Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Penatalaksanaan Perioperatif Epidural Hematoma karena Pijat Kepala pada Bayi Subekti, Bambang Eko; Lalenoh, Diana C.; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.947 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.53

Abstract

Cedera kepala pada bayi merupakan merupakan kejadian yang sering terjadi. Sejak bayi dapat tengkurap, berguling, merangkak bisa terjadi kepala bayi membentur dinding saat berganti posisi. Kebiasaan pijat bayi tradisional yang salah juga berisiko terjadinya cedera kepala. Terdapat perbedaan anatomi, fisiologi dan fisikososial, di samping otak bayi yang sedang mengalami perkembangan/pertumbuhan menjadi problem khusus dalam neuroanestesi. Bila terjadi trauma akan menyebabkan angka mortalitas, morbiditas dan kecacatan yang tinggi, yang sangat berpengaruh pada perkembangannya. Seorang bayi laki-laki, 1 bulan, datang ke RS dengan mengalami penurunan kesadaran setelah dipijat oleh dukun bayi tradisional. 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit, bayi dipijat kemudian hari berikutnya demam, mual dan muntah, kejang dan kesadarannya menurun. Dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Muluk. Pada pemeriksaan di dapat kondisi lemah, GCS 9, pupil isokor 2/2mm, reflek cahaya +/+, hemodinamik dalam batas normal, anemia (+). Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan didiagnosa cedera otak traumatik (GCS 9) dengan epidural hemorrhage (EDH). Pada pasien dilakukan tindakan kraniotomi evakuasi hematom dengan memperhatikan prinsip neuroanestesi selama tindakan bedah berlangsung.Perioperative Management of Epidural Hematoma for a Head Massage in InfantsHead injury in infants is a common occurence. Infancy can stomach, roll over, crawl could happen babys head againts the wall when changing position. Custom baby masssage traditional one is also at risk of head injury. There are differences in anatomy, physiology and psychosocial, as well as infants who are experiencing brain development/growth particular problem in neuroanestesi In the event of trauma will cause mortality, morbidity and a higher rate, which is very influential in the development of infants. A boy,1 months, admitted to hospital with the experience a decrease in consciousness after a massage by masseur traditional. 3 days before entering the hospital, baby massage and then have fever, nausea and vomiting, seizures and decreased consciousness. The baby was brought to Puskesmas and refer to Abdul Muluk hospital. On examination 9 obtained GCS, pupillary light reflex isocoor 2/2mm + / +, hemodynamics in the normal range, anemia (+). After a physical examination and was diagnosed with an additional examination brain damage due to trauma (GCS 9) with epidural hemorraghe. Patient was managed with emergency hematoma evacuation under general anesthesia and with continues and comprehensive care using neuroanesthesia principles.
Pengelolaan Anestesi pada Perdarahan Intrakranial Akibat Stroke Hemoragik Lalenoh, Diana Christine; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.83 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.182

Abstract

Perdarahan Intraserebral /Intra cerebral haemorrhage (ICH) terjadi pada sekitar 20 orang dalam 100.000 populasi per tahunnya. Tipikal pasien stroke hemoragik adalah sepuluh tahun lebih muda dari pasien stroke iskemik. Mayoritas lokasi perdarahan ICH adalah subkortikal dan lebih 50% dari perdarahan intraserebral spontan terjadi dalam ganglia basalis. Populasi yang beresiko tinggi adalah pria, usia lanjut, serta ras Afrika, Amerika, dan Asia. Stroke merupakan satu diantara sekian banyak situasi klinik yang memerlukan proteksi sistem saraf optimal. Obat-obatan seperti Barbiturat, Etomidat, Propofol, Isofluran, Metilprednisolon, Tirilazad mesylat, Nimodipin, Nikardipin, dan Mannitol sering digunakan untuk proteksi jaringan saraf. Pada laporan kasus ini dilaporkan keberhasilan penanganan anestesi pada penderita pria, 41 tahun, berat badan 60 kg, dengan diagnosis Perdarahan Intrakranial/ICH parietal kiri dengan edema ec stroke hemoragik. Pasien menjalani tindakan kraniotomi untuk evakuasi bekuan darah yang durante operasi ditemukan pada percabangan arteri serebri media kiri (arteri Talamostriata). Tekanan darah awal saat masuk kamar operasi adalah 214/142 mmHg, laju nadi 92 kali/menit, laju napas 28 kali/menit, suhu 360C. Glasgow Coma Scale / GCS E1 V1 M4. Sesudah tiga setengah jam operasi selesai dan pasien ditransfer ke Intensive Care Unit / ICU. Sesudah enam hari pasien dipindahkan ke ruangan. Penanganan anestesi untuk perdarahan intrakranial karena stroke hemoragik adalah sangat penting untuk menerapkan prinsip dasar neuroproteksi baik secara farmakologik maupun non farmakologik, di samping penanganan untuk hipertensi emergensi.Anesthesia Management in Intracranial Haemorrhagic Because of Haemorrhagic Stroke Intra cerebral haemorrhage (ICH) burdens approximately 20 in 100,000 people every year. The typical hemorrhagic stroke patient is ten years younger than the ischemic stroke patient. Most ICH bleeds are subcortical and over 50% of spontaneous intracerebral hemorrhages occur in the basal ganglia. Populations at greatest risk include men, the elderly and African American, and Asian. Stroke is one of among clinical situations where protecting the central nervous system is a priority. Drugs such as barbiturates, etomidate, propofol, isoflurane, methylprednisolone, tirilazad mesylate, nimodipine, nicardipine, and mannitol are used for protecting the nervous tissue. Here we report successful anesthetic management in male, 41 yrs old, 60 kgs body weight, diagnose was left parietal Intra Cranial Haemorrhage (ICH) with oedema ec Haemorrhage stroke. Undergoing Craniotomy procedure to evacuate blood clot in left median cerebral artery (Thalamo Striata artery). Blood pressure was 214 / 142 mmHg, HR 92 x / m, RR 28 x /m ,core temperature 360 C. GCS E1 V1 M4. After undergoing 3 hours and 30 minutes anesthesia for craniotomy was ended, patient transfer to ICU. After 6 days patient was transfer to ward. Anesthesia managementi in Intracranial Bleeding ec Haemorrhagic Stroke is very important for basic brain rescucitation perioperatively with pharmacological and non pharmacological strategies, besides principle management of hypertensive emergencies.
Anestesia untuk Kraniotomi Tumor Supratentorial Lalenoh, Diana Christine; Lalenoh, Hermanus; Rehatta, Nancy Margareta
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.674 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i1.80

Abstract

Tumor supratentorial tersering pada orang dewasa adalah glioma (36%), meningioma (32.1%), dan adenoma pituitary (8.4%). Sekitar separuh dari tumor tersebut adalah ganas. Mayoritas tumor tumor tersebut (80%) adalah supratentorial. Untuk seluruh tumor primer, rata-rata usia terdeteksi adanya tumor otak adalah 57 tahun. Angka pasti insidens metastase tumor otak tidak diketahui namun diperkirakan cukup rendah. Dari sekitar 25% pasien yang meninggal karena kanker, ditemukan adanya metastase dari tumor sistem saraf pusat (SSP) pada otopsi. Ada lima sumber keganasan yang sering metastase ke otak yaitu kanker payudara, kanker kolorektal, kanker paru, dan melanoma. Enam persen dari pasien dengan komplikasi tersebut muncul dalam 1 tahun setelah terdeteksi adanya tumor primer. Lima jenis kanker tersebut yang sering menyebabkan metastase otak pada sekitar 37.000 kasus di Amerika Serikat. Jurnal Neuroanestesia Indonesia 17 Dilaporkan keberhasilan penanganan anestesi pada seorang pasien, wanita 56 tahun, dengan berat badan 65 kg. Pasien tersebut didiagnosis sebagai Space Occupaying Lession (SOL) kanan DD/Meningioma. Pasien dilakukan operasi kraniotomi untuk pengeluaran tumor. Tekanan darah saat masuk kamar operasi 176/100 mmHg, laju nadi 98 kali / menit, laju napas 20 kali / menit, suhu badan 370 C, dan GCS E4V5M6. Pasien diinduksi dengan Fentanyl 100 ?g, Propofol 100 mg, fasilitas intubasi dengan Rocuronium 40 mg, Lidokain 70 mg, dan pemeliharaan dengan Sevofluran dan Oksigen serta Propofol kontinyu, dan penambahan fentanyl dan rokuronium intermiten. Infus terpasang dua jalur. Operasi berlangsung selama tujuh jam dua puluh menit. Dengan terpasang nasal kanul dan oksigen 3 liter/menit, pasien dipindahkan ke ICU. Pasien dirawat selama satu hari di ICU, kemudian dipindahkan ke ruangan. Setelah lima hari pasien dirawat di ruangan kemudian pasien dipulangkan dan rawat jalan dengan dokter bedah saraf. Anestesi untuk tumor supratentorial membutuhkan suatu pengertian mengenai patofisiologi dari penekanan tekanan intrakranial (TIK) lokal maupun secara keseluruhan; pengaturan dan pemeliharaan perfusi intraserebral; bagaimana menghindari akibat pengaruh sekunder dari sistemik terhadap otak. Persiapan perioperatif yang cermat dan terstruktur sangat penting pada penanganan anestesi untuk tumor supratentorial, yang meliputi persiapan pasien preoperasi, persiapan kelengkapan obat, alat, dan monitoring, serta perencanaan pelaksanaan anestesi sampai dengan pananganan pasca operasi.Anesthesia For Craniotomy Supratentorial TumorThe common supratentorial tumors in adults are glioma (36%), meningioma (32.1%), and adenoma pituitary (8.4%). Approximately half of these tumors are malignant. The majority of them ( 80%) are supratentorial. For the entire primary tumor, the average age when a brain tumor was detected is 57 years old. The exact number of metastatic brain tumor incidence is unknown, but it is assumed quite low. The existence of metastatic tumor of the central nervous system (SSP) is found at the autopsy of around 25% of patients who died of cancer. There are five sources of malignancy which often cause metastasis to the brain, namely breast cancer, colorectal cancer, lung cancer, and melanoma. In six percent of patients, these complications appeared within a year after the primary tumor is detected. These five cancers frequently cause the brain metastases in approximately 37.000 cases in the United States. It is reported the successful handling of anesthesia on a woman 56 years old, weighing 65 kg. This patient was diagnosed with Space Occupying Lession (SOL) right DD / Meningioma. Craniotomy surgery was performed for tumor expenditure. At the time she entered the operating room, her blood pressure was 176/100 mmHg, pulse rate beats / minute, respiratory rate 20 times / minute, body temperature of 37o C, and GCS E4V5M6. She was induced with Fentanyl 100 mg, 100 mg Propofol; intubation facilities are Rocuronium 40 mg, Lidocaine 70 mg, maintenance with Inhalan Sevoflurane and Oxygen, along with continuous Propofol, the addition of Fentanyl and intermittent Rocuronium. Infusion was attached in two pathways.The surgery lasted seven hours and twenty minutes. With nasal cannula and oxygen 3 liters / minute attached, the patient was transferred to ICU. She was treated for one day in ICU, before moved into a ward. After stay in the ward for five days, she was discharged and became an outpatient of neurosurgeon. Anesthesia for supratentorial tumor requires an understanding of pathophysiology of intracranial pressure (ICP) suppression locally and entirely; setting up and maintenance of intracerebral perfusion; how to avoid secondary effects of a systemic effect on the brain. Accurate and structured perioperative preparation is critical for handling of anesthesia for supratentorial tumors, which includes the preparation of the patient pre-surgery, completeness preparation of drugs, devices, and monitoring, as well as planning the implementation of the anesthesia until post-surgery tendance.
Pulih Sadar Pascaanestesi yang Tertunda Permatasari, Endah; Lalenoh, Diana C.; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.576 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.48

Abstract

Dengan penggunaan obat-obatan anestesi dengan kerja singkat, umumnya pasien dapat segera dibangunkan pascaoperasi dan pembiusan. Namun dapat terjadi proses pulih sadar yang tertunda karena berbagai penyebab. Proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi masih merupakan suatu masalah bagi ahli bedah dan anestesi. Seharusnya pada akhir operasi dan pembiusan, pasien sudah kembali ke tingkat kesadaran penuh, mampu mempertahankan reflex jalan nafas dengan ventilasi yang adekuat dengan nyeri yang terkendali. Waktu proses pulih sadar pascaanestesi dapat bervariasi dan tergantung dari berbagai faktor risiko terkait kondisi pasien prapembedahan, jenis anestesi yang diberikan dan lama operasi. Pulih sadar pascaanestesi yang tertunda terutama disebabkan oleh medikasi dan obat-obatan anestesi pada waktu perioperatif. Penyebabnya multifaktor dan obat-obatan anestesi tidak selalu menjadi penyebab. Apabila faktor penyebab lain telah dapat disingkirkan maka wajib dipertimbangkan yang menjadi penyebab adalah kelaian intrakranial akut. Sembari mencari penyebab, tatalaksana awalnya adalah mempertahankan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Walaupun proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi jarang ditemukan, mengenali gejala dan penyebab menjadi wajib untuk dapat dilakukan tatalaksana proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitasnya. Diagnosis yang akurat adalah kunci tatalaksana dan ahli anestesi memegang peran penting dalam mencegah terjadinya komplikasi anestesi ini.Delayed Emergence from AnaesthesiaThe use of fast acting general anaesthetic agents leads to patients awaken quickly in the post operative period. However sometimes recovery is protracted and the list of possible causes in long. Delayed emergence from anaesthesia remains a major cause of concern both for anaesthesiologist and surgeon. Ideally, on completion of surgery and anaesthesia, the patient should be awake or easily arousable, protecting the airay, maintaining adequate ventilation and with their pain under control. The time taken to emerge to fully consciousness is affected by patient factors, anaesthetic factors, duration of surgery and painfull stimulation. The principal factor for delayed awakening from anaesthesia assumed to be the medications and anaesthestic agents used in the perioperatif period. Delayed emergene from anaesthesia is often multifactorial and anaesthetic agent may not always be the culprit. When other causes are excluded, the possibility acute intracranial event should be considered. While the specific cause is being sought , primary management is always support of airway, breathing and circulation. Although delayed emergence from general anesthesia is not uncommon, recognizing the cause and instituting timely treatment is imperative in condition where delayed therapy can increase morbidity and mortality. Accurate diagnosis is the key of management and anesthesiologist play a key role in the prevention of this anesthetic complication.
Penggunaan FOUR Skor dalam Manajemen Anestesi untuk Evakuasi Hematoma Epidural pada Pasien dengan Intoksikasi Alkohol Firdaus, Riyadh; Lalenoh, Diana C.; Rahardjo, Sri; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.184 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.52

Abstract

Manajemen neuroanestesia untuk cedera kepala bertujuan untuk mengoptimalkan perfusi otak, memfasilitasi pembedahan dan mencegah cedera otak sekunder. Bagi pasien cedera kepala yang mengalami toksisitas alkohol, diperlukan perhatian khusus dalam mengevaluasi dan menentukan dosis obat anestesia. Walaupun GCS dapat digunakan sebagai modalitas penilaian pasien dengan intoksikasi alkohol, penilaian menggunakan FOUR adalah alternatif yang lebih baik. FOUR lebih spesifik dalam menilai penurunan kesadaran bila ada defek neurologi, bahkan bagi pasien yang terintubasi. Selama pembiusan, dosis perlu diperhatikan karena konsumsi alkohol jangka panjang dapat meningkatkan kebutuhan dosis obat anestesia. Sebaliknya, intoksikasi alkohol memerlukan dosis obat induksi yang lebih kecil. Seorang laki-laki usia 38 tahun dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran pasca trauma kepala sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat konsumsi alkohol. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang, ditegakkan diagnosis Hematom Epidural. Pasien menjalani kraniotomi evakuasi Hematom Epidural selama 4 jam. Pascaoperasi pasien tidak dilakukan ekstubasi dan dirawat di perawatan ICU selama 7 hari.Use of Four Score in Anesthesia Management for Epidural Hematoma Evacuation in Patient with Alcohol IntoxicationNeuroanesthetic management for brain trauma aims to maintain optimal cerebral perfusion and facilitate surgery while preventing secondary brain injury. For patients with brain trauma under alcohol toxicity, careful monitoring is needed to assess and determine drug dosing. Although GCS is reliable for assessing conciousness in patients with alcohol intoxication, evaluation using FOUR is a reasonable alternative. FOUR is more spesific in identifying level of conciousness in neurologic defects, even in intubated condition. Throughout anesthesia, special attention should be given, as long term alcohol consumption may increase the dose needed for general anesthesia. However, a smaller dose of induction agent is needed in alcohol intoxication. We describe a case of a 38 years old male, who was admitted to emergency department with loss of conciousness following head trauma for 3 hours prior to admission. There was history of alcohol consumption. History and physical findings were consistent with epidural hematoma. Patient underwent craniotomy for epidural hematoma evacuation. The surgery took four hours. Post surgery, patient remained intubated and stayed in ICU for seven days.
Profil Length of Stay dan Lama Penggunaan Ventilator Pasien Pneumonia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bongakaraeng, Tika Yudiyani; Lalenoh, Diana Christine; Laihad, Mordekhai Leopold
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i12.3773

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah dengan dampak mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Diabetes melitus tipe 2 menjadi faktor predisposisi penting terhadap infeksi, termasuk pneumonia. Length of Stay (LOS) merupakan indikator efektivitas pelayanan medis, sedangkan ventilator digunakan sebagai alat bantu napas di mana penggunaan berkepanjangan dapat mempengaruhi mortalitas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan LOS dan lama penggunaan ventilator pasien pneumonia dengan diabetes melitus tipe 2 di ICU. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode observasional secara retrospektif menggunakan data rekam medis. Hasil: Dari total 181 pasien, usia 30-65 tahun (55,8%) dan jenis kelamin perempuan (55,8%) paling dominan. Sebagian besar LOS ?14 hari (80,7%). Semua pasien keluar ICU dengan status meninggal (100%). Pasien lebih sering menggunakan ventilator ?48 jam (87,3%). Distribusi LOS berdasarkan usia didominasi oleh kelompok usia 30-65 tahun (46,4%) dengan LOS ?14 hari. Berdasarkan jenis kelamin, LOS ?14 hari paling banyak pada perempuan (45,3%). Distribusi lama penggunaan ventilator berdasarkan usia menunjukkan kelompok usia 30-65 tahun mendominasi dengan durasi ?48 jam (48,1%), demikian pula jenis kelamin perempuan (48,1%). Distribusi lama penggunaan ventilator berdasarkan LOS menunjukkan LOS ?14 hari dengan durasi ?48 jam (68,0%) dominan. Kesimpulan: Mayoritas pasien berada pada usia 30-65 tahun dan perempuan masing-masing 55,8%. LOS ?14 hari tercatat pada 80,7% pasien dan seluruh pasien keluar ICU dalam keadaan meninggal. Durasi ventilator ?48 jam (87,3%) paling dominan. LOS ?14 hari paling banyak ditemukan pada kelompok usia 30-65 tahun (46,4%) dan perempuan (45,3%). Durasi ventilator ?48 jam paling sering terjadi pada kelompok usia 30-65 tahun (48,1%) dan pada perempuan (48,1%). Penggunaan ventilator tertinggi ditemukan pada pasien dengan LOS ?14 hari dengan durasi ventilator ?48 jam (68,0%).
Profil Hemodinamik dan Angka Mortalitas pada Pasien Pascakraniotomi di ICU RS R. D. Kandou Periode Januari 2024 – Januari 2025 Louisandrina Saranti, Muifa; Leopold Laihad, Mordekhai; Christine Lalenoh, Diana
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i12.3820

Abstract

Kraniotomi adalah prosedur bedah saraf kritis untuk menangani kondisi intrakranial seperti trauma dan tumor otak. Pasien pasca-kraniotomi memerlukan pemantauan perawatan intensif karena risiko yang memengaruhi hasil. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, diagnosis, profil hemodinamik, dan angka kematian pada pasien pasca-kraniotomi elektif dan darurat. Studi observasional retrospektif dilakukan pada pasien di ICU Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou dari Januari 2024 hingga Januari 2025. Studi ini mencakup 83 pasien, 18 di kelompok elektif dan 65 di kelompok darurat. Pada kelompok darurat, laki-laki lebih dominan, kelompok usia 18-40 tahun paling umum, trauma dengan diagnosis perdarahan intrakranial (ICH) adalah penyebab utama, dan angka kematiannya adalah 47,69%, dengan sebagian besar kematian terjadi setelah 24 jam. Pada kelompok elektif, perempuan lebih banyak ditemukan, kelompok usia 41-60 tahun mendominasi, dan Meningioma merupakan diagnosis yang paling sering terjadi, dengan angka kematian 38,89%. Hemodinamika pada kedua kelompok berfluktuasi dalam kisaran 0-20% dari nilai dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 18-40 tahun (44,62%) dan laki-laki (80%) mendominasi pada kraniotomi darurat, sedangkan kelompok usia 41-60 tahun (86,67%) dan perempuan (83,33%) lebih umum ditemukan pada kraniotomi elektif. Diagnosis yang paling umum adalah Meningioma (78%) untuk kasus elektif dan SDH+ICH akibat trauma (15,38%) untuk kasus darurat. Angka kematian lebih tinggi pada kelompok darurat (47,69%) dibandingkan dengan kelompok elektif (38,89%).
Profil Hemodinamik dan Skala Nyeri Pada Pasien Preeklampsia dan Eklampsia yang Dilakukan Seksio Sesarea Serta Luaran Neonatal (Skor APGAR) Fendiputra, Melvin; Christine Lalenoh, Diana; Posangi, Iddo
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i12.3835

Abstract

Preeklampsia dan eklampsia adalah komplikasi kehamilan serius yang dapat membahayakan ibu dan janin jika tidak segera ditangani. Untuk menentukan profil parameter hemodinamik, skala nyeri, dan skor APGAR pada pasien preeklampsia dan eklampsia yang menjalani anestesi untuk operasi caesar. Penelitian deskriptif observasional retrospektif pada rekam medis pasien di Rumah Sakit R. D. Kandou Manado untuk periode Februari 2023 – Februari 2025. Insiden preeklampsia adalah 226 kasus dan eklampsia adalah 39 kasus, dengan mayoritas pasien berusia 20–35 tahun. Anestesi yang paling umum digunakan untuk preeklampsia adalah anestesi spinal dengan bupivakain + fentanyl, sedangkan eklampsia lebih umum menggunakan anestesi umum dengan propofol + fentanyl + rokuronium bromide. Gambaran hemodinamik perioperatif stabil, dan tidak ada perbedaan signifikan pada skala nyeri pascaoperasi antara kedua jenis anestesi tersebut.
Karakteristik Mortalitas Pasien Geriatri Pascaoperasi di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Juli 2024-Juli 2025 Laritmas, Sintikhe C. Y.; Kambey, Barry I.; Lalenoh, Diana Ch.
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65857

Abstract

Abstract: Increased number of elderly population is accompanied by a decline in physiological function and multiple comorbidities, therefore, increases their vulnerability to postoperative complications and mortality. This study aimed to describe the clinical characteristics of postoperative mortality in geriatric patients in the Intensive Care Unit (ICU) at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital in Manado from July 2024 to July 2025. This was a descriptive and  retrospective study using medical records of 119 geriatric patients who met the inclusion criteria. The variables examined included age, gender, comorbidities, type of surgery, and length of hospital stay. The results showed that the pre-elderly group (60-69 years) was the largest group (50.42%). The gender proportion was relatively balanced, with 50.42% female and 49.58% male. Hypertension (60.50%) was the most common comorbidity, while digestive surgery was the most common type of surgery (36.13%). In addition, the majority of patients had a length of stay ≥7 days (57.98%). In conclusion, pre-elderly patients with multiple comorbidities, especially hypertension, as well as those who underwent digestive surgery and had a longer length of stay, were the most common group found in the mortality population of this study. Keywords: geriatric patients; Intensive Care Unit; characteristics; retrospective; mortality    Abstrak: Pertambahan populasi lanjut usia, disertai penurunan fungsi fisiologis dan komobiditas multipel, meningkatkan kerentanan mereka terhadap komplikasi pascaoperasi dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik klinis mortalitas pasien geriatri pascaoperasi di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Juli 2024-Juli 2025. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data rekam medis 119 pasien geriatri yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang dikaji meliputi usia, jenis kelamin, komorbiditas, jenis operasi, dan lama rawat inap. Hasil penelitian mendapatkan kelompok pra-lansia (60-69 tahun) merupakan kelompok terbanyak (50,42%). Proporsi jenis kelamin relatif seimbang, yaitu perempuan 50,42% dan laki-laki 49,58%. Hipertensi (60,50%) merupakan komorbiditas tersering, sedangkan bedah digestif menjadi jenis operasi terbanyak (36,13%). Selain itu, mayoritas pasien memiliki lama rawat inap ≥7 hari (57,98%). Simpulan penelitian ini ialah pasien pra-lansia dengan komorbiditas multipel terutama hipertensi, serta yang menjalani operasi digestif dan memiliki lama rawat inap pasien yang lebih panjang merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan dalam populasi mortalitas penelitian ini. Kata kunci: pasien geriatri; Intensive Care Unit; karakteristik pasien; mortalitas
The Use Dexmedetomidine as a Total Intravenous Anesthesia–Propofol Adjuvant for Aneurysm Clipping Sepriwan, Tori; Saleh, Siti Chasnak; Lalenoh, Diana Ch.
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v15i1.732

Abstract

Intracranial aneurysm is a cerebrovascular disease with a high mortality rate, particularly in cases of rupture. Aneurysm clipping surgery is one of the definitive management methods; however, it involves significant hemodynamic fluctuations that may lead to intraoperative complications and worsen prognosis. Hemodynamic stability and rapid anesthetic recovery are crucial aspects for the success of this procedure. We report a case of a 57-year-old female with a saccular aneurysm in the right M1 segment of the middle cerebral artery, scheduled for aneurysm clipping surgery. The patient had previously undergone decompressive craniectomy and hematoma evacuation due to non-traumatic intracranial hemorrhage, which was not initially diagnosed as an aneurysm, and showed no significant improvement postoperatively. In anesthetic management, dexmedetomidine was used as an adjuvant to maintain hemodynamic stability and support rapid recovery. Throughout the procedure with TIVA- Propofol, dexmedetomidine effectively maintained stable blood pressure without episodes of hypertension, hypotension, or bradycardia. The patient did not experience significant intraoperative complications, and postoperative recovery was optimal. This emphasizes the critical role of dexmedetomidine within modern anesthetic approaches to the management of intracranial aneurysm cases.