Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh limbah baglog dan sungkup plastik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah keriting Fahri Ali; Raida Kartina; Reny Mita Sari; Rianida Taisa
Agrovigor Vol 14, No 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v14i1.9223

Abstract

Produktivitas cabai besar di Provinsi Lampung menurun pada tahun 2018 sebesar 24,7%, dari 88,23 kuintal/ha pada tahun 2017 menurun menjadi 66,41 kuintal/ha pada tahun 2018. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena kandungan C-organik tanah yang rendah dan tingginya kerontokan bunga cabai. Limbah baglog jamur merupakan bahan yang potensial digunakan sebagai bahan pembenah tanah karena memiliki sifat porous, sehingga mudah menyerap dan menyimpan air, serta mengalirkan air dalam jumlah yang banyak dan mengandung nutrisi untuk tanaman. Untuk mengurangi serangan kerontokan bunga cabai dapat digunakan sungkup plastik berbentuk melengkung yang dapat menahan jatuhnya air hujan secara langsung pada tanaman dan mengoptimalkan penggunaan pestisida dan pupuk daun.  Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengkaji pengaruh pemberian limbah baglog dan sungkup plastik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai, dan mengkaji pengaruh interaksi antara pemberian limbah baglog dan sungkup plastik terhadap pertumbuhan dan hasil cabai. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan praktik hortikultura Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dimulai bulan Juli sampai Oktober 2020. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial 3 x 2 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Faktor pertama yang dicoba yaitu dosis limbah baglog yang terdiri dari 0 (kontrol), 20 ton/ha dan 40 ton/ha. Faktor kedua adalah penggunaan sungkup plastik yang terdiri dari tanpa sungkup (kontrol) dan pemberian sungkup plastik. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F, jika nyata dilanjutkan dengan Uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian limbah baglog jamur meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang dan bobot buah cabai per petak. Dosis limbah baglog 40 ton/ha memberikan hasil terbaik pada jumlah cabang dan bobot buah cabai per petak. Penggunaan sungkup plastik tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil cabai, dan tidak terjadi interaksi antara pemberian limbah baglog jamur dengan penggunaan sungkup plastik terhadap semua variabel pengamatan.
Improvement of Soil Chemical Properties and Growth of Maize due to Biochar Application on Ultisol Rianida Taisa; Desi Maulida; Abdul Kadir Salam; Muhammad Kamal; Ainin Niswati
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol 24, No 3: September 2019
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts.2019.v24i3.101-107

Abstract

Ultisols have poor soil characteristics, yet biochar is one of the technologies that can be applied as a soil enhancer to improve the soil quality. Biochar has succeeded in improving soil quality, through improving soil physical, chemical, and biological properties. This research aimed to improve the quality of soil chemical properties and growth of maize plant, as well as to find a combination between biochar type and dosage of biochar that is able to improve the chemical properties of Ultisols and/or the growth of maize plant. This research was conducted at the Greenhouse and Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Lampung. This study used a randomized block design (RBD) arranged in factorial with 3 factors and 3 replications. The first factor was the soil layer (topsoil and subsoil), the second factor was the type of biochar (biochar of cocoa shell and biochar of oil palm shell), and the third factor was the biochar dosage (0, 10%, 20%, and 30% of 10 kg of oven dry weight soil). The results showed that (1) the application of biochar from the  cocoa shell and oil palm shell on Ultisols improved some parts of soil chemical properties, namely CEC, organic C, and Kexc, (2) application of biochar from the cocoa shell and oil palm shell on Ultisols increased the plant height, the number of leaves, and the dry weight of maize, (3) application of biochar from the cocoa shell at a dosage of 20% was significantly improved CEC of Ultisols (4) application of biochar from the cocoa shell in top soil at a dosage of 30% significantly improved the soil organic C of Ultisol, (5) application of  biochar from cacao shell at a dosage of  30%  was significantly improved Kexc, (6) application of biochar from oil palm shell at a dosage of 10% significantly increased maize plant growth.
Effectiveness of Organonitrofos Plus Fertilizer on Sweet Corn and Soil Chemical Properties of Ultisols . Dermiyati; Setyo Dwi Utomo; Kuswanta Futas Hidayat; Jamalam Lumbanraja; Sugeng Triyono; Hanung Ismono; Ni’malia Estika Ratna; Nidya Triana Putri; Rianida Taisa
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol 21, No 1: January 2016
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts.2016.v21i1.9-17

Abstract

This study aimed to examine Organonitrofos Plus fertilizer (OP) on sweet corn (Zea mays Saccharata L.) and its effect on changes in soil chemical properties of Ultisols. Organonitrofos Plus fertilizer is an enhancement of Organonitrofos fertilizer enriched with microbes at the beginning of the manufacturing process. Research was conducted in the greenhouse of Integrated Agricultural Laboratory of Lampung University. Treatment applied was a factorial of 4 × 2 × 3 with three replications in a randomized block design. The first factor was the dose of OP fertilizer (0, 10, 20, 30 Mg ha-1), the second factor was the dose of inorganic fertilizers (without inorganic fertilizers, and with inorganic fertilizers, namely Urea 0.44, 0.28 SP-36 and KCl 0.16 Mg ha-1), and the third factor was the dose of biochar (0, 10, 20 Mg ha-1). By a single OP fertilizers, inorganic fertilizers, and the interaction between the OP and the inorganic fertilizers increased the weight of dry stover, cob length, cob diameter, cob with husk and cob without husk of corn. OP fertilizers which are applied in Ultisols can improve soil fertility and increase corn production so that OP fertilizer can lessen the use of inorganic fertilizer and can be used as a substitute for inorganic fertilizer. RAE values were highest in treatment of O4K2B2 (30 Mg OP ha-1, with inorganic fertilizer, 10 Mg biochar ha-1) that was equal to 181%, followed by O2K2B3 (10 Mg OP ha-1, with inorganic fertilizer, 20 Mg biochar ha-1 ) with the difference in RAE value of 0.5%. [How to Cite: Dermiyati, SD  Utomo,  KF Hidayat, J Lumbanraja, S Triyono, H Ismono, NE  Ratna, NT Putri dan R Taisa. 2016. Pengujian Pupuk Organonitrofos Plus pada Jagung Manis (Zea mays Saccharata. L) dan Perubahan Sifat Kimia Tanah Ultisols. J Trop Soils 21: 9-17 Doi: 10. 10.5400/jts.2016.21.1.9]
PENGARUH APLIKASI ABU TERBANG BATUBARA DAN PUPUK KANDANG SEBAGAI BAHAN AMELIORAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomea reptans Poir.) Safitri Febriana; Priyadi Priyadi; Rianida Taisa
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 1 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, JANUARI 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i1.4478

Abstract

Fly ash merupakan limbah hasil pembakaran batubara yang berpotensi sebagai bahan ameliorant.  Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh palikasi abu terbang batubara dan pupuk kendang terhadap pertumbuhan tanaman kangkung.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang disusun secara faktorial.  Faktor pertama adalah dosis abu terbang (F) terdiri atas 4 level yaitu; f1 = 0 ton ha-1, f2 = 50 ton ha-1, f3 = 100 ton ha-1, f4 = 150 ton ha-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang (M) terdiri dari 3 level yaitu;  m1 = 10 ton ha-1, m2 = 20 ton ha-1, m3 = 30 ton ha-1.  Homogenitas data diuji dengan menggunakan uji Bartlett dan ketidakaditifan data dengan uji Tukey kemudian dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) aplikasi abu terbang batubara berpengaruh nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot kering berangkasan, panjang akar, jumlah akar, dan bobot kering berangkasan tanaman kangkong, (2) aplikasi pupuk kandang tidak berpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung, (3) tidak terdapat interaksi antara abu terbang batubara dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman kangkung.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI DAN KONSENTRASI PUPUK PELENGKAP ALKALIS TERHADAP POPULASI DAN BIOMASSA CACING TANAH PADA PERTANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI GEDONG MENENG Devita Ayuningrum; Sri Yusnaini; Rianida Taisa; Kushendarto Kushendarto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.243 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i3.2927

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati (Bio max grow), pupuk pelengkap (Plant catalyst) dan interaksi antara pupuk hayati (Bio max grow) dan pupuk pelengkap (Plant catalyst) terhadap peningkatan populasi dan biomassa cacing tanah pada pertanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas lampung pada Juli – Oktober 2017. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama dosis pupuk hayati (Bio max grow) dan faktor kedua kosentrasi pupuk pelengkap (Plant catalyst). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 24petak satuan percobaan. Data yang diperoleh dihomogenkan ragamnya menggunakan Uji Barlett dan kemenambahan data diuji dengan Uji Tukey. Setelah asumsi terpenuhi data diolah dengan analisis ragam pada taraf 5% dan diuji lanjut dengan Uji Beda Nyata terkecil pada taraf 5%. Kemudian dilakukan Uji Korelasi untuk mengetahui hubungan antara variabel pendukung dengan variabel utama. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1). Pemberian pupuk hayati (Bio max grow) dengan dosis 10 ml L -1 mampu meningkatkan populasi dan biomassa cacing tanah di kedalaman 0 – 10 cm dan 10 – 20 cm. (2). Pemberian pupuk pelengkap (Plant catalyst) mampu meningkatkan populasi cacing tanah di kedalaman 0 – 10, 10 – 20, dan 20 – 30 cm dan biomassa cacing tanah di kedalaman 0 – 10 dan 10 – 20 cm pada umur 86 HST.(3). Terdapat interaksi antara pupuk hayati dan Pupuk Pelengkap terhadap populasi dan biomassa cacing tanah di kedalaman 0 – 10 cm, 10 – 20 cm dan 20 – 30 cm. Tanpa pemberian pupuk hayati, pupuk pelengkap dengan konsentrasi 0, 0,5, 1, dan 1,5 g L -1 dapat meningkatkan populasi cacingtanah, sedangkan pada pemberian pupuk hayati 10 ml L -1 , pupuk pelengkap dengan konsentrasi 1 g L -1 menghasilkan populasi dan biomassa cacing tanah lebih tinggi dibandingkan konsentrasi pupuk pelengkap lainnya pada umur 86 HST.
APLIKASI BIOFERTILIZER UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI TIGA KULTIVAR BUNGA KOL BERBASIS ORGANIK Rianida Taisa; Priyadi Priyadi; Raida Kartina; Riana Jumawati
Jurnal Agrotek Tropika Vol 10, No 2 (2022): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 10, MEI 2022
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v10i2.5610

Abstract

Salah satu cara untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah yaitu dengan penerapan sistem pertanian organik yang memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di alam. Salah satu solusi yang dapat diterapkan yaitu dengan menggunakan biofertilizer sebagai alternatif untuk mengganti penggunaan pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mempelajari respon produksi tiga kultivar bunga kol yang dibudidayakan secara organik akibat aplikasi biofertilizer, 2) mempelajari konsentrasi biofertilizer yang terbaik dalam meningkatkan produksi bunga kol, 3) mempelajari interaksi antara kultivar dan konsentrasi biofertilizer terhadap produksi bunga kol. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung dari Juni sampai November 2021. Percobaan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan ulangan 3 kali. Faktor pertama yaitu 3 kultivar bunga kol yang terdiri atas Diamond 40, PM 126, dan Snow white. Faktor kedua yaitu level konsentrasi biofertilizer dengan 4 taraf yang terdiri atas 0%, 25%, 50%, dan 75%. Homogenitas data diuji dengan Uji Barlette, dan aditivitas data dengan Uji Tukey, kemudian dialkuakan analisis sidik ragam, dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) aplikasi biofertilizer nyata meningkatkan bobot dan diameter bunga tanaman kembang kol; 2) dosis terbaik yang menghasilkan produksi tertinggi yaitu konsentrasi 25 %; dan 3) Kultivar Snow White direkomendasikan untuk dibudidayakan secara organik.
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Padi Gogo Toleran Alumunium di Lahan Kering Masam Lampung Timur: Growth and Yield of Several Aluminum Tolerant Upland Rice Varieties in Acid Dry Land, East Lampung Priyadi; Rianida Taisa; Dulbari; Rizky Rahmadi; Fajar Rochman
JURNAL AGRI-TEK : Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Eksakta Vol. 24 No. 1 (2023): JURNAL AGRI-TEK
Publisher : Universitas Merdeka Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33319/agtek.v25i1.134

Abstract

Aluminum stress is a limiting factor for crop production on acid dry land with a low pH. The objectives of this study were to evaluate aluminum-tolerant upland rice varieties in acid dry land. The study was carried out using a completely randomized block design (RCBD) consisting of 8 varieties, namely IR64, Inpago 7, Dodokan, Dod-Pup1, Situ Bagendit, Situ Bg-Pup1, Batur, Batur-Pup1, and 4 strains, namely 19 (PB5)-2, 20 (PB8)-1, 21 (PB15)-1, and 22 (PB16)-1. The results showed that the Situ Bagendit variety with the Pup-1 locus gave the highest yield per plot compared to other varieties and lines, namely 287.5 g. These results also correlate with the ability of the variety to withstand aluminum stress, with a tolerance value of 3.00 (rather tolerant).
The Effects of Fly Ash and Cow Manure on Water Spinach Grown on An Ultisol of Lampung, Indonesia Priyadi Priyadi; Rianida Taisa; Nurleni Kurniawati
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 45, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v45i2.3023

Abstract

Fly ash is the residue of coal combustion that can potentially be an ameliorant. Unfortunately, its use is limited by government regulations that are classified as hazardous and toxic materials. This study examines the effectiveness of fly ash and cow manure as an ameliorant for Ultisols. The experiment was carried out by two factors, i.e., the dose of fly ash, namely 0, 50, 100, and 150 t/ha, and the quantity of cow manure, i.e., 10, 20, and 30 t/ha. The results show that fly ash and cow manure could be ameliorants for low-pH soils such as Ultisols. The suitable dose of fly ash and cow manure as ameliorants in this study are 50 t/ha and 20 t/ha, respectively. Increasing the amount of fly ash caused a decrease in the growth of water spinach, plant height, number of leaves, fresh plant weight, root length, and dry weight of the root. In addition, fly ash increased pH 6.66-7.30, total P 31.74-52.21 mg/100 g, and total K 16.19-25.75 mg/100 g.
Productivity of several upland rice under aluminum stress in acid dry land east lampung regency Priyadi Priyadi; Rianida Taisa; Dulbari Dulbari; Rizky Rahmadi; Fajar Rochman
AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : UNIVED Press, Dehasen University Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/agritepa.v10i2.3706

Abstract

Aluminum stress is a limiting factor for crop production on acid dry land with a low pH. The objectives of this study were to obtain aluminum-tolerant upland rice varieties in acid dry land. The study was carried out using a completely randomized block design (RCBD) consisting of 8 varieties, namely IR64, Inpago 7, Dodokan, Situ Bagendit, Dod-Pup1, Situ Bg-Pup1, Batur-Pup1, Batur and 4 strains, namely 19 (PB5)-2, 20 (PB8)-1, 21 (PB15)-1, and 22 (PB16)-1. The results also showed that the Situ Bagendit variety with the Pup-1 locus gave the highest yield per plot compared to other varieties and lines, namely 287.5 g. These results also correlate with the ability of the variety to withstand aluminum stress, with a tolerance value of 3.00 (quite tolerant).
Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Hortikultura Secara Terpadu Di Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus Reza Zulfahmi; Rianida Taisa; Marveldani Marveldani; Yusanto Yusanto; Ferziana Ferziana; Hilman Hidayat; Desi Maulida; Henni Elfandari; Riana Jumawati; Mustika Adzania Lestari; Hevia Purnama Sari; Desty Aulia Putrantri
Jurnal Abimana (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nasional) Vol 1 No 1 (2024): Mei
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/abimana.v1i1.3551

Abstract

Pekon Sidokaton terletak dilereng Gunung Tanggamus tepatnya di kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Sebagian besar masyarakat pekon Sidokaton bekerja sebagai petani. Permasalahan yang sering dihadapi petani Sidokaton adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Selama ini pengendalian yang dilakukan adalah pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida. Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80 persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian, reistensi hama dan penyakit, terakumulasi pada hasil panen, dan bersifat racun bagi penggunanya. Dalam pengendalian OPT haruslah memperhatikan konsep ekologi pertanian yang dikenal dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Konsep ini dilaksanakan dengan cara memadukan beberapa teknik pengendalian OPT yang dilakukan sejak dari awal persiapan lahan hingga panen, dengan menerapkan konsep PHT diyakini dapat mengatasi serangan OPT yang terjadi. Adanya kegiatan penyuluhan PHT ini diharapkan petani Sidokaton mampu secara mandiri menerapkan konsep PHT dalam pengendalian OPT. Hasil pengabdian kepada masyarakat dapat disimpulkan bahwa petani Sidokaton mulai sadar akan pentingnya menjaga kelestarian keberlanjutan pertanian dengan menjaga ekosistem pertanian melalui pengendalian OPT secara terpadu.