Zaenal Abidin
Fakultus Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, Indonesia

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA GRATITUDE DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA BIDIKMISI ANGKATAN 2016 UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Dea Ulfah Fauziyah; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 (Agustus 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.545 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.26504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gratitude dengan psychological well-being pada mahasiswa Bidikmisi angkatan 2016 Universitas Diponegoro Semarang. Psychological well-being merupakan perasaan puas akan kemampuannya dalam menghadapi tantangan dan rintangan hidup sehingga dapat menjalani hidup sepenuhnya dan sadar akan diri sendiri melalui pengalamannya pribadi. Gratitude didefinisikan sebagai rasa terimakasih atas apa yang telah ia terima selama hidupnya, baik itu berupa hadiah ataupun manfaat yang ia terima dari pihak lain. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa Bidikmisi angkatan 2016 Universitas Diponegoro yang berjumlah 1.156 orang dengan sampel penelitian 280 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu Skala Gratitude (38 item, α=0,927) dan Skala Psychological Well-being (28 item, α=0,934). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik non parametrik yaitu dengan Spearman Rho, berdasarkan uji korelasi Spearman Rho diperoleh rs=0,656, dengan p=0,000 (p<0,005), sehingga terdapat hubungan positif dan signifikan antara gratitude dengan psychological well-being pada mahasiswa Bidikmisi angkatan 2016 Universitas Diponegoro Semarang.
PENGALAMAN MENJADI ABDIDALEM PUNOKAWAN KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT: Studi Kualitatif dengan Interpretative Phenomenological Analysis Priatama Gani Susila; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 (Januari 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.383 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15062

Abstract

Abdidalem adalah seseorang yang melakukan pengabdian dengan tulus ikhlas untuk Keraton dan dalam pengabdiannya tersebut mereka mengharapkan berkah dari Keraton berupa rasa perlindungan dan ketentraman dalam menjalani kehidupan. Penelitian ini bertujuan memahami dunia pengalaman dan apa yang melatarbelakangi subjek menjadi abdidalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta mengetahui apa yang dirasakan abdidalem selama mengabdi pada Keraton. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang laki-laki. Peneliti mendasarkan diri pada pendekatan fenomenologis, khususnya IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Peneliti menemukan tiga pokok inti dalam penelitian ini, yang terdiri dari: perjalanan menjadi abdidalem; dinamika kehidupan abdidalem; dan penghayatan menjadi abdidalem. Tahapan yang harus dilalui subjek untuk dapat diterima sebagai abdidalem adalah sowan bekti dan magang. Menjadi abdidalem merupakan sebuah pilihan dalam hidup subjek. Dorongan subjek untuk mengabdi adalah mencari perlindungan Keraton dan keinginan mendapatkan berkah Keraton berupa kesehatan dan rasa ketentraman. Keinginan melestarikan budaya Jawa dan mendapatkan wawasan seputar Keraton menjadi faktor pendorong lainnya. Subjek sangat berkomitmen terhadap kewajibannya sebagai abdidalem di Keraton. Dalam kehidupannya, abdidalem tetap aktif bersosialisasi dan memberikan pelayanan sosial untuk masyarakat sekitarnya. Abdidalem senang bisa menjadi bagian dari Keraton. Sifat nrimo dimiliki abdidalem dalam menerima kehidupannya dan mensyukuri nikmat yang diberikan padanya. Puncak pemaknaan terhadap pengalaman sebagai abdidalem adalah transformasi diri. Subjek merasakan perubahan yang berguna bagi diri serta kehidupannya. Subjek juga merasakan berkah ketentraman dalam menjalani hidup. Abdidalem juga mendapat wawasan tentang kebudayaan di Keraton. Makna Keraton bagi subjek adalah sebagai tempat mengharap berkah dan meminta perlindungan. Selain itu, Keraton juga sebagai sumber ilmu pengetahuan kebudayaan khususnya budaya Jawa.
Motivasi Kejehatan Repetitif Residivis DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN PATI Indra Widya Nugraha; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 (Agustus 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.928 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.5310

Abstract

Kejahatan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia di dunia. Salah satu perbuatan yang menyimpang dari norma pergaulan hidup manusia, kejahatan (tindak pidana) merupakan masalah sosial. Metode yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi. Sampel terdiri dari tiga orang berjenis kelamin laki-laki telah menjalani minimal 2 kali/lebih tahanan hukumandi Lembaga Pemasyarakatan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa, para residivis digerakkan olehfaktor internal meliputi kontrol diri lemah, ketagihan, habbit/kebiasaan, niat, keahlian/skill serta gaya hidup, sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi lingkungan/environment, adanya pengaruh orang lain, dan adanya faktor ekonomi, Penyebab-penyebab individu melakukan kejahatan berulang tersebut meliputi bagaimana hasil yang diperoleh sangat sesuai dengan keinginan subjek. Melakukan kejahatan tersebut dikarenakan niat dan jobseeker. Bebas dari Lapas para mantan narapidana masih mendapatkan stigma masyarakat yang menganggap mantan narapidana sebagai individu yang berbahaya jika kembali ke masyarakat.Ketiga subjek memiliki motivasi ketika melakukan tindak kejahatannya. Motivasi tersebut berbeda-beda dari tiap subjek. Subjek melakukan tindak kejahatan repetitif dikarenakan subjek sudah ahli, ketagihan dan kebiasaan. Motivasi melakukan tindak kejahatan tersebut menurut subjek adalah baik karena ingin membahagiakan keluarganya. Motivasi kejahatan repetitif tersebut dilakukan subjek karena adanya keinginan atau usaha untuk mencari uang dengan cepat dengan waktu yang singkat, hal ini yang disebut mentalitas instant.
MAKNA KLIWONAN BAGI TOKOH MASYARAKAT DI BATANG: (Studi Kualitatif Dengan Interpretative Phenomenological Analysis) Achmad Furqon; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.066 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15218

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk melihat pengalaman subjek dalam menjalankan tradisi Kliwonan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memahami makna tradisi Kliwonan menurut para tokoh masyarakat di Batang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Metode tersebut berfokus pada pengalaman yang diperoleh subjek melalui kehidupan pribadi dan sosialnya. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yakni tokoh masyarakat di Batang yang terdiri dari kepala Disbudpar, sesepuh adat dan ketua takmir Masjid Agung. Subjek dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam pengalamannya mengikuti tradisi Kliwonan terdapat tiga hal pokok yaitu: perjalanan melakukan tradisi Kliwonan, pemahaman nilai tradisi, dan konsekuensi positif pasca melakukan tradisi Kliwonan. Keputusan melakukan ritual didorong oleh keinginan dari dalam dirinya dan dukungan dari keluarga. Ritual ini bertujuan untuk tolak balak, mempercepat jodoh dan mendapatkan keberkahan. Subjek melihat adanya perubahan tata cara yang terjadi pada proses ritual antara dahulu dengan yang sekarang, dahulu orang datang selalu melakukan ritual namun sekarang orang yang datang hanya sekedar belanja di pasar malam karena Alun-alun sebagai tempat ritual telah betransformasi menjadi pasar malam. Ritual ini bagi subjek bermakna sebagai penghormatan kepada leluhur dan pengingat supaya lebih mendekatkan diri kepada Yang Kuasa, oleh karenanya subjek tetap berupaya untuk melestarikan tradisi-tradisi yang telah diwariskan di tengah segala perubahan yang terjadi. Hal positif yang didapatkan subjek dari tradisi Kliwonan ini adalah menjadi lebih aktif membantu orang lain. Subjek merasa bersyukur serta muncul rasa senang dan tentram dalam dirinya saat mampu menolong orang lain di sekitarnya.
RELIGIUSITAS PADA DEWASA AWAL YANG MEMILIKI ORANGTUA BERBEDA AGAMA: Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) Marsella Rosa Harahap; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.028 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana religiusitas pada seseorang yang menginjak fase dewasa awal sementara memiliki orangtua yang berbeda agama. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif-fenomenologis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) berdasarkan wawancara dengan subjek.  Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa berusia antara 20 sampai 22 tahun yang berada pada fase dewasa awal dan sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 dan memiliki orangtua dengan agama yang berbeda. Hasil wawancara dengan subjek menunjukkan subjek mengalami masalah keagamaan dalan keluarga, seperti kebingungan tata cara ibadah, tidak mendapatkan pendidikan agama, dan keingintahuan mempelajari agama lain. Selain itu, muncul keinginan subjek untuk berpindah agama ketika menjalani hubungan berpacaran, walaupun akhirnya kembali mempertahankan agama. Subjek dalam penelitian ini memilih agama dengan cara yang berbeda-beda, di antaranya mempelajari kitab suci agama lain, melalui pendidikan agama di sekolah, dan mengikuti agama salah satu orangtua. Dinamika setelah memilih agama dialami oleh ketiga subjek, terutama ketika menjalin hubungan pacaran dengan seseorang yang berbeda agama, seperti muncul keinginan untuk mengikuti agama pacar. Meskipun demikian, pada akhirnya ketiga subjek memutuskan untuk kembali mempertahankan agama masing-masing.
PENGALAMAN PSIKOLOGIS PELUKIS KAKI: Studi Kualitatif Fenomenologi pada Association of Mouth and Foot Painting Artist di Indonesia Zaenal Abidin; Achmad Mujab Masykur
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.059 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.13143

Abstract

Tuna daksa berusaha melawan perasaan rendah diri akibat ketidaksempurnaan fisik yang dimilikinya, perasaan tersebut mendorong tuna daksa untuk mencapai keberhasilan di suatu bidang.  Penelitian ini bermaksud memahami pengalaman psikologis pelukis kaki pada Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, DFI (Deskripsi Fenomenologi Individual) karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci mulai dari episode sebelum menjadi pelukis hingga sudah menjadi pelukis. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Subjek penelitian berjumlah dua orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Hasil riset menunjukan bahwa pengalaman psikologis subjek melalui tiga episode: 1) Episode sebelum menjadi pelukis subjek mengalihkan perasaan rendah diri dengan menggambar menggunakan kaki, membaca buku dan mengembangkan keterampilan; 2) Episode awal berisi tentang usaha subjek unggul di bidang seni lukis dengan  menjadi pribadi yang kreatif, yaitu giat berlatih, fokus dan menikmati proses, banyak mencari referensi ide, serta mampu meningkatkan kualitas hasil lukisan; 3) Episode setelah menjadi pelukis berisikan bagaimana subjek memaknai karya lukisan. SS memaknai karya seni sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan dalam membangun arti pada hidup, sedangkan SH memaknai karya lukisan sebagai daya motivasi yang membangkitkan semangat untuk bisa meraih keberhasilan.
EFEKTIVITAS SHOLAT TAHAJUD DALAM MENGURANGI TINGKAT STRES SANTRI PONDOK ISLAM NURUL AMAL BEKASI JAWA BARAT Mohammad Sabiq Azam; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.275 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.13133

Abstract

Stres dapat menyebabkan kerusakan fungsi biologis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sholat tahajud dalam menurunkan stres Santri Pondok Islam Nurul Amal Bekasi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen non randomized pretest posttest control group design. Hipotesis penelitian ada  2, yang pertama ada perbedaan tingkat stres individu kelompok pengamal sholat tahajud dan kelompok bukan pengamal sholat tahajud, dan hipotesis kedua adalah ada perbedaan tingkat stres individu pengamal sholat tahajud antara sebelum dan sesudah mengamalkan sholat tahajud, tingkat stres setelah sholat tahajud lebih rendah dibandingkan sebelum sholat tahajud. Sampel penelitian ini sebanyak 30 santri, yang terdiri dari 15 santri pada kelompok eksperimen dan 15 santri pada kelompok kontrol. Metode penggalian data dengan menggunakan satu skala psikologi yang terdiri dari 2 aspek yaitu biologis dan psikologis. Hasil uji validitas pada skala stres terdapat 44 aitem valid (α = 0,953), dan analisis data menggunakan paired t test dan independent sample test. Hasil posttest antara kelompok eskperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa tingkat stres santri kelompok pengamal sholat tahajud lebih rendah dibandingkan dengan kelompok bukan pengamal sholat tahajud (t = -5,042; p < 0,001). Hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen menunjukkan adanya penurunan tingkat stres individu setelah melakukan sholat tahajud dibandingkan dengan sebelum melakukan sholat tahajud (t = 10,821; p < 0,001). Jadi sholat tahajud terbukti efektif mengurangi tingkat stres santri di Pondok Islam Nurul Amal Bekasi Jawa Barat.
PENGALAMAN KEHILANGAN ANAK PADA IBU KORBAN TRAGEDI TRISAKTI 1998 (Sebuah Studi Kualitatif Fenomenologis) Afrian Saputra; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.787 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15051

Abstract

Penelitian ini didasari adanya sebuah kejadian besar di Indonesia tahun 1998, yaitu Tragedi Trisakti.Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman kehilangan anak pada ibu korban Tragedi Trisakti 1998.Peneliti menggunakan sebuah studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.Teknik analisis yang digunakan adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Teknik analisis IPA dipilih karena memiliki prosedur analisis data yang terperinci.Prosedur tersebut bertitik fokus pada eksplorasi pengalaman yang diperoleh subjek melalui kehidupan pribadi dan sosialnya. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah dua orang dengan karakeristik utama ibu dari korban Tragedi Trisakti yang berdomisili di Jakarta dan Tangerang Selatan.Hasil penelitian ini memiliki tiga tema induk yang sesuai dengan pertanyaan penelitian, yang terdiri dari: hubungan dengan anak; dinamika menghadapi kehilangan; dan penghayatan hidup dari ibu. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa perasaan kehilangan dipengaruhi oleh kelekatan antara ibu dengan anak dan proses kematian dari anak. Terdapat dinamika yang dilalui oleh ibu dalam menghadapi kehilangan dari saat awal merespon kematian anak hingga menerima kehilangan. Setelah proses tersebut subjek menunjukkan harapan dan perubahan yang terjadi pada diri. Harapan yang muncul diantaranya tentang penyelesaian kasus, harapan supaya kejadian serupa tidak terulang, dan harapan terkait kondisi kesehatan dan finansial subjek. Perubahan diri yang dirasakan subjek yaitu, subjek menjadi sosok yang lebih kuat serta subjek membatasi perasaan sayang dirinya kepada orang lain.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TEMAN DENGAN STRES MENGHADAPI TUGAS AKHIR PADA MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS DIPONEGORO Suka Evi; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2015.12974

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman dengan stres menghadapi tugas akhir. Stres merupakan keadaan tertekan atau emosi negatif yang diiringi dengan perubahan fisiologis, biokimia, dan behavioral pada individu yang dirancang untuk menyesuaikan diri terhadap stresor dengan cara memanipulasi situasi atau mengubah stresor atau dengan mengakomodasi efeknya. Dukungan sosial teman merupakan hubungan atau transaksi interpersonal yang dapat dipercaya, berupa pemberian bantuan yang berarti bagi individu sehingga individu merasa disayangi oleh temannya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang. Pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial teman yang terdiri dari 41 aitem (α = 0,959) dan skala stres menghadapi tugas akhir yang terdiri dari 24 aitem (α = 0,902). Subjek penelitian berjumlah 57 mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir yang dipilih melalui cluster random sampling. Hasil analisis data menggunakan teknik analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,338 dengan P=0,010 (p<0,05), maka dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara dukungan sosial teman dengan stres menghadapi tugas akhir pada mahasiswa fakultas teknik jurusan teknik sipil Undip. Sumbangan efektif variabel dukungan sosial terhadap stres menghadapi tugas akhir sebesar 11,4%.
MAKNA PRESTASI BAGI ATLET BINARAGA STUDI KUALITATIF FENOMENOLOGIS PADA ATLET BINARAGA NASIONAL M Aliyandri Akbar; Zaenal Abidin
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.623 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14899

Abstract

AbstrakBinaraga adalah satu cabang olahraga yang memperlihatkan kemampuan membentuk tubuh yang indah danberotot. Keberhasilan sebagai atlet binaraga ditandai dengan prestasi terbaik. Penelitian kualitatif ini bertujuanuntuk mengetahui makna prestasi bagi atlet binaraga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif denganpendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, materiaudio, dan dokumentasi. Subjek penelitian merupakan atlet binaraga tingkat nasional berjumlah tiga orang yangdiperoleh dari teknik pemilihan purposive. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa atlet binaraga membutuhkandana guna menunjang nutrisi yang tinggi dalam membentuk tubuhnya. Fenomena kesejahteraan atlet yangkurang diperhatikan pemerintah ditambah besarnya kebutuhan nutrisi atlet binaraga memunculkan kendalafinansial. Berbagai pengorbanan dilakukan atlet binaraga untuk mengatasi kendalanya dalam meraih prestasi.Reward atas prestasi yang tidak sebanding dengan pengorbanan tidak juga menghalangi atlet binaraga untuktetap berprestasi. Pencapaian prestasi dimaknai oleh atlet binaraga sebagai kebanggaan. Pengorbanan atletbinaraga dalam berprestasi memunculkan rasa bangga yang tidak ternilai oleh apa pun, termasuk dengan uang.Prestasi menjadi kebanggaan masing-masing atlet binaraga yang hanya mampu dibayar dengan rasa bangga itusendiri.