Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Koneksi

Kelayakan Berita dalam Proses Gatekeeping di Lembaga Penyiaran Publik TVRI Jakarta (Studi Kasus Program Soft News “Semangat Pagi Indonesia” pada 22 Mei 2019) Nelson Nelson; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6212

Abstract

Media menjadi acuan masyarakat sebagai pengetahuan akan dunia di sekitar mereka. Masyarakat “haus” akan informasi sehingga menjadikan kecepatan update sebagai prioritas utama media massa saat ini. Namun, kualitas berita seringkali tidak menjadi perhatian. Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Jakarta menjadi acuan untuk menyebarkan berita yang akurat dan faktual. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana kelayakan berita dalam proses gatekeeping di LPP TVRI Jakarta. Peneliti menggunakan teori gatekeeping, unsur layak berita dalam stasiun televisi milik pemerintah. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara dengan redaksi mengenai proses gatekeeping dalam menentukan kelayakan berita. Studi kasus dilakukan pada program “Semangat Pagi Indonesia” edisi 22 Mei 2019. Pada saat itu, terjadi kerusuhan pendemo di asrama BRIMOB, yang menolak hasil keputusan KPU yang memenangkan pasangan calon nomor urut satu yaitu Joko Widodo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan di LPP TVRI Jakarta sudah sesuai dengan teori gatekeeping. Namun masih ada kekurangan dalam kelayakan berita di LPP TVRI Jakarta. Kekurangannya dalam aspek keseimbangan berita. Pada saat memberitakan aksi demonstrasi tersebut, TVRI tidak obyektif karena hanya mengambil opini dari satu sudut pandang yakni pemerintah.
Budaya Populer Dalam Pembuatan Video Klip (Studi Kasus Pada Video Klip ‘Merakit’ Oleh Yura Yunita) Jenny Ratna Sari; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6444

Abstract

Popular culture is dominated by the production and consumption of material goods whose creation is driven with the motive of profit.Video clips are also used to gain profit or profit for their creators.The study raised how popular culture is in the making of video clips.This research is a qualitative study with case study methods. The researcher conducted a case study of the video clip titled "Assemble" created by Yura Yunita.Data collection techniques are conducted with interviews to artists and creative teams.The result of this research is now that culture is no longer racing on the culture of existing and repeated standards.Visually, the video clip no longer has to be full-color but it can combine two identical colors that are black and white.Popular culture develops over time by adjusting the culture that was originally born and combined with things that don't usually happen.The cultural industry is directed by the need to realise value in the market.The advantage Motif determines the nature of various forms of culture. Video clips can now be combined with popular culture one of them is to use the disability as a model, combining traditional elements.The goal is to achieve a new target market in this case with disabilities.  Budaya populer didominasi oleh produksi dan konsumsi barang material yang penciptaannya didorong dengan motif laba. Video klip juga digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau laba bagi penciptanya. Penelitian ini mengangkat bagaimana budaya populer dalam pembuatan video klip. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti melakukan studi kasus terhadap video klip berjudul “Merakit” yang diciptakan oleh Yura Yunita. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap artis dan tim kreatif. Hasil dari penelitian ini adalah kini budaya tidak lagi berpacu pada budaya standar yang ada dan berulang. Secara visual, video klip tidak lagi harus penuh warna melainkan bisa memadukan dua warna identik yaitu hitam dan putih. Budaya populer berkembang seiring waktu dengan menyesuaikan budaya yang awalnya sudah lahir dan dipadukan dengan hal yang biasanya tidak terjadi. Industri budaya diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilai di pasaran. Motif keuntungan menentukan sifat berbagai bentuk budaya. Video klip kini dapat dipadukan dengan budaya populer salah satunya adalah dengan menggunakan penyandang disabilitas sebagai model, memadukan unsur-unsur tradisional. Tujuannya untuk mencapai target pasar baru dalam hal ini penyandang disabilitas.
Tindakan Bullying dalam Komunikasi Antarpribadi Semasa SMA dan Dampaknya pada Nilai Public Speaking dan IPK Jesica Sharon Agatha; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8116

Abstract

The act of bullying is one of the dark sides of interpersonal communication. The act of bullying is experienced by many teenagers when hanging out with friends or in life in the family. A person's academic ability in high school tends to be influenced by the conditions of the surrounding environment. As for those who want to be involved in the world of modern communication, the ability of public speaking is an important part of it. This study wants to find out how much frequency the types of bullying experienced by students during high school (SMA), and how these types of bullying have an impact on academic ability and public speaking. The research method used is mixed (Mix Method) to find out how much frequency the type of bullying is towards the victim, and how the type of bullying has an impact on the academic ability and public speaking of the victim. In this study, the respondents selected by the researchers had certain criteria, one of which was the second-semester students of the Faculty of Communication Sciences at Tarumanagara University. Therefore, the measurement of the respondent's academic ability uses a GPA. Based on the results of the study indicate that the act of bullying has a different impact on the victims. Not a few who experienced a decrease in academic ability and public speaking. The highest frequency of bullying is verbal bullying in the form of physical insults.Tindakan bullyingmerupakan salah satu sisi gelap dalam komunikasi antarpribadi. Tindakan bullyingbanyak dialami para remaja ketika bergaul dengan teman-teman atau dalam kehidupan di keluarga. Kemampuan akademis seseorang pada masa SMA cenderung dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Hal ini menjadi persoalan ketika bullying yang dialami pada saat SMA membawa dampak bagi kemampuan siswa terutama ketika memasuki jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan public speaking selama perkuliahan. Penilaian juga beralih menjadi sistem Indeks Prestasi Kumulatif. Penelitian ini ingin mengetahui seberapa besar frekuensi jenis bullying yang dialami mahasiswa semasa Sekolah Menengah Atas (SMA), dan bagaimana jenis bullying tersebut berdampak pada nilai public speaking dan IPK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui seberapa besar frekuensi jenis bullyingpada siswa semasa SMA. Sementara metode kualitatif digunakan untuk menjawab bagaimana jenis bullyingtersebut berdampak pada kemampuan publicspeakingdan nilai IPK mahasiswa.Responden yang dipilih adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara semester dua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan bullyingmemiliki dampak yang berbeda-beda bagi korbannya. Tidak sedikit yang mengalami penurunan dalam nilai public speaking dan IPK. Frekuensi tindakan bullyingdialami mahasiswa semasa SMA adalah bullyingverbal berupa hinaan fisik.
Komunikasi Interpersonal Dosen dan Mahasiswa Skripsi dalam Membangun Motivasi melalui Media Pesan Instan Felisitas Aurelia Virginia Dalentang; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15492

Abstract

The Covid-19 pandemic has caused the learning process to be carried out online, including thesis guidance. There is a change in interpersonal communication between lecturers and students, which previously took place face-to-face, turned into communication through instant messaging media, which affected the motivation of thesis students. This study aims to determine the process of interpersonal communication between lecturers and thesis students through instant messaging media in building motivation. The theory used in this research is the theory of communication, interpersonal communication, motivation, and instant messaging. The researcher uses the case study method, on interpersonal communication between lecturers and thesis students at Tarumanagara University, in West Jakarta. This research shows that interpersonal communication which is done online through message media, cannot build motivation, because through instant messaging media lecturers and thesis students cannot capture verbal and nonverbal reactions directly. Instant messages as a communication medium make it easier for lecturers and students to interact in real-time, but cause delays in students and can cause misunderstandings due to differences in message meaning.Pandemi Covid-19 menyebabkan proses pembelajaran dilakukan secara daring, tidak terkecuali bimbingan skripsi. Adanya perubahan komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa, yang sebelumnya berlangsung secara tatap muka, berubah menjadi komunikasi melalui media pesan instan, yang berpengaruh kepada motivasi mahasiswa skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal antara dosen dan mahasiswa skripsi melalui media pesan instan dalam membangun motivasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, komunikasi interpersonal, motivasi, dan pesan instan. Peneliti menggunakan metode studi kasus, pada komunikasi interpersonal dosen dan mahasiswa skripsi di Universitas Tarumanagara, di Jakarta Barat. Penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan secara daring melalui media pesan, tidak dapat membangun motivasi, karena melalui media pesan instan dosen dan mahasiswa skripsi tidak dapat menangkap reaksi verbal dan nonverbal secara langsung. Pesan instan sebagai media komunikasi memudahkan dosen dan mahasiswa berinteraksi secara real-time, tetapi menyebabkan sifat menunda pada mahasiswa dan dapat menyebabkan kesalahpahaman akibat adanya perbedaan pemaknaan pesan.
Self-Disclosure dalam Komunikasi Antarpribadi pada Pasangan Suami Istri Beda Agama Elysabath Martin; Riris Loisa; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2430

Abstract

Pernikahan beda agama bukanlah hal yang baru di Indonesia. Namun fenomena ini masih menjadi isu kontroversial setiap kali diperbincangkan. Pernikahan beda agama merupakan salah satu bentuk hubungan antarpribadi yang kompleks, baik sebelum dan sesudah pernikahan terjadi, khususnya dalam hal penyingkapan diri (self disclosure). Maksud dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana self-disclosure yang dilakukan oleh pasangan suami-istri beda agama dengan pasangannya. Penelitian ini didasari teori komunikasi antarpribadi, self-disclosure dan Jendela Johari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pernikahan beda agama, komunikasi pada pasangan suami-istri beda agama tetap terbuka satu sama lain. Hal ini menandakan terjadinya keterbukaan pada open self mengenai hal-hal umum yang memang sudah seharusnya diketahui oleh diri sendiri dan pasangan. Perbedaan agama dalam hubungan rumah tangga menyebabkan komunikasi sedikit terhambat karena tidak ingin menimbulkan konflik. Ini memperlihatkan bahwa terjadi hidden self pada komunikasi pasangan suami-istri beda agama terkait keinginan orang tua yang menginginkan anaknya dapat menganut agama yang sama. Kendati demikian, pasangan suami-istri beda agama cenderung memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan.
Penggunaan Aplikasi Media Sosial Berbasis Audio Visual dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Aplikasi Tiktok) Dian Novita Sari Chandra Kusuma; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8214

Abstract

TikTok social media is popular with various groups and age groups. TikTok is an audio visual based social media application that contains short videos that are homemade or made by other people who entertain with interesting features such as the latest music, unique face filters and others. This study uses the Theory of Uses and Gratifications to determine individual satisfaction in using TikTok social media. Social media can shape the self-concept of its users based on internal factors (physical and psychological) and external factors (other people and reference groups). This study aims to find out how the use of audio visual-based social media in shaping the self-concept of users with different age levels. This study uses a qualitative approach with a case study method for users of TikTok social media. Data collection was carried out using observations and interviews with 4 sources of users of TikTok applications who have different age levels. The results of this study indicate differences in the age level of TikTok users affect the duration of using the application also affect the formation of self-concept formed by the speakers. The use of the TikTok application forms the self-concept of the resource person in a positive direction such as increasing the confidence of the resource person to show his identity and negative self-concepts such as lack of time management.Media sosial TikTok digemari oleh berbagai kalangan dan jenjang umur. TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis audio visual yang berisikan video-video pendek buatan sendiri maupun buatan orang lain yang menghibur dengan fitur-fitur menarik seperti musik terbaru, filter wajah yang unik dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan Teori Uses and Gratifications untuk mengetahui kepuasan individu dalam menggunakan media sosial TikTok. Media sosial dapat membentuk konsep diri dari penggunanya berdasarkan faktor internal (fisik dan psikis) dan faktor eksternal (orang lain dan kelompok rujukan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan media sosial berbasis audio visual dalam membentuk konsep diri penggunanya dengan jenjang umur yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus terhadap pengguna media sosial TikTok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan observasi dan wawancara kepada 4 narasumber pengguna aplikasi TikTok yang memiliki jenjang umur yang berbeda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan jenjang umur pengguna TikTok mempengaruhi durasi dalam menggunakan aplikasi juga mempengaruhi pembentukan konsep diri yang dibentuk oleh narasumber. Penggunaan aplikasi TikTok membentuk konsep diri narasumber ke arah positif seperti meningkatkan kepercayaan diri narasumber untuk menunjukkan jati dirinya dan konsep diri negatif seperti kurangnya dalam mengatur waktu.
Kepatuhan Masyarakat Pada Komunikasi Persuasif Social Distancing yang Dilakukan Pemerintah di Media Massa Saat Pandemi COVID-19 Joshua Yonathan; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10392

Abstract

The Indonesian government, especially Jakarta, has taken various ways to prevent the transmission of the COVID-19 virus, one of which is through persuasive communication. The persuasive communication that is always carried out by the government is washing hands, wearing mask, and maintaining distance. This research will only discuss more about maintaining distance or social distancing. The persuasion of the social distancing movement is carried out by the government in various ways, one of which is through the mass media. Mass media is the official journalistic media, such as radio, newspapers, electronic news, and television. Through this persuasive communication, Jakarta government expects public compliance to jointly break the chain of transmission of COVID-19. Therefore, researchers want to see a picture of public compliance with the persuasive social distancing communication carried out by the government in the mass media during the COVID-19 pandemic. This research is a qualitative research using a case study method in West Jakarta, to be precise in Kalideres sub-district. Data were collected by means of interviews. The result of the research is that there are 2 sources who obey and 2 sources who do not comply with social distancing. The persuasion communication that the government has made through the mass media has reached expectations at a cognitive level. This is evidenced by the good knowledge of the informants about social distancing. However, the affective and behavioral aspects are still not maximally implemented because of the lack of clear sanctions for offenders of social distancing so that people tend to conform because of the ambiguous conditions they experience.Pemerintah Indonesia, khususnya Jakarta, melakukan berbagai cara untuk mencegah penularan virus COVID-19, salah satunya dengan melakukan komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif yang selalu dilakukan oleh pemerintah adalah gerakan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Penelitian ini hanya akan membahas lebih lanjut tentang gerakan menjaga jarak atau social distancing. Persuasi gerakan social distancingdilakukan pemerintah dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui media massa. Media massa yang dimaksud adalah media jurnalistik resmi, seperti radio, koran, berita elektronik, dan televisi. Melalui komunikasi persuasif ini, tentunya pemerintah mengharapkan kepatuhan masyarakat untuk bersama-sama memutus rantai penularan COVID-19. Maka dari itu, peneliti ingin melihat gambaran kepatuhan masyarakat pada komunikasi persuasif social distancing yang dilakukan pemerintah di media massa saat pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan di daerah Jakarta Barat, tepatnya di kecamatan Kalideres. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara. Hasil dari penelitian adalah terdapat 2 narasumber yang patuh dan 2 narasumber yang tidak patuh terhadap social distancing. Komunikasi persuasi yang pemerintah lakukan melalui media massa sudah mencapai harapan pada tingkat kognitif. Hal ini dibuktikan dengan pengetahuan yang baik dari para narasumber tentang social distancing. Akan tetapi, aspek afektif dan behavioral masih belum terlaksana dengan maksimal karena kurangnya sanksi yang jelas bagi pelanggar social distancing sehingga masyarakat cenderung melakukan konformitas karena kondisi ambigu yang dialami.
Komunikasi Persuasif Public Speaker Pada Audiens Berbeda Negara (Studi Fenomenologi Master Of Ceremony Pada Audiens China dan Amerika) Calvin Dion; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3892

Abstract

Seorang public speaker harus menentukan komunikasi persuasif seperti apa yang akan digunakan pada audiens yang berbeda negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi persuasif public speaker pada audiens berbeda negara. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi persuasif yang dalam penelitian ini membahas tentang tiga faktor yang perlu diperhatikan seorang komunikator yaitu ethos, pathos, dan logos. Peneliti melakukan studi fenomenologi terhadap Master Of Ceremony pada audiens China dan Amerika. Peneliti memperoleh data dengan melakukan observasi, dokumentasi, studi pustaka dan wawancara dengan tiga orang Master Of Ceremony sebagai informan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, seorang komunikator dalam melakukan komunikasi persuasif pada audiens yang berbeda negara terutama audiens dari negara China dan Amerika harus memperhatikan tiga unsur yang penting yaitu ethos, pathos dan  logos seperti penampilan, persiapan, daya tarik emosional, logika, dan pesan yang masuk akal.
Komunikasi Organisasi Komnas Perempuan dalam Menyikapi Penyelesaian Kasus Pelecehan Seksual Gracela Neoh; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10201

Abstract

Sexual harassment of women often occurs in Indonesia and is disturbing to society. Based on Komnas Perempuan's 2016 Annual Records, there were 16,217 documented cases of sexual harassment. Along with the times, sexual harassment has penetrated into the digital realm, namely one case of sexual harassment in cyberspace that occurred in 2020 by X baristas. The employee uses Closed Circuit Television to peek at the breasts of female customers and spreads through social media. Based on this case, Komnas Perempuan conducted organizational communication by stating that the actions of former X employees included sexual harassment by means of violence by verbally displaying women's bodies without consent. The formulation of the research problem is how Komnas Perempuan's organizational communication is in addressing the resolution of cases of sexual harassment by X baristas. Based on the theoretical study, this research has used organizational communication theory, public relations, and Komnas Perempuan. This research uses descriptive qualitative research methods through case studies by collecting data in the form of interviews, documentation, and literature study. The results of this study, Komnas Perempuan conducted internal communication by suggesting X to restore a safe space and external communication by responding to journalists through groups on instant messaging applications by maintaining a code of ethics to protect victims.Pelecehan seksual kepada kaum perempuan kerap terjadi di Indonesia dan meresahkan masyarakat. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2016 terdapat 16.217 kasus pelecehan seksual yang berhasil didokumentasikan. Seiring perkembangan zaman, pelecehan seksual merambah ke ranah digital. Salah satu kasus pelecehan seksual di dunia maya terjadi pada tahun 2020 dilakukan oleh barista kafe X. Pegawai tersebut menggunakan kamera pengawas untuk mengintip payudara pelanggan perempuan dan menyebarkan melalui media sosial. Berdasarkan kasus tersebut, Komnas Perempuan melakukan komunikasi organisasi dengan menyatakan tindakan mantan pegawai kafe X tersebut termasuk pelecehan seksual dengan bentuk kekerasan, dengan cara mempertontonkan secara verbal tubuh perempuan tanpa persetujuan. Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana komunikasi organisasi Komnas Perempuan dalam menyikapi penyelesaian kasus pelecehan seksual barista X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskripsif kualitatif melalui studi kasus dengan mengumpulkan data berupa wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Komnas Perempuan melakukan komunikasi internal dengan menyarankan perusahaan atau kafe X mengembalikan ruang aman pada pelanggan. Komunikasi eksternal dilakukan dengan memberikan tanggapan kepada wartawan melalui grup pada aplikasi pesan instan. Tanggapan tersebut diberikan dengan tetap menjaga kode etik untuk melindungi korban.
Representasi Identitas Androgini di Media Sosial Nadya Fhebrianty; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6227

Abstract

Di dalam masyarakat Indonesia, masih banyak terjadi kesalahpahaman mengenai konsep androgini. Androgini memiliki stereotipe homoseksual seperti Lesbi, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT). Padahal konsep awal androgini adalah konsep kesetaraan gender antara femininitas dan maskulinitas. Berbagai pandangan pro dan kontra muncul di tengah masyarakat. Namun, saat ini banyak orang yang beridentitas androgini berani memvisualisasikan dirinya di media sosial terutama Instagram. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses representasi androgini di media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan menggunakan metode penelitian fenomenologi. Subjek dari penelitian ini adalah tiga informan androgini. Sedangkan objek dari penelitian ini adalah perilaku androgini dalam merepresentasikan diri di media sosial Instagram. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah androgini merepresentasikan diri di media sosial melalui tiga representasi. Pertama, representasi mental, di mana androgini bersikap acuh terhadap interaksi negatif di media sosial. Selanjutnya, representasi bahasa, di mana androgini memvisualisasikan dirinya dengan penggunaan bahasa yang biasa atau dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Terakhir yaitu representasi sosial, dengan adanya faktor dukungan sosial dari lingkungan sekitar, androgini berani memutuskan untuk terjun ke media sosial.