Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pemberdayaan SMK Muhammadiyah 1 Bantul Dalam Membuat Sarana untuk Praktik Pelapisan Elektroplating Soemowidagdo, Arianto Leman; Mujiyono, Mujiyono; Nurhadiyanto, Didik; Surahmanto, Fredy; Wibowo, Heri; Supanto, Muhammad
Jurnal Pustaka Dianmas Vol 5, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/dianmas.v5i1.5145

Abstract

Sarana untuk praktik pelapisan elektroplating di SMK Musaba hanya memilki 1 bak. Akibatnya pemahaman siswa tentan proses elektroplating kurang menyeluruh. Tujuan program PkM ini adalah memberdayakan SMK Musaba membuat sarana untuk elektroplating yang komprehensif. Metode Asset Based Community Development digunakan untuk menciptakan sarana praktik dengan konsep TTG. Tahapan pelaksanaan progam adalah pembuatan desain, pembuatan sarana praktik, pelatihan, dan penerapan. Program PkM telah memberdayakan SMK Musaba sehingga mampu membuat sarana untuk praktik elektroplating. Dimensi sarana untuk praktik elektroplating ini adalah (1440 x 860 x 725) mm dan mampu mengakomodasi 9 tahapan proses, yatiu hot degreasing, rinsing, pickling, rinsing, activating, nikel strike, rinsing, nikel shiny, dan rinsing. Sarana ini dilengkapi rectifier digital, temperature controller dan heater, aerator, anoda nikel dalam wadah titanium, dan timbangan digital. Efisiensi alat adalah 84,45 % untuk target tebal lapisan 10 µm pada kuat arus 7,5 A/dm2. Respon guru, tendik dan siswa menunjukkan bahwa sarana untuk praktik elektroplating ini dapat meningkatkan kompetensi dan motivasi dalam mempelajari proses pelapisan dengan metode elektroplating.
Pembuatan Sarana Praktik Pengecoran untuk SMK Bina Karya 1 Karanganyar Kebumen Nurhadiyanto, Didik; Soemowidagdo, Ariatno Leman; Mujiyono, Mujiyono; Surahmanto, Fredy; Raharjo, Teguh Setiyo; Nugroho, Welas; Sartiman, Sartiman
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v10i2.1164

Abstract

Materi pengecoran logam pada program keahlian Teknik Pemesinan di SMK Bika 1 masih diberikan sebatas teori. Hal ini belum sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikud Ristek nomor 024/H/KR/2022 yang menyatakan bahwa pengecoran logam merupakan salah satu konsentrasi keahlian pada program keahlian pemesinan di SMK/MAK. Kesenjangan ini dijembatani oleh Tim pengabdi DPTM FT UNY dengan membuat sarana praktik pengecoran untuk SMK Bika 1. Metode Asset Based Community Development (ABCD) diterapkan dengan tahapan pembuatan sarana praktik pengecoran, pembuatan model pola, pelatihan dan pendampingan guru dan tendik, implementasi sarana praktik pengecoran pada siswa, dan evaluasi hasil kegiatan. Sarana untuk praktik pengecoran yang dibuat terdiri atas tungku krusibel, perangkat pembuat cetakan pasir, perangkat penuangan, model pola, dan modul pembelajaran. Sarana untuk praktik pengecoran dapat meningkatkan kompetensi guru dan tendik SMK Bika 1, yaitu telah memahami dan mampu melakukan proses pengecoran logam yang meliputi mengoperasikan tungku krusibel, membuat cetakan pasir, menuang logam cair dan membersihkan produk hasil pengecoran. Sarana untuk praktik pengecoran telah memenuhi kebutuhan SMK Bika 1 sebagai fasilitas penunjuang praktik. The metal casting subject is only given in theory at SMK Bika 1. This does not meet with the Decree of the Head of the Education Standards, Curriculum, and Assessment Agency of Kemendikbud Ristek Number 024/H/KR/2022 which states that casting is one of expertise in the machining program at SMK/MAK. This gap was bridged by the DPTM FT UNY team through making casting practice facilities for SMK Bika 1. The Asset Based Community Development (ABCD) method is applied through the stages such as making of casting practice facilities, pattern models development, training and mentoring for teachers and technicians, implementation of casting facilities on students, and program evaluation. The casting facilities consist of a crucible furnace, sand mold making equipment, pouring equipment, pattern model, and learning module. The facilities for casting practice can improve the teachers and education staff competence of SMK Bika 1, that are understand and capable of doing the casting process which includes operating the crucible furnace, making sand molds, pouring molten metal and cleaning the casting products. The casting facilities have met the needs of SMK Bika 1 as supporting facilities for practice.
PELATIHAN PEMBUATAN POLA MENGGUNAKAN 3D PRINTING UNTUK PRAKTIKUM PENGECORAN DI SMK MUHAMMADIYAH 1 BANTUL Arya Yusuf; Arianto Leman Soemowidagdo; Fredy Surahmanto; Joni Tri Setyawan; Siti Nursipa Wulida
As-Sidanah Vol 6 No 2 (2024): OKTOBER
Publisher : LP2M Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/assidanah.v6i2.302-316

Abstract

Vocational High Schools (SMK) act as key partners for higher education institutions, focusing on transferring knowledge and technology to the broader community. SMKs require high-level competencies for their teachers and students to meet the demands of today’s workforce effectively. To support this need, a community service program aimed at creating metal casting patterns was launched. This initiative called the off-campus community service activity (PkM DLK), was organized by a team of lecturers and students from the Department of Mechanical Engineering Education at Yogyakarta State University. The primary goal of this program was to train teachers and educational staff to proficiently create casting patterns using 3D printing technology, allowing for a more efficient and streamlined process. The activity was conducted at SMK Muhammadiyah 1 Bantul, involving both the university team and the school's teachers and staff, specially for the mechanical engineering program. The methodology used for this program was Participatory Action Research (PAR), which encouraged active participation from all involved. Key stages included an introduction to the program, hands-on practice designing pattern models using Inventor CAD 2024 software, simulating the printing process with Ultimaker Cura software, operating 3D printers, printing and finishing the patterns, and finally conducting a casting trial using the newly created patterns. Feedback was overwhelmingly positive, with participants giving an average score of 85.88, indicating a "very satisfied" rating. The teachers and educational staff expressed a strong interest in seeing the program continue annually. Overall, the community service program was regarded as highly successful in producing casting patterns for use in practical workshops at SMK Muhammadiyah 1 Bantul.
Pemberdayaan Guru SMKN 1 Binangun dalam Membuat Pola untuk Sand Casting Menggunakan 3D Printing Soemowidagdo, Arianto Leman; Nurhadiyanto, Didik; Mujiyono, Mujiyono; Surahmanto, Fredy; Fakhri, Ardani Ahsanul; Hanifatulloh, Zulfi Nur; Lestari, Endang Sri
ABDIMASKU : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 9, No 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62411/ja.v9i1.3172

Abstract

Pengecoran merupakan proses utama pada proses manufaktur. Guru-guru SMK Negeri 1 Binangun belum mampu membuat pola untuk proses pengecoran. Kesenjangan ini perlu dijembatani dengan memberdayakan guru-guru melalui program pelatihan membuat pola memanfaatkan 3D printing dengan tahapan mendesain pola menggunakan CAD, mencetak pola menggunakan 3D printer, merkait pola, finishing pola, membuat cetakan pasir, dan melebur dan menuangkan logam cair. Hasil kegiatan menunjukkan 21 orang guru telah berdaya membuat pola untuk SC dengan menggunakan 3D printer dan menghasilkan produk dengan metode pengcoran. Hasil analisis deskriptif terhadap angket evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa program PkM dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat pola menggunakan 3D printer dengan skor persepsi 88,74% dan program PkM dinilai tepat dalam memberikan solusi terhadap permasalahan dengan skor persepsi 91,84%. Dengan demikian guru-guru telah siap mentransfer ketrampilan membuat pola menggunakan 3D pronter kepada siswa-siswanya.