Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Pharmacy

Kajian Pustaka Potensi Nanofiber Kolagen sebagai Bahan Aktif dalam Proses Penyembuhan Luka Trimaulani Anggraeni; Ratih Aryani; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.591 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4190

Abstract

Abstract. Wound healing is a multifactorial process whose healing process can be done traditionally. However, its healing takes a long time so it is less effective. So the researchers conducted research related to new medical engineering for wound healing, namely tissue engineering using collagen. Collagen has a large particle size so it is necessary to reduce the size of the particle to increase its effectiveness, namely with nanofibers. To validate the wound healing effect on collagen nanofibers, a study based on literature review was carried out through library searches at reputable publishers such as Science Direct, Pubmed, Research gate, NBCI, Taylor & Francis, Hindawi, Spinger – Verlag, and Google Scholar by taking into account the inclusion and exclusion criteria. The results of the literature search show: 1. The formula used for the manufacture of collagen nanofibers is HFIP as a solvent for collagen and other additives that support the formation of nanofibers. 2. The method used for the manufacture of collagen nanofibers is electrospinning. 3. Good nanofibers are nanofibers that are smooth, dense, have a diameter of 100-500 nm and an tensile strength of 1-40 Mpa. 4. Collagen nanofibers have been shown to have good effectiveness in wound healing, which is indicated by an increase in average wound closure of up to 64% on day 7 and an average wound closure of up to 79% on day 14 in in vivo animal testing. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan suatu proses multifaktorial yang proses penyembuhan nya dapat dilakukan secara tradisional. Namun, penyembuhan nya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kurang efektif. Sehingga peneliti melakukan penelitian terkait dengan rekayasa medis baru untuk penyembuhan luka yaitu rekayasa jaringan dengan menggunakan kolagen. Kolagen mempunyai ukuran partikel yang besar sehingga diperlukan pengecilan ukuran partikel untuk meningkatkan efektivitasnya yaitu dengan nanofiber.Untuk memvalidasi adanya efek penyembuhan luka pada nanofiber kolagen dilakukan penelitian berbasis study literature review melalui penelusuran pustaka pada penerbit bereputasi seperti Science Direct, Pubmed, Research gate, NBCI, Taylor&Francis, Hindawi, Spinger – verlag, serta google scholar dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan: 1. Formula yang digunakan untuk pembuatan nanofiber kolagen yaitu HFIP sebagai pelarut kolagen dan bahan tambahan lain yang menunjang pembentukan nanofiber. 2. Metode yang digunakan untuk pembuatan nanofiber kolagen yaitu electrospinning. 3. Nanofiber yang baik yaitu nanofiber yang halus, padat, memiliki diameter 100 – 500 nm serta kekuatan daya tarik 1 – 40 Mpa. 4. Nanofiber kolagen terbukti memiliki efektivitas yang baik dalam menyembuhkan luka yang ditandai dengan adanya peningkatan penutupan luka rata – rata hingga 64% pada hari ke 7 dan penutupan luka rata – rata hingga 79% pada hari ke 14 pada pengujian terhadap hewan secara in vivo.
Studi Pemodelan Formulasi Etosom dengan Zat Aktif Aktif Antijamur Golongan Azol Menggunakan Response Surface Methodology (RSM) Asyifa Mughnitiyas; Mentari Luthfika Dewi; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8674

Abstract

Abstract. Antifungal azole is a class of synthetic antifungal agents used to prevent or treat fungal infections. It is the first-line treatment for prophylactic and therapy of invasive fungal infections. Topical formulations of azole drugs in conventional dermatological products have been shown to possess limited skin penetration. This can result in reduced therapeutic effects. One method of topical drug delivery is the use of nanocarriers, such as ethosomes, which are vesicular lipid-based delivery systems. The critical points in ethosome formulations include determining the optimal concentrations of ethanol and phospholipids to produce desirable ethosome characteristics. The investigation aimed to study the impact of ethanol and phospholipid concentrations on the characteristics of ethosome formulations containing azole antifungal agents using a Response Surface Methodology (RSM) approach. This study was conducted employing a Systematic Literature Review (SLR) methodology. Azole antifungal agent formulations have shown that increasing ethanol concentration and decreasing phospholipid concentration reduce vesicle size. This is accompanied by an increase in %EE when both ethanol and phospholipid concentrations are elevated. Simultaneously, a decrease in both ethanol and phospholipid concentrations reduces %PI. Furthermore, decreasing phospholipid concentration will increase %ZP and %DR. Keywords: Ethosome, Antifungal, Skin Abstrak. Antijamur golongan azol merupakan golongan antimikotik sintetik yang umumnya merupakan lini pertama untuk profilaksis dan terapi infeksi jamur invasif. Sediaan topikal obat golongan azol pada produk dermatologis konvensional memiliki efek penetrasi obat yang kurang ke dalam kulit, sehingga efek terapeutik berkurang. Salah satu sistem penghantaran obat topikal berbasis nanocarrier yaitu etosom merupakan sistem penghantaran vesicular berbasis lipid. Pada formulasi etosom memiliki titik kritis diantaranya konsentrasi etanol dan fosfolipid yang optimum agar menghasilkan karakteristik etosom yang baik. Upaya untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol dan fosfolipid terhadap karakteristik etosom yang baik dapat menggunakan pemodelan terhadap formula etosom menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol dan fosfolipid dalam formulasi etosom dengan zat aktif antijamur golongan azol terhadap karakteristik etosom menggunakan Response Surface Methodology sehingga dapat memberi petunjuk untuk menghasilkan formulasi yang memberikan efek terapeutik yang maksimum. Kajian ini dilakukan dengan metode Systematic Literatur Review (SLR). Hasil kajian pemodelan pada formulasi etosom dengan zat aktif antijamur golongan azol menunjukkan peningkatan konsentrasi etanol dan penurunan konsentrasi fosfolipid akan menurunkan ukuran vesikel, peningkatan konsentrasi etanol dan fosfolipid akan meningkatkan %EE, penurunan konsentrasi etanol dan fosfolipid akan menurunkan %PI, penurunan konsentrasi fosfolipid akan meningkatkan %ZP dan %DR. Kata Kunci: Etosom, Antijamur, Kulit
Potensi Ekstrak Daun Tin (Ficus carica L.) Sebagai Antibakteri Syavina Nur Zahira; Ratih Aryani; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8932

Abstract

Abstract: The most common infection in humans is a bacterial infection that can potentially cause severe disease, septic shock, and multiorgan dysfunction. Disease-causing bacteria include Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Treatment of bacterial infections is done using antibiotics. However, the irrational use of antibiotics can lead to antibiotic resistance. Antibiotic resistance can lead to failure in treating various infectious diseases, so alternative treatments are needed from natural ingredients with antibacterial mechanisms. Fig leaf extract contains different secondary metabolites which can be used as antibacterials. This study aims to determine the antibacterial activity of fig leaf extract against E.coli and S.aureus bacteria and determine the compounds contained in fig leaf extract that have the potential as antibacterial agents. The method used in this study is the Systematic Literature Review (SLR) method from research journals that have been published. The results showed that fig leaf extract had better antibacterial activity in inhibiting gram-positive bacteria such as S.aureus. The best antibacterial activity of fig leaf extract was n-hexane extract because, at a concentration of 0.2%, it inhibited E.coli and S.aureus bacteria by 9 mm (medium) and 12 mm (strong), respectively. Fig leaf extract contains flavonoids, tannins, and terpenoids, which have an antibacterial mechanism. Abstrak: Infeksi yang paling umum terjadi pada manusia adalah infeksi bakteri yang berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi berat, syok septik, dan disfungsi multiorgan. Bakteri penyebab penyakit diantaranya adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pengobatan infeksi bakteri dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Namun, pengunaan antibiotik yang irasional dapat menimbulkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik dapat mengakibatkan kegagalan dalam pengobatan berbagai jenis penyakit infeksi, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang bersumber dari bahan alam yang memiliki mekanisme sebagai antibakteri. Ekstrak daun tin memiliki berbagai kandungan metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun tin terhadap bakteri E.coli dan S.aureus, serta mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun tin yang berpotensi sebagai antibakteri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Systematic Literature Review (SLR) dari jurnal-jurnal penelitian yang telah dipublikasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tin memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik dalam menghambat bakteri gram positif seperti S.aureus. Aktivitas antibakteri ekstrak daun tin terbaik adalah ekstrak n-heksan karena pada konsentrasi 0,2% dapat menghambat bakteri E.coli dan S.aureus berturut-turut sebesar 9 mm (sedang) dan 12 mm (kuat). Senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun tin adalah flavonoid, tanin, dan terpenoid yang memiliki mekanisme sebagai antibakteri.
Penapisan Fitokimia dan Karakterisasi Simplisia Biji Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) Assyifa Destiara Lintang Putri; Hanifa Rahma; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14371

Abstract

Abstract. Robusta coffee (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) is a plant containing caffeine which is classified as strong, the caffeine content in coffee is an antioxidant that can prevent premature aging of the skin. Caffeine has many benefits in medicine. Caffeine can exfoliate dead skin cells, smooth the skin, nourish the skin, eliminate body odor, remove acne scars, and protect the skin from UV rays. Robusta coffee beans contain alkaloids, tannins, saponins, and polyphenols. Polyphenols in robusta coffee beans can be used as antioxidants to trap free radicals. This study aims to identify the content of compounds contained in the simplisia and determine the characterization of robusta coffee bean simplisia. The results obtained in testing the characterization of simplisia determination of drying shrinkage, water content, water soluble juice content, ethanol soluble juice content, total ash content, and acid insoluble ash content have met the requirements. In robusta coffee bean simplisia contains secondary metabolite compounds Alkaloids, polyphenolics, flavonoids, tannins, saponins, quinine Monoterpen- sesqueterpen, and triterpenoid-steroids. Abstrak. Kopi robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) merupakan tanaman mengandung kafein yang tergolong kuat, kandungan kafein dalam kopi merupakan antioksidan yang dapat mencegah penuaan dini pada kulit. Kafein memiliki banyak manfaat dalam pengobatan. Kafein dapat mengelupaskan sel-sel kulit mati, menghaluskan kulit, menutrisi kulit, menghilangkan bau badan, menghilangkan bekas jerawat, dan melindungi kulit dari sinar UV. Biji kopi robusta mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, dan polifenol.Polifenol dalam biji kopi robusta dapat digunakan sebagai antioksidan untuk menjebak radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat di dalam simplisia dan mengetahui karakterisasi pada simplisia biji kopi robusta. Hasil yang di dapat pada pengujian karakterisasi simplisia penetapan susut pengeringan, kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam sudah memenuhi persyaratan. Pada simplisia biji kopi robusta mengadung seyawa metabolite sekunder Alkaloid, polifenolat, flavonoid, tannin, saponin, kuinin Monoterpen- sesqueterpen, dan triterpenoid-steroid.
Prediksi Epitop Sel B Berbasis Peptida Glikoprotein 160 sebagai Kandidat Vaksin Subunit untuk Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Amelia Putri Permata Sari; Dina Mulyanti; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.15600

Abstract

Abstract. The Human Immunodeficiency Virus (HIV) epidemic is still a major threat to public health in the world, including Indonesia. HIV is a virus that infects white blood cells, especially CD4, so that the human immune system decreases. Currently, the treatment of HIV infection is by administering antiretroviral drugs (ARVs), although these drugs cannot eliminate all viruses from the patient's body. Vaccines are an effective effort to prevent infection, but until now there has been no vaccine for HIV that has been approved for use. This study aims to analyze the glycoprotein peptide 160 of the HIV virus that has the potential to be developed into a subunit vaccine in silico. A series of in silico analyses were carried out, including searching for conserved regions and ensuring that B cell epitopes as vaccine candidates can produce an immune response. This study produced 4 candidate epitopes for B cells based on surface accessibility and antigenicity values. The best epitope with a surface accessibility value of 3,516 and antigenicity of 1.07 is owned by the YLKDQQL epitope. This epitope is suspected of having the potential to be a candidate for an HIV vaccine. Abstrak. Epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di dunia, salah satunya Indonesia. HIV merupakan virus yang menginfeksi sel-sel darah putih khususnya CD4, sehingga sistem kekebalan tubuh manusia menjadi menurun. Saat ini penanganan infeksi virus HIV adalah dengan pemberian obat antiretroviral (ARV), meskipun obat tersebut tidak dapat menghilangkan seluruh virus dari tubuh penderita. Vaksin merupakan upaya yang efektif untuk mencegah infeksi, tetapi hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk HIV yang berhasil disetujui penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peptida glikoprotein 160 dari virus HIV yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi vaksin subunit secara in silico. Serangkaian analisis in silico dilakukan, termasuk pencarian daerah lestari (conserved) dan memastikan epitop sel B sebagai kandidat vaksin dapat menghasilkan respon imun. Penelitian ini menghasilkan 4 kandidat epitop untuk sel B berdasarkan nilai aksesibilitas permukaan dan antigenisitas. Epitop terbaik dengan nilai aksesibilitas permukaan sebesar 3.516 dan antigenisitas sebesar 1.07 dimiliki oleh epitop YLKDQQL. Epitop tersebut diduga berpotensi sebagai kandidat vaksin HIV.