Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

TATA RUANG IBUKOTA TERAKHIR KERAJAAN GALUH (1371 - 1475 M) Budimansyah Budimansyah; Nina Herlina Lubis; Miftahul Falah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 2 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v12i2.596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguak tata ruang Galuh Pakwan sebagai ibukota terakhir Kerajaan Galuh, sejauhmana pola ruang kota tersebut berkaitan dengan nilai-nilai kelokalan sebagaimana tergambar dalam historiografi tradisional. Dalam penelitian ini metode sejarah akan dipergunakan sebagai fitur utama agar menghasilkan suatu hasil kajian yang komprehensif, dan menggunakan teori tata kota, serta metode deskriptif-kualitatif. Minimnya sumber terkait sejarah Galuh Pakwan, wawancara secara mendalam kepada para narasumber diharapkan bisa menjadi suatu bahan analisis historis. Berdasarkan fakta di lapangan, Galuh Pakwan sebagai ibukota kerajaan berawal dari sebuah kabuyutan. Pada masa pemerintahan Niskalawastu Kancana, kabuyutan tersebut dijadikan pusat politik dengan tetap menjalankan fungsi kabuyutannya. Seiring waktu, Galuh Pakwan menjelma menjadi sebuah kota yang tata ruangnya menunjukkan representasi dan implementasi konsep kosmologi Sunda. Galuh Pakwan terbentuk oleh pola radial-konsentris menerus, sebagai gambaran kosmologi Sunda sebagaimana terungkap dalam naskah-naksah Sunda kuna.The research is not only aimed at uncovering the spatial layout of Galuh Pakwan as the last capital of Galuh Kingdom, but also at exploring how well the relationship between the urban spatial patterns and the local values as depicted in the traditional historiography. Beside having the historical methods as the main feature to produce a comprehensive study result, the study also uses the urban planning theory, as well as the descriptive qualitative methods. The historical sources related to the history of the Galuh Pakuan are very limited. As a result, the in-depth interviews with the resource persons are expected to be appropriate as the observation material for historical analysis. Based on the facts found in the field, the Galuh Pakwan as the capital of the kingdom originated from a Kabuyutan. During the reign of Niskalawastu Kancana, Kabuyutan served as a political center while maintaining its original function as Kabuyutan. As the time passed, the Galuh Pakwan was transformed into a city whose spatial layout represented and implemented the Sundanese cosmological concept. The Galuh Pakwan was formed by a continuous radial-concentric pattern, as a description of Sundanese cosmology in the ancient Sundanese manuscript.
KESENIAN SISINGAAN SUBANG: SUATU TINJAUAN HISTORIS Anggi Agustian Junaedi; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNE 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.934 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.6

Abstract

Kesenian sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah di sebelah utara Provinsi Jawa Barat bernama Kabupaten Subang. Sampai saat ini, kesenian  sisingaan dipersepsikan oleh banyak orang sebagai bagian dari perjuangan rakyat yang dalam hal ini perlawanan terhadap tuan tanah atau penjajah. Namun, pendapat ini perlu ditinjau ulang mengingat beberapa pakar kesenian seperti Edih dan Armin Asdi yang mengatakan bahwa pada awalnya kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk mengarak anak-anak yang akan dikhitan. Maka, untuk menjabarkan persoalan tersebut peneliti menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kesenian sisingaan tidak lahir sebagai aksi perlawanan karena sebelum aksi tersebut terjadi, kesenian ini telah ada dan beberapa kali digelar pada acara khitanan. Setidak-tidaknya ada dua indikator yang dapat dikemukakan untuk menjelaskan latar belakang terbentuknya sisingaan. Pertama, ia merupakan bagian integral dari proses islamisasi di Subang. Kedua, sebagai bentuk penghormatan kepada P.W. Hofland karena telah berjasa membangun Subang beserta penduduknya. Kata kunci: kesenian sisingaan, historis, Subang.
SIKAP KRISTEN CALVINIS TERHADAP KELOMPOK AGAMA LAIN DI BATAVIA PADA ABAD KE XVII Sukamto Sukamto; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v12i1.514

Abstract

Artikel ini meneliti sikap Kristen Calvinis terhadap agama-agama yang ada di Batavia pada abad ke-XVII. Dengan menggunakan Metode Sejarah, didapat beberapa kesimpulan: (1) VOC hanya mengakui satu agama yang sah (publieke kerk) yaitu Kristen Calvinis, (2) Dengan menggunakan VOC, sikap Kristen Calvinis terhadap komunitas Katolik Roma sangat tegas, banyak pastor Katolik Roma yang dipenjara. Untuk membatasi perpindahan penduduk Batavia ke Gereja Katolik Roma, dibuat peraturan bahwa sakramen Katolik Roma (Baptisan) dianggap tidak sah secara hukum dan tidak bisa dijadikan sebagai syarat pernikahan, (3) Islam dan Kong Hu Cu di Batavia tidak diakui sebagai agama resmi, namun karena secara politik dan ekonomi mereka kuat, VOC menjadi sangat berhati-hati dalam membuat kebijakan-kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan hidup keagamaan mereka.The article presents the findings of the research of Calvinistic Christianity’s attitude towards the other religion groups in Batavia during the 17th century. By using the Historical Method, the conclusions are obtained as follows: (1) The VOC recognized exclusively the Calvinistic Christianity as the only legitimate religion (publieke kerk), (2) The Calvinistic Christianity manipulated the VOC to behave strict towards the Roman Catholics so that many Roman Catholic priests were consequently imprisoned. To prevent the Batavia citizens from embracing the Roman Catholics, the Calvinistic Christianity had the Roman Catholic's sacrament of Baptism considered as as not legally valid by the VOC so that it could not fulfill the marriage requirements, (3) Meanwhile, Islam and Confucianism in Batavia remained unrecognized as official religions. However, their political and economic influence forced the VOC to be very careful in decision-making, especially concerning their religious lives.
Peranan Bupati R.A.A. Wiratanuningrat dalam Pembangunan Kabupaten Tasikmalaya 1908-1937 Aam Amaliah Rahmat; Nina Herlina Lubis; Widyo Nugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.975 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.46

Abstract

Tulisan ini membahas tentang peranan Bupati R.A.A. Wiratanuningrat dalam membangun Kabupaten Tasikmalaya. Perkembangan tersebut meliputi bidang pendidikan, infrastruktur, agama, pertanian dan ekonomi. Ada tiga hal yang dipersoalkan yaitu (1) bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan pemerintahan sebelum R.A.A. Wiratanuningrat memerintah? (2) siapakah R.A.A. Wiratanuningrat? (3) bagaimana kondisi ekonomi, sosial dan pemerintahan ketika R.A.A. Wiratanuningrat memerintah? Adapun metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut yaitu menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Kabupaten Tasikmalaya memang pada mulanya bernama Kabupaten Sukapura. Perpindahan Ibukota dari Manonjaya ke Tasikmalaya boleh dikatakan sebagai tonggak awal untuk melakukan pembangunan di Tasikmalaya walaupun memang perpindahan ini tidak terjadi pada masa Wiratanuningrat memerintah. Meskipun Bupati R.A.A. Wiratanuningrat bukan keturunan langsung dari dinasti “wiradadaha” tetapi R.A.A. Wiratanuningrat dapat memperlihatkan kemajuan di Kabupaten Tasikmalaya baik dari segi fisik maupun non fisik. Sehingga sampai sekarang dikenal sebagai bapak pembangunan dan bapak irigasi.   
KOTA SUKABUMI: DARI DISTRIK MENJADI GEMEENTE (1815-1914) Setia Nugraha; Nina Herlina Lubis
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.488 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.35

Abstract

Kota Sukabumi merupakan suatu wilayah di Jawa Barat yang mengalami perkembangan pesat dibanding daerah lainnya. Pada awalnya Sukabumi merupakan pemukiman penduduk bagian dari wilayah pemerintahan District Goenoeng Parang, Onderafdeeling Tjiheulang. bagian dari Afdeeling Tjiandjoer, Residentie Preanger. (Regeerings Almanaks tahun 1872).  Andries  Christoffel  Johannes de Wilde, seorang berkebangsaan Belanda yang pertama kali mengenalkan  nama Soekaboemi (Soeka Boemi) ke dunia luar. Awalnya ia menjelajah di Sukabumi untuk mencari lokasi tanah yang cocok bagi perkebunan. Dari sebuah pemukiman, selanjutnya Sukabumi mengalami perkembangan pesatmelampaui Cianjur yang sebelumnya berada di depan garis pacu. Perkembangan ini menarik perhatian penulis. Untuk menjabarkan dinamika Kota Sukabumi (1914-1942), dilakukan kajian historis dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini memokuskan perhatian pada asal usul  terbentuknya Kota Sukabumi, dinamika pemerintahan, sosial dan ekonomi Kota Sukabumi dan Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan Kota Sukabumi berkembang pesat dari district menjadi gemeente.
The Story of the War Gamelan Is A Story of Truth Hendra Santosa; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto; R.M. Mulyadi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.46

Abstract

Stories about gamelan used in warfare are regarded as a character in a fairy tale, a story ofthe past apocryphal. The slogan of history that says no document no historical is an expression that history should not be based solely on “people said" or a story that is not necessarily true, he should be based on the facts of historical events occurred, so that the necessary documents to uncover the historical events. A historical narrative method is needed in the process of developing the method known as historical methods. The ancient manuscripts as a source of literary history, many stores historical events related to culture, especially with the musical arts. In this article will be discussed is the word Bheri and Mrdangga of two ancient manuscripts that ofwhich have been translated into Indonesian by previous researchers.Keyword: gamelan, war gamelan, story, mredangga, bheri
Seni Pertunjukan Bali Pada Masa Dinasti Warmadewa Hendra Santosa; Nina Herlina Lubis; Kunto Sofianto; R.M. Mulyadi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 1 (2017): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i1.84

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari disertasi yang berjudul “Gamelan Perang di Bali, Abad ke-10 Sampai Awal Abad ke-21”, sebagai salah satu syarat untuk maju Ujian Naskah Disertasi pada program studi Ilmu Sastra Konsentrasi Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (UNPAD). Tulisan ini mengulas tentang gamelan zaman Bali Kuno yang mengambil rentang waktu dari Tahun 882 sampai 1077 Masehi, yang kemudian dikembangkan dengan menggunakan seni pertunjukan agar tidak terlalu sama dengan bagian disertasi yang dimaksud tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kejelasan tentang seni pertunjukan pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa melalui penelusuran prasasti dan naskah-naskah Jawa Kuna.Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Pada tahap heuristik, prasasti-prasasti yang dikeluarkan pada zaman Bali Kuno dikoroborasikan dengan karya kesusastraan yang sezaman dengan masanya. Pada zaman Dinasti Warmadewa tidak semua seni pertunjukan ditujukan untuk kegiatan upacara, tetapi ada juga seni pertunjukan untuk hiburan baik untuk kalangan istana maupun untuk rakyat biasa.
The Pesantren Networking in Priangan (1800-1945) Ading Kusdiana; Nina Herlina Lubis; Nurwadjah Ahmad EQ; Mumuh Muhsin Z
International Journal of Nusantara Islam Vol 1, No 2 (2013): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v1i2.30

Abstract

This research is about the networks of pesantren in Priangan from 1800 to 1945. The result shows that along 1800-1945, there were many networks that described the relations among pesantrens in Priangan. There are five networks forms as manifested from those relations. First, the networks among pesantrens, which were formed, are based on scientific relation. They are Pesantren Al-Falah Biru, Pangkalan and Keresek in Garut; Gentur, Kandang Sapi and Darul Falah Jambudipa in Cianjur; Sukamiskin Bandung; and Darul Ulum in Ciamis. Those pesantrens have intellectual relation that pointed to one public figure, namely Syekh Khatib Sambas in Mecca. Second, the networks among pesantrens, which were formed, are based on relative (genealogy) relations. The existence of Pesantren Sumur Kondang, Keresek, Gentur, and Cijawura were the ones that have this relation. Third, the networks among pesantrens, which were formed, are based onmarriage relation. For instance, Pesantren Cidewa with Pagerageung, Pesantren Cipari with Cilame, Cipasung with Gentur Rancapaku, Cijantung with Gegempalan, Sukamiskin with Al-Jawami, and Pesantren Sukamiskin with Cijawura Bandung, were the ones that have this relation. Fourth, the networks among pesantrens, which were formed, are based on the similarities in developing a particular Islamic mysticism (tarekat). The existence of Pesantren Suryalaya which develops Qodiriyah wa Naqsabandiyah mysticism—followed by generating their talqin and Pesantren Al-Falah Biru which develops Tijaniyah mysticism—followed by generating their muqaddam are the ones of this relation. Fifth, the networks among pesantrens, which were formed, are based on the same vision of their movement and struggle against the colonizer. The existence of Pesantren Al-Falah Biru with Samsul Ulum Gunung Puyuh through POII (Persatoean Oemat Islam Indonesia) organization, and Pesantren Cipasung with Sukamanah through Nahdhatul Ulama organization in Tasikmalaya were the ones who struggle against the colonizers of Netherland and Japan.
Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi Di Kabupaten Pangandaran Nina Herlina Lubis; Undang Ahmad Darsa
PANGGUNG Vol 25 No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.16

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dan lapangan mengenai potensi sosial, ekonomi, politik, dan budaya Kabupaten Pangandaran yang dibiayai oleh Dikti tahun Anggar- an 2014. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana sejarah seni ronggeng itu? Apakah penyajian seni ronggeng tersebut mengalami perubahan dari waktu ke waktu? Bagaimana upaya pemerintah dalam melestarikan seni ronggeng? Untuk menjawab pertanyaan itu, metode penelitian yang dipergunakan adalah metode sejarah karena penelitian ini dilaku- kan dalam perspektif historis. Dalam implementasinya, metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk keperluan analisis, tulisan ini dileng- kapi dengan konsep dan teori kesenian yang relevan dengan permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya, kesenian ronggeng menunjukkan sifat sakral karena terkait dengan kepercayaan samanisme dan dalam perkembangannya, bergeser menjadi bersifat profan. Unsur-unsur negatif yang melekat dalam kesenian ronggeng, secara perlahan dihapus atau diubah sehingga dipandang tidak lagi melanggar norma sosial. Kata kunci: Pangandaran, ronggeng, sejarah, kesenian tradisional
Religious Thoughts and Practice of the Kaum Menak: Strengthening Traditional Power Lubis, Nina Herlina
Studia Islamika Vol. 10 No. 2 (2003): Studia Islamika
Publisher : Center for Study of Islam and Society (PPIM) Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sdi.v10i2.629

Abstract

In this article, discussion will be directed to delineating the history of the kaum menak, placing emphasis on their religious thoughts and practices. Having been political elites, it is important to emphasize that the kaum menak had to adapt to changing circumstances, both in terms of religion and politics. The religious life of kaum menak had social and political significance, and owing to their position within the society, it formed an important part of their existence. As will be made appearent explained in this article, the religious thoughts and practices of the kaum menak functioned as sources of their authority and were closely related to their efforts of maintaining political power within society.DOI: 10.15408/sdi.v10i2.629