Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PERHITUNGAN KOORDINASI RELAY PROTEKSI OCR / GFR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE MATHCAD PADA TRAFO DAYA UNIT II 20 MVA GI SALAK Zulkarnaini Zulkarnaini; Mohammad Iqbal
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 17, No 2 (2015): Volume 17 No. 2 Tahun 2015
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.904 KB)

Abstract

Untuk menjamin kwalitas pelayanan listrik, dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat maka diperlukan listrik yang andal. Maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisir gangguan yang terjadi dalam sistem tenaga listrik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan cara mengkoordinasi setting relay proteksi sisi 20 kV dan 150 kV di trafo daya unit 2 GI Salak yang mana sebelumnya GI Salak hanya menyuplai dengan 1 trafo daya berkapasitas 20 MVA. Disini adanya penambahan trafo daya unit 2 dikarenakan transformator daya unit 1 arus beban sudah mencapai hingga 552 Ampere atau sekitar 95.61% dari arus maksimum. Dengan demikian dibutuhkan suatu perencanaan perhitungan serta analisa dari perhitungan arus hubung singkat agar terciptanya koordinasi proteksi Over Current Relay (OCR) dan Ground Foult Relay (GFR) yang baik di sisi penyulang, inconing 20 kV dan sisi 150 kV. Dari tabel maupun grafik koordinasi setting relai OCR-GFR sisi 150 kV, incoming 20 kV dan penyulang untk gangguan phasa – phasa dan phasa – tanah diatas dapat dilihat bahwa waktu kerja relai di sisi penyulang lebih cepat dibanding waktu kerja di sisi incoming dan sisi 150 kV. Begitu juga semakin besar arus gangguan maka waktu kerja relai semakin cepat dan begitu pua sebaliknya. Ditinjau dari jarak lokasi gangguan mempengaruhi besar kecilnya selisih waktu (granding time). Semakin jauh jarak lokasi gangguan maka semakin lama waktu kerja relai di penyulang dan waktu kerja relai di incoming sisi 150 kV,
ANALISA PERANCANGAN FILTER HARMONIK PADA UNIT KILN INDARUNG II PT. SEMEN PADANG MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP Zulkarnaini Zulkarnaini; Dasman Dasman; Michel A.A
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 19, No 1 (2017):
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harmonik  merupakan suatu fenomena yang terjadi akibat dioperasikannya beban listrik nonlinier, beban listrik nonlinier adalah beban listrik yang memiliki sifat menyimpang dari hukum ohm. Yang menyebabkan bentuk gelombang arus tidak sinusoidal murni sebab sudah terdistorsi, peralatan beban non linear seperti motor listrik, komputer, printer, inverter dan sebagainya. Tingkat harmonik yang melewati standar dapat menyebabkan terjadinya tingkat panas pada peralatan. Penelitian harmonik ini dilakukan Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harmonik yang ada pada sistem kelistrikan Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang, Untuk menentukan tingkat harmonik tertinggi pada Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang, dan untuk menentukan tipe filter harmonik pada orde tertentu yang memiliki pengaruh paling besar terhadap distorsi pada jaringan. Dari simulasi ETAP-Program Total Harmonik Distorsi Arus THDi bus incoming sebesar 64,15% kemudian di pasang filter harmonik orde ke-3 hingga ke-17 menjadi 3.25%. Maka THDi di Unit Kiln Indarung II. PT. Semen Padang melebihi dari standar IEEE 519-1992, setelah digunakan filter maka THDi dibawah standar IEEE 519-1992.
Analisa Hubungan Singkat Satu Fasa Ketanah Untuk Koordinasi Setting Ground Fault Relay (GFR) Pada Penyulang Feeder 20 Kv (GI Batu Sangkar Feeder Tigo Jangko ) Zulkarnaini Zulkarnaini; Samsul Bahri
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 No 1 Februari 2012
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.833 KB)

Abstract

Dalam setiap sistem tenaga listrik selalu digunakan sistem proteksi atau pengaman untuk mengantisipasi apabila terjadi gangguan. Sistem proteksi ini diperlukan untuk memisahkan bagian yang mengalami gangguan dengan yang tidak mengalami gangguan sehingga sistem dapat menjalankan operasinya. Apabila peralatan proteksi atau pengaman memberikan respon yang salah terhadap gangguan maka terjadi tripping ikutan/palsu yaitu peristiwa yang menggambarkan kejadian ketika suatu peralatan proteksi merespon/menanggapi secara salah atau tidak diharapkan pada suatu kondisi atau keadaan sistem tenaga listrik yang sedang mengalami gangguan. Tripping ikutan ini dapat terjadi pada peralatan pengaman atau proteksi yang dihubungkan seri pada penyulang yang sama, sehingga apabila terjadi gangguan pada penyulang tersebut maka dua atau lebih peralatan pengaman pada penyulang itu akan mengalami tripping. Tripping ikutan juga dapat terjadi pada penyulang penyulang lainnya pada bus yang sama. Hasil Penelitian ini dapat meminimalkan trip yang terjadi pada penylang yang disebabkan oleh gangguan Tripping ikutan dengan menggunakan rele gangguan tanah inverse time pada gangguan satu saluran ke tanah dengan settingan relay pada Gardu Induk (GI) Batu Sangkar pada express feeder untuk jarak 0% 0,6805 dt dan untuk feeder Tigo Jangko 0,3detik. Begitu juga pada jarak 100 % maka settingan waktu relay untuk Exspress feeder adalah 2,1367 dan untuk feeder Tigo Jangko adalah 0,9431 dt.
EVALUASI KOORDINASI OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR) PADA FEEDER GH LUBUK BUAYA Zulkarnaini Zulkarnaini; Ujang Rahman Hakim
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 16, No 1 (2014): Volume 16 No 1 Februari 2014
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.139 KB)

Abstract

Tingkat keandalan distribusi tenaga listrik PT. PLN (Persero) Area Padang Rayon Tabing masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh: Pertama, pada tahun 2012 ini terjadi perubahan pada pembangkitan daerah sumatera bagian tengah sehingga berpengaruh terhadap nilai MVA short circuit yang ada di GI PIP. Kedua, adanya penambahan beban pada Feeder Adinegoro yang harus memikul beban Feeder Air Tawar sehingga beban meningkat dua kali lipat dari semula (70 A menjadi 134 A) dan panjang jaringan juga menigkat dari 11.87 kms menjadi 40.57 kms. Setelah dilakukan analisa terhadap perubahan arus gangguan yang muncul serta koordinasi setting relay proteksi GH Lubuk Buaya, didapati bahwa nilai setting arus OCR moment pada incoming dan masing-masing Feeder di outgoing GH perlu dilakukan perubahan karena kurang efektif. Setting arus instan terlalu kecil sehingga menyebabkan relay pada incoming akan sama-sama merasakan arus gangguan hubung singkat 2 untuk jarak gangguan kurang dari 30 % panjang masing-masing outgoing. Hasil Penelitian ini dapat meminimalkan trip (pemutusan) yang terjadi pada penyulang. Dimana Setting ulang waktu kerja pada rele outgoing di set 0,3 sec dan untuk setting waktu kerja incoming GH Lubuk Buaya di set 0,6 dimana ada grading time sebesar 0,3 sec. Setting ulang ini dimaksudkan agar rele tidak sampai trip lagi akibat arus Inrush dari trafo-trafo distribusi yang memang sudah tersambung di jaringan distribusi, sewaktu PMT penyulang tersebut dimasukkan. Sehingga untuk mengkoordinasikan kembali dapat digunakan setting relay hasil analisa yang terdapat pada tabel Incoming dan Outgoing Feeder GH Lubuk Buaya ,
DATA TERKINI BAHASA MINANGKABAU MELALUI PENAMAAN DAERAH: (Upayakan Pembudayaan Bagi Keaslian Nama Daerah Di Sumbar) Welya Roza; Zulkarnaini Zulkarnaini; Muslim Tawakal
Jurnal Visipena Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.178 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v11i1.1085

Abstract

This article covers the effort to restore the originality of regional names in West Sumatra. The effort aims to fulfill the mandate of UUD 1945.The chapters and verses on the language are included in Section XV, Article 36 UUD 1945 Subsection (4) mentions: "The naming as referred to in subsection (1) and subsection (3) may use regional language or foreign language when it has historical, cultural, customs, and/or religious values." There is almost no society in West Sumatera who reads, understands, and follow up the mandate of the UUD 1945 until 74 years of Indonesian independence. This article reports the results of the ‘qualitative-descriptive’ research on the names of areas in Padang City, one of the level II regions of West Sumatra. The regional names of the villages (103) at 11 sub-district of Padang was recorded, listed, and grouped. The name was confirmed by the authenticity of two respondents/public figure and government.It is noted that 70% of the regional names in Padang have been damaged; among others, using Indonesian vocabulary or vocabulary that is not in Minangkabau language and/or Indonesian at all. This percentage, then based on Kemendagri’s website, is assumed to reach 80% for regional name damage in all 19 regions in West Sumatera. The total number of nagari-level regions in West Sumatera is 903 units. The next research projects the ultimate goals: (1) the written regional naming document in Sumbar: the book of the regional name origin (historical value) and the book/dictionary of regional naming of Sumbar; (2) the birth of Perda Sumbar to return the original name of the district of Sumbar; and (3) desimination (1) and (2) on 19 district/city of Sumbar. Abstrak Artikel ini mencakup upaya mengembalikan keaslian nama daerah di Sumbar. Upaya tersebut bertujuan untuk memenuhi amanat UUD 1945. Pasal dan ayat tentang kebahasaan dimuat pada Bab XV, Pasal 36 UUD 1945 Ayat (4) berisi: “Penamaan sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1) dan Ayat (3) dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat-istiadat, dan/atau keagamaan.” Hampir tidak ada masyarakat Sumbar yang membaca, memahami, dan menindaklanjuti amanat UUD 1945 itu sampai 74 tahun kemerdekaan Indonesia. Artikel ini melaporkan hasil penelitian ‘kualitatif-deskriptif’ tentang nama-nama daerah di Kota Padang, salah satu dari daerah tingkat II di Sumbar. Nama daerah se-tingkat kelurahan (103) pada 11 kecamatan Kota Padang dicatat, didaftar, dan dikelompokkan. Daftar nama itu dikonfirmasikan keasliannya kepada 2 orang responden/tokoh masyarakat dan pemerintah. Tercatat bahwa 70% nama daerah itu rusak; di antaranya, menggunakan kosa kata bahasa Indonesia atau kosa kata yang tidak ada dalam bahasa Minangkabau dan/atau bahasa Indonesia. Persentase ini kemudian, sesuai dengan data pada laman Kemendagri, diasumsikan mencapai 80% untuk kerusakan seluruh nama daerah di 19 kabupaten dan kota Sumbar. Jumlah keseluruhan daerah setingkat nagari di Sumbar adalah 903 buah. Penelitian lanjutan memproyeksikan sasaran akhir: (1) tersusunnya dokumen penamaan daerah di seluruh wilayah Sumbar: buku asal-usul nama daerah (nilai sejarah) dan buku dan/atau kamus penamaan daerah Sumbar, (2) lahirnya Perda Provinsi Sumbar ‘pengembalian nama asli daerah Sumbar’; dan (3) desiminasi (1) dan (2) pada 19 kabupaten dan kota Sumbar. Kata Kunci: amanat UUD 45, penamaan daerah, bahasa indonesia dan minangkabau, perda
ANALISA KOORDINASI OVER CURRENT RELAY PADA PABRIK CEMENT MILL INDARUNG III PT. SEMEN PADANG Zulkarnaini Zulkarnaini; Sepriadi Sepriadi
Rang Teknik Journal Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 No. 1 Januari 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.479 KB) | DOI: 10.31869/rtj.v4i1.1950

Abstract

Sistem proteksi mempunyai peran penting untuk mencegah kerusakan lebih parah akibat adanya gangguan dalam sebuah sistem tenaga. Sehingga jaringan sistem tenaga bisa bekerja sesuai dengan performa yang diharapkan. Analisa dan pengecekan keandalan koordinasi rele proteksi bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan performa kerja rele proteksi. Sebelum pensimulasian dilakukanlah perhitungan secara manual untuk mendapatkan nilai arus setting over current relay, arus pick-up, time dial, serta karateristik instantanius over current relay. Kemudian hasil perhitungan itu dijadikan sebagai input pada software ETAP 12.6. Hasil running simulasi protective device coordination dan hasil analisa pada enam (6) kali skenario gangguan yang dilakukan diperoleh, bahwa sistem proteksi pada jaringan distribusi pabrik Pabrik Cement Mill Indarung III PT. Semen Padang masih bekerja dengan baik. Dari 6 kali scenario gangguan yang dilakukan, terdapat koordinasi rele OCR yang baik dan kurang baik yang terbawah .Koordinasi terbaik adalah koordinas rele OCR pada scenario keenam yaitu gangguan pada bus MDB 4.2. Rele OCR yang dikoordinasikan adalah rele trafo 4.2 dengan rele Incoming Z1, dimana perbedan nilai Time Dial-nya adalah 0.09 dengan perbedaan waktu trip CB rele trafo 4.2 dengan CB rele incoming Z1 adalah 25 ms. Sedangkan urutan koordinasi terbawah adalah koordinasi pada scenario pertama yaitu gangguan pada bus MDB PG. Rele OCR yang dikoordinasikan adalah rele trafo 2 dengan rele incoming PG, dimana perbedaan nilai Time Dialnya adalah 0.51 dengan perbedaan waktu trip CB rele trafo 2 dengan CB incoming PG adalah 870 ms.
Proposal of analysis method to reduce back-flashover rate taking account of tower footing resistance Yusreni Warmi; Zulkarnaini Zulkarnaini; Abdul Rajab; Chitra Yuanisa; Rizki Oktrinanda Elyas; Andi M. Nur Putra; Zuriman Anthony
International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) Vol 13, No 1: February 2023
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijece.v13i1.pp94-106

Abstract

The number of lightning stroke on the tower of the 150 kV Koto Panjang-Payakumbuh transmission line located the rocky area has been observed. The high value of tower footing resistance indicates the occurrence of the back-flashover in the transmission line at intensity of 74%. The back-flashover occurrence is dominantly triggered by the tower footing resistance value. Also, the rate of back-flashover has an effect on the value of the tower footing resistance by considering the number of electrode installations. A design is proposed for the grounding system of the tower footings in order to reduce the rate of back-flashover. The results presenting in numerical simulation indicates that it works properly after adding 4 electrodes. That is to say, installing 4 electrodes in each tower has successfully decreased the tower footing resistance value, back-flashovers rate 80% and 90-95% of present value respectively. The insulator voltage can be reduced to less than half of the present voltages as much as 30-50%. In more detail, in tower 77, the value of the tower footing resistance drops to 2.84 Ω, the flashover rate drops to 0.57/100 km/year and the insulator voltage drops to 0.99 MV when a disturbance occurs.
A new windings design for improving single-phase induction motor performance Zuriman Anthony; Erhaneli Erhaneli; Yusreni Warmi; Zulkarnaini Zulkarnaini; Anggun Anugrah; Sepannur Bandri
International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) Vol 12, No 6: December 2022
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijece.v12i6.pp5789-5798

Abstract

Single-phase induction (asynchronous) motors are widely used at home. These motors have two windings and usually operate at a lower performance than 3-phase asynchronous motors which have three windings. For this reason, this study aims to design a new winding of a single-phase asynchronous motor by increasing the number of phases in the motor windings in order to increase the performance of the motor. This research was focused on 36 slot capacitor-start capacitor-run asynchronous motor. The design used 4 non-identical windings in the motor, where three windings acted as auxiliary windings and one winding acted as main winding. The rated current of the designed motor winding was 2.74 A for the main winding and 3.15 A for the auxiliary winding. The performance of the designed motor compared to the traditional single-phase asynchronous motor with the same structure of stator, rotor, and rated current. A traditional single-phase asynchronous motor had data: 1 HP, 220 V, 8.3 A, 1440 RPM, 50 Hz, and 4 poles. The results of this study indicated that the designed motor operated with power factors almost close to unity and had higher output power, torque, and efficiency than the traditional single-phase asynchronous motors.
EVALUASI SISTEM KELISTRIKAN RUANGAN VIP RSUD DR MUHAMMAD ZEIN PAINAN Trino Juni Susanto; Zulkarnaini Zulkarnaini
Ensiklopedia Research and Community Service Review Vol 2, No 1 (2022): Vol. 2 No. 1 Jilid 2 Oktober 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RSUD Dr Muhammad Zein Painan didirikan pada tahun 1930 Sejalan pembangunan serta kelistrikanya tepatnya berada didaerah Pesisir Selatan di Provinsi Sumatera Barat.Oleh karena itu mengevaluasi dan menganalisa kembali pada Gedung VIP RS, terutama pada sistem kelistrikan dan penerangan. Penilitian ini untuk mengetahui apakah sesuai standart PUIL 2011 atau tidak yang akan bisa membahayakan orang sekitar serta kenyamanan dan perangkat elektromedis didalamnya. Hasil penelitian kualitas instalasi listrik menunjukkan dokumen gambar instalasi,rekapitulasi daya dan denah gedung tidak ada sehingga penulis membuat analisa gambar denah instalasi dan rekapitulasi daya, Serta pengaman yang digunakan belum sesuai dengan beban yang digunakan pada panel MDP (main distribution panel), Untuk pencahayaan ruangan pasien inap berkisar sebesar 250 lux dan toliet dari 100-200 lux berstandar PUIL 2011, Pengukuran digital lux meter mendapat data lux bervariasi setiap ruangan dikarenakan faktor defresiasi lampu dan kotoran sehingga perlu di normalisasikan kembali, serta membandingkan perhitungan secara manual dan metode software DIALUX 11.0 versi tahun 2022 untuk mendapatkan nilai 250 lux, Dialux mendapatkan 3 titik lampu dengan 2000 lumen setiap lampunya sedangkan perhitungan manual mendapat 2 titik lampu pada ruangan. Pengukuran Pentanahan dinyatakan baik yaitu 43,8 dalam range 200 ohm serta jenis tahanan tanah yaitu masuk dalam jenis tanah rawa 6,24  Kata Kunci: Instalasi, Pencahayaan, Pentanahan, Puil 2011,Software DIALUX 11.0 versi 2022
Analisa Kelayakan Sistem Pentanahan Area Wokrshop Plant PT. Saptaindra Sejati Job Site Boro Fauzan Iqbal; Sitti Amalia; Zuriman Anthony; Zulkarnaini Zulkarnaini
Journal on Education Vol 5 No 3 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Workshop is the sole construction project owned by PT. Saptaindra Sejati Job Site Boro. There are 4 newly constructed workshops that each have unique functions. With a roof area of somewhat more than 720 m2 and a height of 20 meters. The most important bangunan in the business's area is the workshop. This raises a number of risks, the most significant of which is bangunan tersambar petir since sifat petir dominan menyambar tempat tertinggi. Approximately 7 computers crashed after the petir sambaran. Where the computer in question contains important company data. Without any analysis or corrective action, this situation could result in operational deterioration and reduce a company's profit. In the year 2021, PT. Saptaindra Sejati Job Site Boro certified a kelayakan system pentanahan. The goal of the certification was to understand kelayakan bangunan prior to use and to obtain a certificate from KTT (Kepala Teknik Tambang) PT. Borneo Indobara. The results of the previous system certification for the building's workshop were good and clearly stated. However, uji kelayakan ulang system pentanahan bangunan dan penangkal petir workshop did not yet take place in 2022. According to Pemerintah Uji regulations, pentanahan is carried out every two years, while, according to PUIL, every six months. It was determined through analysis and testing that the voltages for sentuh and long-wave tegangan with a frequency of 0.5 seconds each had been determined to be within acceptable standards, i.e., 173,891 and 155,371 Volt, respectively. As a result, it was possible to state that the pentanahan system in the workshop area was functioning properly.