Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS MAMALIA DI CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Maharadatunkamsi, Maharadatunkamsi; Prakarsa, Tatag Bagus Putra; Kurnianingsih, Kurnianingsih
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.34 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah. Untuk menjamin kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia berbagai upaya telah ditempuh, antara lain dengan ditetapkannya berbagai kawasan konservasi. Salah satunya adalah Cagar Alam Leuweung Sancang yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mengelola kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang diperlukan berbagai informasi, termasuk data akurat tentang komunitas mamalia di berbagai habitat di dalamnya. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk melengkapi kebutuhan akan data dasar sebaran mamalia di berbagai habitat dalam cagar alam ini. Kombinasi antara pengamatan langsung dan penangkapan di hutan primer Sancang Timur, hutan sekunder Cijeruk dan belukar Mas Sigit berhasil mencatat sebanyak 21 jenis mamalia. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk ketiga plot pengamatan adalah 2,02 (Mas Sigit), 2,66 (Sancang Timur) dan 3,04 (Cijeruk). Rata-rata indeks similaritas Jaccard adalah 32% menunjukkan tingkat similaritas yang rendah di antara ketiga plot pengamatan. Analisis kluster berdasarkan keberadaan jenis mamalia pada setiap plot pengamatan dan sebaran jenis mamalia menunjukkan konsistensi adanya
Diversitas Kelelawar (Chiroptera) Penghuni Gua, Studi Gua Ngerong di Kawasan Karst Tuban Jawa Timur Prakarsa, Tatag Bagus Putra
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1549.907 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v1i2.4098

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas kelelawar penghuni gua di gua Ngerong. Penelitian ini merupakan penelitian Nature Snapshop Experiment (NSE). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November - Desember 2011 di gua Ngerong, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penangkapan dilakukan dengan metode tangkap langsung. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan misnet dan handnet. Kelelawar diidentifikasi berdasarkan pengukuran morfometri dan ciri morfologi mengacu kunci identifikasi Suyanto, 2001 dan Payne et al., 2000. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Di gua Ngerong terdapat 9 spesies dari 4 famili atau 60% dari total spesies kelelawar penghuni gua di kawasan karst Tuban. Enam spesies anggota Subordo Microchiroptera yang merupakan insectivor dan 3 spesies anggota Subordo Megachiroptera yang merupakan frugivor dan nictivor. Keanekaragaman di gua Ngerong tergolong tinggi dengan nilai Simpsons Diversity Index sebesar 0,76. Tingginya diversitas kelelawar penghuni gua Ngerong berbanding lurus dengan panjang lorong gua Ngerong. gua Ngerong merupakan gua terpanjang di kawasan karst Tuban, dengan panjang lorong mencapai 1800m.kata kunci: Kelelawar (Chiroptera), Diversitas, Gua Ngerong, Biospeleologi, Karst
Odonata Diversity at Sumber Clangap and Sumber Mangli Puncu Village Sub District of Puncu District of Kediri Muhammad Muhibbuddin Abdillah; Tatag Bagus Putra Prakarsa; Esti Tyastirin
Jurnal Biodjati Vol 4, No 2 (2019): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v4i2.4823

Abstract

 Sumber Clangap and Sumber Mangli are geographically located at the Mount Kelud steeps. Administratively located at Puncu Village, Puncu Sub-district and District of Kediri. They provided hab-itat for the flora than fauna especially Odonata that never been stud-ied before. We aimed to study Odonata diversity at Sumber Clangap and Sumber Mangli area. The method used in this study was natural snapshot experiment that conducted by Odonata monitoring. Micro-climate parameter including air temperature and humidity were not-ed. Odonata activity and behavior noted for analysis. Collected data were analyzed using Shannon-Wiener heterogeneity index. The results showed that there were 17 species from the whole location. There was Euphaea variegata, Vestalis luctuosa, Rhinocypha anisoptera, Peric-nemis stictica, Pseudagrion pruinosum, Coeliccia membranipes, Gy-nacantha subinterrupta, Idionyx montana, Paragomphus reinwardtii, Heliogomphus drescheri, Neurothemis fluctuans, Orthetrum glau-cum, Orthetrum pruinosum, Orthetrum sabina, Pantala flavescens, Trithemis festiva and Zygonyx ida. Based on the Shannon-Wiener heterogeneity index the value, Sumber Clangap had heterogeneity in-dex higher (H’=1,97) than Sumber Mangli (H’=1,39). Sumber Man-gli has a Java endemic species Paragomphus reinwardtii and Rhi-nocypha anisoptera that is spread only at Sumatera and East Java. 
STRUKTUR KOMUNITAS MAMALIA DI CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Maharadatunkamsi Maharadatunkamsi; Tatag Bagus Putra Prakarsa; Kurnianingsih Kurnianingsih
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.2331

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah. Untuk menjamin kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia berbagai upaya telah ditempuh, antara lain dengan ditetapkannya berbagai kawasan konservasi. Salah satunya adalah Cagar Alam Leuweung Sancang yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mengelola kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang diperlukan berbagai informasi, termasuk data akurat tentang komunitas mamalia di berbagai habitat di dalamnya. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk melengkapi kebutuhan akan data dasar sebaran mamalia di berbagai habitat dalam cagar alam ini. Kombinasi antara pengamatan langsung dan penangkapan di hutan primer Sancang Timur, hutan sekunder Cijeruk dan belukar Mas Sigit berhasil mencatat sebanyak 21 jenis mamalia. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk ketiga plot pengamatan adalah 2,02 (Mas Sigit), 2,66 (Sancang Timur) dan 3,04 (Cijeruk). Rata-rata indeks similaritas Jaccard adalah 32% menunjukkan tingkat similaritas yang rendah di antara ketiga plot pengamatan. Analisis kluster berdasarkan keberadaan jenis mamalia pada setiap plot pengamatan dan sebaran jenis mamalia menunjukkan konsistensi adanya
DIVERSITAS KELELAWAR PENGHUNI GUA Di KAWASAN KARST PULAU NUSA KAMBANGAN : STUDI KALI BENER DAN LEMPONG PUCUNG Tatag Bagus Putra Prakarsa; Sudarsono; Suhandoyo
BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR Vol. 6 No. 1 (2021): Bioma, Januari - Juni 2021
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/bioma.v6i1.11960

Abstract

Kawasan karst di Indonesia mencapai 20% dari luas wilayah Indonesia. Karst memiliki potensi yang unik dan sangat kaya dengan biodiversitas. Masih banyak biodiversitas yang belum terungkap di kawasan-kawasan kasrt tersebut salah satunya adalah Kawasan Karst di Pulau Nusa Kambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari diversitas kelelawar di gua Kali Bener dan Lempong Pucung karst Nusa Kambangan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2020 di Gua Kali Bener dan Lempong Pucung Karst Nusa Kambangan. Metode yang digunakan adalah metode dengan mengkombinasikan observasi dan penangkapan penggunaan misnet. Analisis data dilakukan deskriptif kuantitatif dengan bantuan software Ecological Methodology versi 7.0. Spesies yang dijumpai di gua Lempong Pucung terdapat 6 spesies yaitu C.brachyotis, R.amplexicaudatus, H.diadema, R.affinis, M.schreibersi, dan M.pusillus. Di Kali Bener sebanyak 5 spesies, terdiri dari C.brachyotis, H.diadema, Hipposideros sp., M.schreibersi, dan M.pusillus. diversitas di habitat Gua Lempong Pucung lebih tinggi dibandingkan dengan Gua Kali Bener dan sama-sama memiliki kekayaan spesies dan similaritas sedang. Kedua gua di Karst Nusa Kambangan tersebut memiliki peranan penting sebagai habitat kelelawar dengan status endemik, sebaran yang terbatas, dan spesies-spesies dengan status konservasi rentan (vulnerable/VU). Upaya perlindunagn habitat perlu terus ditingkatkan, karena dengan menjaga kelestarian habitat maka seluruh biodiversitas yang ada di dalamnya akan ikut lestari. Kata Kunci: Biodiversitas, Kelelawar, Karst, Nusa Kambangan, Biospeleologi
Diversitas Kelelawar (Chiroptera) Penghuni Gua, Studi Gua Ngerong di Kawasan Karst Tuban Jawa Timur Tatag Bagus Putra Prakarsa
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1549.907 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v1i2.4098

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas kelelawar penghuni gua di gua Ngerong. Penelitian ini merupakan penelitian Nature Snapshop Experiment (NSE). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November - Desember 2011 di gua Ngerong, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penangkapan dilakukan dengan metode tangkap langsung. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan misnet dan handnet. Kelelawar diidentifikasi berdasarkan pengukuran morfometri dan ciri morfologi mengacu kunci identifikasi Suyanto, 2001 dan Payne et al., 2000. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Di gua Ngerong terdapat 9 spesies dari 4 famili atau 60% dari total spesies kelelawar penghuni gua di kawasan karst Tuban. Enam spesies anggota Subordo Microchiroptera yang merupakan insectivor dan 3 spesies anggota Subordo Megachiroptera yang merupakan frugivor dan nictivor. Keanekaragaman di gua Ngerong tergolong tinggi dengan nilai Simpson's Diversity Index sebesar 0,76. Tingginya diversitas kelelawar penghuni gua Ngerong berbanding lurus dengan panjang lorong gua Ngerong. gua Ngerong merupakan gua terpanjang di kawasan karst Tuban, dengan panjang lorong mencapai 1800m.kata kunci: Kelelawar (Chiroptera), Diversitas, Gua Ngerong, Biospeleologi, Karst
STRUKTUR KOMUNITAS MAMALIA DI CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Maharadatunkamsi Maharadatunkamsi; Tatag Bagus Putra Prakarsa; Kurnianingsih Kurnianingsih
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.2331

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah. Untuk menjamin kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia berbagai upaya telah ditempuh, antara lain dengan ditetapkannya berbagai kawasan konservasi. Salah satunya adalah Cagar Alam Leuweung Sancang yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mengelola kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang diperlukan berbagai informasi, termasuk data akurat tentang komunitas mamalia di berbagai habitat di dalamnya. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian untuk melengkapi kebutuhan akan data dasar sebaran mamalia di berbagai habitat dalam cagar alam ini. Kombinasi antara pengamatan langsung dan penangkapan di hutan primer Sancang Timur, hutan sekunder Cijeruk dan belukar Mas Sigit berhasil mencatat sebanyak 21 jenis mamalia. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk ketiga plot pengamatan adalah 2,02 (Mas Sigit), 2,66 (Sancang Timur) dan 3,04 (Cijeruk). Rata-rata indeks similaritas Jaccard adalah 32% menunjukkan tingkat similaritas yang rendah di antara ketiga plot pengamatan. Analisis kluster berdasarkan keberadaan jenis mamalia pada setiap plot pengamatan dan sebaran jenis mamalia menunjukkan konsistensi adanya
Pelatihan Kebersihan Individu Sebagai Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di SMA Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta YUNITA FERA RAHMAWATI; Tatag Bagus Putra Prakarsa; Ciptono Ciptono; Tri Harjana; Suhandoyo Suhandoyo
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 5, No 2 (2021): Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.551 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v5i2.38303

Abstract

AbstrakPengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan  guru Biologi SMA/MA di Kabupaten Kulon Progo dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan guru tentang sistem kekebalan tubuh, kebersihkan lingkungan dan praktek membuat cairan untuk sanitasi individu dan cara pemakaiannya yang benar. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk paparan materi dan pelatihan tatap muka sesuai dengan protokol kesehatan pada hari Kamis, 30 Juli 2020 di Ruang PPG 1 dan 2 FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Materi pelatihan meliputi gambaran umum kekebalan tubuh dan kebersihan lingkungan, serta praktik membuat hand sanitizer sesuai dengan formula WHO. Berdasarkan analisis nilai test nilai rata-rata post test peserta lebih tinggi dibandingkan pre test, dan menunjukkan peningkatan sebesar 58,7%. Sedangkan berdasarkan analisis respon peserta, sebanyak 73% peserta berharap dapat membuat hand sanitizer selama pelatihan, sebanyak 93% peserta menyatakan pelatihan yang diselenggarakan sesuai dengan harapan, sebanyak 93% peserta menyatakan bahwa materi pelatihan dapat membantu mengatasi persoalan yang mungkin muncul di kelas, sebanyak 80% peserta menyatakan bahwa materi pelatihan berikutnya yang ingin diselenggarakan adalah membuat cuci tangan, dan seluruh peserta berminat untuk menerapkan materi pelatihan saat mengajar. Pelatihan kebersihan individu dan lingkungan sekolah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 di SMA di Kabupaten Kulon Progo. Melalui pelatihan ini, harapannya guru-guru dapat memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang sistem kekebalan tubuh, kebersihan lingkungan dan pembuatann hand sanitizer guna memutus penyebaran virus di masa pandemi.Kata kunci: Pelatihan kebersihan,, hand sanitizer, Covid-19 AbstractThis community service aims to improve the ability of SMA / MA biology teachers in Kulon Progo Regency to increase teachers, knowledge and skills about the immune system, environmental cleaning and the practice of making fluids for individual sanitation and how to use them properly. The training is carried out in the form of material exposure, and face-to-face training according to health protocols on Thursday, July 30, 2020 in PPG 1 and 2 FMIPA Rooms, Yogyakarta State University. The training materials include an overview of immune and environmental hygiene, as well as the practice of making hand sanitizers according to the WHO is a formula. Based on the test score analysis, the average post-test score of the participants was higher than the pre-test, and showed an increase of 58.7%. Meanwhile, based on the analysis of participant responses, as many as 73% of participants expected to be able to make hand sanitizers during the training, as many as 93% of participants stated that the training was carried out as expecting, as many as 93% of participants stated that the training material can help overcome problems that may arise in class, as many as 80% of participants stated that the next training material they wanted to hold was hand washing, and all participants were interested in applying the training material while teaching. Personal hygiene training and school environment to prevent the spread of Covid-19 in high schools in Kulon Progo Regency. Through this training, it is hoped that teachers will have knowledge and skills about the immune system, environmental hygiene and the manufacture of hand sanitizers to stop the spread of the virus during a pandemic.Keywords: Hygiene training, hand sanitizer, Covid-19 pandemic.
KEANEKARAGAMAN FAMILI ARTHROPODA TANAH DI KAWASAN HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Muhammad Muhibbuddin Abdillah; Wuri Handayani; Tatag Bagus Putra Prakarsa
Jurnal Biosilampari : Jurnal Biologi Vol 1 No 2 (2019): Biosilampari
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.863 KB) | DOI: 10.31540/biosilampari.v1i2.238

Abstract

Wanagama Education Forest is the forest made by the ecosystem successions. Wanagama developed on barren hills located at Gunungkidul Province of Yogyakarta Special Region. The succession results providing a new habitat for the wild flora and fauna including soil arthropods. The soil arthropods having an important role in the ecosystem a detritivore etc. This study aimed to knowing soil arthropods diversity at Wanagama. The study conducted at Wanagama Education Forest in December 2017. The soil arthropods collected by six pitch fall trap that was spread at each collection point. Collected specimen by pitch fall trap method then identified and analyzed using diversity, evenness and dominance index. Based on the results, there is 25 family from 13 order of soil arthropods. Based on the data analysis diversity index results are H’=1, 53 and evenness index E=0, 47. The dominant individual is from Formicidae that playing a role as predators at Wanagama. Highest diversity is from Coleoptera order.
Diversity of the Cave-Dwelling Bat (Chiroptera) in the Ngobaran Coastal Area, Karst of Gunung Sewu Tatag Bagus Putra Prakarsa; Rizka Apriani Putri; Yunita Fera Rahmawati; Abdullah Dolah Dalee
Jurnal Biodjati Vol 7, No 2 (2022): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v7i2.20163

Abstract

Bats (Chiroptera) are divided into two suborders (Yinpterochiroptera and Yangochiroptera). More than 50% of species of bats use caves as their roosting sites. Thus, they play a crucial role in the cave ecosystem. For that reason, they also exist as keystone species in the karst area. Gunung Sewu is one of the karst areas in Indonesia that best exemplifies tropical karst. Furthermore, Gunung Sewu is still at risk of habitat loss despite being designated as a Geopark. This study aimed to understand the diversity of bats that live in caves in the karst region of Gunung Sewu, specifically in four caves near Ngobaran Beach between April and June 2020. A harp net and misnet placed at the cave’s entrance were used to capture bats for data collection. After they were captured, the bats were identified using Morphometry and the Shannon-Wiener index. Through another index, Margalef index, the bat diversity in the four cave habitats was expressed, with a discovery that there are many different species. Based on the Jaccard similarity index, bats were categorized again using cluster analysis and the unweighted pair-group method using arithmetic averages (UPGMA). A total of nine species across five families were identified. The diversity of existing species variety was also recognized by analyzing the composition of the four cavern inhabitants. The four cave ecosystems’ bat diversity was divided into three categories: moderate variety, low similarity, and high species diversity. Except for Cekelan 1 Cave and Gebyog Cave (P=0.015), other variations did not demonstrate a meaningful difference (P0.05). This demonstrates how different each ecosystem is. Therefore, they could be classified as potentially spoiled habitats, demanding additional conservation efforts.