Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Intervensi Electroconvulsive Therapy (ECT) pada Skizofrenia Katatonik Muljanto, Rahaju Budhi; Herdaetha, Adriesti; Kusuma, Wijaya; Ahmad, Ahmad
Bima Nursing Journal Vol. 6 No. 1 (2024): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/bnj.v6i1.1717

Abstract

Laporan kasus ini mendokumentasikan intervensi Electroconvulsive Therapy (ECT) pada seorang pria berusia 30 tahun yang didiagnosis dengan skizofrenia katatonik, di mana pengobatan farmakologis tidak memberikan hasil yang memadai. Skizofrenia katatonik merupakan subtipe yang jarang namun parah, ditandai dengan gangguan motorik seperti katalepsi, mutisme, dan gerakan motorik yang tidak teratur. Pasien dalam laporan ini menunjukkan resistensi terhadap obat-obatan antipsikotik, termasuk Haloperidol dan Clozapine, yang mendorong tim medis untuk melakukan ECT sebagai alternatif terapeutik. Prosedur ECT dilakukan dengan pengawasan ketat, dan hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan pada gejala katatonik pasien, dengan pengurangan halusinasi dan peningkatan interaksi sosial. Laporan ini menegaskan efektivitas ECT dalam mengatasi gejala katatonik pada kasus skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan, serta pentingnya pendekatan individualisasi dalam pengelolaan gangguan ini.
The Relationship between Anxiety Level and Cognitive Function of Students Class of 2022 Medical Faculty of Universitas Palangka Raya in Dealing with OSCE Surbakti, Ranintha; Mutiasari, Dian; Sugiono, Yulinar N; Jelita, Helena; Tindaon, Debora; Kusuma, Wijaya
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i2.7778

Abstract

Anxiety is a feeling that is often felt in dealing with various life situations that occur to a person. This can also happen to new students taking the Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Anxiety that is continuously experienced by students will disrupt their sleep patterns, and lack of sleep results in poor sleep quality which can affect the cognitive and psychomotor aspects of medical students. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and students' cognitive function in dealing with OSCE. This research is a cross-sectional study, where the research subjects are students from the class of 2022 who meet the exclusion and inclusion criteria. The research was conducted in June 2023 at the Faculty of Medicine, University of Palangka Raya. This research was conducted on 135 subjects consisting of 41 men and 94 women with an average age of 19(17-21) years. The highest anxiety level before the OSCE exam in the study was a moderate anxiety level of 75.5%. There is no significant relationship between anxiety level (ZSAS score) and cognitive function (Moca-Ina) with p=0.680. In conclusion, there is no relationship between anxiety level and students' cognitive function in dealing with OSCE.
Konsep Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Corporate Crime) Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia Kusuma, Wijaya; M. Rafi Falih; Azmi Amrul Haq; Yennie Agustin Mahroennisa R.
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.14688

Abstract

Perkembangan struktur ekonomi dan organisasi dalam masyarakat modern telah mendorong munculnya berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan melalui korporasi dengan konsekuensi yang signifikan terhadap kepentingan publik. Fenomena ini menimbulkan persoalan mendasar dalam hukum pidana, khususnya terkait konstruksi pertanggungjawaban pidana yang secara tradisional berorientasi pada pelaku individual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pertanggungjawaban pidana korporasi serta relevansinya dalam sistem hukum pidana Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan pertanggungjawaban pidana individual tidak lagi memadai dalam merespons kejahatan korporasi yang bersifat kolektif dan sistemik. Oleh karena itu, pengakuan korporasi sebagai subjek hukum pidana menuntut penafsiran konsep kesalahan secara fungsional dan institusional. Penerapan model pertanggungjawaban pidana korporasi seperti strict liability, vicarious liability, dan identification theory dipandang relevan untuk menjembatani kesenjangan antara doktrin hukum pidana klasik dan realitas kejahatan korporasi modern. Dalam konteks hukum pidana Indonesia, diperlukan penataan kerangka normatif yang lebih koheren agar pertanggungjawaban pidana korporasi dapat diterapkan secara konsisten dan memberikan kepastian hukum.
Pengaruh Kualitas Tidur Terhadap Perubahan Kadar Brain-Derived Neurothrophic Factor pada Pasien Bipolar di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Nindiasari, Anisa; Sudiyanto, Aris; Kusuma, Wijaya
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 4 (2025): Volume 9 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i4.23215

Abstract

Perubahan kualitas, durasi, dan struktur tidur sering diamati pada pasien dengan Bipolar Disorder (BD). Gangguan tidur dapat meningkatkan kerentanan terhadap stres yang berpotensi menurunkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Pemantauan kadar BDNF sebagai biomarker dapat membantu perancangan intervensi terapeutik yang lebih spesifik dan individual untuk mengatasi penurunan kognitif dan gangguan fungsional yang terkait dengan BD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas tidur terhadap perubahan kadar BDNF pada pasien dengan Bipolar Disorder di RS UNS Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik komparatif yang membandingkan antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Sebanyak 60 sampel didapatkan dan diambil sebagai subjek penelitian yaitu kelompok dengan 25% kadar BDNF tertinggi sebagai kelompok kontrol (n=15) dan kelompok dengan kadar BDNF terendah sebagai kelompok kasus (n=15). Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan kadar BDNF diukur melalui prosedur pengambilan darah. Analisis data dilakukan menggunakan independent t-test dan Mann–Whitney test, uji korelasi Pearson, serta analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi (rho) sebesar –0,905 dengan nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan sangat kuat dan signifikan antara kualitas tidur dengan kadar BDNF pada pasien BD. Analisis regresi linier sederhana menghasilkan nilai koefisien regresi sebesar –5,52, yang menunjukkan bahwa pasien BD dengan kualitas tidur buruk berpotensi mengalami penurunan kadar BDNF sebesar sekitar 5,52 ng/mL. Kesimpulannya, terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas tidur terhadap perubahan kadar BDNF pada pasien dengan Bipolar Disorder.