Articles
Pengetahuan berhubungan dengan perilaku koping premenstrual syndrome pada remaja putri
Syafira Azzahra;
Sri Handayani, Dwi;
Warsiti
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 1 (2025): In Press
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35913/jk.v13i1.844
Premenstrual Syndrome (PMS) dapat menimbulkan gejala fisik maupun gejala psikologis remaja, hal ini bergantung pada perilaku koping yang diterapkan. Perilaku koping adaptif mengurangi dampak negatif PMS, sebaliknya perilaku koping maladaptif memperburuk gejala serta dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Diketahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku koping premenstrual syndrome (PMS) pada remaja putri di SMA Negeri 1 Ngemplak Yogyakarta. Desain penelitian metode analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian 136 responden kelas XI dan XII dengan teknik Simple random sampling. Peneliti menggunakan kuesioner Pengetahuan Premenstrual Syndrome (KPPMS) dan Kuesioner Perilaku Koping PMS. Analisis data menggunakan Uji Koefisien Kontingensi dengan taraf signifikansi 0,05.Hsail penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan PMS cukup (63,2%) dan perilaku koping PMS maladaptif (54,4%). Hasil uji analisis menunjukkan nilai p=0,911 (p >0,05), bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku koping PMS pada remaja putri di SMA Negeri 1 Ngemplak Yogyakarta. Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku koping PMS pada remaja putri di SMA Negeri 1 Ngemplak Yogyakarta, namun terdapat beberapa faktor seperti faktor ekononi dan riwayat penyakit ginekologi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi koping perilaku PMS.
Evaluating the Effectiveness of a Nursing Self-Management Module in Enhancing Clinical Self-Competency Among Nursing Students: Pengaruh Nursing Self Management Competency Module Terhadap Penerapan Self Competency Mahasiswa Perawat Praktik Klinik
Sri Handayani, Dwi;
Ariyani Rokhmah, Noor
Infomasi dan Promosi Kesehatan Vol 4 No 1 (2025): Informasi dan Promosi Kesehatan
Publisher : Sahabat Publikasi Kuu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58439/ipk.v4i1.269
Nursing competence refers to the ability and skills of nurses to understand others and handle various situations, including the ability to assess, communicate, and provide care. Competencies exist at different levels for nursing students in clinical practice. The study aims to determine the effect of the nursing self-management competency module on the implementation of self-competency in clinical practice nursing student. The research employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group design. The research variables included the nursing self-management competency module and self-competence in maternity clinical practice. The sample was obtained through purposive sampling and divided into two groups: an intervention group and a control group, each consisting of 15 nursing students undergoing clinical practice. The intervention group received the nursing competency management module, while the control group followed routine formal procedures in the clinic. Data analysis was using the Mann-Whitney. The results showed that the majority of respondents in the control group had sufficient pretest competence, with 14 (93.3%) achieving this level, and the majority in the posttest also had sufficient competence, with 13 (86.7%). In contrast, the intervention group had sufficient pretest competence with 8 (53.3%) and high posttest competence with 11 (73.3%) with a p-value of 0.037, indicating that there is a significant effect of the nursing self-competency management module on the application of self-competency among nursing professional students during hospital maternity clinical practice. Conclusion: The nursing self-competency management module has a positive effect on the application of self-competency among nursing professional students during clinical practice.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
Zaniska, Alvingra Fani;
Handayani, Dwi Sri;
Riyani, Sri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 14, No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52657/jik.v14i2.3031
Pemberian ASI sangat penting diberikan pada bayi terutama pada periode awal bayi baru lahir yaitu pada 1.000 hari kehidupan pertamanya yang disebut dengan ASI eksklusif. Hambatan penerapan pemberian ASI eksklusif salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan pada ibu. Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2021 capaian ASI eksklusifnya hanya 52,7%. Puskesmas Umbulharjo 1 merupakan salah satu peskesmas yang ada di Kota Yogyakarta dengan tingkat cakupan ASI eksklusif paling rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah 391 ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas. Sampel berjumlah 88 ibu dengan kriteria inklusi bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Umbulharjo 1; tidak mengonsumsi suplemen ASI tambahan; dan tidak memiliki riwayat sakit menular yang mempengaruhi ASI seperti HIV/AIDS, hepatitis B dan C yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Alat pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis statistik data penelitian menggunakan kendall’s tau. Hasil uji korelasi nilai signifikasi tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif adalah 0,061 > 0.005 menunjukkan keeratan korelasi 0,191 sangat lemah dan arah hubungan positif. Diputuskan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif. Tingkat pendidikan tidak melulu menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pemberian ASI eksklusif, oleh sebab itu alangkah lebih baiknya yang perlu ditingkatkan adalah tingkat kesadaran dari ibu sejak ibu dinyatakan hamil untuk mempersiapkan kebutuhan penting bayi yaitu pemberian ASI eksklusif.
Ta’aruf Rules in Digital Room: Study of Matchmaking Process on Biro Jodoh Rumaysho Social Media
Handayani, Dwi Sri
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 56 No 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajish.v56i2.1041
Abstract: This study examines the online taa'ruf process through social media that is run by the Biro Jodoh Rumaysho (BJR) and at the same time the reciprocal relationship between managers and participants. Basically, this is a field research, however, in extracting the data, it relies a lot on the internet, so this research can also be categorized as a netnographic study. The results of this study indicate that the Rumaysho Matchmaking Bureau has facilitated many people who want to find a life partner through the stages of ta'aruf. These services are carried out online through social media, such as Instagram, Facebook, and also the Website. The success rate of ta'aruf with this model is relatively high because it has been filtered based on the criteria desired by each potential partner. The ta'aruf process which is carried out in this way has led to a social phenomenon in society which makes ta'aruf a religious and also economic spirit, both for implementing agencies and participants where there is mutuality between the two.Abstrak: Penelitian ini mengkaji proses taa’ruf secara online yang dijalankan oleh Biro Jodoh Rumaysho dan sekaligus hubungan timbal balik antara pengelola dengan peserta. Pada dasarnya ini merupakan penelitian lapangan namun dalam penggalian datanya banyak bergantung pada internet sehingga penelitian ini juga bisa dikategorikan sebagai studi netnografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Biro Jodoh Rumaysho telah banyak memfasilitasi masyarakat yang ingin mencari pasangan hidup melalui tahapan ta’aruf. Layanan tersebut dilakukan secara daring melalui media sosial, seperti Instagram, Facebook, dan juga Website. Tingkat keberhasilan ta’aruf dengan model ini relatif tinggi karena telah dilakukan penyaringan berdasarkan kriteria yang diinginkan oleh masing-masing calon pasangan. Proses ta’aruf yang dilakukan dengan cara demikian telah memunculkan fenomena sosial masyarakat yang menjadikan ta’aruf sebagai spirit keagamaan dan juga ekonomi, baik untuk lembaga pelaksana maupun peserta yang mana terjadi mutualan di antara keduanya.
DEVELOPMENT OF QUIZIZZ-BASED PROBLEMS OF LIFE ORGANIZATION SYSTEM MATERIALS FOR CLASS VII JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS
Noer Af’idah;
Dwi Sri Handayani
NUKLEO SAINS : JURNAL PENDIDIKAN IPA Vol. 3 No. 1 (2024): NUKLEO SAINS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA FIP Universitas Hasyim Asy'ari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33752/ns.v3i1.4674
In the 21st century teachers face big challenges on how to implement technological developments into the learning process, so that students become more competent and able to compete according to the times. Assessment in the teaching and learning process is a process for making decisions based on information obtained from measuring learning outcomes. One of the online-based assessments is Quizizz. The purpose of this research is to describe the process of developing material problems on life organizational systems using the quizizz application and to describe the product developed after the process of theoretical and empirical validity. This research uses the ADDIE development model which stands for Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation. After that, the questions based on quizzes that had been developed were tested for theoretical and empirical validity. Based on the theoretical analysis conducted by expert validators, an average score of 94.64% was obtained with very good criteria. The results of the empirical validity analysis showed that out of 20 items there were 7 valid questions and 13 invalid questions, the reliability value was 0.583 with moderate criteria, discriminating power with an average of 0.343, moderate difficulty level, and good deception function.
PENGARUH TERAPI MENDONGENG TERHADAP KECEMASAN ANAK PENDERITA KANKER PRE KEMOTERAPI
Anggraini, Riris;
Handayani, Dwi Sri;
Sarwinanti, S
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 19th University Research Colloquium 2024: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
"Kanker anak merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan dan perawatan berkelanjutan yaitu kemoterapi yang dapat menimbulkan efek samping kecemasan dan ketakutan hingga menyebabkan anak tidak mau kembali berobat dan menjalani kemoterapi dirumah sakit kembali. Kecemasan ini dapat berisiko menganggu tumbuh kembang anak dan berdampak pada proses penyembuhan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengalihkan perhatian anak dari situasi yang tidak menyenangkan dengan teknik bermain yaitu mendongeng menggunakan boneka sehingga anak menjadi senang dan rileks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh terapi mendongeng terhadap kecemasan anak penderita kanker pre kemoterapi. Jenis penelitian ini adalah pre experimen dengan desain one group pre-post design. Penelitian ini menggunakan sampel dengan teknik Purposive Sampling sebanyak 22 anak penderita kanker sebelum kemoterapi. Dalam penelitian ini dengan menggunakan instrumen Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS) untuk mengukur tingkat kecemasan anak sebelum dan setelah diberikan terapi mendongeng. Analisis penelitian ini adalah anak penderita kanker sebelum menjalani kemoterapi yang memiliki tingkat kecemasan ringan hingga tinggi. Sebelum diberikan terapi mendongeng 36,4% anak mengalami kecemasan sedang dan 4,5% anak mengalami kecemasan berat. Setelah diberikan terapi mendongeng sebanyak 27,3% anak mengalami kecemasan sedang dan 4,5% anak mengalami kecemasan tetap berat. Hasil uji statistik dengan Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan hasil Wilcoxon Test Asym P lebih kecil dari 0.05 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh terapi mendongeng terhadap tingkat kecemasan anak penderita kanker pre kemoterapi Kata kunci: Mendongeng; Kecemasan; Anak; Kanker; Pre Kemoterapi "
PENGALAMAN IBU TENTANG KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN
Ernawati, Dwi;
Rika Ayu Lestari;
Mamnuah, Mamnuah;
Dwi Sri Handayani
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 4 No. 8: Januari 2025
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53625/jirk.v4i8.9366
Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya kelahiran akibat dari kehamilan. Laporan State of World Population (SWOP) yang dirilis oleh United Nations Population Fund (UNFPA) pada tahun 2022 total 121 juta kehamilan di dunia dan hampir setengahnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Di Indonesia pada tahun 2015–2019, total 7,91 juta kehamilan setiap tahunnya. Di Provinsi Yogyakarta kasus KTD pada tahun 2023 meningkat menjadi 1.090 kasus. Tahun 2024 periode Januari-Juni kasus KTD di Yogyakarta sebanyak 484 dengan kasus terbanyak berada di Kabupaten Bantul sebanyak 157 kasus dan Puskesmas Kasihan II sebanyak 6 kasus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengalaman Ibu tentang Kehamilan tidak Diinginkan di Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 4 orang yaitu 3 informan umum dan 1 informan pendukung. Pengumpulan data dengan metode wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara dan voice recorder serta dokumentasi. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian didapatkan tema dalam pengalaman kehamilan tidak diinginkan yaitu psikologis ibu dan penyebab kehamilan tidak diinginkan. Diharapkan bagi pasangan agar dapat mencegah terjadinya KTD dengan menggunakan kontrasepsi.
Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Pemanfaatan Pelayanan Voluntary Counseling And Tasting Pada Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Srandakan Bantul
Asep Saputra;
Diah Nur Anisa;
Dwi Sri Handayani
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59435/menulis.v2i1.943
Voluntary counseling and tasting (VCT) merupakan salah salah satu strategi pencegahan penanggulanan HIV/AIDS yang dinilai cukup efisien. Cakupan pemanfaatan VCT di Puskesmas Srandakan Bantul dari tahun 2019 ke 2020 mengalami penurunan sebanyak 957 kunjungan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan angka penurunan tersebut, salah satu faktor terpentingnya adalah pengetahuan remaja itu sendiri. Apabila pengetahuan remaja terkait pemanfaatan VCT rendah maka angka kejadian HIV/AIDS meningkat. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan pemanfaatan Voluntary Counseling and Tasting pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Srandakan Bantul. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu 150 remaja. Alat ukur menggunakan kuesioner Pengetahuan HIV/AIDS dan Pemanfaatan Voluntary Counseling and Tasting. Teknik analisa data menggunakan Kendal Tau. Hasil: Menunjukkan bahwa pengetahuan pada remaja mayoritas memiliki pengetahuan kurang sebanyak 136 remaja (90,7 %). Mayoritas responden tidak memanfaatkan VCT sebanyak 137 remaja (91,3%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikan 0,001 (p<0,05). Kesimpulan: Ada hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan pemanfaatan voluntary counseling and tasting pada remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Srandakan Bantul.
THE CORRELATION BETWEEN PERCEPTION AND HYPERTENSION EXERCISE ROUTINES ON THE QUALITY OF LIFE OF HYPERTENSIVE PATIENTS
Fathimatuzzahrah;
Dwi Sri Handayani;
Diah Nur Anisa
Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing Vol. 1 No. 1 (2024): JIAN (Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing)
Publisher : Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jian.v1i1.3929
ABSTRACT (A single paragraph of about 250 words maximum. For research articles, abstracts should give a pertinent overview of the work. We strongly encourage authors to use the following style of structured abstracts, but without heading) Background: Poor quality of life in hypertensive patients can increase the risk of complications, highlighting the importance of finding effective strategies such as hypertension exercise to stabilize blood pressure. Perception also plays a crucial role in disease management. Methods: This quantitative study employed an analytical correlational design with a cross-sectional approach. A purposive sampling technique was used to select 100 participants based on inclusion and exclusion criteria. The questionnaire measured perceptions of hypertension exercise and quality of life among hypertensive patients. Statistical analysis was performed using Kendall Tau. Results: The majority of respondents had positive perceptions (72, 72.0%) and regularly performed hypertension exercises (74, 74.0%). The analysis showed no significant correlation between perception and the quality of life of hypertensive patients (p-value 0.177), but there was a significant correlation between exercise routines and quality of life (p-value 0.020). Conclusion: There is no significant correlation between the perception of hypertension exercise and the quality of life in hypertensive patients in Pojok V Hamlet, Minggir, Sleman. However, a significant correlation exists between hypertension exercise routines and quality of life. It is recommended that patients engage more actively in hypertension exercises to improve their quality of life. Future researchers are encouraged to explore different research models and subjects
THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND USE OF COMPLEMENTARY THERAPIES AND BLOOD PRESSURE MEASUREMENTS IN HYPERTENSIVE PATIENTS
Fradana Ade Saputra;
Dwi Sri Handayani;
Sriyati
Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing Vol. 1 No. 1 (2024): JIAN (Journal of Indonesian Anesthesiology Nursing)
Publisher : Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jian.v1i1.3930
ABSTRACT Background: Prolonged high blood pressure can damage blood vessels in vital organs such as the heart, kidneys, brain, and eyes. Therefore, patient knowledge of complementary therapies is essential as it can guide them in selecting effective treatment methods, such as complementary therapies that help lower blood pressure. This underscores the need for further research among hypertensive patients. Methods: This study used an analytical correlational research design with a cross-sectional approach and employed total sampling of 79 participants. Data were collected using a questionnaire on knowledge of complementary therapies for hypertension and an interview sheet on the use of complementary therapies. Statistical analysis was performed using Kendall's Tau. Results: The majority of respondents had good knowledge of complementary therapies (62 or 78.3%), used the therapy effectively (75 or 94.9%), and 60 (75.9%) had stage 1 hypertension. The hypothesis test results between knowledge of complementary therapies and blood pressure showed a p-value of 0.084. However, the hypothesis test between the use of complementary therapies and blood pressure revealed a p-value of 0.001, and the test between knowledge and use of complementary therapies yielded a p-value of 0.002. Conclusion: There was no significant relationship between knowledge of complementary therapies and blood pressure measurements. However, a significant relationship was found between the use of complementary therapies and blood pressure, as well as between knowledge and the use of complementary therapies. Further research and educational initiatives are recommended to improve patient adherence to complementary therapy practices.