Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Investigasi Pada Pengaruh Penambahan Fins Terhadap Temperatur Fluida Sistem Shell And Tube Heat Exchanger Menggunakan CFD Hidayat, Mahesha Abdullah; Kusuma, Wijaya; Adyana, Bandem
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i1.130

Abstract

Heat Exchanger merupakan suatu alat yang digunakan untuk memindahkan panas dari satu fluida ke fluida lainnya tanpa adanya kontak langsung antara fluida tersebut. Namun pada dasarnya desain alat ini hanya dapat menghasilkan perbedaan nilai suhu keluar dan masuk fluida yang kurang efektif. Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi pengaruh modifikasi yang umum dilakukan pada salah satu komponen heat exchanger yaitu heat pipe yang berupa penambahan fins pada permukaan luar terhadap suhu fluida sistem. Analisa modifikasi heat exchanger diawali dengan pengambilan data kondisi inisial dan pemilihan variable fins, pemilihan proses dan model turbulence simulasi pada aplikasi CFD desain heat exchanger untuk mengetahui fenomena perpindahan panas yang terjadi, dan menghitung nilai ∆TLMTD heat exchanger sebelum dan sesudah ditambahkan fins. Dari hasil simulasi dan perhitungan, heat exchanger sesudah dimodifikasi dapat menghasilkan nilai suhu Th,o dan Tc,o yang lebih efektif. Konfigurasi fins terbaik menurunkan nilai Th,o sebesar 0.256 % (air) dan 0.4% (n-pentana), dan meningkatkan nilai Tc,o sebesar 0.644 % (air) dan 1.258 % (n-pentana). Namun penambahan fins tidak selalunya efektif untuk setiap konfigurasi. Pada perhitungan juga menunjukan bahwa penambahan fins tidak berpengaruh baik pada nilai ∆TLMTD sistem. Dengan nilai terbaik hanya meningkat sebesar 0.0000004% dari nilai sebelum dimodifikasi yaitu 96.868 K (air).
Hubungan koping religius dengan tingkat depresi pada mahasiswa kedokteran tahun pertama Wulandari, Putri; Kusuma, Wijaya; Setyaningrum, Rohmaningtyas Hidayah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1059

Abstract

Background: First-year medical students face various stressors that make them vulnerable to depression. Individuals can use various coping strategies, one of which is religious coping, this approach involves utilizing religious beliefs to overcome life's difficulties and manage stress. Purpose: To explore the relationship between religious coping and depression among first-year medical students. Method: This quantitative study used a cross-sectional method and was conducted in March 2023 at the Faculty of Medicine, Sebelas Maret University. The sampling technique used total sampling with a sample size of 199 respondents. The independent variable in this study was religious coping, while the dependent variable was the level of depression. The data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using Spearman's rank correlation. Results: The results of the analysis show that there is no significant relationship between positive religious coping and depression (p = 0.352; r = -0.066), while negative religious coping is significantly related to depression (p = 0.000; r = 0.333). The higher the level of negative religious coping, the higher the level of depression. Conclusion: No significant relationship was found between positive religious coping and depression, possibly influenced by other factors that affect individual religiosity, and there was a significant relationship between negative religious coping and depression.   Keywords: Depression; Medical Students; Religious Coping.   Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran tahun pertama menghadapi berbagai stresor yang membuat mereka rentan mengalami depresi. Individu dapat menggunakan berbagai strategi koping, salah satunya adalah koping religius , pendekatan ini melibatkan pemanfaatan keyakinan agama untuk menghadapi kesulitan hidup dan mengelola stres. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara koping religius  dan depresi di kalangan mahasiswa kedokteran tahun pertama. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan pada bulan Maret 2023 di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 199 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah koping religius, sedangkan variabel dependen adalah tingkat depresi. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan spearman rank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara koping religius positif dengan depresi (p = 0.352; r = -0.066), sedangkan pada koping religius negatif ditemukan hubungan yang signifikan dengan depresi (p = 0.000; r = 0.333). Semakin tinggi tingkat koping religius negatif, semakin tinggi pula tingkat depresi. Simpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara koping religius positif dan depresi, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang memengaruhi religiusitas individu dan terdapat hubungan signifikan antara koping religius negatif dan depresi.   Kata Kunci: Depresi; Koping Religius; Mahasiswa Kedokteran.
Intervensi Electroconvulsive Therapy (ECT) pada Skizofrenia Katatonik Muljanto, Rahaju Budhi; Herdaetha, Adriesti; Kusuma, Wijaya; Ahmad, Ahmad
Bima Nursing Journal Vol. 6 No. 1 (2024): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/bnj.v6i1.1717

Abstract

Laporan kasus ini mendokumentasikan intervensi Electroconvulsive Therapy (ECT) pada seorang pria berusia 30 tahun yang didiagnosis dengan skizofrenia katatonik, di mana pengobatan farmakologis tidak memberikan hasil yang memadai. Skizofrenia katatonik merupakan subtipe yang jarang namun parah, ditandai dengan gangguan motorik seperti katalepsi, mutisme, dan gerakan motorik yang tidak teratur. Pasien dalam laporan ini menunjukkan resistensi terhadap obat-obatan antipsikotik, termasuk Haloperidol dan Clozapine, yang mendorong tim medis untuk melakukan ECT sebagai alternatif terapeutik. Prosedur ECT dilakukan dengan pengawasan ketat, dan hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan pada gejala katatonik pasien, dengan pengurangan halusinasi dan peningkatan interaksi sosial. Laporan ini menegaskan efektivitas ECT dalam mengatasi gejala katatonik pada kasus skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan, serta pentingnya pendekatan individualisasi dalam pengelolaan gangguan ini.
The Relationship between Anxiety Level and Cognitive Function of Students Class of 2022 Medical Faculty of Universitas Palangka Raya in Dealing with OSCE Surbakti, Ranintha; Mutiasari, Dian; Sugiono, Yulinar N; Jelita, Helena; Tindaon, Debora; Kusuma, Wijaya
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i2.7778

Abstract

Anxiety is a feeling that is often felt in dealing with various life situations that occur to a person. This can also happen to new students taking the Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Anxiety that is continuously experienced by students will disrupt their sleep patterns, and lack of sleep results in poor sleep quality which can affect the cognitive and psychomotor aspects of medical students. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and students' cognitive function in dealing with OSCE. This research is a cross-sectional study, where the research subjects are students from the class of 2022 who meet the exclusion and inclusion criteria. The research was conducted in June 2023 at the Faculty of Medicine, University of Palangka Raya. This research was conducted on 135 subjects consisting of 41 men and 94 women with an average age of 19(17-21) years. The highest anxiety level before the OSCE exam in the study was a moderate anxiety level of 75.5%. There is no significant relationship between anxiety level (ZSAS score) and cognitive function (Moca-Ina) with p=0.680. In conclusion, there is no relationship between anxiety level and students' cognitive function in dealing with OSCE.