Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Enhancing Anthocyanin Butterfly Pea Stability using Encapsulation: A Scoping Review of Coating Materials and Techniques Firdaus, Jihan; Indarto, Dono; Listyawati, Shanti
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i3.682

Abstract

Butterfly pea flowers are rich in anthocyanin and have therapeutic benefits, particularly due to their antioxidant properties. However, their use in the food and pharmaceutical industries is still limited due to their low stability in environmental conditions, which causes degradation, decreased stability and bioavailability. Nanoencapsulation is a potential method for improving the stability and effectiveness of anthocyanin. This review aims to identify various coating materials and encapsulation techniques used to protect  anthocyanin in butterfly pea flowers, as well as to evaluate their effects on the final product's stability, characteristics, and physicochemical properties. Literature search were conducted through PubMed, ScienceDirect, Scopus, and SpringerLink using structured keywords, following the inclusion criteria based on the Population, Concept, Context (PCC) framework and the PRISMA-ScR protocol. A total 7 published articles met the inclusion criteria. The results show that combination gelatin with coating materials such as pectin or maltodextrin was effective and commonly used. The use combination of gelatin+pectin or gelatin+maltodextrin with freeze drying is capable of forming a strong film, binding anthocyanin, stabilising colour, and proceting anthocyanin from degradation due to its low-temperature process, resulting in high encapsulation efficiency, high retention, and good morphology and particele size. In conclusion, no ideal coating material and encapsulation techniques. Further in vivo bioavailability studies are warranted to evaluate the most promising combinations, gelatin + pectin or gelatin + maltodextrin with freeze drying.
Peptida Kolagen Ikan Layang Biru (Decapterus macarellus) Mempercepat Penyembuhan Luka Pada Mencit Herawati, Elisa; Setyawan, Vicky Alvino; Listyawati, Shanti
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i2.74260

Abstract

Suplemen peptida memainkan peran penting dalam proses penyembuhan luka karena memiliki bioaktivitas yang bekerja pada fase-fase luka sehingga luka cepat menutup. Bahan aktif ini dapat diekstrak dari organisme laut seperti ikan, hanya saja, kajian mengenai aplikasi suplemen berbahan ikan sebagai produk perawatan luka masih terbatas jumlahnya. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas pemberian peptida kolagen ikan Decapterus macarellus secara oral dalam mempercepat penyembuhan luka kulit pada mencit. Dosis yang digunakan adalah 0,3 g/kgBB dan 1,3 g/kgBB per hari. Pengujian dilakukan dengan mengamati struktur morfologis dan histologis proses regenerasi jaringan kulit pasca luka selama 21 hari. Peptida kolagen diperoleh dari kulit ikan melalui ekstraksi menggunakan kombinasi asam asetat dan pepsin, kemudian dilanjutkan hidrolisis dengan enzim kolagenase. Mencit yang mendapat suplementasi oral peptida kolagen menunjukkan akselerasi proses penyembuhan luka yang signifikan dibandingkan kelompok mencit kontrol. Pada hari ke-11 hingga 14 pasca luka, mencit yang diberi perlakuan peptida kolagen (dosis 1,3 g/kgBB) menunjukkan presentase penurunan diameter luka yang lebih tinggi, diferensiasi jaringan neo-epidermis yang lebih cepat, serta deposisi berkas kolagen yang lebih banyak. Berkas kolagen dengan struktur retikuler juga terlihat pada kelompok perlakuan yang mengindikasikan adanya maturasi jaringan pengikat. Hasil penelitian ini membuktikan peran positif peptida kolagen D. macarellus terutama pada fase maturasi, dimana jaringan pengikat baru mengalami reorganisasi untuk memberikan kekuatan tarik. Informasi ini bisa menjadi referensi efektivitas peptida kolagen yang bersumber dari ikan laut sebagai bahan produk perawatan luka.
Pendampingan dan peningkatan kompetensi praktek biologi mikroskopis bagi siswa SMP Djama’atul Ichwan, Surakarta Herawati, Elisa; Listyawati, Shanti; Widiyani, Tetri; Budiharjo, Agung; Astirin, Okid Parama
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 13, No 2 (2024): November
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v13i2.87836

Abstract

Biologi mikroskopis mempelajari organisme pada level seluler dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengetahuan IPA modern. Di SMP Djama’atul Ichwan Surakarta, keterbatasan fasilitas membuat pembelajaran konsep-konsep biologi mikroskopis sulit dibarengi dengan pengalaman praktek di laboratorium sekolah. Mitra mengharapkan ada pendampingan untuk meningkatkan kompetensi praktek pada mata pelajaran biologi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi praktek dan wawasan umum siswa mengenai biologi mikroskopis yang tercakup dalam materi IPA di SMP. Kompetensi praktek biologi mikroskopis yang belum maksimal pada mitra berakar dari tidak adanya laboratorium IPA, media praktikum, dan mikroskop. Tim PKM UNS menghadirkan solusi berupa program pendampingan kepada siswa selama satu semester yaitu, 1) pengenalan mikroskop dan aplikasinya; 2) praktek membuat preparat mikroskopis sederhana sesuai materi SMP; 3) pengadaan mikroskop cahaya; modul praktikum; foldscope untuk mitra; 4) komunikasi selama semester berjalan dan umpan balik mengenai aktivitas praktikum dengan mikroskop di SMP. Keberhasilan kegiatan dapat dilihat dari indikator skor pre-/post-test, aktivitas praktikum, dan pengadaan mikroskop untuk SMP. Siswa menjadi paham prinsip kerja dan aplikasi mikroskop untuk visualisasi struktur seluler dan jaringan, hal ini tampak dari peningkatan skor post-test (>25% kenaikan skor) pada 72% siswa. Pada sesi praktikum, siswa mampu membuat dua preparat berbeda untuk diamati dengan mikroskop dan diidentifikasi bagian-bagiannya. Selanjutnya, siswa dapat melakukan praktek mandiri di SMP menggunakan mikroskop dari investasi kegiatan pengabdian ini Kata kunci: kompetensi praktik, biologi mikroskopis