Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PERFORMANCE COMPARISON OF LASTON AC-WC BASED ON AGGREGATE GRADATION SPECIFICATIONS: Perbandingan Kinerja Laston AC-WC berdasarkan Spesifikasi Gradasi Agregat yang Diizinkan Metasari, Devi Yulita; Hasanuddin, Akhmad; Koesoemawati, Dewi Junita
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 02 (2018): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.485 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v2i02.7567

Abstract

Laston AC-WC is the outer layer of the pavement that is directly related to the outside, so a strong mixture is required. One of the major effects is the aggregate gradation.This experiment aims to find out the comparison of Laston AC-WC performance between mixtures used aggregat egradation above and below the restriction zone. Each mixture used 6 variations of asphalt content and there were 3 specimens on each variation of bitumen content. The asphalt contents used were 5,5%; 6%; 6,5%; 7%; 7,5% dan 8%. From the results of the experiments, the mixture with the aggregate above the restriction zone at 7% and 7.5% asphalt content had a density value of 2.13 gr / cc and 2.12 gr / cc respectively; VMA value of 15.49% and 15.91%; VFA values ​​of 80.48% and 79.98%; VIM value of 3.16% and 3.18%; stability value of 3013.58 kg and 2332.57 kg; flow value of 2.47 mm and 2.18 mm; as well as MQ values ​​of 1222.25 kg / mm and 1184.59 kg / mm. While on the mixture with the aggregate under the restriction zone in the asphalt content of 7% and 7.5% obtained density value of 2.11 gr / cc and 2.14 gr / cc; VMA value of 17.21% and 16.3%; VFA value of 71.21% and 78.65%; VIM value of 4.99% and 3.49%; stability value of 2518,75 kg and 3234,72 kg; flow values ​​of 2 mm and 2.07 mm; as well as the MQ value of 1259.37 kg / mm and 1623.54 kg / mm. From the results are analyzed Paired T test and found that the value of flow has a significant difference. The high flow rate was found in the mixture with the aggregate above the restriction zone at 7% asphalt content, so this mixture is more durable due to good flexibility. Laston AC-WC merupakan lapisan terluar perkerasan yang berhubungan langsung dengan keadaan luar, sehingga dibutuhkan campuran yang kuat. Salah satu yang berpengaruh besar adalah gradasi agregat yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kinerja laston AC-WC antara campuran yang menggunakan gradasi di atas dengan di bawah daerah larangan. Penelitian ini dilakukan terhadap campuran laston AC-WC. Masing-masing campuran menggunakan 6 variasi kadar aspal dan terdapat 3 benda uji pada setiap kadar aspal. Kadar aspal yang digunakan adalah 5,5%; 6%; 6,5%; 7%; 7,5% dan 8%. Dari hasil penelitian, campuran dengan agregat di atas daerah larangan pada kadar aspal 7% dan 7,5% memiliki nilai density berturut-turut sebesar 2,13 gr/cc dan 2,12 gr/cc; nilai VMA sebesar 15,49% dan 15,91%; nilai VFA sebesar 80,48% dan 79,98%; nilai VIM sebesar 3,16% dan 3,18%; nilai stabilitas sebesar 3013,58 kg dan 2332,57 kg; nilai flow sebesar 2,47 mm dan 2,18 mm; serta nilai MQ sebesar 1222,25 kg/mm dan 1184,59 kg/mm. Sedangkan pada campuran dengan agregat di bawah daerah larangan pada kadar aspal 7% dan 7,5% didapatkan nilai density sebesar 2,11 gr/cc dan 2,14 gr/cc; nilai VMA sebesar 17,21% dan 16,3%; nilai VFA sebesar 71,21% dan 78,65%; nilai VIM sebesar 4,99% dan 3,49%; nilai stabilitas sebesar 2518,75 kg dan 3234,72 kg; nilai flow sebesar 2 mm dan 2,07 mm; serta nilai MQ sebesar 1259,37 kg/mm dan 1623,54 kg/mm. Dari hasil tersebut dilakukan analisa Uji T Berpasangan dan didapatkan bahwa nilai flow memiliki perbedaan yang signifikan. Nilai flow yang tinggi terdapat pada campuran dengan agregat di atas daerah larangan pada kadar aspal 7%, sehingga campuran ini lebih tahan lama dikarenakan memiliki kelenturan yang baik.
PENTAHELIX APPROACH FOR ACHIEVING INTEGRATED AND SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT Rindang Alfiah; Cindy Monica Febrian; Ratih Novi Listyawati; RR Dewi Junita Koesoemawati
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : CV. RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijerlas.v5i1.2357

Abstract

This research focuses on Sumbermujur Village in Lumajang Regency, Indonesia, which possesses significant potential for natural, man made, and cultural tourism. The research aims to explore the implementation of the pentahelix Model for developing integrated and sustainable tourism. The research is motivated by the challenges of fostering sustainable tourism in rural areas and the need for a collaborative approach that involves key stakeholders, highlighting the urgency of this research. Utilizing the Delphi method, this research engages various stakeholders, including local government, community members, tourism operators, academics, and research institutions, to achieve consensus on a sustainable tourism development model. The research process includes identifying key tourism challenges, designing the pentahelix model through cross-sector collaboration and community involvement, validating the model, and providing policy recommendations. The research results show that in tourism development in Sumbermujur Village, four stakeholders have had cooperative relationships, namely academics, local communities, government, and media. In contrast, private business people involved in tourism have not been involved in the cooperation. To achieve integrated and sustainable tourism development based on the pentahelix model, closer collaboration is needed, especially by involving private businesses. Optimal cooperation between stakeholders in this Penta helix model can positively impact increasing the tourism economy and maximizing the utilization of tourism potential.
Identifikasi tingkat kekumuhan pada kawasan permukiman nelayan di Kecamatan Puger Ananda Alif Ramadani; Dewi Junita Koesoemawati; Dano Quinta Revana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 2 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v20i2.91395

Abstract

Kecamatan Puger adalah daerah pesisir yang terletak di Kabupaten Jember bagian selatan. Berdasarkan Perda Kabupaten Jember Nomor 1 Tahun 2015, Kecamatan Puger ditetapkan sebagai kawasan strategis perekonomian dan akan dikembangkan menjadi kawasan minapolitan. Permukiman nelayan di Kecamatan Puger, terutama di Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan, berkembang dengan adanya Pelabuhan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Permukiman nelayan tersebut menunjukkan fenomena kekumuhan, seperti penumpukan sampah di badan air, saluran drainase, dan tepi jalan, serta ketidakteraturan bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran tingkat kekumuhan di Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan pada tingkat dusun serta mendapatkan pola dan arahan penanganan kekumuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan metode skoring untuk mengetahui tingkat kekumuhan dan analisis triangulasi untuk menyusun arahan penanganan. Penelitian ini dilakukan di delapan dusun yang ada di Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima dusun yang teridentifikasi kumuh dengan tingkat kekumuhan ringan, sementara tiga dusun lainnya tidak teridentifikasi kumuh. Pola penanganan yang dapat diterapkan berdasarkan matriks pada Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2018 adalah peremajaan.