Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

FIBRILASI ATRIAL DARI SUDUT PANDANG BIOFISIKA Ruray, Indra N. S.; Danes, Vennetia R.; Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2598

Abstract

Abstract: Atrial fibrillation (AF) is the most common type of arrhythmia found in daily practices. Moreover, AF is one of the risk factors of emboli stroke and myocardial ischemia in patients with coronary heart diseases. From the biophysics perspective, alterations in ion currents (especially K+) that play some important role in the occurence of action potential can lead to an arrhythmia state. Mutations of genes S140G and V141M that create slow activation of ion channels can participate in the occurence of AF. Keywords: atrial fibrillation, arrhythmia, biophysics, heart disease.     Abstrak: Fibrilasi atrial (FA) merupakan bentuk aritmia yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. FA merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan stroke emboli, dan dapat mencetuskan gejala iskemik pada kasus dengan dasar penyakit jantung koroner. Ditinjau dari sudut biofisika, gangguan terhadap arus ion (terutama ion K+) yang berperan penting dalam menimbulkan potensial aksi bagi jantung, dapat memicu terjadinya aritmia jantung. Mutasi gen S140G dan V141M yang menyebabkan pengaktifan lambat dari saluran ion turut berperan dalam terjadinya FA. Kata kunci: fibrilasi atrial, aritmia, biofisika,  penyakit jantung.
GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 2 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.2.2009.815

Abstract

Abstract: Noise induced hearing loss is often found among industrial workers all over the world, especially in developing countries, such as Indonesia. The permitted maximum limit of noise for a human being is 80 dB. Noise with a high intensity that occurs for a long time can cause some changes in metabolic processes and the blood supply in the organ of Corti. The impacts of these changes are damage and degeneration of hair cells, and in the long run, the total destruction of this organ and permanent hearing loss. Effects of noise to this sense organ are in the forms of acoustic trauma, noise-induced temporary threshold shift, and noise-induced permanent threshold shift. Noise induced hearing loss is a senso-neural deafness, and is generally bilateral. Key words: noise, organ of Corti, permanent loss, senso-neural deafness     Abstrak: Gangguan pendengaran akibat bising sering dijumpai pada pekerja industri di seluruh dunia, terlebih lagi di negara berkembang seperti Indonesia. Ambang batas maksimum aman dari bising bagi manusia adalah 80 dB. Bising dengan intensitas tinggi yang berlang-sung dalam waktu lama akan menyebabkan perubahan metabolisme dan vaskuler. Sebagai akibat terjadi robekan sel-sel rambut organ Corti dan kerusakan degeneratif sel-sel tersebut, yang kemudian berlanjut dengan destruksi total dari organ tersebut dan kehilangan pen-dengaran yang permanen. Efek bising terhadap pendengaran dapat berupa trauma akustik, perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara, dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen. Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising  adalah berupa tuli senso-neural yang biasanya bilateral. Katakunci: Kebisingan, organ corti, permanen, tuli senso-neural
Pengaruh Olahraga Step Up terhadap Massa Tulang pada Wanita Dewasa Muda Rungkat, Timotius A.; Lintong, Fransiska; Moningka, Maya E. W.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 12, No 1 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.12.1.2020.27092

Abstract

Abstract: Early detection and prevention are important indicators in maintaining bone mass. Age and sex are unmodifiable factors that contribute towards a reduction of bone mass. Preventive measures include consuming nutritions such as calcium and vitamin D, as well as physical activities like aerobic exercises inter alia step up exercise. This study was aimed to determine the effect of step up exercise on bone mass of young adult females. This was an experimental and analytical study with a one group pre and post test design. Respondents were 25 young adult females enrolleded in batch 2019 of the Nursing Program of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. Step up exercise was conducted in a period of 6 weeks. Bone mass was measured using bioelectrical impedance analysis (BIA) before and after a 6-week step up exercise. The results showed the average bone mass of pre step up exercise was 1.85 kg and of the 6-week step up exercise was 1.92 kg. The Wilcoxon Signed Ranks Test statistical analysis of bone mass before and after the step up exercise obtained a p-value of 0,.00 (p<0.05 with a 95% Confidence Interval). In conclusion, there was a difference of bone mass before and after the 6-week step up exercise which meant that step up exercise could increase bone mass in young adult females.Keywords: step up exercise, bone mass Abstrak: Deteksi dini dan pencegahan merupakan indikator penting dalam mempertahankan massa tulang. Beberapa faktor yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia dan jenis kelamin dapat menjadi sumber penurunan massa tulang. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan ialah dengan mencukupi asupan nutrisi seperti kalsium dan vitamin D dan aktivitas fisik berupa olahraga aerobik, antara lain step up. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh olahraga step up terhadap massa tulang pada wanita dewasa muda. Jenis penelitian ialah analitik eksperimental dengan one group pre and post test design. Responden penelitian ialah 25 mahasiswa program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratu-langi angkatan 2019. Olahraga step up dilakukan selama 6 minggu. Massa tulang diukur menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA) sebelum dan sesudah 6 minggu olahraga step up.. Hasil penelitian mendapatkan rerata massa tulang sebelum olahraga step up 1,85 kg dan rerata massa tulang sesudah olahraga step up selama 6 minggu 1,92 kg. Uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test terhadap massa tulang sebelum dan sesudah olahraga step up memperoleh nilai p=0,000 (p<0,05 untuk Confidence Interval 95%). Simpulan pene-litian ini ialah terdapat perbedaan massa tulang sebelum dan sesudah olahraga step up selama 6 minggu, yang berarti olahraga step up dapat meningkatkan massa tulang pada wanita dewasa muda.Kata kunci: olahraga step up, massa tulang
Pengaruh Latihan Sit-up Terhadap Persentase Lemak Tubuh Walukow, Reynaldy A. S.; Rumampuk, Jimmy; Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 3 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.3.2021.31727

Abstract

Abstract: The human body consists of fat mass and fat-free mass. Most people assume that the higher the body mass index value, the higher the fat level is in a person's body. Sit-ups are movements that rely on the hips and buttocks with the knees raised and performed repeatedly. This study aims to determine whether sit-up exercise has effects on body fat percentage. This research was conducted in the form of a literature review, which is explaining and discussing the topic by taking the material from various literatures such as books, journals, papers and so on. The results of the research of Todingan et al and Meriawati  et al on the fat percentage with the sit-up method, a significant decrease in the body fat percentage was found. Whereas in a research conducted by Tendean et al on exercise with Zumba, there was a decrease in the fat percentage from 39.300% to 39.031%. Similar to what Santika did to subjects with jogging and walking exercises, there was a decrease in the fat percentage by 3.8% in jogging exercise and 0.6% in walking exercise. In conclusion, doing sit-ups besides building muscles in the abdomen, doing sit-ups can also reduce the diameter of fat in the abdomen.Key Words: sit-up training, body fat percentage.  Abstrak: Tubuh manusia terdiri dari massa lemak dan massa bebas lemak. Sebagian besar orang berasumsi semakin tinggi nilai indeks massa tubuh semakin banyak kadar lemak di dalam tubuh seseorang. Sit-up adalah gerakan yang bertumpu pada pinggul dan bokong dengan lutut yang diangkat ke arah atas dan dilakukan secara berulang-ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah memiliki pengaruh latihan sit-up terhadap persentase lemak tubuh. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk tinjauan pustaka yaitu memaparkan dan membahasnya dengan mengambil bahan dari berbagai kepustakaan seperti buku, jurnal, makalah dan sebagainya. Dari hasil penelitian todingan dkk dan meriawati dkk terhadap presentase lemak dengan metode sit-up, didapatkan penurunan presentase lemak tubuh yang cukup signifikan. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan tendean dkk pada latihan dengan zumba, terdapat penurunan presentase lemak dari 39,300% ke 39,031%. Sama hal dengan yang dilakukan santika pada subjek dengan latihan jogging dan berjalan, terdapat penurunan persentase lemak sebanyak 3,8% pada latihan jogging dan 0,6% pada latihan berjalan Sebagai simpulan, melakukan latihan sit-up selain membentuk otot pada bagian perut, melakukan sit-up juga dapat mengurangi diameter lemak pada bagian perut.Kata Kunci: latihan sit-up, persentase lemak tubuh
SUHU TUBUH: HOMEOSTASIS DAN EFEK TERHADAP KINERJA TUBUH MANUSIA Kukus, Yondry; Supit, Wenny; Lintong, Fransiska
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 2 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.2.2009.824

Abstract

Abstract: Body temperature is defined as one of the vital signs that indicates the health status of a person. Compared with other primates, man has a greater ability to tolerate hot temperatures due to his many sweat glands, and that his skin is covered mostly by fine hair. In our bodies, heat energy is produced by muscles (mostly), sweat glands, fats, bones, connective tissues, and nerves. Heat energy is distributed to the whole body by blood circulation, but the temperatures are not the same in all parts of the body. There is a difference (around 40C) between core and surface body temperatures. The thermoregulator system has to obtain two suitable gradients: 1) between core and surface body temperatures, and 2) between surface and ambient temperatures. The gradient between core and surface body temperatures is the most important one to maintain optimum body function. Understanding from physics the aspect of body temperature and its influence on homeostatis mechanism, gives some valuable contribution to applied clinical sciences. Key words: core temperature, skin temperature, energy.     Abstrak: Suhu tubuh didefinisikan sebagai salah satu tanda vital yang menggambarkan status kesehatan seseorang. Dibandingkan dengan primata lainnya, manusia mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mentolerer suhu tinggi oleh karena banyaknya kelenjar keringat, dan kulitnya hanya ditumbuhi oleh rambut halus. Di dalam tubuh energi panas dihasilkan oleh jaringan aktif terutama dalam otot, kemudian juga dalam alat keringat, lemak, tulang, jaringan ikat, serta saraf. Energi panas yang dihasilkan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah, namun suhu bagian-bagian tubuh tidak merata. Terdapat perbedaan yang cukup besar (sekitar 4°C) antara suhu inti dan suhu permukaan tubuh.6,7 Sistem termo-regulator tubuh harus dapat mencapai dua gradien suhu yang sesuai, yaitu: 1) antara suhu inti dengan suhu per-mukaan, 2) antara suhu permukaan dengan suhu lingkungan. Dari keduanya, gradien suhu inti dengan suhu permukaan adalah yang terpenting untuk kelangsungan fungsi tubuh yang optimal. Pemahaman tentang besaran suhu dan pengaruhnya terhadap mekanisme homeostatis tubuh melalui pendekatan hukum-hukum fisika setidaknya memberi kontribusi yang berarti pada bidang ilmu klinis terapan. Kata kunci: suhu inti, suhu kulit, energi.