Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PERILAKU PEMILIHAN MAKANAN TINGGI NATRIUM BERPENGARUH TERHADAP ASUPAN NATRIUM PENDERITA HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG Hendriyani, Heni; Pertiwi, Estuasih Dyah; Mintarsih, Sri Noor
GIZI INDONESIA Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.987 KB)

Abstract

World Health Organization (WHO) menyatakan satu dari tiga orang dewasa di seluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi dan proporsinya meningkat seiring meningkatnya usia. Di Indonesia, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)  Tahun 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai  31,7 persen dan di Propinsi Jawa Tengah prevalensinya mencapai 37 persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemilihan makanan tinggi natrium yang meliputi pengetahuan, sikap dan praktek serta hubungannya dengan asupan natrium. Desain penelitian cross-sectional. Sejumlah 60 wanita dewasa usia 36 sampai 76 tahun menjadi responden dengan kriteria inklusi menderita hipertensi kurang dari 3 tahun dan tidak sedang menjalani program diet. Pengetahuan dan sikap pemilihan makanan tinggi natrium dikumpulkan dengan wawancara dilengkapi kuesioner sedangkan praktek dan asupan natrium dikumpulkan dengan semi quantitative food frequency questionnaire. Analisis data dengan chi square dan korelasi pearson. Asupan natrium responden rata-rata sebesar 3604,10 mg. Sejumlah 96,7 persen responden  asupan natriumnya di atas anjuran (<2400 mg). Proporsi responden dengan pengetahuan kurang, sikap kurang dan konsumsi makanan tinggi natriumnya sering memiliki asupan natriumnya tinggi yaitu masing-masing 54,5 persen, 63,6 persen dan 84,8 persen. Ada hubungan negatif yang signifikan antara pengetahuan dan sikap  dengan asupan natrium dengan masing-masing nilai r=-0,508; p=0,000; r=-0,342; p=0,008 dan ada hubungan positif signifikan antara praktek  dengan asupan natrium (r=0,782; p=0,000). Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang merupakan penderita hipertensi sering mengkonsumsi makanan sumber natrium tinggi. Pemberian pemahaman mengenai risiko asupan natrium yang tinggi terhadap kesehatan kepada masyarakat akan sangat bermanfaat.ABSTRACT   FOOD SELECTION BEHAVIOURS RELATED TO NATRIUM INTAKE AMONG HYPERTENSIVE  OUTPATIENT IN SEMARANG High natrium intake is one of hypertension risk factors. Basic health research data in 2007 showed that in Indonesia, hypertension  prevalence in community reached 31,7% and in Central Java the prevalence was 37%. Objective of the study is to find out high natrium food behavior include knowledge, attitude and practice as well as to analyze it’s relationship with natrium intake. The study used cross sectional design. There were 60 adult women selected as respondents aged 36 to 76 years with inclusion criteria as being hypertension  less than 3 years and  was not in a diet program. Knowledge and attitude were collected by  interviewing them using questionnaire. Practices and natrium intake data were collected using semi quantitative food frequency questionnaire. The results showed that mean of natrium intake was 3604,10 mg. Majority (96,7%) of respondents had natrium intake above recommendation (<2400 mg). Respondents with poor knowledge and attitutude as well as high consumption of natrium rich food had high intake of natrium 54,5%, 63,6% dan 84,8% respectively. There were negative significant correlation between knowledge (r=-0,508; p=0,000) and attitude (r=-0,342; p=0,008) with natrium intake. There was a positive significant correlation between practice and natrium intake (r=0,782; p=0,000). High consumption of natrium rich food is considered prevalent in the community. It is essential to educate people the negative effect of high natrium consumption.Keywords: dietary behaviours, natrium intake, hypertension  
HUBUNGAN USIA IBU DAN STATUS ANEMI DENGAN STATUS BERAT BAYI LAHIR PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG Anisa Lisniawati; Estuasih Dyah Pertiwi
JURNAL RISET GIZI Vol 3, No 2 (2015): November(2015)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v3i2.4310

Abstract

Background: The prevalence of anemia in pregnant women in Indonesia in 2013 was 37.1%. The prevalence of LBW in Central Java in 2013 was 9.7%. Whereas LBW in Bangetayu Health Center in 2013 and 2014 was 4.0%. The reproductive age is not optimal (age 20 years and 35 years) during pregnancy and the incidence of anemia in pregnant women is an important indicator of causes of LBW.Objective: . This research was conducted to find out the relationship between knowledge and attitudes of sanitation hygiene with the practice of sanitation hygiene in cooking food and biological quality in animal side dishes in Semarang City General Hospital.Methods: Research included in institutional nutrition with a crossectional approach. The research sample used was animal dishes made from chicken meat, the respondents who were used as the research were food cookers. The data taken includes knowledge, attitudes and practices on cooking staff and biological quality on animal dishes using questionnaires, observation and laboratory checks. To find out the relationship between variables tested with Rank Spearman and Pearson Product Moment.Results: Animal side samples 58.3% had good biological quality, 100% good sanitation hygiene knowledge, respondents sanitation hygiene attitude 66.7% did not support, respondents sanitation hygiene practices 50% good. There is no relationship between knowledge and attitudes with hygiene sanitation practices (p = 0.712 and p = 0.614). There is a significant relationship between the variables of hygiene sanitation practices and total bacteria (r = -0.706) with p = 0.01.Conclusion : Good sanitation hygiene practices will reduce total bacteria in food and will produce good biological quality. It is recommended to increase supervision of sanitation hygiene practices.
Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu dengan Perilaku Praktik Keluarga Mandiri Sadar Gizi pada Keluarga Bayi Usia 7-12 Bulan di Tandang Tembalang Semarang Ginta Paramudita; Estuasih Dyah Pertiwi
JURNAL RISET GIZI Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v1i1.73

Abstract

In food and nutrient national action plan 2001-2005, Laws no. 25 (2000) about national development program and Indonesia sehat 2010 that 80% of family become conscious nutrient defind kadarzi  is a family that have balance nutrient behavior, capable to recognize and solve the nutrient problem between each member. In 2008, kadarzi  area in jawa tengah is 35,26%, semarang area 65,77%. And then kadarzi in Tembalang sub district is 61,09%.The objective of this research is t find out relation between education, knowledge with conscious nutrient of independent family practice behavior to baby within 7-12 age month in Tandang Tembalang, Semarang.  This research include of explonative research which has a goal to explaining relation between education level and mother knowledge with kadarzi practice behavior. Research plan include of Crossectional research, conducted in Tandang Tembalang, Semarang. As mother population which have baby 7-12 agemonth as much as 164. Whereas, mount of sample is 128, took randomly with proportional random sampling.The Research result shown respondents which have high school level is 43%, knowledge level is 85,9% (Good), and while conscious nutrient family is 3,1%.The result of fisher exact statistic shown, there is no relation between mother education with kadarzi practice behavior p=0,126 and have no relation between mother knowledge with kadarzi practice behavior p=0,459. Suggested to policy maker for increasing promotion health so society in nutrient field, especially kadarzi indicator which has lowest achievement result is exclusive ASI feeding.
PERILAKU PEMILIHAN MAKANAN TINGGI NATRIUM BERPENGARUH TERHADAP ASUPAN NATRIUM PENDERITA HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG Heni Hendriyani; Estuasih Dyah Pertiwi; Sri Noor Mintarsih
GIZI INDONESIA Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i1.149

Abstract

World Health Organization (WHO) menyatakan satu dari tiga orang dewasa di seluruh dunia memiliki tekanan darah tinggi dan proporsinya meningkat seiring meningkatnya usia. Di Indonesia, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)  Tahun 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai  31,7 persen dan di Propinsi Jawa Tengah prevalensinya mencapai 37 persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemilihan makanan tinggi natrium yang meliputi pengetahuan, sikap dan praktek serta hubungannya dengan asupan natrium. Desain penelitian cross-sectional. Sejumlah 60 wanita dewasa usia 36 sampai 76 tahun menjadi responden dengan kriteria inklusi menderita hipertensi kurang dari 3 tahun dan tidak sedang menjalani program diet. Pengetahuan dan sikap pemilihan makanan tinggi natrium dikumpulkan dengan wawancara dilengkapi kuesioner sedangkan praktek dan asupan natrium dikumpulkan dengan semi quantitative food frequency questionnaire. Analisis data dengan chi square dan korelasi pearson. Asupan natrium responden rata-rata sebesar 3604,10 mg. Sejumlah 96,7 persen responden  asupan natriumnya di atas anjuran (2400 mg). Proporsi responden dengan pengetahuan kurang, sikap kurang dan konsumsi makanan tinggi natriumnya sering memiliki asupan natriumnya tinggi yaitu masing-masing 54,5 persen, 63,6 persen dan 84,8 persen. Ada hubungan negatif yang signifikan antara pengetahuan dan sikap  dengan asupan natrium dengan masing-masing nilai r=-0,508; p=0,000; r=-0,342; p=0,008 dan ada hubungan positif signifikan antara praktek  dengan asupan natrium (r=0,782; p=0,000). Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang merupakan penderita hipertensi sering mengkonsumsi makanan sumber natrium tinggi. Pemberian pemahaman mengenai risiko asupan natrium yang tinggi terhadap kesehatan kepada masyarakat akan sangat bermanfaat.ABSTRACT   FOOD SELECTION BEHAVIOURS RELATED TO NATRIUM INTAKE AMONG HYPERTENSIVE  OUTPATIENT IN SEMARANG High natrium intake is one of hypertension risk factors. Basic health research data in 2007 showed that in Indonesia, hypertension  prevalence in community reached 31,7% and in Central Java the prevalence was 37%. Objective of the study is to find out high natrium food behavior include knowledge, attitude and practice as well as to analyze it’s relationship with natrium intake. The study used cross sectional design. There were 60 adult women selected as respondents aged 36 to 76 years with inclusion criteria as being hypertension  less than 3 years and  was not in a diet program. Knowledge and attitude were collected by  interviewing them using questionnaire. Practices and natrium intake data were collected using semi quantitative food frequency questionnaire. The results showed that mean of natrium intake was 3604,10 mg. Majority (96,7%) of respondents had natrium intake above recommendation (2400 mg). Respondents with poor knowledge and attitutude as well as high consumption of natrium rich food had high intake of natrium 54,5%, 63,6% dan 84,8% respectively. There were negative significant correlation between knowledge (r=-0,508; p=0,000) and attitude (r=-0,342; p=0,008) with natrium intake. There was a positive significant correlation between practice and natrium intake (r=0,782; p=0,000). High consumption of natrium rich food is considered prevalent in the community. It is essential to educate people the negative effect of high natrium consumption.Keywords: dietary behaviours, natrium intake, hypertension  
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM ANAKKU SEHAT DAN CERDAS UNTUK PENGENTASAN STUNTING DI KABUPATEN BREBES Heni Hendriyani; Muflihah Isnawati; Susi Tursilowati; Estuasih Dyah Pertiwi; Agung Nugroho Setiawan
Jurnal LINK Vol 19, No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v19i1.9679

Abstract

Indonesia masih menghadapi masalah gizi anak meskipun pemerintah sudah berupaya maksimal, namun prevalensi stunting anak bawah lima tahun (balita) tetap tinggi yaitu 30.8% pada tahun 2018. Berdasarkan data Riskesdas 2018, dan Data SSGI tahun 2022 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih tinggi dari angka propinsi dan nasional. Upaya untuk menanggulangi stunting yang terintegrasi yang melibatkan beberapa stakeholders dan pemerintah daerah dapat dilakukan di Kabupaten Brebes mengingat besaran masalah stunting di wilayah ini masih tinggi dan pemerintah daerah serta masyarakatnya mendukung upaya ini. Tujuan kegiatan untuk memberdayakan serta mendampingi guru PAUD dan masyarakat dalam mengatasi masalah gizi dan implementasi program “Anakku Sehat dan Cerdas”. Kegiatan pelatihan program “Anakku Sehat dan Cerdas” dilaksanakan pada 22-23 Juli 2022 di Desa Kluwut Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes. Hasil dari kegiatan ini yaitu terdapat peningkatan pengetahuan pada peserta pelatihan program “Anakku Sehat dan Cerdas” dan diketahui bahwa 20% dari 80 anak yang dilakukan pengukuran antropometri mengalami stunting.
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Irma Anisa Dewi; Estuasih Dyah Pertiwi; Fitriani Fitriani; Ana Yuliah Rahmawati; Wiwik Wijaningsih
JURNAL RISET GIZI Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Dewi, Irma Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah; Fitriani, Fitriani; Rahmawati, Ana Yuliah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
HUBUNGAN USIA IBU DAN STATUS ANEMI DENGAN STATUS BERAT BAYI LAHIR PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG Lisniawati, Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah
JURNAL RISET GIZI Vol 3, No 2 (2015): November(2015)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v3i2.4310

Abstract

Background: The prevalence of anemia in pregnant women in Indonesia in 2013 was 37.1%. The prevalence of LBW in Central Java in 2013 was 9.7%. Whereas LBW in Bangetayu Health Center in 2013 and 2014 was 4.0%. The reproductive age is not optimal (age 20 years and 35 years) during pregnancy and the incidence of anemia in pregnant women is an important indicator of causes of LBW.Objective: . This research was conducted to find out the relationship between knowledge and attitudes of sanitation hygiene with the practice of sanitation hygiene in cooking food and biological quality in animal side dishes in Semarang City General Hospital.Methods: Research included in institutional nutrition with a crossectional approach. The research sample used was animal dishes made from chicken meat, the respondents who were used as the research were food cookers. The data taken includes knowledge, attitudes and practices on cooking staff and biological quality on animal dishes using questionnaires, observation and laboratory checks. To find out the relationship between variables tested with Rank Spearman and Pearson Product Moment.Results: Animal side samples 58.3% had good biological quality, 100% good sanitation hygiene knowledge, respondents sanitation hygiene attitude 66.7% did not support, respondents sanitation hygiene practices 50% good. There is no relationship between knowledge and attitudes with hygiene sanitation practices (p = 0.712 and p = 0.614). There is a significant relationship between the variables of hygiene sanitation practices and total bacteria (r = -0.706) with p = 0.01.Conclusion : Good sanitation hygiene practices will reduce total bacteria in food and will produce good biological quality. It is recommended to increase supervision of sanitation hygiene practices.
Analysis of Omega-3, AA, EPA, Omega-6, DHA, Pb and Hg Fatty Acid Levels of Sardinella Lemuru Pertiwi, Estuasih Dyah
Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) 2022: Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseth.2639

Abstract

Purpose : Lemuru fish has been consumed as fresh fish and raw materials for making pindang fish (steam), canned fish and fish meal by several fishing industries. This is because the price of lemuru fish is relatively cheap but has a high protein content. The high content of omega-3 fatty acids and the incompatibility of the texture of lemuru fish become easily damaged and decayed due to microbiological activity. Therefore, it is necessary to carry out intensive handling both by direct processing in the form of lemuru presto fish and preservation in the form of lemuru fish meal. Methodology : This study is experimental, which aims to analyze the levels of omega-3, AA, EPA, omega-6, and DHA fatty acids using the GC method. Pb and Hg levels using the ICP OES method. The samples of this study were lemuru presto fish and lemuru fish meal. Descriptive data processing using Microsoft Excel 2010 is presented in texttular and tabular form. Results: Lemuru presto fish and lemuru fish meal are highest in omega-3 levels (870.2 and 1714.4 mg/100 g) and DHA levels (713.2 and 1274.0 mg/100 g). The fatty acid content of lemuru fish meal is higher than that of lemuru presto fish. Lemuru fish is safe to consume because its Pb and Hg levels are almost undetectable.
Pengaruh Simulasi Permainan Boardgame: Find the Notice Edusex Terhadap Daya Tarik dan Sikap Remaja Tentang Free Sex Oktavia, Jinhan Nur; Arwani, Arwani; Pertiwi, Estuasih Dyah; Widyawati, Melyana Nurul
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 23, No 2 (2024): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.23.2.100-105

Abstract

Latar belakang: Aktivitas seks tanpa perlindungan dapat berisiko menyebabkan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS), sangat mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja sampai dengan rentang usia produktif usia 15-30 tahun seperti terlihat dari 573 kasus HIV/AIDS dan 802 kasus IMS di Kota Malang. Meskipun upaya oleh Kementerian Kesehatan telah dilakukan, angka IMS dan HIV/AIDS tetap tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian simulasi permainan BoardGame: Find the Notice Edusex terhadap daya tarik dan sikap remaja tentang seksual bebas.Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasi-Experimental dengan Non-Equivalent Pre-Test Post-Test with Control Group Design. Sampel dipilih melalui proportional random sampling berjumlah 34 responden untuk masing-masing kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji homogenitas Saphiro Wilk, paired t-test dan independent t-test. Penelitian ini menggunakan variabel independen yaitu Simulasi Permainan BoardGame: Find the Notice Edusex, dan variabel dependen yaitu Daya tarik dan sikap remaja tentang Free Sex. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah permainan BoardGame: Find the Notice Edusex, kuesioner daya tarik, kuesioner sikap, leaflet edukasi seksual.Hasil: Penelitian ditemukan bahwa Boardgame: Find the Notice Edusex sudah sesuai berdasarkan uji ahli sebanyak 91%. Terdapat pengaruh pemberian simulasi permainan BoardGame: Find the Notice Edusex terhadap daya tarik remaja dibandingkan dengan pemberian edukasi leaflet edusex (p=0,048) dan sikap remaja tentang free sex (p = 0,007).Simpulan: BoardGame: Find the Notice Edusex efektif digunakan sebagai media edukasi seksual terhadap daya tarik dan sikap remaja tentang free sex.Kata kunci: Boardgame; Daya Tarik; Sikap; HIV/AIDS; IMS ABSTRACTTitle: The Influence of Boardgame: Find the Notice Edusex on Attractiveness and Adolescent Attitudes About Free SexBackground: Sexual activity without protection can risk causing HIV/AIDS and Sexually Transmitted Infections (STIs), which is very worrying, especially among teenagers up to the productive age range aged 15-30 years as seen from 573 cases of HIV/AIDS and 802 cases of STIs in Malang City . Despite efforts by the Ministry of Health, STI and HIV/AIDS rates remain high. This research aims to analyze the effect of providing the simulation game BoardGame: Find the Notice Edusex on the attractiveness and attitudes of teenagers regarding sexual promiscuity.Method: This research uses a Quasi-Experimental design with Non-Equivalent Pre-Test Post-Test with Control Group Design. The sample was selected through proportional random sampling totaling 34 respondents for each intervention group and control group. Data analysis used in this research was the Shapiro Wilk homogeneity test, paired t-test and independent t-test. This research uses an independent variable, namely the Board Game Simulation Game: Find the Notice Edusex, and the dependent variable is the attractiveness and attitude of teenagers regarding Free Sex. The instruments used in this research were the Board Game: Find the Notice Edusex, attractiveness questionnaire, attitude questionnaire, sexual education leaflet.Result: Research found that Boardgame: Find the Notice Edusex was 91% appropriate based on expert testing. There was an effect of providing the simulation game BoardGame: Find the Notice Edusex on the attractiveness of teenagers compared to providing educational leaflets Edusex (p=0.048) and teenagers' attitudes about free sex (p = 0.007).Conclusion: BoardGame: Find the Notice Edusex is effectively used as a medium for sexual education regarding the attractiveness and attitudes of teenagers regarding free sex.Keywords: Boardgame: Attraction; Attitude; HIV/AIDS; STIs