Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Profil HIV/AIDS di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Januari 2009 sampai dengan Desember 2018 Sumampouw, Yurissco B.; Rampengan, Novie H.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27189

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) infection and acquired immunodpeficiency syndrome (AIDS) are health problems worldwide. Risk factors that are supposed to increase the incidence of HIV/AIDS include perinatal, homosexual, heterosexual, pattern of sexual relation, family with positive HIV/AIDS sufferers who do not use protective equipment, and injection drug users. This study was aimed to determine the profile of HIV/AIDS at the Department of Pediatrics Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This was a descriptive and retrospective study using data of Voluntary Counseling Test (VCT) from January 2009 to December 2018. The results showed that there were 75 patients, most were 13-18 years (32%) and male sex (50.67%). The most common transmission was perinatal transmission (68%). Stage III had the highest percentage (80%). First-line therapy was found as the most common (68%), albeit 23 patients (30.7%) had not received ARV therapy. There were 28 patients (37.33%) who lived with HIV/AIDS. In conclusion, the highest prevalence of HIV was in 2018 and the most common patients were male, aged 13-18 <18 years, and had perinatal transmission. and 28 children living with HIV. Some patients still lived with HIV/AIDS.Keywords: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome Abstrak: Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan masalah kesehatan di dunia. Faktor-faktor risiko yang diperkirakan meningkatkan angka kejadian HIV/AIDS antara lain: perinatal, homoseksual, heteroseksual, pola hubungan seks, keluarga dengan pengidap HIV/AIDS positif yang tidak menggunakan pelindung, dan pemakai alat suntik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil HIV-AIDS di Bagiaan Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Penelitian ini menggunakan data dari Voluntary Counseling Test (VCT) RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado selama Januari 2009-Desember 2018. Hasil penelitian mendapatkan 75 pasien dan yang terbanyak ialah usia 13-18 tahun (32%), dan jenis kelamin laki-laki (50,67%). Penularan terbanyak ialah perinatal (68%) Stadium terbanyak ialah stadium III (80%) dan terapi lini I yang terbanyak (68%) namun terdapat 23 pasien (30,7%) yang belum mendapatkan terapi ARV. Terdapat 28 pasien (37,33%) yang hidup dengan HIV/AIDS. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi tertinggi HIV pada tahun 2018 dan pasien yang terbanyak berjenis kelamin laki-laki, usia 13-<18 tahun, dengan penularan perinatal. Sebagian pasien hidup dengan HIV/AIDS.Kata kunci: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN ANTARA ANAK USIA SEKOLAH YANG BERPRESTASI DAN YANG KURANG BERPRESTASI Watuna, Petra; Mantik, Max F. J.; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7487

Abstract

Absrtact: The learning achievement of the students is influenced by various factors. These factors could be alone or together with other factors affecting the learning process thus causing a decrease in student achievement. Anemia, particularly iron deficiency anemia, is one of the major problems faced by the students and has a negative impact on students' performance and productivity. Anemia is a condition that indicates levels of hemoglobin (Hb) lower than normal. This is caused by lack of iron necessary for the formation of hemoglobin in the blood. The state of is caused by decreasing of oxygen-carrying capacity of red blood cells. This study aimed to determine the differences in hemoglobin levels among school-age children with high achievement and low achievement. This was a cross sectional analytical study by using the average value of mid semester for mathematics and science subjects in SMP 9 Pandu. The Kruskal-Wallis test in mathematics with Asymp. value Sig 0.746 > 0.05 which meant that there was no difference in hemoglobin levels between students with high achievement and with low achievement. Physics subjects with Asymp. value Sig 0.028 < 0.05 meant that there was a difference between hemoglobin levels of students with high achievement and with low achievement. Hemoglobin level did not affect the value of mathematics but affect the value of the physics.Keywords: hemoglobin, iron deficiency, student achievementAbstrak: Capaian prestasi belajar para siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut bisa sendiri atau bersama dengan faktor lain mempengaruhi proses belajar sehingga menyebabkan penurunan prestasi siswa. Anemia, secara khusus anemia defisiensi besi adalah salah satu masalah utama yang dihadapi para siswa dan memiliki pengaruh negatif terhadap performa dan produktifitas siswa. Anemia adalah keadaan yang menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) seseorang lebih rendah dari kadar hemoglobin normal. Hal ini disebabkan oleh kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin dalam tubuh. Keadaan anemia menyebabkan kapasitas pengangkutan oksigen oleh sel darah merah menurun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perbedaan kadar hemoglobin antara anak usia sekolah yang berprestasi dan kurang berprestasi. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan mengambil rata-rata nilai mid semester untuk mata pelajaran matematika dan IPA di SMP 9 Pandu. Hasil penelitian: dengan uji Kruskal-Wallis pada mata pelajaran matematika dengan nilai Asymp. Sig 0,746 > 0,05, artinya tidak terdapat perbedaan kadar hemoglobin siswa berprestasi dan tidak berprestasi. Untuk mata pelajaran IPA dengan nilai Asympt. Sig 0,028 < 0,05, artinya terdapat perbedaan antara kadar hemoglobin siswa berprestasi dan tidak berprestasi. Kadar hemoglobin tidak mempengaruhi nilai matematika tapi mempengaruhi nilai IPA.Kata kunci: hemoglobin, defisiensi besi, prestasi siswa.
PROFIL HEMATOLOGI PADA PENDERITA DIARE AKUT YANG DIRAWAT DI BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2010 – NOVEMBER 2011 Rottie, Yotmiro S.; Mantik, Max F. J.; Runtunuwu, Ari L.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.10480

Abstract

Abstract: Diarrhea is an abnormal excretion of stool or dilute form of feces with abnormal frequency. Neonatal can be diagnosed with diarhhea when the frequency of bowel movements is more than 4 times per day. In babies aged 1 month old or older, diarhhea is diagnosed when the frequency is more than 3 times per day. Until today, diarrhea is still a health problem in Indonesia as well as in other developing countries. Diarrhea that occurs less than 14 days is called acute diarhhea. There are many causes of diarrhea inter alia infectious and non infectious diseases. The complications of acute diarrhea can be dehydration, hypovolemic shock, hypokalemia, and hypoglycemia. Hematological examination of acute diarrhea patients with severe dehydration can be increased hematocrit and hemoglobin. This study aimed to obtain the hematological results of acute diarrhea patients at the Paediatrics Department of Prof Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a retrospective descriptive study by using medical records. In this study, there were 276 patients in the period November 2010 - November 2011. The results showed that of the 276 patients with acute diarrhea, 157 patients were males (55.88%) and 115 patients were females (43.12%). Concerning the hematological examination, 205 patients (74.27%) had normal hematocrit, 189 patients (68.48%) had normal hemoglobin, and 224 patients (81.16%) had normal leukocyte counts, and 196 patients (71.01%) had normal platelet counts. There were 273 patients (98.91 %) with length of treatment 1 - ≤14 days meanwhile 3 patients (1.09%) with length of treatment >14 days. Keywords: acute diarrhea, hematological examination, childrenAbstrak: Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali, sampai saat ini, diare masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia juga dinegara-negara berkembang, diare disebut akut bila terjadi kurang dari 14 hari, diare dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu infeksi maupun non infeksi, pada diare akut dapat terjadi komplikasi antara lain dehidrasi, renjatan hipovolemik, hipokalemia, hipoglekemia, pemeriksaan hematologi pasien diare akut dapat terjadi peningkatan pada beberapa pemeriksaan darah seperti peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada keadaan dehidrasi berat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran hematologi pada pasien diare akut di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan catatan rekam medik. Sampel penelitian ini 276 pasien dengan diare akut pada periode November 2010 – November 2011. Dari 276 pasien, didapatkan laki-laki 157 (55,88%) pasien dan perempuan 115 (43,12%) pasien. Pada pemeriksan hematologi didapatkan nilai hematokrit normal 205 (74,27%) pasien, hemoglobin normal 189 (68,48%) pasien, hitung leukosit normal 224 (81,16%) pasien, dan hitung trombosit normal 196 (71,01%) pasien. Terdapat 273 (98,91%) pasien dengan lama perawatan 1 - ≤14 hari dan 3 (1,09%) pasien dengan lama perawatan >14 hari.Kata kunci: diare akut, pemeriksaan hematologi, pasien anak
HUBUNGAN JUMLAH TROMBOSIT DAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN ANAK DEMAM BERDARAH DENGUE Masihor, Jilly J. G.; Mantik, Max F. J.; Memah, Maya; Mongan, Arthur E.
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.4152

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an acute fever disease with high mortality and morbidity in many regions of the world. Leucopenia and thrombocytopenia are two of several laboratory findings that could be found in the course of DHF. This was an analytical retrospective study with a cross sectional design. Samples were patients diagnosed with DHF in Prof. Dr. R.D Kandou General Hospital Manado during the period of 2012. The inclusion criteria were patients <15 years, were diagnosed as DHF according to WHO 1997 criteria, and were examined for platelet and white blood cell count. This study used the medical record data which were analyzed statistically by using the Pearson's correlation test. There were 137 children with DHF during the period of 2012. Samples were 56 children that fulfiled the inclusion criteria. The Pearson correlation test showed a P value 0.801 and correlation coefficient r = -0.034 that indicated that there was a negative correlation which was not significant. Conclusion: There was no significant correlation between the number of thrombocytes and leukocytes in children with dengue hemorrhagic fever.Keywords: dengue hemorrhagic fever, leukocyte, thrombocyteAbstrak: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di banyak daerah di dunia. Leukopenia dan trombositopenia merupakan dua temuan laboratorik yang sering ditemukan pada DBD. Penelitian ini bersifat analitik retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien anak yang terdiagnosis DBD di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado selama periode tahun 2012. Pasien yang masuk dalam kriteria inklusi ialah pasien < 15 tahun, telah terdiagnosis menurut kriteria WHO 1997, serta melakukan pemeriksaan laboratorium trombosit dan leukosit. Penelitian ini menggunakan catatan rekam medik, dan untuk analisis statistik digunakan Pearson’s correlation test. Terdapat 137 anak dengan demam berdarah dengue pada periode 2012 dan 56 anak menjadi sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian melalui uji korelasi Pearson mendapatkan nilai P = 0,801 dan koefisien korelasi r = -0,034 yang berarti bahwa korelasi tidak bermakna, dengan kekuatan korelasi lemah dan arah korelasi negatif. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah trombosit dan leukosit pada pasien anak demam berdarah dengue.Kata kunci: demam berdarah dengue, leukosit, trombosit
Faktor Risiko Tuberkulosis pada Anak Wijaya, Muhammad S. D.; Mantik, Max F. J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32117

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is still one of the biggest health problems worldwide due to high morbidity and mortality rates. Moreover, Indonesia has the third largest TB cases in the world after India and China. This study was aimed to evaluate the risk factors of TB in children. This was a literature review study using three databases, namely Google Scholar, ClinicalKey, and PubMed. The results showed that after being selected by inclusion and exclusion criteria, there were 10 literatures in this study consisting of 2 case control studies, 4 cross sectional studies, 1 difference test, 1 meta-analysis, 1 case report, and 1 cohort study. The 10 literatures reviewed factors or characteristics of age, sex, history of BCG immunization, malnutrition, history of contact with person suffering from TB, exposure to cigarette smoke, occupant density, and poverty. Risk factors obtained from the review were young age (0-5 years), male sex, malnutrition, history of contact, and poverty. The other risk factors specifically history of BCG immunization, exposure to cigarette smoke, and occupant density were still contradicting among literatures. In conclusion, the most dominant risk factor of TB in children is history of contact with person suffering from TB. Keywords: risk factors, tuberculosis, children.  Abstrak: Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia dikarenakan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. selain itu Indonesia merupakan negara dengan kasus TB terbesar ketiga di dunia setelah India dan Tiongkok. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor risiko tuberkulosis pada anak. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan tiga database, yakni Google Scholar, ClinicalKey, dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan bahwa diseleksi dengan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 10 literatur yang terdiri dari 2 case control study, 4 cross sectional study, 1 uji beda, 1 meta-analysis, 1 case report, dan 1 cohort study. Sepuluh literatur ini mengulas tentang pengaruh faktor atau karakteristik terhadap TB ada anak, yaitu: usia, jenis kelamin, riwayat imunisasi BCG, malnutrisi, riwayat kontak dengan pengidap TB, asap rokok, kepadatan hunian, dan kemiskinan. Faktor-faktor risiko yang diperoleh ialah usia muda (0-5 tahun), jenis kelamin laki-laki, malnutrisi, riwayat kontak, dan kemiskinan dapat memengaruhi kejadian TB pada anak. Faktor-faktor risiko lainnya yakni riwayat imunisasi BCG, paparan asap rokok, dan kepadatan hunian masih kontradiktif antar literatur. Simpulan penelitian ini ialah faktor risiko yang paling dominan menyebabkan penyakit TB pada anak ialah riwayat kontak.Kata kunci: faktor risiko, tuberculosis pada anak
Faktor Risiko Terjadinya Sindroma Syok Dengue pada Demam Berdarah Dengue Podung, Gerald C. D.; Tatura, Suryadi N. N.; Mantik, Max F. J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31816

Abstract

Abstract: This study aimed to determine the risk factors and how much they cause Dengue Shock Syndrome (SSD) in children with Dengue Hemorrhagic Fever. This study is a study using the literature review method. From the 10 articles reviewed, the risk factors identified were as follows: from demographic factors, age > 5 years; male and female; late treatment; and referral patients. Signs and symptoms of patients who are risk factors for SSD, namely secondary infection, duration of fever ≥ 4 days before being admitted to hospital, abdominal pain, hepatomegaly, oliguria, pleural effusion, ascites, spontaneous bleeding, flushing measurable. The identified risk factors based on lab tests were hematocrit ≥42%, thrombocytopenia (platelet count <50,000 cells/mm3), increased hematocrit > 20% with platelet levels <50,000 cells/mm3, leucocyte levels <4000 (leukopenia), low fibrinogen levels. (<200 mg / dL) and APTT prolongation. In conclusion, risk factors based on identified demographics are age > 5 years, gender, late treatment and referral patients; factors that are symptoms and signs associated with the incidence of SSD are secondary infection, fever ≥ 4 days before hospitalization, abdominal pain, hepatomegaly, oliguria, pleural effusion, spontaneous bleeding, ascites, facial flushing, unmeasured pulse and systolic pressure and unmeasured diastolic; factors based on laboratory results: hematocrit ≥ 42, thrombocytopenia, leucopenia, low fibrinogen levels and prolonged APTT.Keywords: Risk Factors, Dengue Shock Syndrome  Abstrak: Tujuan pelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor risiko dan seberapa besar faktor risiko tersebut menyebabkan Sindroma Syok Dengue (SSD) pada anak dengan Demam Berdarah Dengue. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode literature review. Dari 10 artikel yang direview, faktor risiko yang teridentifikasi adalah sebagai berikut: dari faktor demografis, umur > 5 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan; keterlambatan berobat; dan pasien rujukan. Tanda dan gejala dari pasien yang merupakan faktor risiko SSD, yaitu infeksi sekunder, lama demam ≥ 4 hari sebelum dirawat di RS, nyeri abdomen, hepatomegali, oliguria, efusi pleura, asites, perdarahan spontan, wajah kemerahan, nadi yang tidak terukur. Faktor risiko berdasarkan pemeriksaan lab yang teridentifikasi adalah hematocrit ≥42%, trombositopenia (kadar trombosit <50.000 sel/mm3), peningkatan hematocrit >20% dengan kadar trombosit <50.000 sel/mm3, kadar leukosit <4000 (leukopenia), level fibrinogen yang rendah (<200 mg/dL) dan pemanjangan APTT. Sebagai simpulan, faktor risiko berdasarkan demografi yang teridentifikasi adalah umur >5 tahun, jenis kelamin, terlambat berobat dan pasien rujukan; faktor yang merupakan gejala dan tanda yang berhubungan dengan kejadian SSD adalah infeksi sekunder, demam ≥ 4 hari sebelum dirawat di RS, nyeri abdomen,hepatomegaly,oliguria,efusi pleura,perdarahan spontan,asites,wajah kemerahan, nadi yang tidak terukur dan tekanan sistolik dan diastolik yang tidak terukur; faktor berdasarkan hasil labotratorium: hematocrit ≥ 42, trombositopenia, leukopenia, level fibrinogen rendah dan pemanjangan APTT.Kata Kunci: faktor resiko, sindroma syok dengue
Analisis Hubungan Tingkat Kesejahteraan Tanggung Jawab dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja Perawat dan Bidan Mokodompit, Hafsia K. N.; Tendean, Lydia E. N.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.36066

Abstract

Abstract: Health worker is everyone who devotes him/herself in the health sector and has knowledge and skills through education in the health sector, such as nurse and midwife. The maximum service of a health worker can be achievd if the level of satisfaction is good. Various factors can affect the satisfaction of nurses and midwives working in an hospital organization, such as welfare, responsibility, and work motivation. This study was aimed to assess the relation-ship between welfare, responsibility, work motivation and satisfaction among nurses and mid-wives. This was an analytical, observational, and quantitative study with a cross sectional design. There were 119 health workers of General Hospital GMIBM Monompia Kotamobagu involved in this study consisting of 107 nurses and 12 midwives obtained by using the total sampling method. The multiple linear test showed that the level of welfare affected job satisfaction (p=0.000), while responsibility and motivation did not affect job satisfaction (p=0.371 and p=0.415). The simultaneous test resulted in an F-value of 6.112 where welfare/income, respon-sibility, and motivation simultaneously affected the job satisfaction of nurses and midwives. In conclusion, welfare significantly influenced the satisfaction of nurses and midwives meanwhile responsibility and motivation did not.Keywords: level of welfare; responsibility; motivation and job satisfaction Abstrak: Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan seperti perawat dan bidan. Pemberian pelayanan yang maksimal dari tenaga kesehatan dapat tercapai bila tingkat kepuasan kerja perawat dan bidan baik. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada perawat dan bidan dalam suatu organisasi rumah sakit, di antaranya tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesejahteraan, tanggung jawab, dan motivasi dengan kepuasan kerja pada perawat dan bidan. Jenis penelitian ialah kuantitatif dan analitik observasional dengan desain potong lintang. Subyek penelitian berjumlah 119 orang tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum GMIBM Monompia Kotamobagu, terdiri dari 107 perawat dan 12 bidan diperoleh dengan teknik total sampling. Hasil penelitian uji linear berganda mendapatkan tingkat kesejahteraan memengaruhi kepuasan kerja (p=0.,00), sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak meme-ngaruhi kepuasan kerja (p=0,371 dan p=0,415). Pada hasil uji simultan didapatkan nilai F=6,112 dimana kesejahteraan/pendapatan, tanggung jawab, dan motivasi secara serempak memengaruhi kepuasan kerja. Simpulan penelitian ini ialah kesejahteraan/pendapatan mempunyai pengaruh bermakna terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan sedangkan tanggung jawab dan motivasi tidak mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja perawat dan bidan.Kata kunci: kesejahteraan; tanggung jawab; motivasi kerja dan kepuasan kerja