Ambo, South Sulawesi has a good potential antioxidant activity.Keywords: black rice, extract, antioxidants, DPPH, FRAPAbstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak beras hitam kultivar Pare Ambo, Sulawesi Selatan. Beras hitam kultivar Pare Ambo, Sulawesi Selatan diekstrak dengan pelarut etanol 70% dengan cara maserasi. Setelah itu, ekstrak diuji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan konsentrasi 50, 100, 200, 400, 500 ppm, dan metode FRAP untuk penentuan kandungan total antioksidan dengan konsentrasi 600, 700, 800, 900, 1000 ppm. Hasil penelitian pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan konsentrasi 50 ppm memiliki aktivitas penangkal radikal bebas terendah yaitu 22% dan konsentrasi 400 ppm memiliki aktivitas penangkal radikal bebas tertinggi yaitu 84,60%. Sedangkan metode FRAP menunjukkan konsentrasi 600 ppm memiliki total antioksidan paling rendah yaitu 177,64 mmol/g dan konsentrasi 1000 ppm memiliki total antioksidan paling tinggi yaitu 272,94 mmol/g. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak beras hitam kultivar Pare Ambo, Sulawesi Selatan memiliki potensi aktivitas antioksidan yang baik.Kata kunci: beras hitam, ekstrak, antioksidan, DPPH, FRAP