Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH PENYIANGAN DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L.) SISTEM TOT MUSIM KE DUA DI KECAMATAN WANARAJA KABUPATEN GARUT Usman Abdul Aziz; Jenal Mutakin; Resti Fajarfika
Gunung Djati Conference Series Vol. 33 (2023): Seminar Nasional Pertanian 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman padi merupakan salah satu tanaman pangan pokok penghasil beras bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Penerapan waktu penyiangan dan jarak tanam yang tepat dalam budidaya padi menggunakan sistem tanpa olah tanah yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan hasil produksi padi dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan dan jaraktanam terhadap pertumbuhan dan hasil padi pada sistem tanpa olah tanah musim ke dua. Percobaan dilaksanakan di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, dari Bulan Desember 2020 sampai Bulan Maret 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT) pola faktorial 4x3 dengan tiga kali ulangan. Petak utama yaitu Waktu Penyiangan (P) yang terdiri dari P0 = tanpa penyiangan, P1 = penyiangan 3 kali umur 20, 40, dan 60 HST, P2 = penyiangan 1 kali umur 40 HST dan P3 = penyiangan 2 kali umur 40 dan 60 HST. Anak petak yaitu jarak tanam (j) terdiri dari j1 = jarak tanam 20x20x40 cm (legowo), j2 = jarak tanam 25x25 cm (tegelan) dan j3 = jarak tanam 30x30 cm (tegelan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan waktu penyiangan dengan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi umur 20 HST dan bobot gabah per plot. Terjadi pengaruh interaksi antara perlakuan waktu penyiangan dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil padi, pada Kombinasi P2J1 memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman umur 20 hst, kombinasi P1J3 memberikan pengaruh terbaik terhadap jumlah malai dan kombinasi P0J3 memberikan pengaruh terbaik terhadap hasil gabah per plot.
Optimasi Desain Tower Aeroponik dan Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans Poir) Ringga Anugrah; Dea Pauziah Nandini Putri; Resti Fajarfika; Ai Yanti Rismayanti; Ardli Swardana; Novriza Sativa
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.692

Abstract

Kemajuan teknologi dan pertumbuhan aktivitas ekonomi di wilayah perkotaan mendorong ekspansi kawasan kota yang menyebabkan peningkatan kebutuhan dan nilai lahan sehingga ketersediaan ruang untuk kegiatan budidaya tanaman menjadi semakin terbatas. Sistem hidroponik dengan tipe tower aeroponik merupakan solusi budidaya modern yang fleksibel dan dapat diterapkan di berbagai lokasi, termasuk lahan luas, wilayah perkotaan, pedesaan, hingga bangunan bertingkat, namun masih menghadapi tantangan utama berupa kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dua desain tower aeroponik yaitu pipa PVC dan ember, dengan variasi media tanam terhadap pertumbuhan tanaman kangkung (Ipomoea reptans Poir.) untuk memperoleh alternatif instalasi dan media tanam yang efisien, ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan dalam produksi sayuran. Percobaan ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Petak Terbagi (split plot) dengan faktor 2 × 4, di mana desain sistem aeroponik sebagai petak utama terdiri atas instalasi berbahan pipa (P1) dan ember (P2), sedangkan jenis media tanam sebagai anak petak meliputi rockwool (M1), dakron (M2), spons (M3), dan kain flanel (M4), setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA kemudian dilanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil menunjukkan interaksi antara jenis instalasi dan media tanam terhadap pertumbuhan kangkung pada umur 14 HST, ditunjukkan oleh parameter tinggi tanaman dan jumlah daun. Perlakuan terbaik untuk tinggi tanaman diperoleh pada kombinasi instalasi pipa (P1) dan media dakron a(M2), sedangkan jumlah daun tertinggi terdapat pada kombinasi instalasi ember (P2) dan media rockwool (M1).
Pengaruh Frekuensi Penyiangan dan Sistem Budidaya terhadap Keberadaan Gulma Ludwigia octovalvis, Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah Ade Riska Nuraeni; Jenal Mutakin; Resti Fajarfika
Jurnal Agrosains dan Teknologi Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Pertanian - UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jat.v11i1.30882

Abstract

Rice (Oryza sativa L.) is a major staple food commodity in Indonesia; however, its productivity often declines due to weed competition, one of which is Ludwigia octovalvis, commonly found in flooded paddy fields. Weed control through weeding practices and the application of appropriate cultivation systems is an important factor in improving rice growth and yield. This study aimed to determine the effects of weeding frequency and cultivation systems on the presence of Ludwigia octovalvis, as well as on the growth and yield of lowland rice. The research was conducted from July to October 2024 using an experimental method with a split-plot design. Conventional cultivation and no-tillage (NT/TOT) systems were used as main plots, while weeding frequency served as subplots, consisting of no weeding (P0), one weeding (P1), two weedings (P2), and three weedings (P3). The results showed that Ludwigia octovalvis began to appear at 60 days after transplanting and did not exhibit significant differences among treatments. The cultivation system and weeding frequency had no significant effect on plant height and tiller number at the early growth stage; however, treatment interactions significantly affected the number of productive tillers. The weight of harvested dry grain did not differ significantly among treatments. Therefore, weeding frequency plays an important role during the vegetative phase, whereas the final rice yield is more strongly influenced by environmental factors and integrated crop management.