Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

GAMBARAN LAMA KERJA ROKURONIUM PADA PASIEN YANG MENJALANI ANESTESIA UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Dewi, Ni Wayan Ira L.; Tambajong, Harold; Lalenoh, Diana Ch.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5028

Abstract

Abstrak: Intubasi endotrakeal merupakan salah satu tindakan yang sering dilakukan, khususnya pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesia umum. Intubasi endotrakeal dilakukan dengan memasukan pipa endotrakeal ke dalam trakea. Keberhasilan pemasangan pipa endotrakeal tergantung beberapa hal seperti relaksasi otot, kedalaman anestesia, dan keterampilan operator. Penggunaan obat pelumpuh otot khusunya pelumpuh otot non-depolarisasi lebih sering digunakan karena menghasilkan kondisi intubasi yang cepat dengan efek samping yang lebih minimal. Rokuronium merupakan salah satu obat pelumpuh otot yang banyak digunakan di Indonesia. Lama kerja obat perlu diketahui dengan pasti agar relaksasi otot cukup optimal untuk dilakukannya pembedahan dan derajat kelumpuhan otot dapat dipertahankan dengan melakukan penambahan dosis obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama kerja dari obat pelumpuh otot rokuronium agar dapat menentukan waktu penambahan dosis obat yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan sampel sebanyak 10 orang. Hasil penelitian didapatkan lama kerja rokuronium yaitu 34,90 menit. Lama kerja pada laki-laki lebih lama daripada perempuan. Kelompok berat badan 66-75 kg dan kelompok umur 41-47 tahun memiliki lama kerja yang paling panjang. Kata kunci: Lama kerja, rokuronium.     Abstract: Endotracheal intubation is one of the most common procedure, especially on a patient undergoing surgery with general anesthesia. Endotracheal intubation is done by inserting endotracheal tube into trachea. The success of endotracheal tube insertion depends on several things such as muscle relaxation, the depth of anesthesia, and the operator’s skill. The use of muscle relaxant drugs especially non-depolarization muscle relaxant is more frequently because it produces rapid intubation conditions with minimal side effect. Rocuronium is a muscle relaxant drug that is widely used in Indonesia. Duration of action of drugs need to be known for certain so the optimal muscle relaxation sufficient to do the surgery and the degree of muscle paralysis can be maintained by adding a dose of the drug. This study aims to determine the duration of action of rocuronium in order to determine the time to administer proper dose addition. This study used a descriptive method with a sample of 10 people. The results showed that the duration of action of rocuronium is 34,90 minutes. The duration of action on men is longer than women. Longest duration of action occurs on 66-75 Kg weight group and 41-47 age group Keyword: Duration of action, rocuronium.
PENANGANAN PERIOPERATIF PADA ASMA Suhartono, Christina; Tambajong, Harold F; Lalenoh, Diana Ch.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2039

Abstract

Abstract: The management of a patient with asthma during surgery requires a special treatment based on thorough clinical and laboratory examinations to reduce complications during surgery and the post-operative state. Asthma is characterized by a difficulty in breathing due to spastic contractions of bronchiolar smooth muscles, which partially block the bronchioles’ airways. The evaluation of asthma patients before anesthesia and surgical procedures is essential to prevent or control the occurence of asthma attacks during intra-operation and post-operation. Patients with histories of chronic asthma or frequent exacerbations of asthma have to be treated to achieve an optimal condition or a condition in which asthma symptoms are minimal. Patients with frequent bronchospasms should be treated. The selection of drugs and anesthetic procedures should be considered meticulously to avoid a stimulation of  bronchospasm or an asthma attack. Keywords: asthma, perioperative management, patient.   Abstrak: Pengelolaan pasien dengan penyakit asma selama pembedahan membutuhkan penanganan khusus berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratorium yang saksama untuk mengurangi komplikasi selama dan pasca pembedahan. Asma adalah kesukaran bernapas yang ditandai dengan kontraksi spastik otot polos bronkiolus, yang menyumbat bronkiolus secara parsial. Evaluasi pasien asma sebelum tindakan anestesia dan pembedahan sangat penting untuk mencegah atau mengendalikan kejadian serangan asma, baik selama pembedahan maupun pasca pembedahan. Pasien dengan riwayat asma berulang atau kronis memerlukan pengobatan hingga tercapai kondisi yang optimal untuk dilakukan operasi atau kondisi dimana gejala-gejala asma sudah minimal. Pasien dengan  bronkospasme berulang harus diobati terlebih dahulu. Pemilihan obat-obatan dan tindakan anestesia perlu dipertimbangkan dengan cermat untuk menghindari terjadinya bronkospasme atau serangan asma. Kata kunci: asma, penanganan perioperatif, pasien.
Gambaran Pasien Stroke Iskemik Akut dengan COVID-19 yang Masuk Ruang Perawatan Intensif Thambas, Anastasia T.; Lalenoh, Diana Ch.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32302

Abstract

Abstract: Acute ischemic stroke (AIS) has been reported in patients with coronavirus disease 2019 (COVID-19). The cause of AIS in COVID-19 patients has not been fully understood, but COVID-19 is known to cause hypercoagulation characterized by increased d-dimer levels, and cytokine storms.  Some AIS patients with COVID-19 require intensive care. This study was aimed to determine the description of AIS patients with COVID-19 admitted to the intensive care unit. This was a literature review study using three databases, as follows: Pubmed, ClinicalKey, and Science Direct. The keywords used were acute ischemic stroke AND COVID-19 AND intensive care unit. The results showed that after being selected based on inclusion and exclusion criteria, 10 literatures were obtained. There were 20 subjects and most were female (55%) and age group of 60-69 years old (35%). The most common cardiovascular risk factor was hypertension (80%, n=10). There were some increases in the levels of LDH, CRP, d-dimer, ferritinin, and fibrinogen. On radiological examination performed, there were cases with bilateral pulmonary infiltrate (33%) and ground-glass opacities (67%) (n = 6). In conclusion, the characteristics of AIS patients with COVID-19 admitted to the intensive care room were mostly female, age group 60-69 years, had cardiovascular risk factors for hypertension, had elevated levels of LDH, CRP, d-dimer, ferritinin, and fibrinogen, and had ground-glass opacity on radiological imaging.Keywords: acute ischemic stroke, COVID-19, intensive care unit Abstrak: Stroke iskemik akut telah dilaporkan pada pasien dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19). Penyebab stroke iskemik akut pada COVID-19 belum diketahui secara menyeluruh, tetapi COVID-19 dapat menyebabkan kejadian hiperkoagulasi ditandai dengan peningkatan kadar d-dimer serta menyebabkan badai sitokin. Beberapa pasien stroke iskemik akut dengan COVID-19 membutuhkan perawatan di ruang perawatan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien stroke iskemik akut dengan COVID-19 yang masuk di ruang perawatan intensif. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey dan Science Direct dengan kata kunci acute ischemic stroke AND COVID-19 AND intensive care unit. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 20 orang, jenis kelamin terbanyak ialah perempuan (55%) dengan kelompok usia terbanyak ialah 60-69 tahun (35%). Faktor risiko kardiovaskular yang paling banyak dimiliki subyek penelitian ialah hipertensi (80%, n=10). Terdapat peningkatan kadar LDH, CRP, d-dimer, ferritinin, dan fibrinogen. Pada pemeriksaan radiologi ditemukan bilateral pulmonary infiltrate (33%) dan ground-glass opacitiy (67%) (n=6). Simpulan penelitian ini ialah karakteristik pasien stroke iskemik akut dengan COVID-19 yang masuk ruang perawatan intensif paling banyak ialah perempuan, usia 60-69 tahun, memiliki faktor risiko kardiovaskular hipertensi, mengalami peningkatan kadar LDH, CRP, d-dimer, ferritinin, fibrinogen, dan ditemukan ground-glass opacitiy pada gambaran radiologi.Kata kunci: Stroke iskemik akut, COVID-19, ruang perawatan intensif
Penanganan Pasien Perdarahan Intraserebral di Ruang Rawat Intensif Ibrahim, Rian; Lalenoh, Diana Ch.; Laihad, Mordekhai L.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.31705

Abstract

Abstract: Intracerebral haemorrhage is a type of intracranial haemorrhage that occurs due to rupture of blood vessels in the brain tissue which is caused by trauma, hypertension, and nonhypertension. The intensive care unit is a separate section within the hospital that treats patients with life-threatening conditions, undergoing resuscitation, requiring intensive care and monitoring, and containing equipment and medicines to maintain normal body functions. All patients who are treated with intracerebral haemorrhage in intensive care unit should receive attention in terms of radiological evaluation, maintaining adequate respiration and circulation, controlling intracranial pressure, controlling blood pressure, preventing hyperglycemia, hypotension, and fever, controlling neurosurgical surgeries as well as preventing seizures. Surgery is performed to evacuate the accessible hematoma, depending on the location of the hematoma in intracerebral. In general, management of the patients aims to minimize nerve damage, prevent and treat systemic complications, speed recovery, and prevent or slow down recurrences and complications. Outcome of patient with intracerebral haemorrhage will be better if the patient is treated specifically in the intensive care unit.Keywords: management, intracerebral haemorrhage, intensive care unit Abstrak: Perdarahan intraserebral terjadi akibat robeknya pembuluh darah dalam jaringan otak yang dapat disebabkan oleh trauma, hipertensi, dan non hipertensi. Ruang rawat intensif merupakan bagian tersendiri di dalam rumah sakit yang merawat pasien dengan kondisi mengancam jiwa, yang sedang menjalani resusitasi, membutuhkan perawatan dan pemantauan secara intensif, serta yang didalamnya terdapat peralatan maupun obat-obatan yang berguna untuk menjaga fungsi tubuh seperti normal. Semua penderita yang dirawat dengan perdarahan intraserebral di ruang rawat intensif harus mendapat perhatian dalam hal evaluasi radiologik, menjaga adekuatnya respirasi dan sirkulasi, pengendalian tekanan intrakranial, pengendalian tekanan darah, pencegahan hiperglikemi, hipotensi dan demam, pengontrolan terhadap operasi pembedahan saraf dan pencegahan kejang. Pembedahan dilakukan untuk evakuasi hematom yang dapat dijangkau, tergantung lokasi hematoma di intraserebral. Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk meminimalkan kerusakan saraf, mencegah dan mengobati komplikasi sistemik yang terjadi, mempercepat pemulihan dan mencegah atau memperlambat kekambuhan dan komplikasi. Outcome pasien perdarahan intraserebral akan lebih baik, jika pasien dirawat khusus di ruang rawat intensif.Kata kunci: penanganan, perdarahan intrasereberal, ruang rawat intensif
Tatalaksana Acute Respiratory Distress Syndrome Pada Pasien Dewasa Dengan Steroid Masikome, Jessica N.; Laihad, Mordekhai L.; Lalenoh, Diana C.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 13, No 1 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.1.2021.31797

Abstract

Abstract: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) is a non-cardiogenic pulmonary edema caused by several risk factors and is an emergency case. ARDS characterized by acute intervals, alveolar edema, acute hypoxemia, decreased pulmonary compliance and multi-organ dysfunction or decreased organ function. ARDS often treated in an intensive care unit along with underlying factors. Although many medical treatments ineffective in treating ARDS, corticosteroids can reduce fluid in the alveolar capillaries and the attachment of neutrophils to endothelial capillaries. Aim of this study was to look at indicators of ARDS with steroids looking at the mortality rate, ventilator-free days, and length of stay for ARDS with steroids. Search data using three databases, namely Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Ten literatures met the inclusion and exclusion criteria. Consisted of one retrospective observational study, one analytical retrospective study, three randomized control trials and five cohort studies. Total sample in 10 literatures was 1633 people for the steroid therapy group and 1303 for the control group. Result of a literature review study showed that steroids had less impact on reducing mortality in ARDS patients, steroids had an effect on increasing the number of ventilator-free days and steroids did not have an impact on increasing length of stay.Keywords: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid Abstrak: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) merupakan edema pulmoner non-kardiogenik yang disebabkan beberapa faktor risiko dan merupakan kasus kegawatdaruratan. Karakteristik ARDS terjadi dalam selang waktu pendek atau akut, edema alveolar, hipoksemia akut, penurunan komplians paru serta multiple organ disfunction atau penurunan fungsi organ. ARDS sering dirawat dalam ruang rawat intensif beserta faktor-faktor yang mendasari. Meskipun banyak sekali pengobatan medikamentosa yang tidak efektif dalam pengobatan ARDS, namun kortikosteroid mampu mengurangi tembusnya cairan pada membran kapiler alveolar dan perlekatan neutrofil pada kapiler endotel. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui tatalaksana ARDS dengan steroid dengan melihat angka mortalitas, ventilator free days, dan length of stay dari tatalaksana ARDS dengan steroid. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Sepuluh literature yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdiri dari satu penelitian retrospective observational, satu penelitian retrospective analysis, tiga penelitian randomized control trial dan lima penelitian cohort study. Jumlah sampel penelitian pada 10 literature tersebut adalah 1633 orang untuk grup terapi steroid dan 1303 untuk grup kontrol. Hasil penelitian literature review menunjukkan steroid kurang memberi dampak dalam mengurangi angka mortalitas pada pasien ARDS, steroid memberi dampak dalam peningkatan angka ventilator free days dan steroid tidak memiliki dampak yang bermakna pada peningkatan length of stay.Kata Kunci: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid.
C-Reactive Protein dan D-Dimer sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19 Raynaldo E. D. Togas; Mordekhai L. Laihad; Diana C. Lalenoh
Medical Scope Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v5i2.45408

Abstract

Abstract: High mortality rate of COVID-19 patients is caused by cytokine storms which worsen the condition of COVID-19 patients, so that COVID-19 infection is associated with an inflammatory and prothrombotic state. C-reactive protein (CRP), which is a marker of inflammation, and also D-dimer, which is a marker of coagulation, have increased in relation to the severity of COVID-19 disease. This study aimed to determine whether inflammatory markers (CRP) and coagulation profiles (D-dimer) could be used as predictors of mortality in COVID-19 patients. This was a literature review study by searching three databases, namely Pubmed, Sciencedirect, and Google Scholar. The results obtained 11 literatures with a total sample of 6,440 COVID-19 patients with CRP and/or D-dimer marker test results. Six of seven literatures showed significant results that increased CRP level was a predictor of mortality in COVID-19 patients, and six of the six literatures showed significant results that increased D-dimer level was a predictor of mortality in COVID-19 patients. In conclusion, CRP and D-dimer can be used as predictors of mortality in COVID-19 patients Keywords: COVID-19; C-reactive protein; D-dimer; predictor of mortality; cytokine storms   Abstrak: Tingginya angka mortalitas pasien COVID-19 disebabkan oleh badai sitokin yang meningkatkan perburukan kondisi pasien COVID-19 sehingga infeksi COVID-19 dikaitkan dengan keadaan inflamasi dan protrombotik. C-reactive protein (CRP) yang merupakan penanda inflamasi dan juga D-dimer yang merupakan penanda koagulasi mengalami peningkatan terkait dengan derajat beratnya penyakit COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penanda inflamasi (CRP) dan profil koagulasi (D-dimer) dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas pasien COVID-19. Metode penelitian ialah suatu literature review dengan pencarian menggunakan tiga database, yaitu Pubmed, Sciencedirect, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 11 literatur dengan jumlah sampel penelitian 6440 pasien COVID-19 serta hasil tes penanda CRP dan atau D-dimer. Enam dari tujuh literatur memiliki hasil bermakna bahwa peningkatan kadar CRP sebagai prediktor mortalitas pasien COVID-19, dan enam dari enam literatur memiliki hasil bermakna bahwa peningkatan kadar D-dimer sebagai prediktor mortalitas pasien COVID-19. Simpulan penelitian ini ialah CRP dan D-dimer dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas pasein COVID-19. Kata kunci: COVID-19; C-reactive protein; D-dimer; prediktor mortalitas; badai sitokin
Fungsi Kognitif Skala MOCA-INA pada Peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif: Perbandingan Sebelum dan Setelah Jaga di Rumah Sakit Wonggo, Tesalonika; Kambey, Barry I.; Lalenoh, Diana C.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.56407

Abstract

Abstract: Shift duty can negatively impact cognitive function among residents of Specialist Program. This study aimed to obtain the differences in cognitive function of Anesthesiology and Intensive Therapy (ATI) residents at Universitas Sam Ratulangi before and after on-call duty at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. Samples were residents of ATI who completed the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment (MoCA-INA) before and 24 hours after on-call duty. The results showed a total of 31 residents as samples with a proportion of 24 (77.4%) males and seven (22.6%) females. There was a decline in most cognitive domains, with a statistical analysis demonstrating a decrease in the mean MoCA-INA score from 26.8387 to 25.0000, accompanied by a p-value of 0.000 (<0.05) and a Z-score < -2 obtained from the Wilcoxon test. In conclusion, there is a significant difference in cognitive function of residents of Anesthesiology and Intensive Therapy Specialist Program of Universitas Sam Ratulangi before and after on-call duty at the hospital. This is possibly due to cognitive overload caused by the shift duty. Keywords: cognitive function; MoCA-INA; shift duty; specialist program   Abstrak: Tugas jaga yang berat dapat berdampak negatif terhadap fungsi kognitif peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan fungsi kognitif PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif (ATI) Universitas Sam Ratulangi sebelum dan sesudah jaga di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong-lintang pada PPDS ATI yang mengisi Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-INA) sebelum dan 24 jam setelah jaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat perbandingan antara fungsi kognitif pada PPDS sebelum dan setelah menjalani tugas jaga 24 jam. Hasil penelitian mendapatkan 31 sampel dengan proporsi laki-laki sebanyak 24 (77,4%) orang dan perempuan sebanyak tujuh (22,6%) orang. Penurunan pada sebagian besar domain kognitif dengan hasil analisis statistik menunjukkan penurunan rerata skor MoCA-INA dari 26,8387 menjadi 25,0000 disertai dengan nilai p<0,05 (p=0,000) dan Z-score <-2 yang diperoleh melalui uji Wilcoxon. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan fungsi kognitif PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Sam Ratulangi yang bermakna antara sebelum dan setelah jaga di rumah sakit. Hal ini diduga disebabkan kelebihan beban kognitif akibat tugas jaga. Kata kunci: fungsi kognitif; MoCA-INA; tugas jaga; residen pendidikan dokter spesialis
Managemen Anestesi untuk Seksio Sesarea dengan Strok Maternal Hemoragik Bisri, Dewi Yulianti; Lalenoh, Diana C
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v12i2.547

Abstract

Strok adalah penyebab utama ketiga morbiditas dan mortalitas di banyak negara maju. Penyakit serebrovaskular selama kehamilan dapat diakibatkan oleh tiga mekanisme utamaperdarahan, infark arteri, dan trombosis vena. Strok maternal bisa berupa iskemik atau hemoragik. Strok iskemik merupakan stroke yang umum terjadi disebabkan oleh hilangnya pasokan darah ke area otak. Strok hemoragik disebabkan oleh pendarahan ke otak akibat pecahnya pembuluh darah. Seksio sesarea atau intervensi bedah saraf yang harus diprioritaskan atau dilakukan secara bersamaan adalah masalah penting, sama seperti keputusan untuk menggunakan anestesi umum atau spinal dan epidural ketika akan dilakukan seksio sesarea. Teknik anestesi yang digunakan harus dibuat dengan mempertimbangkan risiko ibu secara keseluruhan. Hiperventilasi untuk mengurangi tekanan intrakranial (ICP) harus dijaga dalam kisaran 2530 mmHg karena kisaran normal PaCO2 selama kehamilan menurun menjadi 30-32 mmHg akibat peningkatan ventilasi dan progesteron. Selain itu, anestesi dalam yang berlebihan harus dihindari untuk mencegah ketidakstabilan hemodinamik. Penggunaan manitol untuk mengendalikan ICP, mempunyai risiko dehidrasi janin; sementara laporan lain menunjukkan bahwa 0,2 hingga 0,5mg/kg manitol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keseimbangan cairan janin. Pertimbangan khusus diperlukan untuk wanita dengan preeklampsia. Anestesi umum untuk seksio sesarea dikaitkan dengan peningkatan risiko strok jika dibandingkan dengan anestesi neuraksial pada wanita preeklamptik. Terlepas dari status preeklamptik ibu, pemeliharaan oksigenasi yang memadai dan stabilitas hemodinamik penting untuk keselamatan ibu dan janin.Anesthesia Management for Cesarean Section with Maternal Hemorrhagic StrokeAbstractStroke is the third leading cause of morbidity and mortality in many developed countries. Cerebrovascular disease during pregnancy can result from three main mechanismsbleeding, arterial infarction, and venous thrombosis. Maternal stroke can be either ischemic or hemorrhagic. Ischemic stroke is a common stroke caused by loss of blood supply to an area of the brain. Hemorrhagic stroke is caused by bleeding into the brain due to rupture of a blood vessel. Cesarean section or neurosurgical intervention should be prioritized or performed simultaneously is an important issue, as is the decision to use general anesthesia or spinal and epidural when a cesarean section is performed. The anesthesia technique used should be made taking into account the overall maternal risk. Hyperventilation to reduce intracranial pressure (ICP) should be kept in the range of 25-30 mmHg because the normal range of PaCO2 during pregnancy decreases to 30-32 mmHg due to increased ventilation and progesterone. The use of mannitol to control ICP, there are associated risks of fetal dehydration; While other reports show that 0.2 to 0.5mg/kg of mannitol has no significant effect on fetal fluid balance. Special consideration is needed for women with preeclampsia. General anesthesia for cesarean section is associated with an increased risk of stroke when compared to neuraxial anesthesia in preeclampsic women. Regardless of maternal preeclampic status, maintenance of adequate oxygenation and hemodynamic stability is important for maternal and fetal safety.
Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Sepsis dan Syok Septik di Ruang Perawatan Intensif Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kowel, Feysira C. E. P.; Lalenoh, Diana C.; Laihad, Mordekhai L.
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.60875

Abstract

Abstract: Gram-negative and gram-positive bacteria are common causes of sepsis and septic shock, therefore, treatment often uses broad spectrum antibiotics. This study aimed to determine the types of antibiotics used, the suitability of antibiotics with etiology, and the average length of antibiotic use in sepsis and septic shock patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from July 2022 to June 2023. This was a descriptive and retrospective study using patients’ medical records. The results showed that the use of antibiotics in sepsis and septic shock included monotherapy and combination therapy. The most common antibiotics for monotherapy was levofloxacine (14.3%) in sepsis, and meropenem (8.7%) in septic shock. The most common combination for sepsis was meropenem-levofloxacine (6.7%) and meropenem-metronidazole (6.7%), meanwhile for septic shock was meropenem-levofloxacine (16.5%). Of the 91 sepsis patients, only 15 had the causative germs; 10 (9.62%) antibiotics did not match the etiology, eight (7.84%) did. In septic shock, of 91 patients, five patients had the causative germs; four (4.44%) antibiotics were according to etiology, three (3.37%) were not appropriate. The average use of antibiotics was one day, with an average value of 3.06 for sepsis and 2.24 for septic shock. In conclusion, in patients with sepsis and septic shock, the monotherapy is levofloxacine and meropenem, while the combination therapies are meropenem-levofloxacine and meropenem-metronidazole. Antibiotics appropriate to the etiology in sepsis and septic shock sepsis have nearly the same number with those inappropriate to etiology. The average duration of antibiotic use for both sepsis and septic shock is one day. Keywords: antibiotics; sepsis; septic shock; profile of antibiotics usage   Abstrak: Bakteri Gram-negatif dan Gram-positif merupakan penyebab umum sepsis dan syok septik, sehingga pengobatannya sering menggunakan antibiotik spektrum luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotik yang digunakan, kesesuaian antibiotik dengan etiologi, rerata lama penggunaan antibiotik pada pasien sepsis dan syok septik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2022–Juni 2023. Jenis penelitian ialah deskriptik retrospektif menggunakan data rekam medis pasien sepsis dan syok septik. Hasil penelitian mendapatkan penggunaan antibiotik pada sepsis dan syok septik meliputi monoterapi dan kombinasi. Antibiotik yang umum digunakan untuk monoterapi ialah levofloxacine (14,3%) pada sepsis, dan meropenem (8,7%) pada syok septik; untuk kombinasi meropenem-levofloxacine (6,7%) dan meropenem-metronidazole (6,7%) pada sepsis dan meropenem-levofloxacine (16,5%) pada syok septik. Dari 91 pasien sepsis, hanya 15 yang memiliki kuman penyebab; 10 (9,62%) antibiotik tidak sesuai etiologi, dan delapan (7,84%) sesuai. Pada syok septik, dari 91 pasien, lima memiliki kuman penyebab; empat (4,44%) antibiotik sesuai etiologi, dan tiga (3,37%) tidak sesuai. Rerata penggunaan antibiotik terbanyak ialah satu hari, dengan nilai rerata 3,06 untuk sepsis dan 2,24 untuk syok septik. Simpulan penelitian ini ialah antibiotik yang banyak digunakan pada pasien sepsis dan syok septik sebagai monoterapi yaitu levofloxacine dan meropenem, sedangkan untuk kombinasi ialah meropenem-levofloxacine dan meropenem-metronidazole. Antibiotik yang sesuai etiologi baik pada sepsis maupun syok septik hampir sama banyak dengan yang tidak sesuai etiologi.  Rerata lama penggunaan antibiotik baik sepsis maupun syok septik ialah satu hari. Kata kunci: antibiotik; sepsis; syok septik; profil penggunaan antibiotik
Penanganan Anestesi pada Cedera Otak Traumatik Lalenoh, Diana Christine; Sudjito, M. H; Suryono, Bambang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.666 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i2.92

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) atau Traumatic Brain Injury (TBI) merupakan masalah besar di dunia karena mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Di Amerika setiap tahun cedera kepala terjadi pada 600.000 orang. Di Jerman sekitar 17,6% dari seluruh kasus trauma adalah cedera otak traumatik dan paling sering menyebabkan kematian (26%). Dilaporkan penanganan anestesi pada seorang pasien laki-laki 19 tahun, dengan berat badan 65 kg dengan diagnosa adanya epidural hematoma (EDH), ICH regio frontotemporalis sinistra, ICH regio temporalis dekstra, dan fraktur linear os temporal sinistra. Dilakukan kraniniotomi untuk pengambilan bekuan darah.Tekanan darah saat masuk kamar operasi 110/70 mmHg, laju nadi 98 kali /menit, laju napas 24 kali /menit, suhu badan 37,50 C, dan GCS E1V3M5. Pasien diinduksi dengan Fentanyl 100 ?g, Propofol 100 mg, fasilitas intubasi dengan Rocuronium 40 mg, Lidokain 70 mg, dan pemeliharaan dengan Isofluran dan Oksigen serta Propofol kontinyu, dan penambahan fentanyl dan rokuronium intermiten. Operasi berlangsung selama empat jam, kemudian dipindahkan ke ICU. Setelah dirawat selama 2 hari di ICU, pasien kemudian dipindahkan ke ruangan dengan GCS pasca operasi E3V5M6. Pengelolaan anestesi untuk perdarahan otak karena cedera otak traumatik membutuhkan suatu pengertian mengenai patofisiologi dari peningkatan tekanan intrakranial, tekanan perfusi otak. Resusitasi otak perioperatif secara farmakologik dan non-farmakologik adalah sangat penting untuk mencegah terjadinya cedera otak sekunder.Anesthesia Management in Traumatic Brain InjuryTraumatic Brain Injury (TBI) is a big problem in the world because of high mortality and morbidity. TBI burdens approximately 600,000 people every year in USA. Head injuries are found in 17.6% of all trauma in-patients and are the most common cause of death after injury (26.6%) in German. Here we report anesthetic management in male, 19 yrs old, 65 kgs body wieght, diagnose was Epidural Haematome (EDH), left frontotemporal intracranial haemorrhage (ICH), right temporal ICH, and linear fracture of left temporal bone. He was undergoing craniotomy procedure to evacuate blood clot. Blood pressure was 110/70 mmHg, HR 98 x / m, RR 24 x /m ,core temperature 37,50 C. GCS E1 V3 M5. Induction of anesthesia was with Fentanyl 100 ?g, Propofol 100 mg. Intubation with Rocuronium 40 mg, Lidocaine 70 mg, and maintenance with Isofluran and oxygen with intermittent Propofol, Fentanyl, and Rocuronium. After undergoing 4 hours anesthesia for craniotomy was ended, patient transfer to ICU. After 2 days patient was transfer to ward with GCS score E3V5M6. Anesthesia managementi in intracranial bleeding ec TBI is very important for understand intracranial hypertension pathophysiology, cerebral perfusion pressure. Basic brain rescucitation perioperatively with pharmacological and non pharmacological strategies is very important in TBI to prevent secondary brain injury.