Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN PAGI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA MURID SD NEGERI 3 MANADO Tandirerung, Erina Utami; Mayulu, Nelly; Kawengian, Shirley E.S.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1162

Abstract

Abstract: Anemia is a global public health problem in developing and developed countries with its major consequences for human health and the economic and national development. Anemia can occur at all stages of the life cycle, but it is more prevalent in pregnant women and children.  Anemia in children due to lack of nutritional diet has bad impacts on their health, growth, and immune systems. The main causes of nutritional anemia are the insufficient iron ingestion, low iron absorption, and diet which mainly consists of rice and less diverse menu. Breakfast habits fall into one of the thirteen basic messages of balanced nutrition.  The benefit of having breakfast for school children is that it can improve their concentration to study and to understand their lessons, resulting in improvement of their  learning achievement. Besides that, breakfast plays some important roles in fulfilling the balanced nutrition in children. The purpose of this study was to find out the relationship between breakfast habits and anemia incidence among students of SD Negeri 3 Manado. This was an analytical cross-sectional study. The results showed that of 83 students, 58 students (69.9%) had habits of having breakfast and 74 students (89.2%) were not anemic. Analytical results obtained P-value = 0.019 (? 0.050). Conclusion: there was a significant relation between breakfast habits and anemia incidence among the students of SD Negeri 3 Manado. Key words: breakfast habits, children, anemia     Abstrak: Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global di negara berkembang maupun negara maju dengan konsekuensi yang besar bagi kesehatan manusia serta pembangunan nasional dan ekonomi. Anemia dapat ditemukan pada setiap tahap siklus hidup, namun lebih menonjol pada wanita hamil dan anak-anak. Anemia pada anak-anak akibat  kurang gizi dapat berdampak buruk pada kesehatan, pertumbuhan, dan sistem imun. Penyebab utama anemia gizi ialah konsumsi zat besi yang tidak cukup, absorbsi zat besi yang rendah, dan pola makan yang sebagian besar terdiri dari nasi dan menu yang kurang beraneka ragam. Kebiasaan makan pagi termasuk dalam salah satu dari 13 pesan dasar gizi seimbang. Bagi anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan memudahkan menyerap pelajaran yang akan meningkatkan prestasi belajar. Makan pagi juga sangat berperan terhadap pemenuhan gizi seimbang pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan makan pagi dengan kejadian anemia pada murid SD Negeri 3 Manado. Penelitian ini merupakan suatu penelitian cross-sectional yang bersifat analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 murid, 58 murid (69,9%) memiliki kebiasaan makan pagi dan 74 murid (89,2%) yang tidak anemia. Hasil analisis diperoleh nilai P = 0,019 (? 0,050). Simpulan: terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan makan pagi dengan kejadian anemia pada murid SD Negeri 3 Manado. Kata kunci: kebiasaan makan pagi, anemia, anak-anak
HUBUNGAN ANTARA WHR DENGAN KADAR HS-CRP SERUM PADA MAHASISWA OBES DAN TIDAK OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Toreh, Ezra; Kawengian, Shirley E. S.; Bolang, Alexander S. L.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1626

Abstract

Abstract: Central obesity is recognized as a major factor that associated with increased risk for some chronic diseases. Waist to hip ratio described the increase in visceral adipose tissue and subcutaneous fat on waist circumference and hip circumference.C-reactive protein is the detection of cardiovascular disease risk in conventional but not sensitive enough to detect cardiovascular risk so  beused the new method is of high sensitivity C-reactive protein.The research have purpose to know the difference and relationship of waist to hip ratio and high sensitivity c-reactive protein level between obese and non-obese students at Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. This research was an observational analytic cross-sectional approach. The results of statistical analysis using the Mann-Whitney U test revealed that there were significant differences (p = 0.000 <0.05) both WHR and hs-CRP level in both groups of students are. Conclusion: The results of statistical analysis using the Spearman test showed that there is a positive very weak relationship (r = 0309) and significant (p = 0017 <0.05) between the values ??of WHR with hs-CRP level in obese and non-obese students at Medical Faculty of Sam Ratulangi University Manado. Key Words: WHR, hs-CRP     Abstrak: Obesitas sentral diakui sebagai factor utama yang dikaitkan dengan peningkatan resiko untuk beberapa penyakit kronis. Waist to hip ratio (WHR) menggambarkan peningkatan jaringan adiposa visceral dan lemak subkutan pada lingkar pinggang dan lingkar pinggul. C-reactive protein (CRP) merupakan deteksi risiko penyakit kardiovaskular tapi secara konvensional tidak cukup sensitif untuk mendeteksi risiko kardiovaskular sehingga digunakan metode baru yaitu high sensitivity C-reactive protein (hsCRP). Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan hubungan waist to hip ratio (WHR) dengan kadar high sensitivity c-reactive protein (hs-CRP) serum pada mahasiswa obes dan tidak-obes di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Hasil analisis statistic dengan menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.000<0.05) baik WHR maupun kadar hs-CRP serum pada kedua kelompok mahasiswa tersebut. Simpulan: Hasil analisis statistic dengan mengguna-kan uji Spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif sangat lemah (r=0.309) dan bermakna (p=0.017<0.05) antara nilai WHR dengan kadar hs-CRP serum mahasiswa obes dan tidak-obes pada Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata Kunci: WHR, hs-CRP
POTENSI EKSTRAK FENOLIK BUAH PISANG GOROHO (Musa spp.) TERHADAP GULA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Kaempe, Hindang S.; Suryanto, Edi; Kawengian, Shirley E. S.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.6.1.2013.2064

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi ekstrak pisang goroho (Musa spp) dalam menurunkankadar gula darah tikus putih. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode percobaan laboratorium, yangmenganalisis penurunan gula darah dan kadar MDA tikus putih. Penelitian dilakukan menggunakan rancanganacak lengkap (RAL), kemudian data yang diperoleh, dianalisis perbedaan. Beda nyata antar perlakuan diujimenggunakan ANOVA deng p<0,05. Jika terdapat beda nyata antar perlakuan, data diuji menggunakanDuncan’s multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pisang goroho mengandung kadarair pisang goroho segar sebesar 69,53%. Fitokima antioksidan yang terbesar yaitu total fenolik, diikuti tanninterkondensasi kemudian terendah senyawa flavonoid. Data menunjukkan bahwa injeksi aloksan menaikkankadar gula darah tikus putih (K, EPS, ETP, EK, G). Pada perlakuan EPS, ETP dan EK mempunyai potensidalam menurunkan kadar gula darah sedangkan EK dan GB tidak berbeda nyata dan dapat dijelaskan bahwakeduanya mempunyai potensi yang sama dalam menurunkan kadar gula darah. Kesimpulan penelitian ini yaitukadar Kadar gula darah tikus yang diberikan Ekstrak pisang goroho yang mengandung fitokimia antioksidanseperti senyawa fenolik, flavonoid dan tannin yang dapat menurunkan gula darah tikus paling tinggi adalahEkstrak Pisang Segar sebesar 67,6 mg/dl (61,19%).The objectives of this research are to determine the potential of goroho banana extract (Musa spp.) todecrease blood glucose. This research using laboratory experiment methods to analyze the decreasing ofblood glucose and malonaldehyde (MDA) on mice. This research using complete random design, thusobtained data were analyzed by regression and differences. Significant difference between groups wereanalyzed using ANOVA with p<0,05. If there is significant difference between groups, data were analyzedusing Duncan’s multiple range test (DMRT).The results shows that goroho banana contain water content phenolic total and condensed tannins, the lowestis flavonoids total. Alloxan increase blood glucose of treatment mice (K, EPS, ETP, EK, G). Statistical analyseson EPS, ETP and EK are not significantly different each other, it because EPS, ETP and EK possessphytochemical antioxidant. Although EPS and EK shows potency as like GB (p>0,05).. As conclusions of thisresearch, goroho banana extract which contains antioxidant phenolics, flavonoids and tannins can decreaseblood glucose of white male wistar.
HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI DENGAN USIA PERTAMA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO Sitepu, Cracety M.; Punuh, Maureen I.; Kawengian, Shirley E. S.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPA-ASI) perlu memperhatikan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya (Maseko dan Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian Makanan Pedamping ASI tepat pada usia 6 bulan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian Makanan Pedamping Air Susu Ibu (MP-ASI) di Puskesmas Tuminting. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan desain cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 82 bayi yang berusia 6-12 bulan, tidak sakit, cacat, dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tuminting yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data statistik menggunakan Uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pendidikan dengan usia pertama pemberian MP-ASI (p=0,000), dan tidak terdapat hubungan antara pendapatan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Tuminting dengan nilai secara berurut (p=0,718), (p=0,501), dan (p=0,231). Perlu adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola pemberian MP-ASI yang baik dan benar.Kata Kunci: Sosial Ekonomi, Pendapatan, Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Anggota Keluarga, MP-ASI, Bayi Usia 6-12 BulanABSTRACTComplementary feeding of the breastfed child needs to pay attention to timeliness of administration, frequency, type and amount of food, and how to make (Maseko and Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) recommends giving complementary food right at the age of 6 months. The purpose of this study is to analyze whether there is a relationship between income, education, occupation, and number of family members with the age of first giving complementary food in Tuminting Public Health Care. This research is an analytic survey with cross sectional design. The samples in this research were 82 infants aged 6-12 months, no pain, disability, and living in Tuminting Public Health Care taken using purposive sampling technique. Statistical data analysis using Chi-Square test with α = 0.05. These results indicate there is a relationship between education and age of first administration of breastfeeding (p = 0.000), and there is no relationship between income, employment, and the number of family members with the first age giving breastfeeding in infants aged 6-12 months in Tuminting Public Health Care with sequential values (p = 0.718), (p = 0.501), and (p = 0.231). Mothers need to increase knowledge of complementary feeding patterns of provision is good and right.Keywords: Social Economy, Income, Education, Employment, Number of Family Members, Complementary Feeding Of The Breastfed Child, Babies Ages 6-12 Months
EFEK PROTEKTIF EKSTRAK BERAS HITAM (Oryza sativa L.) TERHADAP PEMBENTUKAN SEL BUSA PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DI BERI DIET PRODISLIPIDEMIA Salmon, Andreas Renaldy; Kawengian, Shirley E. S.; Kawatu, Paul A. T.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Cardiovascular disease is a disease with a high prevalence level lately and a major disease that killed men and women in The United States of America, Europe and most of many countries in Asia. Clinical studies tells that cardiovascular disease correlated with atheroma (atherosclerotic plaque) and its complication like thrombosis. Hence, in order to prevent and handle atherosclerotic, it’s important to take steps to increase antioxidative status and to hamper hyperlipidemia and inflammation on the victim. One of the natural food ingredients with high antioxidant is the black rice which is a functional food with high antioxidant (anthocyanin). To know protection effect from black rice extract in the formation foam cells on wistar rats (Rattus norvegicus). The research type is experimental laboratory with posttest only control group design, with 27 wistar rats which divided into 3 groups. The black rice extract will be given via tube feeding with 2ml dose each day. In 28th day the rat will be determine, and the aortic arth will be taken to histopathological test. The web will be colored with papanicolaou stain technique. The research results showed the K3 (BR2) group as a normal control group, the foam cells formation didn’t occur. On K2 (DPD+BR2) group as a negative control group showed there were foam cells formation in the 28th day. On K1 (DPD in 14 days and continued with black rice diet in 7 days) showed the tunica media was changed, which is the less foam cell formation in the tunica media. The black rice extract have a positive effect in the formation foam cell to the rat that has been given pro dyslipidemia diet (DPD). The black rice can be used as a functional food ingredients that can  give good nutrients for health. Keywords : Black Rice, Atherosclerotic, Foam Cells, Wistar Rats, Rattus norvegicus, Anthocyanin. ABSTRAK Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit dengan tingkat prevalensi yang tinggi akhir-akhir ini dan merupakan pembunuh utama pria dan wanita di Amerika Serikat, Eropa dan sebagian Asia. Studi klinis telah menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler berkorelasi dengan ateroma (plak aterosklerosis) beserta komplikasinya seperti trombosis. Oleh karena itu, dalam pencegahan dan penanganan aterosklerosis, penting untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan status antioksidatif dan untuk menghambat hiperlipidemia serta inflamasi pada penderita. Salah satu bahan makanan alami yang kaya antioksidan adalah beras hitam yang merupakan pangan fungsional yang kaya antioksidan (antosianin). Mengetahui efek protektif ekstrak beras hitam terhadap pembentukan sel busa pada tikus wistar (Rattus novergicus). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian experimental laboratorik dengan menggunakan rancangan posttest only control group design. berjumlah 27 ekor tikus dibagi menjadi 3 kelompok. Ekstrak beras hitam diberikan melalui tube feeding dengan dosis 2ml perhari. Pada hari ke 28 hewan coba akan diterminasi, dan diambil arcus aortanya untuk pemeriksaan histopatologi. Jaringan diwarnai menggunakan teknik pewarnaan papanicolaou. Hasil penelitian menunjukkan kelompok K3 (BR2) sebagai kelompok kontrol normal menunjukkan tidak terjadi pembentukan sel busa. Pada kelompok K2 (DPD+BR2) sebagai kelompok kontrol negatif terjadi pembentukan sel busa pada hari ke 28. Pada kelompok perlakuan K1 (DPD selama 14 hari dan dilanjutkan dengan diet ekstrak beras hitam selama 7 hari) menunjukkan adanya perubahan pada tunika media, ini ditandai dengan sedikitnya penumpukan sel busa yang berada pada tunika media. Ekstrak beras hitam mempunyai efek protektif terhadap pembentukan sel busa pada tikus yang diberikan diet Pro-Dislipidemia (DPD). Beras hitam dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional yang memberikan manfaat bagi kesehatan. Kata Kunci : Beras Hitam, Aterosklerosis, Sel Busa, Rattus norvegicus, Antosianin.
GAMBARAN KARIES GIGI MOLAR PERTAMA PERMANEN DAN STATUS GIZI DI SD KATOLIK 06 MANADO Manoy, Nadhira Thereza; Kawengian, Shirley E. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8825

Abstract

Abstract: Caries in permanent first molars become the main cause of the high prevalence of revocation due to the first molars are the first tooth eruption so that the child's behavior in maintaining dental health is still lacking, as well as the anatomical shape of the first molar tooth that has a pit and fissure which became a haven leftovers. Nutritional status is one of the factors that influence the occurrence of dental caries. The aim of this study was to determine the status of permanent first molar dental caries and nutritional status of children aged 9-12 years in Manado 6th Catholic elementary school Manado. The method used in this study is an observational descriptive. The study population was all students aged 9-12 years who sit in class IV-VI in Manado 6th Catholic elementary school with the total population 46 students. Sample taken by total population method.The results showed the largest percentage of children with caries of permanent first molars are in children aged 9, 10, and 11 with the percentage of fat nutritional status categories respectively 100%, 83.3%, and 75%. While there is the smallest percentage of children ages 9,10, and 11 normal nutritional status category with a percentage of 33.3% respectively.Keywords: Caries on first permanent molar, nutritional statusAbstrak: Karies pada gigi molar pertama permanen menjadi penyebab utama tingginya prevalensi pencabutan disebabkan karena gigi molar pertama adalah gigi yang pertama erupsi sehingga perilaku anak dalam memelihara kesehatan gigi masih kurang, serta bentuk anatomis dari gigi molar pertama yang memiliki pit dan fissure yang menjadi tempat singgah sisa makanan. Status gizi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses terjadinya karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status karies gigi molar pertama permanen dan status gizi anak usia 9-12 tahun di SD Katolik 06 Manado. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif observasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi usia 9-12 tahun yang duduk di kelas IV-VI di SD Katolik 06 Manado dengan jumlah 46 siswa. Besar sampel penelitian diambil berdasarkan dengan metode total populasi. Hasil penelitian menunjukkan presentase terbesar anak dengan karies molar pertama permanen terdapat pada anak usia 9, 10, dan 11 dengan kategori status gizi gemuk presentase masing-masing 100%, 83,3%, dan 75%. Sedangkan presentase terkecil ada pada anak usia 9,10, dan 11 kategori status gizi normal dengan presentase masing-masing 33,3%.Kata kunci: Karies gigi molar pertama permanen, status gizi
Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Gingivitis di Puskesmas Kakaskasen Tomohon Kasiha, Heldin E.; Kawengian, Shirley E.S.; Juliatri, .
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17363

Abstract

Abstract: Pregnant woman are vulnerable to oral diseases. Several studies have claimed that level of knowledge can affect dental oral health. Several dental oral problems can occur in pregnant woman inter alia pregnancy gingivitis. Gingivitis during pregnancy is due to increased concentrations of estrogen and progesterone. This condition is characterized by changes in the interdental papillae which become reddish, swollen, easily bleed accompanied by pain. Additionally, the gingiva becomes particularly sensitive to toxins and irritants such as plaque and calculus resulted in inflammation of the gingiva. This study was aimed to obtain the level of knowledge about gingivitis among pregnant women. This was a descriptive study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnairres. There were 60 respondents in this study obtained by using total sampling technique. Data were presented in frequency distribution tables. The results showed that there where 28 pregnant women (46.7%) with good level of knowledge and 32 woman pregnant (53,3%) with poor knowledge. Conclusion: Pregnant women in Puskesmas Kakaskasen had poor level of knowledge about gingivitis.Keywords: pregnant woman, knowledge, gingivitis Abstrak: Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan akan penyakit gigi dan mulut. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tingkat pengetahuan dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Efek kehamilan pada kesehatan gigi dan mulut antara lain gingivitis kehamilan yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron. Keadaan ini ditandai dengan papila interdental yang memerah, bengkak, mudah berdarah, disertai rasa nyeri dengan gingiva yang sensitif khususnya terhadap toksin maupun iritan seperti plak dan kalkulus yang berakibat lanjut terjadinya inflamasi gingiva. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gingivitis. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Terdapat 60 responden yang diperoleh menggunakan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan 28 ibu hamil (46,7%) berpengetahuan baik dan 32 ibu hamil (53,3%) berpengetahuan kurang. Simpulan: Tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap gingivitis di Puskesmas Kakaskasen masih kurang.Kata kunci: ibu hamil. pengetahuan, gingivitis
GAMBARAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA MOPUSI KECAMATAN LOLAYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW INDUK Mangkat, Olivia; Mayulu, Nelly; Kawengian, shirley E.S.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.13902

Abstract

Abstract: According to Sustainable Development Goals/Millennium Development Goals (SDG's/MDG's), the infant mortality rate is still relatively high due to poor nutrition for pregnant women and infants. The best food for infants aged 0-6 months is breast milk. After 6 months, breast milk will only meet about 60-70% of the infant?s need, while 30-40% should be achieved from complementary foods. This study was aimed to describe the complementary feeding in Mopusi village, Lolayan, Bolaang Mongondow Induk. This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 90 mothers with children aged 6-24 months lived at Mopusi village from September 2014 until December 2014. Data were obtained by using questionnaires, and were analyzed with SPSS. The results showed that 32 infants (35.6%) were fed with manufactured complementary food; the most commonly given was formula milk (37.5%) and the least one was pureed Sun (15.6%). Of 58 infants (64.4%) who were fed with family foods, the most given food was rice (25.9%) and the least one was meat (3.4%). Conclusion: In this study, the most complementary food for infants aged 0-6 months was family food, rice. Keywords: breastfeeding, complementary feeding, manufactured, family foods Abstrak: Angka kematian bayi sesuai SDG?s/MDG?s (Sustainable Development Goals/Millenium Development Goals) relatif masih cukup tinggi. Penyebabnya antara lain nutrisi yang buruk untuk ibu hamil dan bayi. Makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan ialah ASI. Setelah 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan bayi, sedangkan 30-40% harus dipenuhi dari makanan pendamping ASI (MP-ASI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian MP-ASI di Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden ialah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan sebanyak 90 orang di Desa Mopusi pada bulan September 2014-Desember 2014. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis dengan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 32 bayi (35,6%) mendapat MP-ASI pabrikan, yang paling banyak diberikan ialah susu formula (37,5%) dan paling sedikit diberikan ialah bubur Sun (15,6%). Sebanyak 58 bayi (64,4%) mengonsumsi MP-ASI lokal, yang paling banyak diberikan ialah nasi (25,9%) dan yang paling sedikit diberikan ialah daging (3,4%). Simpulan: Pada studi ini, jenis MP-ASI yang paling sering diberikan pada bayi usia 6-24 bulan ialah MP-ASI local, yaitu nasi.Kata kunci: ASI, MP-ASI, lokal, pabrikan
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR Hs-CRP SERUM PADA MAHASISWA OBES DAN TIDAK OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Tangkilisan, Vinariani; Kawengian, Shirley E. S.; Mayulu, Nelly
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4611

Abstract

Abstract: The development of technology facilitate all the activities, that make us not moving. This can increase the incidence of obesity that will be at risk for cardiovascular disease. When the atherosclerotic plaque formation involves inflammatory processes that can increase levels of Hs CRP, which is one marker of inflammation. The purpose of this study to determine differences in physical activity and Hs CRP in obese and non-obese groups and the relationship between physical activity levels of Hs CRP in students in the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. The design of this study are analytical by using cross-sectional approach (cross-sectional). The research sample is determined by purposive sampling that meet the inclusion and exclusion criteria, amounting to 59 students. Data were collected through questionnaires and through the measurement of physical activity levels of Hs CRP, and the data were analyzed using non-parametric test of Mann Whitney test and the Spearman test. The test results obtained by Mann Whitney test with p values ​​are 0.799 for MET values and 0.000 ​​for Hs CRP levels, which means there is no difference in activity in both groups and there is has difference Hs CRP levels in both groups. Then do the Spearman test at 95% significance level of p value of 0.638 is obtained which is greater than the value of α 0.05, which means the relationship between two variables declared statistically significant. Keywords: Hs CRP, Physical Activity.   Abstrak: Perkembangan dunia teknologi memudahkan semua kegiatan sehingga kita kurang bergerak. Hal ini dapat meningkatkan kejadian  obesitas yang nantinya akan beresiko terhadap penyakit kardiovaskuler. Saat pembentukan plak aterosklerosis melibatkan proses inflamasi yang dapat meningkatkan kadar hsCRP yang merupakan salah satu penanda terjadinya inflamasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan aktivitas fisik dan hsCRP pada kelompok obes dan tidak obes serta hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar hsCRP pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Rancangan penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel penelitian ditentukan secara purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berjumlah 59 mahasiswa. Data yang dikumpulkan melalui kuesioner aktivitas fisik dan melalui pengukuran kadar hsCRP, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji non parametric yaitu uji Mann Whitney dan uji spearman. Selanjutnya hasil uji dengan Mann Whitney diperoleh nilai p yaitu 0,799 untuk nilai MET dan 0,000 untuk kadar hsCRP, yang artinya tidak ada perbedaan aktivitas pada kedua kelompok dan ada perbedaan kadar Hs CRP pada kedua kelompok. Kemudian dilakukan uji Spearman pada tingkat kemaknaan 95% diperoleh nilai p sebesar 0,638 yakni lebih besar dari nilai α 0,05 yang artinya hubungan antara kedua variabel ini dinyatakan tidak bermakna secara statistik.Kata Kunci: Aktivitas Fisik, hsCRP.
Hubungan antara Status Gizi dengan Gigi Berjejal pada Anak Usia 11 sampai 12 Tahun di SD Negeri 45 Manado Richter, Ciwinan H.; Anindita, Pritartha S.; Kawengian, Shirley E. S.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.33705

Abstract

Abstract: Nutrition has a very important role during growth and development. It is a collection of biochemical substances that generally come from food used for the process of producing energy, growth, development, and maintenance of the body function. Poor nutrition will have an impact on the growth and development of teeth and mouth such as the occurrence of dental malformations, easily injury of soft tissues, and obstructed development of facial bones and jaws. This study was aimed to determine the relationship between nutritional status and crowded teeth in children aged 11 to 12 years. This was a descriptive and analytical study with a cross sectional design. This study was conducted at Elementary School 45 in Manado using a total sampling method. There were 39 subjects that were analyzed by using BMI/A anthropometry. The chi-square obtained a p-value of 0.376 for the relationship between nutritional status based on BMI/A and crowded teeth. In conclusion, there was no relationship between nutritional status based on BMI/A and crowded teeth in students of Elementary School 45 aged 11-12 years in Manado.Keywords: nutritional status; crowded teeth; children  Abstrak: Gizi memiliki peran yang sangat penting selama masa tumbuh kembang karena gizi merupakan kumpulan zat biokimia yang umumnya berasal dari makanan yang digunakan untuk proses menghasilkan energi, pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan tubuh. Gizi yang kurang baik akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan gigi dan mulut seperti terjadi malformasi gigi, mudah terjadi cedera pada jaringan lunak, serta terhambatnya perkembangan tulang wajah dan rahang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan gigi berjejal pada anak usia 11 sampai 12 tahun. Jenis penelitian ialah analitik deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 45 Manado menggunakan total sampling dengan subjek penelitian berjumlah 39 orang, dianalisis menggunakan antropometriIMT/U. Hasil uji chi-square mendapatkan nilai p=0,376 terhadap hubungan antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan gigi berjejal. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan gigi berjejal pada anak usia 11 sampai 12 tahun di SD Negeri 45 Manado.Kata kunci: status gizi; gigi berjejal; anak