Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Implementasi Pijat Perut sebagai Terapi Komplementer : Pelatihan bagi Ibu Balita dalam Menangani Gas dan Kolik Sumarni Sumarni; Kusumastuti Kusumastuti; Siti Mutoharoh; Dina Saskia Budiarti; Enjel Laksana P; Faizatun Hidayah; Jennie Sava Adela; Novi Wahyuni; Khusnul Khotimah
Karya Nyata : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Karya Nyata : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/karyanyata.v2i4.2517

Abstract

Bloating in infants can also accompany other digestive disorders, such as vomiting, diarrhea, abdominal pain, and constipation. Babies with gas often vomit easily. Babies with diarrhea will have low potassium levels, resulting in bloating. One benefit of infant massage is addressing complaints of bloating and colic in infants. Tummy massage is a gentle abdominal massage designed to encourage trapped air to move. The goal is to move gas and other materials from the intestines to the large intestine. The method used was preparation through coordination with midwives and cadres in Selokerto Village, Sempor District, Kebumen Regency. The activity was implemented through lectures and tummy massage simulations. While evaluation and follow-up plans for the activity were carried out by evaluating the knowledge of mothers of toddlers and can be implemented independently using leaflets distributed to mothers of toddlers. The number of respondents in this activity was 10 mothers of toddlers. The activity went smoothly, all mothers enthusiastically participated in the activity. Respondents were aged between 20-34 years. The level of knowledge of respondents before the activity was that most had sufficient knowledge about bloating/colic in toddlers and tummy massage. Meanwhile, after the knowledge activity, most responded well. Conclusion: The community service activity was effective in increasing respondents' knowledge about gas/colic in toddlers and tummy massage.
Faktor Pendukung Keberhasilan Pelaksanaan Program KOTAKU di Kabupaten Klaten (Studi Kasus: Kelurahan Bareng dan Desa Merbung) Wahyuni, Tri; Kusumastuti, Kusumastuti; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72867.125-139

Abstract

Permukiman kumuh merupakan salah satu prioritas nasional menurut UU Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2025. Permukiman kumuh ditentukan dari kondisi bangunan gedung, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Pemerintah Indonesia menangani permukiman kumuh melalui program Kota Tanpa Kumuhatau KOTAKU. Keberhasilan dari program KOTAKU dilihat dari ketercapaian tujuan program yang terangkum dalam nilai pada Key Performance Indicators (KPI). Jawa Tengah merupakan provinsi dengan luasan kumuh terluas di Indonesia, dimana Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten di dalamnya yang paling berhasil mengurangi luas permukiman kumuh sebesar 88,7% hingga tahun 2021. Dua kelurahan/desa yang memiliki indeks tercepat dalam penanganan permukiman kumuh di Kabupaten ini ialah Kelurahan Bareng dan Desa Merbung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan program KOTAKU di Kabupaten Klaten di kedua desa tersebut yang dilaksanakan dengan pola pemugaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dan tekniik analisis skoring. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa faktor-faktor pendukung keberhasilan program di Kelurahan Bareng adalah struktur kelembagaan, status legalitas lahan, ketersediaan lahan, karakteristik kebijakan, anggaran, tahapan pelaksanaan program, dan kinerja Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP). Di sisi lain, faktor-faktor pendukung di Desa Merbung adalah partisipasi masyarakat, struktur kelembagaan, ketersediaan lahan, status legalitas lahan, anggaran, semua tahapan pelaksanaan program, pemeliharaan prasarana, serta pelaksanaan kegiatan pembangunan kemandirian masyarakat.
Analisis Faktor Pemilihan Lokasi Perumahan Peri-Urban Bagian Selatan Kota Semarang (Studi Kasus: Kecamatan Ungaran Barat dan Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang) Syandana, Rifda Asyifah; Suminar, Lintang; Kusumastuti, Kusumastuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.91004.26-38

Abstract

Urbanisasi menyebabkan Kota Semarang berkembang pesat dan mengalami pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan adanya peningkatan kebutuhan ruang untuk kegiatan di dalam kota. Adanya keterbatasan lahan di Kota Semarang tidak dapat mengakomodasi kebutuhan ruang sehingga menyebabkan adanya perluasan perkembangan perkotaan ke wilayah pinggiran kota atau wilayah peri-urban. Wilayah peri-urban Kota Semarang, yakni Kecamatan Ungaran Barat dan Kecamatan Ungaran Timur mengalami perubahan guna lahan, khususnya menjadi lahan permukiman, sebagai akibat dari perluasan perkembangan perkotaan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan lokasi perumahan peri-urban bagian selatan Kota Semarang. Dari hasil penelitian, didapatkan 4 kelompok faktor dengan 8 faktor di dalamnya. Keempat kelompok faktor tersebut, yakni: 1) aksesibilitas dan sarana prasarana, yang terdiri dari faktor kemudahan mengakses transportasi, jarak menuju pusat kota, dan ketersediaan dan kondisi sarana dan prasarana penunjang; 2) kenyamanan lingkungan, yang terdiri dari faktor tingkat kerawanan bencana dan kenyamanan lingkungan; 3) keamanan dan legalitas, yang terdiri dari faktor tingkat keamanan dan legalitas pendirian rumah; dan 4) harga beli rumah.
Penilaian Tingkat Walkability Jalur Pedestrian di Kawasan Wisata Pusat Kota Bogor Putri, Lucky Riana; Kusumastuti, Kusumastuti; Soedwiwahjono, Soedwiwahjono
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.77704.84-100

Abstract

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bogor Tahun 2019-2024, salah satu peruntukkan Kota Bogor adalah sebagai pengembangan pelayanan wisata. Kota Bogor memiliki potensi wisata unggulan seperti Kebun Raya Bogor, museum Zoologi, dan wisata kuliner di Jalan Suryakencana. Aksesibilitas merupakan salah satu komponen penting dalam pengembangan wisata, yang berkaitan dengan kemudahan seseorang dalam melakukan pergerakan menuju tujuan wisata. Jalur pedestrian merupakan salah satu prasarana yang dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan objek wisata yang ada di pusat Kota Bogor. Akan tetapi, masih terdapat konflik dalam alihfungsi jalur pedestrian. Konflik ini terkait dengan aspek aksesibilitas dalam aktivitas wisata. Konsep walkability dalam penelitian ini digunakan untuk menilai kualitas pedestrian dalam mengakses destinasi wisata. Konsep walkability meliputi lima aspek, yaitu konektivitas, keamanan, kenyamanan, daya tarik, dan kemudahan. Masing-masing aspek tersebut memiliki indikator penilaian tertentu. Bobot yang diberikan pada setiap aspek berbeda sesuai dengan peran penting aspek yang harus dipenuhi dalam menilai tingkat walkability pada suatu kawasan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat walkability pada jalur pedestrian di kawasan wisata pusat Kota Bogor. Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan deduktif. Teknik penelitian dengan cara skoring menggunakan skala Likert pada setiap aspek penilaian. Teknik pengumpulan data yaitu dengan survey data primer berupa observasi lapangan dan kuesioner serta survey data sekunder berupa studi literatur dan studi dokumen dari dinas terkait. Hasil penelitian bahwa tingkat walkability pada jalur pedestrian di kawasan wisata pusat Kota Bogor adalah cukup baik.
Identifikasi Peningkatan Kualitas Infrastruktur Permukiman Pasca Implementasi Program Kampung Ramah Anak (KRA) di RW 11 Kampung Badran, Kota Yogyakarta Nugroho, Daniel Kristian; Kusumastuti, Kusumastuti; Rahayu, Paramita
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.69886.1-11

Abstract

Permukiman kumuh adalah sebuah fenomena dan permasalahan yang dihadapi oleh hampir seluruh kota, termasuk Kota Yogyakarta. Meskipun menyandang gelar sebagai kota budaya dan kota pendidikan, fenomena permukiman kumuh tetap eksis di Kota Yogyakarta. Kampung Badran adalah salah satu kampung di Kota Yogyakarta yang masih mengalami status sebagai permukiman kumuh, ditinjau dari indikator kepadatan bangunan, kesehatan, dan kondisi sosial masyarakat. Selain permasalahan permukiman kumuh, Kampung Badran juga menyandang gelar sebagai kampung preman, yang membentuk permasalahan yang kompleks di kampung ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi permasalahan kekumuhan di kampung ini. Kampung Ramah Anak (KRA) adalah salah satu program yang diinisiasi, yang tidak hanya mengatasi permasalahan fisik terkait permukiman kumuh, namun juga permasalahan sosial dalam memperjuangkan pemenuhan hak anak di kampung tersebut. Inisiasi program KRA di RW 11 Kampung Badran menggunakan pendekatan partisipatif, dimana pemerintah berkolaborasi dengan pemangku kepentingan (RT, RW, dan kelompok-kelompok masyarakat), dan seluruh masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak anak melalui penyediaan instrumen KRA baik secara kelembagaan maupun infrastruktur. Semenjak adanya program KRA ini, berbagai pendanaan dalam upaya peningkatan kualitas infrastruktur di RW 11 juga semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi dengan melihat peningkatan kualitas infrastruktur yang ada di RW 11 Kampung Badran pasca diimpelementasikannya program KRA. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang menekankan pada realitas dan proses suatu fenomena dapat terjadi agar mampu memberikan gambaran khusus terkait perubahan infrastruktur yang terjadi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa infrastruktur di RW 11 Kampung Badran mengalami peningkatan kualitas, ditandai peningkatan kondisi dan perubahan yang terjadi pada berbagai sarana dan prasarana. Adanya peningkatan kualitas infrastruktur ini berpengaruh besar terhadap penanganan kekumuhan di RW 11 Kampung Badran, terutama terkait dengan indikator penyediaan sarana prasarana, kesehatan lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi.
Tinjauan kesiapan mitigasi bencana non-struktural dalam menghadapi bencana tsunami di kawasan pesisir Kecamatan Kuta Ramadhani, Difa Ayu Balqist; Miladan, Nur; Kusumastuti, Kusumastuti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 1 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i1.53767

Abstract

Kecamatan Kuta memiliki beragam destinasi wisata di Pulau Bali yang mendunia, berdekatan dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik vital dalam perekonomian Indonesia. Akan tetapi, letak Pulau Bali pada zona subduksi (tumbukan) menjadikan kawasan ini memiliki risiko bencana tsunami tinggi sehingga diperlukan adanya upaya mitigasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesiapan upaya mitigasi bencana non-struktural tsunami di Kecamatan Kuta. Metode kuantitatif dengan teknik analisis berupa teknik analisis spasial, teknik analisis deskriptif, dan teknik analisis skoring, digunakan untuk mengukur hal tersebut. Data yang digunakan adalah data regulasi yang mengatur bencana tsunami, data penggunaan lahan yang berbasis pada mitigasi tsunami, dan data sosialisasi terkait mitigasi bencana tsunami yang diperoleh melalui pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil menunjukan bahwa tingkat mitigasi kesiapan mitigasi bencana tsunami non-struktural di Kecamatan Kuta tergolong dalam kategori kurang siap. Hal ini disebabkan karena belum tersedianya regulasi yang mengatur kawasan bencana tsunami pada kawasan penelitian secara menyeluruh, minimnya dan belum menyeluruhnya pemberian edukasi dan sosialisasi terkait mitigasi bencana tsunami, serta kawasan masih belum sesuai dengan regulasi berbasis kawasan rawan bencana.
Kajian risiko bencana gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang di Kabupaten Bandung Barat Kinasih, Farah Achyani; Miladan, Nur; Kusumastuti, Kusumastuti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 2 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i2.57232

Abstract

Kabupaten Bandung Barat merupakan bagian dari Kawasan Strategis Nasional Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung serta memiliki potensi di bidang pariwisata. Letaknya yang berbatasan langsung dengan perkotaan menjadikan kabupaten ini memiliki angka laju pertumbuhan penduduk tertinggi pada tahun 2010-2020 di Provinsi Jawa Barat. Namun, Kabupaten Bandung Barat dilalui oleh Sesar Lembang yang terpantau mengalami aktivitas sehingga dapat memicu ancaman gempa bumi dan pada saat ini sudah memasuki fase pelepasan energi. Dengan adanya kondisi tersebut, penelitian ini mengkaji risiko bencana gempa bumi yang mungkin terjadi akibat aktivitas Sesar Lembang. Komponen risiko bencana meliputi kerawanan dan kerentanan baik kerentanan fisik, sosial, maupun ekonomi. Penelitian ini menggunakan data utama dari studi dokumen dan data pendukung dari wawancara dan observasi, kemudian dianalisis dengan teknik skoring pada unit wilayah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Bandung Barat terbagi dalam empat tingkatan risiko bencana. Risiko bencana tertinggi berada pada ibu kota kabupaten dan daerah wisata potensial pada bagian utara Kabupaten Bandung Barat. Area ini termasuk dalam kecamatan yang dilalui oleh jalur sesar sehingga apabila Sesar Lembang beraktivitas dan memicu gempa bumi, maka daerah ini akan merasakan intensitas guncangan yang paling besar.
Kesesuaian proses perencanaan partisipatif terhadap rencana pembangunan desa di Triharjo, Kabupaten Kulon Progo Khadijah, Sabila; Kusumastuti, Kusumastuti; Miladan, Nur
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 2 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i2.56863

Abstract

Pembangunan desa menjadi tantangan di Indonesia dengan lebih dari 20.000 desa berada dalam status tertinggal dan sangat tertinggal berdasarkan Indeks Desa Membangun pada tahun 2019. Upaya mempercepat pembangunan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat dengan mendorong pembangunan desa agar mandiri, berketahanan, serta berkelanjutan. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa mengamanatkan agar pemerintah desa menyusun RPJMDes dengan pendekatan partisipatif. Di Kalurahan Triharjo, Kabupaten Kulonprogo, rencana pembangunan desa melalui serangkaian tahapan yang melibatkan masyarakat mulai dari identifikasi, perumusan rencana, hingga pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian proses penyusunan RPJM Desa di Kalurahan Triharjo terhadap pedoman perencanaan dan konsep perencanaan partisipatif. Metode penelitian campuran digunakan untuk mengungkap partisipasi masyarakat, kapasitas kelembagaan, dan forum musyawarah yang terjadi sepanjang proses perencanaan. Analisis dilakukan untuk melihat kesesuaian tahapan dan substansi penyusunan RPJMDes sebagai dokumen utama pemerintah desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk perencanaan telah sesuai dengan pedoman pada kategori sedang. Proses perencanaan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat, dilaksanakan secara langsung, berkesinambungan, serta terdapat dorongan melalui musyawarah dari level teritorial paling bawah.
Identifikasi Upaya Konservasi Sungai Berbasis Masyarakat di Kampung Iklim Gajah Putih, Karangasem, Laweyan, Surakarta Dzahabiyya, Afiya Salma; Rahayu, Paramita; Kusumastuti, Kusumastuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i1.78764.29-43

Abstract

Kampung Iklim Gajah Putih Karangasem berbatasan langsung dengan Sungai Gajah Putih yang sempat berada dalam status tercemar sedang jika mengacu pada data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta. Pencemaran ini disebabkan oleh limbah rumah tangga yang dipicu oleh adanya Tempat Penampungan Sementara (TPS) samapah Baturan yang terletak tepat di sebelah Sungai Gajah Putih. Pencemaran tersebut berdampak hingga ke permukiman warga karena bau yang menyengat dan imbas asap pembakaran sampah. Telah dilakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kualitas sungai, yang juga didorong oleh adanya Program Kampung Iklim di Kampung Gajah Putih. Program Kampung Iklim membutuhkan partisipasi dari masyarakat dalam pelaksanaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja upaya konservasi sungai yang telah dilakukan di Kampung Gajah Putih serta untuk mengetahui bagaimana peran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung dan melaksanakan upaya konservasi sungai tersebut. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan teknik analisis statistika deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara terstruktur kepada masyarakat dan pemangku kepentingan yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya konservasi sungai yang telah dilaksanakan memunculkan banyak manfaat dan dampak positif bagi masyarakat. Selain itu, diketahui pula bahwa faktor kesadaran masyarakat, partisipasi dari seluruh pemangku kepentingan, dan peran aktor lokal sangat penting dalam keberhasilan dan keberlanjutan kegiatan upaya konservasi sungai pada Kampung Iklim Gajah Putih.
The Effect of Prenatal Yoga on Sleep Quality of Pregnant Women in The Third Trimester At PMB Restu Bunda Wati, Rosma; Kusumastuti, Kusumastuti; Sofiana, Juni; Tyas, Sindy Febrianing
Placentum: Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2025): August
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/placentum.v13i2.107616

Abstract

Background:  Sleep quality often declines during the third trimester of pregnancy due to significant physiological and psychological changes, such as frequent urination, back pain, anxiety, and emotional fluctuations. These disturbances can negatively impact maternal health and fetal development.Objective:This study aimed to examine the effect of gentle prenatal yoga on sleep quality among third-trimester pregnant women at PMB Restu Bunda, Kebumen.Methods:A quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach was used. The study involved 40 pregnant women in their third trimester selected by total sampling. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) before and after five sessions of gentle prenatal yoga conducted over two weeks. Each session lasted 30–60 minutes and included diaphragmatic breathing, gentle stretching, and relaxation poses (cat– cow, butterfly, mountain, and side-lying savasana), led by a certified prenatal yoga instructor. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test with a significance level of p < 0.05.Results:Before the intervention, 85% of participants had poor sleep quality. After participating in prenatal yoga, 92.5% reported good sleep quality. The Wilcoxon test showed a significant improvement in sleep quality (Z = -5.868, p = 0.001).Conclusion:Gentle prenatal yoga significantly improves sleep quality in third-trimester pregnant women. It can be recommended as a safe and effective complementary therapy in antenatal care to promote maternal relaxation and healthy pregnancy outcomes.