Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Sustainability Evaluation of Rural Infrastructure Through The Participatory IMAP Approach: A Case Study of Ayula Selatan Village, Gorontalo Lihawa, Fitryane; Harun, Ervan; Machmud, Achmad Nur Fahry; Mahmud, Marike
Jambura Geoscience Review Vol 8, No 1 (2026): Jambura Geoscience Review (JGEOSREV)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jgeosrev.v8i1.34856

Abstract

Rural communities often face persistent challenges in achieving sustainable rural development due to limited technical capacity, low community participation, and weak institutional coordination in managing public infrastructure. This study evaluates the sustainability of community-based infrastructure in Ayula Selatan Village by integrating technical, social, and institutional dimensions within a participatory governance framework. A participatory qualitative approach—combining transect walks, interviews, and IMAP surveys was used to assess the performance of the community-based Drinking Water Supply System (SPAM), Domestic Wastewater Management System (SPAL), and the 3R Waste Management Facility (TPS 3R). Data were collected from 294 households to examine the system’s functionality and community engagement. Findings show that 98% of households rely on bore wells, while only one communal wastewater treatment facility serves 50 households in limited coverage. The village operates a single TPS 3R with insufficient labor and transportation, resulting in inefficient waste processing. Strong links were observed between technical reliability, participatory governance, and sanitation sustainability, where greater community involvement fostered greater ownership, accountability, and long-term infrastructure performance. Institutional partnerships further enhanced operational resilience through collaborative management. Overall, the study highlights that sustainable rural development depends on synergy between technical robustness, social empowerment, and institutional collaboration. Strengthening participatory frameworks and local capacity is essential for improving the management and long-term sustainability of community-based rural infrastructure.
ENVIRONMENTAL MANAGEMENT PERFORMANCE AND GOVERNANCE CHALLENGES IN ROCK MINING OPERATIONS IN BONE BOLANGO REGENCY Suryadi Syamsuddin; Sukirman Rahim; Marike Mahmud; Fitryane Lihawa
BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan) Vol. 12 No. 2 (2026): Biolink February
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/biolink.v12i2.16704

Abstract

Rock mining plays an important role in supporting regional infrastructure development in Bone Bolango Regency, Gorontalo Province. However, quarry expansion also poses environmental risks that require proper management and supervision. This study evaluates the implementation of environmental management at three active rock mining sites. A mixed-methods approach was applied, integrating field observations, interviews, document analysis, and ambient air quality monitoring to assess compliance with UKL-UPL requirements. The results indicate that environmental management implementation remains inadequate. Major issues include weak erosion and sediment control, limited dust suppression, insufficient waste management, and inconsistent environmental monitoring, despite the availability of formal management documents. Air quality measurements at AF-01, AF-02, and AF-03 show spatial variation in particulate concentrations, influenced by mining intensity and local climatic conditions. Although all values are below national ambient air quality standards, field observations reveal localized dust accumulation, indicating insufficient on-site mitigation. Governance challenges further constrain the application of Good Mining Practices, including limited enforcement capacity, the absence of certified KTT/PJO personnel, and weak inter-institutional coordination. Local communities also reported disturbances related to dust, noise, and truck traffic. Overall, the study emphasizes the need for stronger regulatory oversight, improved technical capacity, and participatory monitoring to support adaptive and sustainable mining management.
Pengawetan Metode Hidrostatis Terhadap Serangan Serangga Bubuk Pada Tanaman Bambu di Desa Otopade Rawiyah Husnan; Frice L. Desei; Marike Mahmud; Arif Supriyatno
ELDIMAS: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 3 No 2 (2025): Novemeber 2025 - April 2026
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/ejppm.v3i2.58

Abstract

Bambu tumbuh melimpah di seluruh kepulauan Indonesia, dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat  selama berabad-abad. Tak terkecuali di wilayah Gorontalo yang hampir menyebar di seluruh  desa. Pertumbuhan bambu yang cepat membuat bambu sebagai sumber daya alami yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Desa Otopade  merupakan salah satu desa di Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo, yang memiliki potensi sumber daya alam hayati dan non hayati yang kaya dan tersebar di wilayah desa, diantaranya adalah tanaman bambu, namun belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Pemanfaatan bambu sebagai green material yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi pemakaian kayu yang dalam pengambilannya merusak hutan dan cenderung menimbulkan banjir dan waktu pertumbuhan relatif lama lebih dari 5 tahun, sementara bambu cepat tumbuh dalam jangka waktu 3 tahun sudah bisa digunakan. Kendala yang sering dihadapi warga masyarakat adalah keawetan bambu, karena bambu rentan terhadap serangan kumbang Bubuk.Tujuan yang ingin dicapai adalah memberikan pengetahuan tentang bambu, manfaat dan cara pengawetannya, dimana bambu bisa menggantikan material kayu yang mahal dan mulai langka. Kegiatan  yang dilaksanakan berupa pelatihan pengawetan  bambu dari serangan serangga Bubuk dengan memasukkan bahan pengawet bertekanan hidrostatis kedalam bambu, agar tanaman bambu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegunaan yang  dapat bertahan lama. Pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari masyarakat petani dan tukang /pekerja konstruksi. Hasil pelatihan menunjukan peserta mendapat nilai tambah berupa pengetahuan  tentang bambu, manfaat dan cara pengawetannya.  Pelatihan ini telah mampu memberikan ketrampilan kepada warga dalam hal pemecahan permasalahan pengawetan bambu dan dapat mengembangkan pemakaian bambu secara lebih luas dan lebih berguna, serta  diharapkan dapat menumbuh kembangkan motivasi masyarakat terhadap berbagai macam pemanfaatan bambu yang bernilai ekonomis