Erwin G. Kristanto
Department of Forensic and Medicolegal Science, Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi, Manado

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Gambaran Kasus Kejahatan Kekerasan Seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2017-Desember 2019 Latjengke, Aditya P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30181

Abstract

Abstract: Rape or sexual violence is very prominent in this globalization era. This sudy was aimed to obtained the profile of sexual violence crimes in Forensic Department of RS Bhayangkara Tingkat III in the period of January 2017 to December 2019. This was a retrospective and descriptive study using visum et repertum. Data were presented in tables of frequency distribution. There were 305 cases of sexual violence crimes in this study; 152 cases were 12-16 years (teenagers). Most victims were females (304 cases); had occupation/education as students (184 cases); and lived in Manado (169 cases). Perpetrators of sexual violence crimes were friends of the victims (108 cases). In conclusion, the majority of sexual violence victims were 12-16 years old (teenagers), females, had occupation/education as students, and lived in Manado. Most perpetrators were friends of the victims.Keywords: sexual violence crimes, victims, perpetrators Abstrak: Fenomena kejahatan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada era globalisasi saat ini sangat menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus kejahatan kekerasan seksual di Bagian Forensik RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2017-Desember 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian mendapatkan 305 kasus kejahatan kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual berusia 12-16 tahun (masa remaja awal) yaitu 152 kasus. Jenis kelamin korban yang terbanyak ialah perempuan yaitu 304 kasus. Pekerjaan/pendidikan korban ialah pelajar sebanyak 184 kasus. Alamat korban terbanyak berada di Kota Manado yaitu 169 kasus. Pelaku kejahatan kekerasan seksual yang terbanyak ialah teman korban yaitu 108 kasus. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas korban kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado berusia 12-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan/pendidikan sebagai pelajar dengan alamat di Kota Manado. Pelaku kekerasan seksual terbanyak ialah teman korban.Kata kunci: kejahatan kekerasan seksual, korban, pelaku
POLA SERANGGA NEKROFAGUS PADA DEKOMPOSISI HEWAN COBA INDOORS DI KOTA MANADO Wangko, Sunny; Kristanto, Erwin G.; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5552

Abstract

Abstract: Studies of insect succession in indoor carcasses are still very rare reported. This study aimed to obtain the succession pattern of necrophagus insects in indoor carcass in Manado. One domestic pig was used as model, and killed with a cardiac puncture. The results showed that the duration of decomposition took 16 days to reach skeletonization. There were 3 orders found, as follows: Diptera, Coleoptera, and Hymenoptera, consisting of  8 families and 12 species. Albeit, insects that colonized in the carcasses were Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, Sarcophaga harpax, Hermetia illucens, Dermestes maculatus, and several species of Muscidae. Both species of Chrysomya and Sarcophaga harpax can be applied in PMI estimation at early stage of decomposition meanwhile Hermetia illucens and Dermestes maculatus at late stage of decompostion. To our knowledge, this is the first study of decomposition and insect succession indoors in a coastal area in Indonesia. Moreover, this is the first report of Sarcophaga harpax which is biomolecularly identified with mtDNA in Indonesia. Further studies are needed to support the database of forensic insects in Indonesia, especially in Manado. Keywords: decomposition, indoors, necrophagus insects, colonization     Abstrak: Studi mengenai suksesi serangga indoors masih sangat jarang dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola serangga nekrofagus pada bangkai hewan coba indoors di Manado. Sebagai hewan coba digunakan satu ekor babi domestik yang dimatikan dengan tusukan pada jantung. Hasil penelitian memperlihatkan dekomposisi hewan coba indoors di kota Manado memerlukan 16 hari untuk mencapai skeletonization. Serangga yang berkunjung ke hewan coba tergolong dalam 3 ordo, yaitu: Diptera, Coleoptera, dan Hymenoptera, yang terdiri atas 8 famili dan 12 spesies. Serangga yang ditemukan berkolonisasi pada bangkai hewan coba ialah Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, Sarcophaga harpax, Hermetia illucens, Dermestes maculatus, dan beberapa spesies Muscidae. Kedua spesies Chrysomya dan Sarcophaga harpax dapat dimanfaatkan dalam perkiraan PMI pada dekomposisi awal, sedangkan Hermetia illucens dan Dermestes maculatus dapat dimanfaatkan pada dekomposisi lanjut. Penelitian mengenai dekomposisi dan suksesi serangga indoors ini merupakan yang pertama di daerah pesisir di Indonesia. Terdapatnya Sarcophaga harpax yang diidentifikasi secara biomolekular dengan mtDNA juga merupakan yang pertama kali dilaporkan di Indonesia. Studi lanjut dibutuhkan untuk menyokong database serangga forensik di Indonesia, khususnya Manado. Kata kunci: dekomposisi, indoors, serangga nekrofagus, kolonisasi
Kelengkapan Rekam Medik Kasus Kekerasan Fisik akibat Tindak Pidana di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode September 2017- Agustus 2018 Lumentut, Cherryl A.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 1 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.1.2019.23208

Abstract

Abstract: Complete medical record is clearly important to health service of a hospital. In cases of violence, medical records play a significant role in law enforcement. Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital is categorized as type A service hospital that has been fully accredited in 2015. Therefore, its medical personnels should be responsible for the completeness of each patient’s medical record, especially of violence cases. This study was aimed to determine the completeness of physical violence cases’ medical records due to criminal acts at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in the period of September 2017-August 2018. This was a descriptive retrospective study. The results obtained as many as 40 cases of physical violence due to criminal acts. The medical record completeness of physical violence cases due to criminal acts were as follows: in Emergency Care 40%, inpatients 12%, surgery 58.82%, anesthesia/ sedation 45.45%, blood transfusion 66.67%, and informed consent 96.87%. Conclusion: In physical violence cases due to criminal acts, the medical record completeness with informed consent had higher percentage than the other medical record documents.Keywords: completeness of medical record, physical violence casesAbstrak: Kelengkapan rekam medik merupakan hal penting dalam pelayanan kesehatan dari suatu rumah sakit. Dalam kasus kekerasan, rekam medik berperan dalam penegakan hukum. RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou sebagai rumah sakit pelayanan tipe A yang telah terakreditasi paripurna pada tahun 2015, sudah seharusnya kelengkapan rekam medis bagi setiap pasien menjadi tanggung jawab tenaga medis terutama rekam medik kasus kekerasan yang ada di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan rekam medik kasus kekerasan fisik akibat tindakan pidana di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode September 2017 - Agustus 2018. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 40 kasus kekerasan fisik akibat tindak pidana. Secara keseluruhan kelengkapan rekam medik pada kasus kekerasan fisik akibat tindak pidana di Instalasi Rawat Darurat sebesar 40%, rawat inap 12%, tindakan operatif 58,82%, tindakan anestesi/sedasi 45,45%, transfusi darah 66,67%, dan informed consent 96,87%. Simpulan: Pada kasus kekerasan fisik akibat tindakan pidana, kelengkapan rekam medik dengan informed consent memiliki persentase yang lebih tinggi daripada berkas rekam medik lainnya.Kata kunci: kelengkapan rekam medik, kasus kekerasan fisik
Angka Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Manado Tahun 2018-2019 Tumewu, Rebennia; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31704

Abstract

Abstract: Domestic violence is universal and can occur regardless of age, profession, economic level or education of the victims. According to World Health Organization, 1 in 3 women in the world had experienced physical or sexual violence. In addition, according to the British Crime Survey, 1/3 of victims of domestic violence were male. This study was aimed to obtain the number of domestic violence cases in Manado during 2018-2019. This was a retrospective and descriptive study with a cross-sectional design using secondary data of domestic violence case reports at Polresta Manado regarding domestic violence in Manado 2018-2019. The results showed that there were 111 cases of domestic violence in 2018-2019 in Manado. Most cases occurred at Sario District (14 cases; 13%) dominated by physical violence (78 cases; 70%), committed by male perpetrators (101 cases; 91%), husbands of the victims (101 cases; 91%), and age group of 15-24 years (43 cases; 39%). In conclusion, there was a fluctuation in the number of domestic violence cases; an increase of 51.3% comparing to the number of cases in 2012-2013 and a decrease of 27.4% comparing to the number of cases in 2015-2016.Keywords: domestic violence Abstrak: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang universal dan dapat terjadi tanpa memandang usia, profesi, tingkat ekonomi, maupun pendidikan dari korban. Menurut data WHO (World Health Organization), 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual. Selain itu, menurut British Crime Survey, 1/3 korban KDRT ialah laki-laki.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka kasus KDRT di Kota Manado tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Data sekunder yaitu laporan kasus KDRT di Polresta Manado mengenai KDRT di Kota Manado pada tahun 2018-2019. Hasil penelitian mendapatkan, kasus KDRT pada tahun 2018-2019 di Kota Manado berjumlah 111 kasus, paling banyak terjadi di Kecamatan Sario (14 kasus; 13%), didominasi oleh jenis kekerasan fisik (78 kasus; 70%), pelaku berjenis kelamin laki-laki (101 kasus; 91%), yang merupakan suami korban (101 kasus; 91%), dan paling sering dialami oleh kelompok usia 15-24 tahun (43 kasus; 39%). Simpulan penelitian ini ialah terdapat fluktuasi angka kasus KDRT dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2012-2013 yaitu terjadi peningkatan sebanyak 51,3% dan terjadi penurunan 27,4% bila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2015-2016.Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Gambaran Kasus Gantung Diri di Kota Manado Periode Tahun 2018-2019 Rapang, Eflika C.; Kristanto, Erwin G.; Mallo, Nola T. S.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 12, No 2 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.2.2020.29628

Abstract

Abstract: Suicide by hanging has become one of the most global problems and the second highest cause of deaths in Indonesia’s population of 15-29 years old. This study was aimed to obtain the case description of suicide by hanging in Manado from 2018 to 2019. This was a retrospective and descriptive study using data of the Police Station in Manado. The results showed that there were 13 cases of suicide by hanging during 2018-2019 consisted of 6 cases in 2018 and 7 cases in 2019. The majority of cases were male (13 cases), age between 17-25 years old (4 cases), senior high school educated (7 cases), unemployment (6 cases), using nylon straps to hang themselves (9 cases), with love problems as modus (5 cases). In conclusion, the number of suicide by hanging cases in 2019 was higher than in 2018. Most cases were male, aged 17-25 years old, with love problem as the motive/modus.Keywords: suicide, suicide by hanging Abstrak: Bunuh diri dengan cara gantung diri telah menjadi salah satu masalah global dan menjadi penyebab kedua kematian pada usia produktif 15-29 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus gantung diri di Kota Manado periode tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospketif menggunakan data dari Polresta Manado. Hasil penelitian mendapatkan 13 kasus gantung diri. Kasus gantung diri lebih banyak pada tahun 2019 yaitu 7 kasus. Jenis kelamin terbanyak yang melakukan gantung diri ialah semuanya berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 13 kasus. Usia terbanyak ialah 17-25 tahun (masa remaja akhir) sebanyak 4 kasus. Pendidikan terbanyak ialah pendidikan akhir SMA sebanyak 7 kasus. Pekerjaan terbanyak ialah tidak memiliki pekerjaan sebanyak 6 kasus. Benda yang digunakan terbanyak ialah tali nilon sebanyak 9 kasus. Modus/motif terbanyak melakukan gantung diri karena masalah percintaan/asmara sebanyak 5 kasus. Simpulan penelitian ini ialah jumlah kasus gantung diri di Kota Manado tahun 2019 lebih banyak dibandingkan tahun 2018. Kasus terbanyak ialah berjenis kelamin laki-laki, usia produktif 17-25 tahun, dengan modus/motif melakukan gantung diri karena masalah percintaan.Kata kunci: bunuh diri, gantung diri
Hubungan Usia, Pendidikan dan Pekerjaan dengan Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Manado Hutahaean, Yunita; Kristanto, Erwin G.; Mallo, Nola T. S.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.53565

Abstract

Abstract: Violence often occurs in personal relationships where the abuser is the person closest to the victim, and can involve anyone, including wife, children, and even people who live with the perpetrator. This study aimed to evaluate the relationship between age, education, and occupation with cases of domestic violence in Manado. The results showed that there were 49 victims of domestic violence cases with the overall gender of the victims was female (100%). Majority of victims were aged 15-64 years (87.76%), had high educational background (83.7%) and occupation status not working (81.6%). The chi-square analysis showed that age (p=0.016), education level (p=0.05), and occupational status (p=0.011) had significant relationships with the incidence of domestic violence cases in Manado city. In conclusion, there is a significant relationship between age, education, and occupation with the incidence of domestic violence in Manado. Keywords: age; education; occupation; domestic violence   Abstrak: Kekerasan kerap terjadi dalam hubungan personal dimana pelaku kekerasan ialah orang terdekat dengan korban, dan bisa melibatkan siapa saja termasuk istri, anak-anak, dan bahkan orang yang tinggal bersama pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan usia, pendidikan dan pekerjaan terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Manado. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 49 korban kasus KDRT dengan keseluruhan jenis kelamin korban yaitu perempuan (100%). Mayoritas korban tergolong kategori usia produktif yaitu 15-64 tahun (87,76%) dengan latar belakang pendidikan yang tinggi (83,7%) dan status pekerjaan tidak bekerja (81,6%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa usia (p=0,016), tingkat pendidikan (p=0,05), dan status pekerjaan (p=0,011) memiliki hubungan bermakna terhadap kejadian kasus KDRT di Kota Manado. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara usia, pendidikan, dan pekerjaan dengan kejadian kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kota Manado. Kata kunci: usia; pendidikan; pekerjaan; kekerasan dalam rumah tangga
Gambaran Hasil Autopsi di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2020 - Desember 2022 Setiawan, Dwipania P.; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53427

Abstract

Abstract: The rise in cases of natural or unnatural deaths in Manado has led to suspicions about the cause of death; therefore, the police will ask for help from forensic doctors to carry out autopsies. This study aimed to obtain the autopsy description, especially at Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado for the period of January 2020 - December 2022. This was a retrospective and descriptive study using data from the visum et repertum results. The results showed that there were 97 autopsy cases; 21 of which were excluded. The most frequent cases were in 2021 and 2022, namely 28 cases (36.84%). Most cases were male (89.47%). The largest age group was early adulthood (26-35 years) (28.95%). The most common cause of death was unnatural death (92.1%), with sharp violent death cases (92.1%). For natural deaths, cardiovascular disease and lung disease were the highest (each of 50%). In conclusion, autopsies are often performed on men in early adulthood (26-35 years), with unnatural deaths in cases of sharp violence, while the most common natural deaths are cardiovascular and lung diseases. Keywords: autopsy; cause of death; sharp violence; cardiovascular disease; lung disease    Abstrak: Maraknya kasus kematian wajar atau tidak wajar di Manado menyebabkan munculnya kecurigaan tentang sebab kematian sehingga dari pihak kepolisian akan meminta bantuan ahli dokter forensik untuk dilakukan autopsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran autopsi terutama di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2020 – Desember 2022. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 97 kasus yang di autopsi; 21 di antaranya dieksklusi. Kasus terbanyak pada tahun 2021 dan 2022 yaitu 28 kasus (36,84%). Sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki (89,47%). Kelompok usia terbanyak yaitu dewasa awal (26-35 tahun) (28,95%). Penyebab kematian  terbanyak ialah kematian tidak wajar (92,1%), dengan kasus kematian kekerasan tajam (92,1%). Untuk kematian wajar didapatkan penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak (masing-masing 50%). Simpulan penelitian ini ialah autopsi yang sering dilakukan pada jenis kelamin laki-laki, usia dewasa awal (26-35 tahun), dengan kematian tidak wajar kasus kekerasan tajam, sedangkan pada kematian wajar penyebabnya ialah penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak. Kata kunci: autopsi; sebab kematian; kekerasan tajam; penyakit kardiovaskuler; penyakit paru
Gambaran Pola Luka dan Prevalensi Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2022-2023 Tulung, Margaretha A.; Kristanto, Erwin G.; Tomuka, Djemi
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 2 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i2.59606

Abstract

Abstract: Traffic accidents have become one of the health problems causing various material and non-material losses. Victims of traffic accidents can suffer from minor injuries to potentially fatal ones. Patient data on traffic accident cases, including injury patterns, plays a significant role for medical institutions, law enforcement, and the community. These injury patterns may vary among different regions due to various factors. This study aimed to determine the pattern of wounds and the prevalence of traffic accident cases in the Department of Forensic Medicine and Medicolegal at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the years 2022-2023. This was a descriptive and retrospective study, using secondary data from Visum et Repertum (VeR) reports of deceased victims due to traffic accident. The results showed that the total number of victims was 36 cases, with 28 victims meeting the inclusion-exclusion criteria. Throughout the years 2022-2023, the highest number of cases occurred in March, with a total of six fatalities. The majority of victims were male, and the most common age group was 17-25 years old (28.57%). The most frequently type of injury was abrasion (54.7%), primarily located on the head and face. The majority of victims were drivers (28.5%), with motorcycles being the most commonly involved vehicles. In conclusion, the majority of cases were male, age group 17-25 years, had abrasion primary located on the head and face, and roled as motorcycle drivers. Keywords: traffic accident; pattern of wounds   Abstrak: Kecelakaan lalu lintas (KLL) menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan yang menyebabkan berbagai kerugian material dan non material. Korban KLL dapat mengalami cedera ringan hingga berpotensi menyebabkan kematian. Keberadaan data pasien kasus kecelakaan lalu lintas berupa karakteristik dan gambaran pola luka, memiliki peran signifikan bagi instansi medis, aparat hukum, dan masyarakat. Gambaran pola luka dapat mengalami perbedaan antara korban kecelakaan lalu lintas di suatu daerah dengan daerah yang lain karena berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola luka dan prevalensi kasus KLL di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2022-2023. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data sekunder dari Visum et Repertum (VeR) korban meninggal dari kasus KLL. Hasil penelitian mendapatkan bahwa jumlah keseluruhan korban sebanyak 36 kasus dengan 28 korban memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sepanjang tahun 2022-2023 kasus terbanyak terjadi di bulan Maret dengan total enam korban meninggal. Korban terbanyak berjenis kelamin laki-laki, dan usia pada kelompok 17-25 tahun (28,57%). Jenis luka terbanyak berupa luka lecet (54,7%), dengan lokasi tersering pada bagian kepala dan wajah. Jenis peran korban terbanyak sebagai pengemudi (28,5%) dengan kendaraan paling banyak terlibat berupa sepeda motor (32,14%). Kata kunci: kecelakaan lalu lintas; pola luka