Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Terhadap Pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Citrobacter freundii St. Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Dwi Rachmawaty Daswi; Arisanty Arisanty
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i1.2666

Abstract

Potential Anti-Bacterial Ethanol Extract Of Collature Leaves (Centella asiatica (L.) Urban) On The Growth Of Enterococcus faecalis and Citrobacter freundiiEnterococcus faecalis and Citrobacter freundii are bacteria that can be found in the digestive sistem like Escherichia coli and can enter the digestive tract with food and drinks containing these bacteria. The phytochemical content of Pegagan Leaves (Centella asiatica (Linn.) Urban) is tannins, flavonoids, steroids, terpenoids, and alkaloids, which have been shown to have antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the antibacterial potential of the ethanol extract of Pegagan Leaf (Centella asiatica (L.) Urban.) on the growth of Enterococcus faecalis and Citrobacter freundii. Pegagan leaf simplicia was extracted using the maceration method with 96% ethanol as a solvent, then tested for its antibacterial potential using the disc diffusion method. The results showed that the optimal concentration of ethanol extract of Gotu kola for both test bacteria was 8%. The conclusion of this study, ethanol extract of Pegagan Leaf has antibacterial potential against Enterococcus faecalis and Citrobacter freundii.Keywords: Gotu Kola Leaf; Enterococcus faecalis and Citrobacter freundii; Antibacterial potentialEnterococcus faecalis dan Citrobacter freundii merupakan bakteri yang dapat ditemukan dalam sistem pencernaan sama seperti Escherichia coli dan dapat memasuki saluran pencernaan bersama makanan dan minuman yang mengandung bakteri tersebut. Kandungan fitokimia dari Daun Pegagan (Centella asiatica (Linn.) Urban) yaitu tannin, flavonoid, steroid, terpenoid, dan alkaloid,  yang telah terbukti memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi antibakteri ekstrak etanol Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Citrobacter freundii. Simplisia Daun Pegagan diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 96% sebagai cairan penyari, kemudian diuji potensi antibakterinya dengan metode disc diffution. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi optimal ekstrak etanol Daun Pegagan untuk kedua bakteri uji adalah 8%. Kesimpulan dari penelitian ini, ekstrak etanol Daun Pegagan memiliki potensi antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dan Citrobacter freundii.Kata Kunci : Daun Pegagan; Enterococcus faecalis dan Citrobacter freundii; Potensi antibakteri
POTENSI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK DAUN DAN KULIT BATANG DENGEN (Dillenia serrata) SECARA IN VITRO santi sinala; Ismail Ibrahim; Alfrida Monica Salasa; Ratnasari Dewi
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.557 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1484

Abstract

Dengen (Dillenia serrata) is an endemic plant found in Luwu Regency. Its primary utilization is still limited to the fruit as a food ingredient, such as dodol, though leaves and barks are often used as medicine. According to Santi Sinala et al. (2019), dengen leaves and bark contain large polyphenols. This study determines the sunscreen activity of the Dengen plant, specifically leaves and bark obtained from Malangke City in Luwu Regency. Also, the study aims to establish the part of the plant with great potential for sunscreen. The leaves and bark of the tree are extracted by maceration using 70% ethanol solvent. The determination of the SPF value was carried out in vitro based on the principle of measuring extraction absorption with a certain concentration at wavelengths of 290-320 nm. The ethanol extract of the bark is made with a concentration series of 100, 200, 300, 400, and 500 ppm, where 100 ppm produced an SPF value of 4,611. Furthermore, the ethanol extracts of the leaves were made in series 50, 100, 150, 200, 250 ppm, where 100 ppm produced an SPF value of 2. This study concluded that the ethanol extract of dengen bark has maximum sunscreen activity with a low concentration compared to ethanol leaves.Keywords: Dengen, Ethanol Extract, Bark, Leaves, Sunscreen Activity, SPF Value.Dengen (Dillenia serrata) merupakan salah tanaman endemic Indonesia yang dapat ditemukan di Kabupaten Luwu. Pemanfaatan tanaman ini masih sebatas pada bagian buahnya, yang dijadikan bahan masakan dan telah dikembangkan menjadi dodol.. Selain buah, daun dan kulit batang dengen telah digunakan masyarakat sebagai obat. Penelitian dari Santi Sinala dkk (2019) daun dan kulit batang dengen memiliki kandungan polifenol yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas tabir surya dari dua bagian tanaman Dengen yaitu daun dan kulit batang yang diperoleh dari Kota Malangke, Kab. Luwu, Sul-Sel. Dari penelitian ini nantinya akan ditentukan bagian tanaman yang memiliki potensi besar sebagai tabir surya. Daun dan kulit batang pohon dengen diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Penentuan nilai SPF dilakukan secara in vitro dengan prinsip pengukuran serapan ekstrak dengan konsentrasi tertentu pada panjang gelombang  290 – 320 nm. Untuk ekstrak etanol kulit batang dibuat dengan seri konsentrasi 100, 200, 300, 400, 500 ppm, dimana dengan konsentrasi 100 ppm sudah menghasilkan nilai SPF 4,611. Untuk ekstrak etanol daun dibuat seri 50, 100, 150, 200, 250 ppm dimana konsentrasi 100 ppm sudah menghasilkan nilai SPF 2. Dari hasil dimana ekstrak kulit batang dengen dengan SPF 4 pada konsentrasi 100 ppm dan ekstrak daun dengan SPF 2 pada konsentrasi 100 ppm dapat ditarik kesimpulan bahwa ekstrak etanol kulit batang dengen, memiliki memiliki aktivitas tabir surya yang maksimal dengan konsentrasi yang  rendah dibandingkan dengan etanol daunKata Kunci : Dengen, Ekstrak Etanol, Kulit Batang, Daun, Aktivitas Tabir Surya, Nilai SPF.
Kandungan Total Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus B.) Alfrida Monica Salasa; St. Ratnah; Tajuddin Abdullah
Media Farmasi XXX Vol 17, No 2 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2292

Abstract

Indonesian people know and are used to using the cat's whiskers plant (Orthosiphon stamineus B.) in medicine. The part of the plant that is commonly used by the community is the leaf. Cat whiskers leaves contain flavonoid compounds where these compounds have antioxidant activity that can counteract free radicals. The purpose of this study was to determine the total flavonoid content and antioxidant activity contained in the cat whiskers leaf extract. The sample in this study was cat whiskers leaves obtained from Makassar, South Sulawesi. Then extracted with 96% ethanol solvent by maceration method. Testing the total flavonoid content as querstin using 2% AlCl3 reagent and potassium acetate and testing antioxidant activity using the DPPH method. The results obtained showed that the total flavonoid content calculated as quercetin in the leaf extract of the cat's whiskers (O. stamineus B.) was 7.34158 mg QE/g or 0.734158% and the antioxidant activity of the cat's whiskers leaf extract expressed as IC50 of 65. ,62513 ppm and is included in the group of strong antioxidants. Keywords: Cat's Whiskers Leaves, Total Flavonoid Content, Antioxidants Masyarakat Indonesia mengenal dan biasa menggunakan tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus B.) dalam  pengobatan. Bagian tanaman tersebut  yang biasa digunakan oleh masyarakat adalah daun. Daun kumis kucing mengandung senyawa flavonoid dimana senyawa ini memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat  menangkal radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan total flavonoid dan aktivitas antioksidan yang terkandung dalam ekstrak daun kumis kucing. Sampel dalam penelitian ini adalah daun kumis kucing yang diperoleh dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kemudan diekstraksi dengan pelarut Etanol 96% dengan metode maserasi. Pengujian kandungan total flavonoid sebagai kuerstin dengan menggunakan pereaksi AlCl3 2% dan kalium asetat dan pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan kandungan total flavonoid yang dihitung sebagai kuersetin dalam ekstrak daun kumis kucing (O. stamineus B.) sebesar 7,34158 mg QE/g atau 0,734158 % dan aktivitas antioksidan ekstrak daun kumis kucing yang dinyatakan sebagai IC50 sebesar 65,62513 ppm  dan termasuk dalam golongan antioksidan yang kuat. Kata Kunci : Daun Kumis Kucing, Kandungan Total Flavonoid, Antioksidan
AKTIVITAS ANTIBAKTERI REBUSAN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.)TERHADAP PERTUMBUHAN Alfrida Monica Salasa; Diah Nita Sapitri; Tria Riska Lestari; Ananda Nur Asyirah
Media Farmasi XXX Vol 14, No 1 (2018): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.451 KB) | DOI: 10.32382/mf.v14i1.79

Abstract

Buah Manggis merupakan jenis tanaman obat yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Kulit Buah Manggis merupakan limbah buangan yang mengandung senyawa kimia xanton yang merupakan senyaea polifenol yang bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya hambat Rebusan Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Bahan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah Kulit Buah Manggis yang berasal dari Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang dikeringkan kemudian dibuat rebusan dengan konsentrasi 5% b/v, 10% b/v, 20% b/v. Hasil uji daya hambat menunjukkan untuk Staphylococcus aureus zona hambat rata-rata untuk konsentrasi 5% b/v sebesar 14,66 mm, konsentrasi 10% b/v sebesar 16,66 mm, konsentrasi 20% b/v sebesar 19,33 mm sedangkan untuk Salmonella typhi diameter zona hambat rata-rata untuk konsentrasi 5% b/v sebesar 12,66 mm, konsentrasi 10% b/v sebesar 15,83 mm, konsentrasi 20% b/v sebesar 19 mm. Hal ini menunjukkan bahwa rebusan kulit buah manggis memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Salmonella typhiKata kunci : kulit buah manggis, rebusan, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, uji aktivitas
AKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Pseudomonas aeruginosa Alfrida Monica Salasa
Media Farmasi XXX Vol 13, No 2 (2017): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.726 KB) | DOI: 10.32382/mf.v13i2.786

Abstract

Tanaman Nanas merupakan salah satu tanaman yang banyak diminati oleh masyarakat. Namun, kebanyakan orang hanya mengambil daging buahnya saja sedangkan kulit buahnya dibuang sebagai limbah. Kulit buah nanas mengandung senyawa bromelin, tannin, flavonoid dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya hambat ekstrak kulit buah nanas dalam menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa. Kulit buah nanas dikeringkan lalu direfluks dengan pelarut etanol. Lalu ekstrak etanol yang diperoleh diekstraksi lagi menggunakan eter dan n-Butanol sehingga diperoleh ekstrak eter dan ekstrak n-Butanol. Selanjutnya ekstrak yang diperoleh diuji daya hambatnya dengan menggunakan metode difusi agar. Konsentrasi yang digunakan adalah  4% b/v dengan Ciprofloxacin sebagai kontrol positif dan Na.CMC sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambatan rata-rata yang diperoleh untuk ekstrak etanol sebesar 15,33 mm, ekstrak Eter sebesar 8,67 mm, ekstrak n-Butanol 14,33 dan kontrol positif sebesar 25,6 mm. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ekstrak etanol, eter dan n-Butanol kulit buah nanas memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan aktivitas terbesar diberikan oleh ekstrak etanol dan ekstrak n-Butanol. Kata Kunci : Ekstrak Kulit Buah Nanas, Daya hambat, Pseudomonas aeruginosa.
FORMULASI SABUN CAIR EKSTRAK DAUN KECOMBRANG SEBAGAI ANTIKEPUTIHAN St Ratnah; Alfrida Monica Salasa
Media Farmasi XXX Vol 15, No 2 (2019): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.173 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i2.1125

Abstract

Etlingera elatior contains chemical compounds that prevent and treat leucorrhoea. However, they are used conventionally, and therefore, they are less effective and efficient. The purpose of this study was to formulate the liquid soap extract of Kecombrang Leaf (Etlingera elatior) and determine the stability of its physical quality and activity as an anti-vaginal discharge. The study uses dried simplicia of Kecombrang leaves extracted by the maceration method with ethanol 96%. It was formulated into liquid soap with a concentration variation of 6.25% and 8.75%. Each formula was evaluated for physical quality, microorganism contamination, and activity tests before and after the storage are accelerated. The results obtained by Etlingera Folium extract could be formulated into liquid soap with a concentration of 6.25% and 8.75%. The stability test results are accelerated, and each concentration meets the requirements of the organoleptic, foam resistance, and pH tests. Microorganism contamination test results also meet the needs of SNI & BPOM and have anti-vaginal discharge activity. The liquid soap preparation of 8.75% has an activity greater than the concentration of 6.25%.Keywords: Candida albicans, Kecombrang leaves, Physical quality, Liquid soapEtlingera elatior mengandung senyawa kimia yang terbukti berfungsi  mencegah dan mengobati penyakit keputihan tetapi penggunaannya masih secara tradisional sehingga kurang efektif dan efisien digunakan. Tujuan penelitian adalah untuk memformulasi sediaan sabun cair ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior), mengetahui kestabilan mutu fisik dan aktivitas sebagai anti keputihan. Penelitian ini menggunakan simplisia kering Daun Kecombrang yang diekstraksi dengan metode maserasi dengan etanol 96%, diformulasi menjadi sabun cair dengan variasi konsentrasi 6,25 % dan 8,75%. Masing-masing formula kemudian dievaluasi uji mutu fisik, uji cemaran mikroorganisme dan uji aktivitas sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Hasil yang diperoleh ekstrak Etlingera Folium dapat diformulasi menjadi sabun cair dengan konsentrasi 6,25 % dan 8,75%. Hasil pengujian kestabilan dipercepat, masing-masing konsentrasi memenuhi persyaratan uji organoleptis, uji ketahanan busa dan uji pH. Hasil uji cemaran mikroorganisme juga memenuhi syarat SNI & BPOM serta memiliki aktivitas sebagai anti keputihan, dimana sediaan sabun cair 8,75 % memiliki aktivitas yang lebih besar dari konsentrasi 6,25 %.Kata Kunci : Candida albicans, Daun Kecombrang, Mutu fisik, Sabun cair
UJI POTENSI ANTIMIKROBA HASIL FRAKSINASI EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP Candida albicans PENYEBAB KEPUTIHAN PADA IBU HAMIL St. Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Ismail Ibrahim
Media Farmasi XXX Vol 14, No 2 (2018): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.665 KB) | DOI: 10.32382/mf.v14i2.595

Abstract

Tanaman Kecombrang memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, polifenol,steroid, saponin, dan minyak atsiri, dimana kandungan kimia tersebut dapat berperan dalam pencegahan penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan potensi antimikroba hasil fraksinasi ekstrak daun kecombrang terhadap Candida albicans penyebab keputihan pada ibu hamil. Penelitian ini merupakan eksperimen murni menggunakan ekstrak daun kecombrang, diisolasi menggunakan kromatografi kolom sehingga diperoleh fraksi-fraksi. Hasil fraksinasi selanjutnya diuji potensi antimikrobanya terhadap Candida albicans penyebab keputihan pada ibu hamil.  Zona hambat yang diperoleh diukur untuk menentukan potensi antimikroba hasil fraksinasi ekstrak Daun Kecombrang tersebut. Hasil penelitian Daun Kecombrang (Etlingera elatior), dapat disimpulkan bahwa isolasi senyawa kimia ekstrak etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior) diperoleh 3 senyawa murni. Ketiga senyawa murni tersebut dapat menghambat Candida albicans, rata-rata diameter zona hambat dari senyawa A = 13,66 mm, senyawa  C = 10,40 mm dan senyawa E = 9,33 mm. Hasil statistik one way anava menunjukkan bahwa fraksi A (F.A) memiliki potensi antimikroba yang berbeda dengan fraksi C (F.C) dan Fraksi E (F.E) (sig p < 0,05) sedangkan fraksi C (F.C) dan Fraksi E (F.E) memiliki potensi antimikroba yang sama (sig p > 0,05).
EFEKTIFITAS EKSTRAK BIJI BUAH KELENGKENG (Euphoria longan Stend) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne St. Ratnah; Alfrida Monica Salasa
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.572 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1411

Abstract

Although longan fruit seeds are waste, they contain phytochemical compounds that can be used as antibacterial. The purpose of this study is to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Killing Concentration (MKC) of longan seeds extract on the growth of Staphylococcus aureus and Propionibacterium acnes. The test material was made from dry simplicial and was extracted using 96% ethanol through the sokhletation method. Additionally, the MIC and MKC values were tested using the liquid dilution method. The results indicate that the Minimum Inhibitory Concentration of longan fruit extract on the growth of Staphylococcus aureus and Propionibacterium acne is 2% w / v while the Minimum Killing Concentration for both bacteria is 3% w / v.Keywords: Extraction, MIC, MKC, Staphylococcus aureus, and Propionibacterium acneBiji Buah Kelengkeng merupakan limbah, tetapi mengandung senyawa fitokimia yang dapat dimanfaatkan baik sebagai antibakteri.. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Killing Concentration (MKC) dari ekstrak biji buah kelengkeng terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne. Bahan uji dibuat simplisia kering, diekstraksi dengan etanol 96 % dengan metode sokhletasi,  diuji nilai MIC dan MKC dengan metode dilusi cair. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Minimum Inhibitory Concentration ekstrak biji buah kelengkeng terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne adalah 2 %b/v dan Minimum Killing Concentration untuk kedua bakteri tersebut adalah 3 %b/v.Kata Kunci : Ekstraksi,  MIC, MKC, Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne
Formulasi Dan Stabilitas Mutu Fisik Sediaan Gel Wajah Yang Mengandung Ekstrak Daun Afrika Dengan Variasi Konsentrasi Carbopol Dwi Rachmawaty Daswi; Arisanty Arisanty; St Mutmainnah Dewi Reski; Alfrida Monica Salasa; St Ratnah
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2299

Abstract

Formulation And Physical Quality Stability Of Facial Gel Preparations Containing African Leaf Extract (Vernonia amygdalina dell.) With Variations In Carbopol Concentrationcontain phenolic compounds including flavonoids that can wardoff free radicals. This study aims to formulate facial gel preparations from African leaf extracts to determine the stability of the physical quality of the preparations. African leaves are extracted using the maceratio method and then formulated into a facial gel made in three variations of the formula. Three gel formulas made with different carbopol concentrations are 0.5%, 1%, 2%. Physical quality testing of facial gel preparations is performed before and after the accelerated stability test (freeze thaw), including organoleptics, homogeneity tests, syneresis tests, pH tests, scatterpower tests and viscosity tests. Based on the results, formula II with 1 % carbopol concentration fulfilled almost all the requirement of the physical quality test carried out before and after the accelerated stability test excep for pH testing, for formula I with 0,5 % carbopol concentration and formula III with 2 % carbopol concentration only met homogenity,synerisis and viscosity test requirement.The result of statistical test showed the result of P>0,05 which means there is no significant difference from the test results before and after accelerateds storage.Keywords : Physical quality test, facial gel, African leaf extract, carbopolDaun Afrika (Vernonia amygdalina Del.) merupakan tanaman yang memiliki manfaat sebagai antioksidan alami karena memiliki kandungan senyawa fenolik termasuk flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Memformulasikan sediaan gel wajah dari ekstrak daun afrika dan untuk mengetahui kestabilan mutu fisik sediaan merupakan tujuan dari penelitian ini. Daun Afrika diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi kemudian di formulasikan kedalam gel wajah yang di buat dalam 3 variasi formula. Tiga formula gel yang dibuat dengan konsentrasi carbopol yang berbeda yaitu 0,5%, 1%, 2%. Pengujian mutu fisik sediaan gel wajah dilakukan sebelum dan setelah uji stabilitas dipercepat (freeze thaw), meliputi organoleptik,  uji homogenitas, uji sineresis, uji pH, uji daya sebar serta uji viskositas. Berdasarkan hasil yang diperoleh formula II dengan konsentrasi carbopol 1% memenuhi hampir semua persyaratan uji mutu fisik yang dilakukan sebelum dan sesudah uji stabilitas dipercepat kecuali pengujian PH , untuk formula I dengan konsentrasi carbopol 0,5 %  dan formula III dengan konsentrasi carbopol 2% hanya memenuhi persyaratan uji homogenitas, sinerisis dan viskositas. Hasil uji statistik menunjukkan hasil P> 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil pengujian sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat.Kata Kunci: Uji mutu fisik, gel wajah, ekstrak daun Afrika, carbopol
PENENTUAN NILAI MIC (MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATION) DAN MKC (MINIMUM KILLING CONCENTRATION) EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP Candida albicans PENYEBAB KEPUTIHAN Alfrida Monica Salasa; St. Ratnah; ismail ibrahim
Media Farmasi XXX Vol 15, No 1 (2019): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.444 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i1.781

Abstract

Tanaman Kecombrang memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, polifenol,steroid, saponin, dan minyak atsiri. Kandungan senyawa fitokimia pada tanaman diketahui mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan MKC (Minimum Killing Concentration) dari Ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan metode dilusi cair. Penelitian ini merupakan eksperimen murni menggunakan ekstrak daun kecombrang lalu ditentukan nilai MIC dan MKC dengan menggunakan metode dilusi cair. Konsentrasi yang digunakan adalah 1,25 %; 2,5%; 3,75%; 5%; 6,25%; 7,5%; 8,75%; 10%; 12,5%; 15%; 17,5%; 20%; 22,5%; 25% b/v. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) ekstrak Daun Kecombrang terdapat pada konsentrasi 6,25% b/v dan nilai MKC (Minimum Killing Concentration) terdapat pada konsentrasi 8,75% b/v. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior) efektif untuk menghambat dan membunuh jamur Candida albicans.