Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

HUBUNGAN USIA IBU DAN STATUS ANEMI DENGAN STATUS BERAT BAYI LAHIR PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG Lisniawati, Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah
JURNAL RISET GIZI Vol. 3 No. 2 (2015): November(2015)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v3i2.4310

Abstract

Background: The prevalence of anemia in pregnant women in Indonesia in 2013 was 37.1%. The prevalence of LBW in Central Java in 2013 was 9.7%. Whereas LBW in Bangetayu Health Center in 2013 and 2014 was 4.0%. The reproductive age is not optimal (age <20 years and> 35 years) during pregnancy and the incidence of anemia in pregnant women is an important indicator of causes of LBW.Objective: . This research was conducted to find out the relationship between knowledge and attitudes of sanitation hygiene with the practice of sanitation hygiene in cooking food and biological quality in animal side dishes in Semarang City General Hospital.Methods: Research included in institutional nutrition with a crossectional approach. The research sample used was animal dishes made from chicken meat, the respondents who were used as the research were food cookers. The data taken includes knowledge, attitudes and practices on cooking staff and biological quality on animal dishes using questionnaires, observation and laboratory checks. To find out the relationship between variables tested with Rank Spearman and Pearson Product Moment.Results: Animal side samples 58.3% had good biological quality, 100% good sanitation hygiene knowledge, respondents sanitation hygiene attitude 66.7% did not support, respondents sanitation hygiene practices 50% good. There is no relationship between knowledge and attitudes with hygiene sanitation practices (p = 0.712 and p = 0.614). There is a significant relationship between the variables of hygiene sanitation practices and total bacteria (r = -0.706) with p = 0.01.Conclusion : Good sanitation hygiene practices will reduce total bacteria in food and will produce good biological quality. It is recommended to increase supervision of sanitation hygiene practices.
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Dewi, Irma Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah; Fitriani, Fitriani; Rahmawati, Ana Yuliah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol. 11 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu dengan Perilaku Praktik Keluarga Mandiri Sadar Gizi pada Keluarga Bayi Usia 7-12 Bulan di Tandang Tembalang Semarang Paramudita, Ginta; Pertiwi, Estuasih Dyah
JURNAL RISET GIZI Vol. 1 No. 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v1i1.73

Abstract

In food and nutrient national action plan 2001-2005, Laws no. 25 (2000) about national development program and Indonesia sehat 2010 that 80% of family become conscious nutrient defind kadarzi  is a family that have balance nutrient behavior, capable to recognize and solve the nutrient problem between each member. In 2008, kadarzi  area in jawa tengah is 35,26%, semarang area 65,77%. And then kadarzi in Tembalang sub district is 61,09%.The objective of this research is t find out relation between education, knowledge with conscious nutrient of independent family practice behavior to baby within 7-12 age month in Tandang Tembalang, Semarang.  This research include of explonative research which has a goal to explaining relation between education level and mother knowledge with kadarzi practice behavior. Research plan include of Crossectional research, conducted in Tandang Tembalang, Semarang. As mother population which have baby 7-12 agemonth as much as 164. Whereas, mount of sample is 128, took randomly with proportional random sampling.The Research result shown respondents which have high school level is 43%, knowledge level is 85,9% (Good), and while conscious nutrient family is 3,1%.The result of fisher exact statistic shown, there is no relation between mother education with kadarzi practice behavior p=0,126 and have no relation between mother knowledge with kadarzi practice behavior p=0,459. Suggested to policy maker for increasing promotion health so society in nutrient field, especially kadarzi indicator which has lowest achievement result is exclusive ASI feeding.
HUBUNGAN USIA IBU DAN STATUS ANEMI DENGAN STATUS BERAT BAYI LAHIR PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG Lisniawati, Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah
JURNAL RISET GIZI Vol. 3 No. 2 (2015): November(2015)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v3i2.4310

Abstract

Background: The prevalence of anemia in pregnant women in Indonesia in 2013 was 37.1%. The prevalence of LBW in Central Java in 2013 was 9.7%. Whereas LBW in Bangetayu Health Center in 2013 and 2014 was 4.0%. The reproductive age is not optimal (age <20 years and> 35 years) during pregnancy and the incidence of anemia in pregnant women is an important indicator of causes of LBW.Objective: . This research was conducted to find out the relationship between knowledge and attitudes of sanitation hygiene with the practice of sanitation hygiene in cooking food and biological quality in animal side dishes in Semarang City General Hospital.Methods: Research included in institutional nutrition with a crossectional approach. The research sample used was animal dishes made from chicken meat, the respondents who were used as the research were food cookers. The data taken includes knowledge, attitudes and practices on cooking staff and biological quality on animal dishes using questionnaires, observation and laboratory checks. To find out the relationship between variables tested with Rank Spearman and Pearson Product Moment.Results: Animal side samples 58.3% had good biological quality, 100% good sanitation hygiene knowledge, respondents sanitation hygiene attitude 66.7% did not support, respondents sanitation hygiene practices 50% good. There is no relationship between knowledge and attitudes with hygiene sanitation practices (p = 0.712 and p = 0.614). There is a significant relationship between the variables of hygiene sanitation practices and total bacteria (r = -0.706) with p = 0.01.Conclusion : Good sanitation hygiene practices will reduce total bacteria in food and will produce good biological quality. It is recommended to increase supervision of sanitation hygiene practices.
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Dewi, Irma Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah; Fitriani, Fitriani; Rahmawati, Ana Yuliah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol. 11 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PROGRAM ANAKKU SEHAT DAN CERDAS UNTUK PENGENTASAN STUNTING DI KABUPATEN BREBES Hendriyani, Heni; Isnawati, Muflihah; Tursilowati, Susi; Pertiwi, Estuasih Dyah; Setiawan, Agung Nugroho
Jurnal LINK Vol 19 No 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v19i1.9679

Abstract

Indonesia masih menghadapi masalah gizi anak meskipun pemerintah sudah berupaya maksimal, namun prevalensi stunting anak bawah lima tahun (balita) tetap tinggi yaitu 30.8% pada tahun 2018. Berdasarkan data Riskesdas 2018, dan Data SSGI tahun 2022 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih tinggi dari angka propinsi dan nasional. Upaya untuk menanggulangi stunting yang terintegrasi yang melibatkan beberapa stakeholders dan pemerintah daerah dapat dilakukan di Kabupaten Brebes mengingat besaran masalah stunting di wilayah ini masih tinggi dan pemerintah daerah serta masyarakatnya mendukung upaya ini. Tujuan kegiatan untuk memberdayakan serta mendampingi guru PAUD dan masyarakat dalam mengatasi masalah gizi dan implementasi program “Anakku Sehat dan Cerdas”. Kegiatan pelatihan program “Anakku Sehat dan Cerdas” dilaksanakan pada 22-23 Juli 2022 di Desa Kluwut Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes. Hasil dari kegiatan ini yaitu terdapat peningkatan pengetahuan pada peserta pelatihan program “Anakku Sehat dan Cerdas” dan diketahui bahwa 20% dari 80 anak yang dilakukan pengukuran antropometri mengalami stunting.