Dwinita Larasati
KK Manusia dan Produk Industri, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa No. 10, Bandung 40132

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL ITENAS REKARUPA

Pendekatan Semiotika dalam Analisis Tanda Iklan Layanan Masyarakat Kampanye Kebersihan “Sayang Bandung” Tahun 2014-2015 Iriani, Dewi; Budiwaspada, Agung Eko; Larasati, Dwinita
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.331 KB)

Abstract

Tahun 2014, sebuah program komunikasi kota bertajuk Sayang Bandung mengeluarkan dua iklan layanan masyarakat terkait kebersihan disertai dengan penegakan kembali Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) di Kota Bandung. Iklan tersebut dibuat oleh suatu tim non pemerintah (NGO) yang terdiri dari akademisi dan praktisi kreatif di kota Bandung. Dua versi iklan ‘Sayang Bandung’ yaitu ‘Iis’ dan ‘Asep’ mendapatkan banyak respon terutama di media sosial. Iklan ini tidak hanya mendapat perhatian dari netizen, melainkan juga dari portal berita online dan berbagai macam forum, seperti Kaskus.com yang memuat 70 halaman khusus untuk mengulas iklan tersebut. Respon positif berupa dukungan maupun respon negatif berupa kritikan disampaikan melalui akun media sosial ‘Sayang Bandung’. Penelitian ini bertujuan mengetahui tanda-tanda iklan dan mitos yang terbentuk dalam iklan ‘Sayang Bandung’ yang memicu munculnya respon-respon tersebut. Pendekatan semiotika teks Thwaites digunakan untuk menganalisis iklan tersebut. Berdasarkan analisa dipahami bahwa  dalam iklan Sayang Bandung terdapat konsep gender, daya tarik fisik, keakraban komunikasi, dan budaya yang digunakan untuk mengkomunikasikan perda serta himbauan kebersihan kepada masyarakat kota Bandung, khususnya yang berusia muda. Kata Kunci : iklan layanan masyarakat, sayang bandung, semiotika AbstraCT In 2014, a city communication program titled Sayang Bandung issued two public service announcements related to cleanliness accompanied by the re-enforcement of Peraturan Daerah No. 11 of 2005 on the Implementation of Order, Cleanliness and Fineness (K3) in Bandung. The ad was created by a non-government team (NGO) consisting of academics and creative practitioners in Bandung. Two versions of the ads of 'Sayang Bandung',  'Iis' and 'Asep' get a lot of response especially in social media. These ads not only get the attention of netizens, but also from online news portals and various forums, such as Kaskus.com which contains 70 pages specifically to review the ads. Positive response in the form of support and negative response in the form of criticism delivered through social media account 'Sayang Bandung'. This study aims to determine the signs of advertising and myths that formed in the ads of 'Sayang Bandung' which triggered the emergence of these responses. The Thwaites text semiotics approach is used to analyze the ad. Based on the analysis, it is understood that in the ads of‘Sayang Bandung’ there are gender concepts, physical attraction, communication intimacy, and culture used to communicate local regulations and hygiene appeals to the people of Bandung, especially young ones. Keywords : public service advertisement, sayang bandung, semiotics
Kajian Faktor-faktor Pembentuk Lingkungan Kerja pada Desain Interior Coworking Space di Kota Bandung Maemanah, Shafira; Larasati, Dwinita; Adhitama, G. Prasetyo
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.866 KB)

Abstract

Coworking space pada dasarnya merupakan tempat kerja bersama bagi para profesional yang bekerja mandiri namun membutuhkan interaksi sosial. Tempat ini berkembang luas secara global, termasuk di Indonesia. Di Kota Bandung jumlah coworking space terus bertambah, namun setelah ditinjau ulang, beberapa tempat tutup atau sepi pengunjung. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya pengembangan coworking space dari segi kenyamanan pengguna saat bekerja di dalamnya. Faktor-faktor yang diteliti adalah pengaturan spasial, jenis furnitur, kebisingan, penghawaan yang mempengaruhi temperatur, pencahayaan, dan suasana yang dihadirkan dari tampilan visualnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memberikan saran pengembangan desain interior yang dapat diterapkan di Kota Bandung. Sampel yang diambil adalah 3 tempat dengan pemilihan nonprobabilitas. Metode penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan observasi di masing-masing tempat dan wawancara pengguna untuk mengetahui persepsinya sebagai data pendukung. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa faktor pembentuk lingkungan kerja belum diterapkan secara optimal untuk kenyaman penggunanya.Kata kunci: desain interior, lingkungan kerja, coworking space, bandungAbstractCoworking space is basically a shared workplace for professionals who work independently but require social interaction. This place is growing globally, including in Indonesia. In the city of Bandung,the number of coworking space continues to grow, but after pre-field research, some places closed or have quiet visitors. This research is conducted as an effort to develop coworking space in terms of user's comfort while working in it. Factors studied are spatial arrangement, type of furniture, noise, air circulation that affect temperature, lighting, and atmosphere presented from visual appearance. The purpose of this research is to review and provide suggestions for interior design development that can be applied in Bandung. Three places were taken as samples with non-probability selection. This research method is done qualitatively by doing observation in each place and user interview to know perception as supporting data. The results show that some of the factors that form the working environment have not been optimally applied for user’s convenience.Keywords: interior design, working environment, coworking space, bandung
Pemanfaatan Pencahayaan Siang pada Interior Gedung Kampus PT Dahana sebagai Strategi Penerapan Prinsip Bangunan Berkelanjutan Subkirman, Anwar; Larasati, Dwinita; Isdianto, Budi
Jurnal Rekarupa Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu krisis lingkungan yang kita hadapi sekarang adalah Pemanasan Global akibat meningkatnya hasil emisi Gas Rumah Kaca mengharuskan kita untuk segera berpikir dan bertindak melakukan upaya pencegahan agar krisis tidak berlanjut terus menerus. Konsep Bangunan Berkelanjutan (sustainable building) adalah salah satu upaya sektor jasa konstruksi untuk turut berkonstribusi dalam usaha mitigasi krisis lingkungan tersebut dengan prinsip penghematan energi dan mengurangi dampaknya terhadap lingkungan serta harapan agar desain dapat bekerja dengan alam (pasive design), terutama pada aspek konsumsi listrik pada gedung. Prinsip ini dapat diterapkan dengan melakukan pemanfaatan cahaya siang secara optimal sebagai penerangan utama gedung pada siang hari, seperti yang dilakukan oleh bangunan kantor Gedung KAMPUS PT Dahana Subang. Bagaimana strategi dan metode pemanfaatan cahaya siang pada gedung ini diuraikan dan dikaji dalam penelitian ini secara deskriptif analitis. Didapatkan faktor, elemen desain, dan berbagai pertimbangan yang menyokong upaya penghematan energi ini. Kajian juga membandingkan penerapan yang dilakukan dengan panduan teknis dari GREENSHIP GBCI serta pendekatan Pencahayaan Siang untuk Bangunan Berkelanjutan dari Mary Guzowksi. Dengan demikian, maka diharapkan penelitian ini dapat mengingatkan para perancang pada paradigma desain yang berkelanjutan sebagai panduan setiap praktik perancangannya dalam rangka turut melakukan mitigasi krisis lingkungan. Kata kunci: pencahayaan siang, bangunan berkelanjutan, penghematan energi.   AbstraCT One of the environmental crisis we are facing today is global warming caused by rising greenhouse gas emissions requires us to think and act immediately to take steps to prevent that crisis does not goes on forever. The concept of Sustainable Building  is one of the efforts of the construction sector also contribute to mitigating the environmental crisis with the principle of saving energy and reducing the impact on the environment as well as the hope that the design can work with nature (passive design), especially in the aspect of power consumption in building. This principle can be applied to make use of daylight optimally as the main lighting in the building during the day, like the office building of PT Dahana Subang Gedung KAMPUS does it. How the strategy and methods of use of daylight in this buildings is described and studied in this research with descriptive analisys. The research finds some factors, design elements, and the various considerations that underpin these energy saving measures. The study also compares the Gedung KAMPUS's application with the technical guide from GBCI GREENSHIP and Daylighting approach to Sustainable Building of Mary Guzowksi. Thus, it is expected that this study can alert the designer to the paradigm of sustainable design as practical guide in order to contribute in mitigation of the environmental crisis. Keywords: daylighting,  sustainable building, energy efficiency.
Pendekatan Semiotika dalam Analisis Tanda Iklan Layanan Masyarakat Kampanye Kebersihan “Sayang Bandung” Tahun 2014-2015 Dewi Iriani; Agung Eko Budiwaspada; Dwinita Larasati
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2014, sebuah program komunikasi kota bertajuk Sayang Bandung mengeluarkan dua iklan layanan masyarakat terkait kebersihan disertai dengan penegakan kembali Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) di Kota Bandung. Iklan tersebut dibuat oleh suatu tim non pemerintah (NGO) yang terdiri dari akademisi dan praktisi kreatif di kota Bandung. Dua versi iklan ‘Sayang Bandung’ yaitu ‘Iis’ dan ‘Asep’ mendapatkan banyak respon terutama di media sosial. Iklan ini tidak hanya mendapat perhatian dari netizen, melainkan juga dari portal berita online dan berbagai macam forum, seperti Kaskus.com yang memuat 70 halaman khusus untuk mengulas iklan tersebut. Respon positif berupa dukungan maupun respon negatif berupa kritikan disampaikan melalui akun media sosial ‘Sayang Bandung’. Penelitian ini bertujuan mengetahui tanda-tanda iklan dan mitos yang terbentuk dalam iklan ‘Sayang Bandung’ yang memicu munculnya respon-respon tersebut. Pendekatan semiotika teks Thwaites digunakan untuk menganalisis iklan tersebut. Berdasarkan analisa dipahami bahwa  dalam iklan Sayang Bandung terdapat konsep gender, daya tarik fisik, keakraban komunikasi, dan budaya yang digunakan untuk mengkomunikasikan perda serta himbauan kebersihan kepada masyarakat kota Bandung, khususnya yang berusia muda. Kata Kunci : iklan layanan masyarakat, sayang bandung, semiotika AbstraCT In 2014, a city communication program titled Sayang Bandung issued two public service announcements related to cleanliness accompanied by the re-enforcement of Peraturan Daerah No. 11 of 2005 on the Implementation of Order, Cleanliness and Fineness (K3) in Bandung. The ad was created by a non-government team (NGO) consisting of academics and creative practitioners in Bandung. Two versions of the ads of 'Sayang Bandung',  'Iis' and 'Asep' get a lot of response especially in social media. These ads not only get the attention of netizens, but also from online news portals and various forums, such as Kaskus.com which contains 70 pages specifically to review the ads. Positive response in the form of support and negative response in the form of criticism delivered through social media account 'Sayang Bandung'. This study aims to determine the signs of advertising and myths that formed in the ads of 'Sayang Bandung' which triggered the emergence of these responses. The Thwaites text semiotics approach is used to analyze the ad. Based on the analysis, it is understood that in the ads of‘Sayang Bandung’ there are gender concepts, physical attraction, communication intimacy, and culture used to communicate local regulations and hygiene appeals to the people of Bandung, especially young ones. Keywords : public service advertisement, sayang bandung, semiotics
Kajian Faktor-faktor Pembentuk Lingkungan Kerja pada Desain Interior Coworking Space di Kota Bandung Shafira Maemanah; Dwinita Larasati; G. Prasetyo Adhitama
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coworking space pada dasarnya merupakan tempat kerja bersama bagi para profesional yang bekerja mandiri namun membutuhkan interaksi sosial. Tempat ini berkembang luas secara global, termasuk di Indonesia. Di Kota Bandung jumlah coworking space terus bertambah, namun setelah ditinjau ulang, beberapa tempat tutup atau sepi pengunjung. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya pengembangan coworking space dari segi kenyamanan pengguna saat bekerja di dalamnya. Faktor-faktor yang diteliti adalah pengaturan spasial, jenis furnitur, kebisingan, penghawaan yang mempengaruhi temperatur, pencahayaan, dan suasana yang dihadirkan dari tampilan visualnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memberikan saran pengembangan desain interior yang dapat diterapkan di Kota Bandung. Sampel yang diambil adalah 3 tempat dengan pemilihan nonprobabilitas. Metode penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan observasi di masing-masing tempat dan wawancara pengguna untuk mengetahui persepsinya sebagai data pendukung. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa faktor pembentuk lingkungan kerja belum diterapkan secara optimal untuk kenyaman penggunanya.Kata kunci: desain interior, lingkungan kerja, coworking space, bandungAbstractCoworking space is basically a shared workplace for professionals who work independently but require social interaction. This place is growing globally, including in Indonesia. In the city of Bandung,the number of coworking space continues to grow, but after pre-field research, some places closed or have quiet visitors. This research is conducted as an effort to develop coworking space in terms of user's comfort while working in it. Factors studied are spatial arrangement, type of furniture, noise, air circulation that affect temperature, lighting, and atmosphere presented from visual appearance. The purpose of this research is to review and provide suggestions for interior design development that can be applied in Bandung. Three places were taken as samples with non-probability selection. This research method is done qualitatively by doing observation in each place and user interview to know perception as supporting data. The results show that some of the factors that form the working environment have not been optimally applied for user’s convenience.Keywords: interior design, working environment, coworking space, bandung