Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PERBANDINGAN STRUKTUR INSANG DAN KULIT IKAN TIPE REMAINER (Bathygobius fuscus) DAN SKIPPER (Blenniella cyanostigma) ZONA INTERTIDAL PANTAI GUNUNG KIDUL Sukiya Sukiya; Rizka Apriani Putri
Jurnal Sains Dasar Vol 5, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6410.138 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v5i2.13717

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur organ pernapasan dari ikan tipe remainer (Bathygobius fuscus) dan tipe skipper (Blenniella cyanostigma), dan untuk mengetahui apakah kulit tubuh dari dua tipe ikan tersebut juga berperan sebagai tempat terjadinya pertukaran gas pernafasan. Dua spesies ikan tersebut diambil insang dan kulitnya untuk dibuat preparat mikroanatomik dengan metode paraffin, dan pewarnaan H-E (Hematoksilin-Eosin). Analisis deskriptif terhadap struktur lamellae sekunder (epithelium lamellae sekunder, dan ada tidaknya struktur pendukung), serta diukur panjangnya. Fokus pengamatan pada kulit adalah deskripsi struktur epidermis, tebal epidermis, adanya vaskularisasi, dan jumlah pembuluh darah. Data kuantitatif (panjang lamellae sekunder, tebal epidermis, dan jumlah vaskularisasi) dianalisis dengan menggunakan Student’s T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan berarti antara struktur mikroanatomik insang ikan tipe remainer dan skipper, panjang lamellae sekunder relatif sama, juga tidak ditemukan adanya struktur sekunder pada insang yang diduga berperan untuk menyimpan udara cadangan ataupun membantu proses pernapasan. Struktur kulit menunjukkan perbedaan terutama pada bagian kepala dan bagian posterior tubuh. Epidermis di bagian kepala dan bagian posterior (peduncula) pada ikan tipe remainer lebih tebal dibandingkan ikan tipe skipper. Kulit ikan tipe skipper  tervaskularisasi dengan baik, banyak ditemukan kapiler darah pada jaringan ikat dermis yang berbatasan langsung dengan epidermis. Jumlah kapiler darah pada ikan tipe remainer lebih sedikit dan tidak berdekatan dengan epidermis sehingga tidak dapat digunakan untuk difusi gas melalui permukaan kulit. Pengamatan struktur kulit mengindikasikan bahwa ikan tipe skipper dapat menggunakan kulit sebagai tempat pertukaran gas pernapasan. Kata kunci: struktur insang, kulit, ika tipe remainer dan skipper, zona intertidal Abstract This research aimed to study the microanatomical structure of respiratory organ of two group of fish that live in tidepools. One group is remainers which stay inside the pools during lowtide, while the other is skippers, group of fish that have an ability to move outside water when it’s needed. This research also aimed to investigate whether skin of these species can be used as respiratory surface to overcome hypoxic condition. Two species of fish (Bathygobius fuscus of remainers group and Blenniella cyanostigma of skippers, respectively), were caught and sacrificed, then gills and skin of them were harvested. The organs then undergone further processing for microanatomical preparation with paraffin method and Hematoxylin-Eosin staining. Microanatomical structure of gills and skin then  analysed descriptively. Gills were observed to study whether additional structure is presence and modification (in structure of epithelial cells and/or the length of secondary lamelae) is occured as part of morphological change to absorb more oxygen during low tide. In Skin, the thickness of epidermal layers were measured and the number of blood capilaries were counted to investigate whether skin can be used as additional respiratory surface. Quantitative data of skin and gills were statistically analysed using Student’s T-test.  Results showed that there were no differences in gills structure between remainers and skippers. Additional structure in gills were absent in both species. However, quantitative measurements in skins showed that skippers have less layers of epidermal cells and high number of blood capilaries compared to remainers skin. This results indicated that skippers were able to use their skin as additional respiratory surface outside gills. Keywords: gills, intertidal zone,  microanatomical structure, skin, remainers, skippers
Diversity of the Cave-Dwelling Bat (Chiroptera) in the Ngobaran Coastal Area, Karst of Gunung Sewu Tatag Bagus Putra Prakarsa; Rizka Apriani Putri; Yunita Fera Rahmawati; Abdullah Dolah Dalee
Jurnal Biodjati Vol 7, No 2 (2022): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v7i2.20163

Abstract

Bats (Chiroptera) are divided into two suborders (Yinpterochiroptera and Yangochiroptera). More than 50% of species of bats use caves as their roosting sites. Thus, they play a crucial role in the cave ecosystem. For that reason, they also exist as keystone species in the karst area. Gunung Sewu is one of the karst areas in Indonesia that best exemplifies tropical karst. Furthermore, Gunung Sewu is still at risk of habitat loss despite being designated as a Geopark. This study aimed to understand the diversity of bats that live in caves in the karst region of Gunung Sewu, specifically in four caves near Ngobaran Beach between April and June 2020. A harp net and misnet placed at the cave’s entrance were used to capture bats for data collection. After they were captured, the bats were identified using Morphometry and the Shannon-Wiener index. Through another index, Margalef index, the bat diversity in the four cave habitats was expressed, with a discovery that there are many different species. Based on the Jaccard similarity index, bats were categorized again using cluster analysis and the unweighted pair-group method using arithmetic averages (UPGMA). A total of nine species across five families were identified. The diversity of existing species variety was also recognized by analyzing the composition of the four cavern inhabitants. The four cave ecosystems’ bat diversity was divided into three categories: moderate variety, low similarity, and high species diversity. Except for Cekelan 1 Cave and Gebyog Cave (P=0.015), other variations did not demonstrate a meaningful difference (P0.05). This demonstrates how different each ecosystem is. Therefore, they could be classified as potentially spoiled habitats, demanding additional conservation efforts.
PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS DAN BARANG KERAJINAN SEBAGAI UPAYA OPTIMASI PENGOLAHAN LIMBAH DAUN SISA ECOPRINT DI KELURAHAN BUGEL, KAPANEWON PANJATAN, KULONPROGO, DIY Tien Aminatun; Kun Sri Budiasih; Suhartini Suhartini; Bernadetta Octavia; Anna Rakhmawati; Rizka Apriani Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 7, No 1 (2023): Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpmmp.v7i1.56764

Abstract

Berdasarkan analisis situasi, diketahui bahwa kelompok pengrajin Ecoprint di Kalurahan Bugel, Kulonprogo memerlukan pengenalan teknologi sederhana  untuk mengatasi adanya limbah hasil industri yang dihasilkan selama proses pembuatan kerajinan ecoprint. Walaupun limbah yang dihasilkan merupakan limbah organik dan dapat terdegradasi secara alami, namun timbunan limbah yang tidak dikelola dengan baik dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar . Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan PkM ini adalah; (1) mengenalkan masyarakat pengrajin Ecoprint Kalurahan Bugel dengan teknologi sederhana pengolahan limbah yang dapat dilakukan pada tingkat rumah tangga atau usaha kecil menengah yaitu dengan pembuatan kompos dengan bahan dasar limbah daun hasil ecoprint; dan (2) mengadakan pelatihan pembuatan kerajinan dengan memanfaatkan limbah serta mengolahnya menjadi bentuk yang memiliki kegunaan atau bernilai jual.Melihat permasalahan tersebut maka solusi yang ditawarkan melalui Program pengabdian ini adalah; (1) Pengolahan limbah daun menjadi kompos yang dapat dipergunakan warga sebagai pupuk organik alami.. dan (2) Pengelolaan limbah daun menjadi barang kerajinan bernilai jual. Limbah daun sisa hasil industri dapat digunakan sebagai material dalam pembuatan kerajinan lainnya. Dari pelatihan ini, peserta diharapkan dapat menghasilkan produk dari limbah ecoprint yang fungsional serta memiliki nilai jual.Dari hasil analisis terhadap angket kepuasan yang diberikan kepada peserta, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini telah berhasil; (1) Mengenalkan masyarakat pengrajin Ecoprint Kalurahan Bugel dengan teknologi sederhana pengolahan limbah yang dapat dilakukan pada tingkat rumah tangga atau usaha kecil menengah yaitu dengan pembuatan kompos dengan bahan dasar limbah daun hasil ecoprint; dan (2) Melaksanakan pelatihan pembuatan kerajinan dengan memanfaatkan limbah daun sisa ecoprint menjadi ornament gerabah yang terkesan etnis dan tradisional, yang dapat dihakciptakan.
PENGEMBANGAN TES FORMATIF YANG BERFUNGSI SEBAGAI TES DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR POKOK BAHASAN ANIMALIA Henky Becheta Anggraeni; Bambang Subali; Rizka Apriani Putri
Jurnal Edukasi Biologi Vol 6, No 6 (2017): Jurnal Prodi Pendidikan Biologi Vol 6 No 5 Tahun 2017
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/edubio.v6i6.8131

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara mengembangkan tes formatif yang berfungsi sebagai tes diagnostik pokok bahasan Animalia. Metode penelitian menggunakan metode Testing. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI MIPA 3 SMA N 1 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017. Kegiatan pengembangan tes meliputi penyusunan kisi-kisi tes, penulisan item tes, penyelidikan validitas dan reliabilitas tes (kualitas tes), dan penyelidikan kesulitan belajar peserta didik pada pokok bahasan Animalia. Pengambilan data dengan teknik tes, dan instrumen penelitian berupa tes yang telah dikembangkan (PG beralasan terbuka berjumlah 40 butir). Analisis data melalui dua tahapan yaitu, analisis data kualitas tes dan kesulitan belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan, tes dikembangkan dengan prosedur pengembangan tes secara umum, kualitas tes valid dan memiliki reliabilitas yang baik berdasarkan indek Kappa dan indek persetujuan, peserta didik berkesulitan belajar pada hampir semua aspek kompetensi Animalia dengan faktor penyebab utama kesulitan belajar adalah karena rendahnya minat dan motivasi belajar. Kata Kunci: Animalia, Formatif Diagnostik, Kesulitan Belajar
PENGEMBANGAN MODUL PENGAYAAN GENETIKA BERBASIS FENOMENA KRETINISME DI DESA SIGEDANG, KEJAJAR, WONOSOBO UNTUK KELAS XII IPA Galuh Ajeng Antasari; Suratsih Suratsih; Rizka Apriani Putri
Jurnal Edukasi Biologi Vol 6, No 7 (2017): Jurnal Prodi Pendidikan Biologi Vol 6 No7 Tahun 2017
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/edubio.v6i7.8190

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  (1) mengetahui pola pewarisan kretinisme di Desa Sigedang, Kejajar, Wonosobo, (2) menghasilkan modul pengayaan genetika berbasis fenomena kretinisme untuk kelas XII IPA dan (3) mengetahui kualitas modul yang dihasilkan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dan penelitian dan pengembangan (Research and Development). Hasil penelitian studi kasus dianalisis  potensinya  sebagai  sumber belajar  melalui  tahap  identifikasi,  seleksi  dan  modifikasi  hasil penelitian sebagai sumber belajar. Pengembangan modul pengayaan menggunakan model  ADDIE  (Analysis,  Design,  Development, Implementation,  dan  Evaluation) yang dibatasi sampai  tahap development. Hasil penelitian studi kasus menunjukkan bahwa  kretinisme di Desa Sigedang diwariskan secara autosomal resesif. Analisis  potensi menunjukkan  bahwa  penelitian pewarisan kretinisme berpotensi untuk dijadikan sumber kegiatan pengayaan berupa modul. Hasil penilaian kualitas modul menunjukkan kategori sangat baik menurut ahli materi sebesar 98,64 %, sangat baik menurut ahli media sebesar 60,86 %, baik menurut guru yaitu 98,91 %,  dan baik  menurut siswa sebesar 60,23 %.Kata kunci: kretinisme, modul, pengayaan
Pelatihan Pembuatan Aneka Produk Olahan Cabai dan Bawang Merah sebagai Upaya Peningkatan Nilai Jual Hasil Pertanian dan Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Di Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo, DIY Tien Aminatun; Fitri Rahmawati; Anna Rakhmawati; Rizka Apriani Putri; Budiwati Budiwati; Tutiek Rahayu
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpmmp.v7i2.59846

Abstract

Bugel is one of districts in Kulon Progo Regency that uses Surjan Method in planting rice  as their local agricultural system. One of major problems faced by the farmer during harvest season is the drop of the yields’price which then lead to the financial loss for the farmers. In order to anticipate the same issue happens in the next harvest season, farmers in subdistrict Bugel, District of Panjaten, Kulon progo Regency want to have a training in regard to process the food such as Red Chilli and Shallot,   therefore rotten and damaged yields due to the longer time of storage can be reduced or even avoided. After being processed through the postharvest techniques, those yields are expected to increase in prices thus they will bring profit and more income for the citizens. This training aims to introduce postharvest techniques that can be used to store the yields longer and also to train citizens on food processing  which resulted in finer product and  ultimately can be sold in  higher price. Red Chilli and Shallots are the main yields harvested during the harvest season outside Rice. Two types of Sambal made from red Chilli and processed food of Shallots (Fried Shallot) are made during the practice. These products hopefully will last longer in storage and also can be sold in higher price compared to the fresh ones.Customer satisfactory surveys results showed that attendance were responded positively towards the training. Based on the evaluation, citizens wish for  similar training in the future with topic regarding the health and safety of the products as well as the marketing aspect of them.
Abundance and distribution pattern of macroinvertebrates at Watu Lumbung Beach, Gunungkidul, Yogyakarta Rahmawati, Yunita Fera; Putri, Rizka Apriani; Prakarsa, Tatag Bagus Putra; Edhiningtyas, Chrisshinta Iris; Hermawan, Lisa Agustina
Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sci and Tech, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/bio.v12i1.40247

Abstract

Macroinvertebrates are one of the bioindicators in aquatic ecosystems. The diversity and distribution patterns of functional groups of macroinvertebrate communities are assessed to determine water quality. The objective of this research was to figure out the abundance and distribution of macroinvertebrates in Watu Lumbung Beach, Gunungkidul, Yogyakarta. This study was conducted in May 2022 with the quadrat transect method using 1×1 m quadrats along Watu Lumbung Beach, Gunungkidul, Yogyakarta. Sampling was conducted at two randomly determined stations from the lowest low tide to the middle of the sea. The first station is located near Watu Lumbung reef, which has a distance of 50 m, while the second station is 250 m from the reef, so the distance between stations is 200 m. The Shannon-Weiner diversity index (H') was calculated by analyzing the data. The data obtained in this study are the results of the inventory of macroinvertebrate species at each sampling point and the number of individuals of each species. The results showed the abundance of macroinvertebrates on Watu Lumbung beach found as many as 16 species belonging to 13 families and classified into nine classes (Polychaeta, Malacostraca, Anthozoa, Echinoidea, Ophiuridae, Gastropoda, Polyplacophora, Pilidiophora and Demospongia). The family Ophiocomidae (Ophiocoma erinaceus and Ophiocoma scolopendrina) were the most abundant species at both observation stations. The diversity index is 1.94, which shows that the diversity of macroinvertebrates on Watu Lumbung Beach is categorized as moderate.
Abundance and Distribution Pattern of Macroinvertebrates at Watu Lumbung Beach, Gunungkidul, Yogyakarta Rahmawati, Yunita Fera; Putri, Rizka apriani; Prakasa, Tatag Bagus Putra; Aedhiningtyas, Chrisshinta Iris; Hermawan, Lisa Agustina
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 15 No 2 (2024): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v15i2.21705

Abstract

This research aimed to determine the abundance and distribution of macroinvertebrates at Watu Lumbung Beach, Gunungkidul, Yogyakarta. The study was conducted in May 2022 using the quadratic transect method with a 1x1 m plot. Sampling was carried out at two randomly selected stations. The first station was located 50 meters from the Watu Lumbung reef, while the second station was 250 meters away, resulting in a 200-meter distance between the two stations. Data analysis involved calculating the Shannon-Weiner diversity index (H'). This study identified 16 species of macroinvertebrates at Watu Lumbung Beach, classified into 13 families and nine classes: Polychaeta, Malacostraca, Anthozoa, Echinoidea, Ophiuridae, Gastropoda, Polyplacophora, Pilidiophora, and Demospongia. The family Ophiocomidae, specifically Ophiocoma erinaceus and Ophiocoma scolopendrina, was the most abundant at both stations. The diversity level was moderate, with a Shannon-Weiner index value of 1.94.ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan sebaran makroinvertebrata di Pantai Watu Lumbung, Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2022 dengan metode transek kuadrat dengan ukuran 1x1m. Pengambilan sampel dilakukan pada dua stasiun yang ditentukan secara acak. Stasiun pertama terletak di dekat karang Watu Lumbung dengan jarak 50 meter, sedangkan stasiun kedua berjarak 250 meter dari karang, sehingga jarak antar stasiun adalah 200 meter. Analisis data dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Pada penelitian kali ini diketahui kelimpahan makroinvertebrata di Pantai Watu Lumbung berjumlah 16 spesies, dikelompokkan dalam 13 famili, dan diklasifikasikan dalam sembilan kelas (Polychaeta, Malacostraca, Anthozoa, Echinoidea, Ophiuridae, Gastropoda, Polyplacophora, Pilidiophora dan Demospongia). Famili Ophiocomidae (Ophiocoma erinaceus dan Ophiocoma scolopendrina) merupakan spesies yang paling melimpah di kedua stasiun pengamatan. Keberagaman tersebut termasuk dalam kategori sedang dengan nilai 1,94.
COMPILATION OF HERPETOFAUNA CATALOGUE OF THE NGLAGGERAN ANCIENT VOLCANO AREA AS AN ALTERNATIVE LEARNING MEDIA FOR BIODIVERSITY MATERIALS FOR GRADE X SMA/MA Sulistio, Adian Dwi; Putri, Rizka Apriani
Jurnal Edukasi Biologi Vol 11, No 2 (2025): Jurnal Edukasi Biologi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/edubio.v11i2.20219

Abstract

This research aims to (1) determine the feasibility of the herpetofauna catalogue media based on the assessment of material experts and media experts and (2) determine the feasibility of the herpetofauna catalogue media based on the assessment of learning practitioner experts and students. This research employs the Research and Development (RD) method, utilising the ADDIE model, which is limited to the ADD (Analysis, Design, Development) stage. This research was conducted at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UNY, with the subjects of this research comprising a material expert, a media expert, a biology teacher in grade X, and 26 students. Data collection was conducted using assessment instruments tailored for media experts, material experts, biology teachers of grade X high schools, and students. These instruments were compiled based on the assessment instruments outlined in high school textbooks, as per the BSNP (National Education Standards Agency) guidelines, and relevant research instruments. Data analysis was carried out descriptively and qualitatively. The results of this research are the Herpetofauna Catalogue of the Nglanggeran Ancient Volcano Area, serving as an alternative learning medium for Grade X high school students on biodiversity material. The developed catalogue has met the feasibility criteria assessed by material experts, media experts, learning practitioner experts, and students. This research is important in providing teachers with alternative learning media that capitalise on local potential. Further research is needed on the effectiveness of the media and the development of a catalogue for a wider range of materials.
Pelatihan dan Pendampingan Budidaya Ikan di Pekarangan Rumah bagi Masyakat Petani di Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga Aminatun, Tien; Putri, Rizka Apriani; Rahmawati, Fitri; Hutama, Ponty Sya'banto Putra
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpmmp.v9i2.79139

Abstract

Kasus  malnutrisi, terutama protein, masih dapat ditemukan di Kalurahan Bugel  sehingga mempengaruhi pertumbuhan anak dan kesehatan orang dewasa. Tujuan dari kegiatan PkM ini adalah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para petani Kalurahan Bugel dalam hal; (1) teknologi sederhana  pembudidayaan ikan lele sebagai bahan  pangan protein tinggi untuk masyarakat petani dan rumah tangga di kalurahan Bugel dengan lahan yang terbatas; (2) Pengolahan bahan pangan hasil budidaya sehingga untuk menghasilkan produk yang lebih  bervariasi dalam pemenuhan kebutuhan protein tinggi dan mengurangi prevalensi stunting  dan (3) manajemen bisnis serta strategi pemasaran yang baik diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini  secara umum berjalan dengan lancar dan peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap materi yang diberikan. Selain itu olahan menu dari produk hasil budidaya juga telah diaplikasikan terutama dalam kegiatan Posyandu di Kalurahan Bugel yaitu sebagai varian menu baru yang disukai oleh anak-anak. Berdasar hasil yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini telah berhasil; (1) Mengenalkan masyarakat pada teknik budidaya ikan lele dalam ember sebagai usaha pemenuhan kebutuhan gizi keluarga dengan lahan yang terbatas (2) Melaksanakan pelatihan pengolahan bahan makanan hasil budidaya sebagai menu alternatif dalam upaya pencegahan stunting, dan (3) Mengenalkan masyarakat terkait Manajemen dan Pemasaran poduk olahan serta pengemasan untuk meningkatkan nilai jual.