Claim Missing Document
Check
Articles

PENGGUNAAN BAHAN TUMPATAN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT PADA TAHUN 2014 Anang, Dewi Y.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8764

Abstract

Abstract: Resin composite has been known since the sixtieth generation and generally it is known as the dentists? cosmetic restorative material. Amalgam is the oldest restorative material and it is famous due to its mechanical strength, endurance, and less expensive. Glass ionomer cement is an isochromatic tooth dentifrice; its main component is liquid consisted of water and polyacid, and a kind of fluoroaluminosilicate glass powder. This study aimed to obtain the profile of patients using dental restorative composite at the RSGM Manado in 2014. This was a descriptive retrospective study. There were 400 dental samples from the medical record categorized according to gender, age, kinds of treatment, and occupation. The results showed that dental treatment with filling was most frequent among females (65%) compared to males (35%). Most of the subjects (70%) were 21-30 years old. Moreover, most of the subjects (62.5%) used amalgam as the restorative material.Keywords: restorative material, composite resin, amalgam, GICAbstrak: Resin komposit ialah tumpatan pada generasi ke 60-an, dan secara umum dikenal sebagai bahan tumpatan kosmetik dentis. Amalgam merupakan bahan restorasi tertua dan cukup terkenal di masyarakat luas oleh karena kekuatan, daya tahan, dan harganya yang relatif murah. Glass Ionomer Cement ialah bahan tambal sewarna gigi yang komponen utamanya terdiri dari likuid yang merupakan gabungan air dengan polyacid (Asam poliakrilat, maleat, itakonat, tartarat) dan bubuk berupa fluoroaluminosilicate glass. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien yang menggunakan tumpatan gigi di RSGM Unsrat pada tahun 2014. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Jumlah data penelitian yang didapat yaitu 400 sampel data dental dari rekam medik dan dikategorikan sesuai jenis kelamin, usia, jenis perawatan dan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan perawatan dengan bahan tumpatan lebih sering dilakukan oleh pasien berjenis kelamin perempuan (65%) dibandingkan laki-laki (35%). Distribusi subyek terbanyak pada usia 21-30 tahun (70%). Sebagian besar (62,5%) menggunakan bahan tumpatan amalgam.Kata kunci: tumpatan, resin komposit, amalgam, GIC
GAMBARAN PERILAKU DAN CARA MERAWAT GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN PADA LANSIA DI PANTI WREDHA MINAHASA INDUK Lengkong, Pingkan E.O.; Pangemanan, Damajanti H. C.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6404

Abstract

Abstract: Removable partial dentures (RPDs) is a denture that replaces one or more missing teeth in the maxilla or mandible and can be removed by the patient. Patients maintain hygiene habits removable partial dentures can be seen from the frequency, time, and method used to clean dentures varies between individuals and different communities. The purpose of this study is to describe the behavior and how to care RPDs for the elderly in Panti Wredha Minahasa.This type of research is a descriptive study with cross sectional study. The samples were all elderly who meet the inclusion criteria were age 60-80 years using RPDs in seven nursing homes in Minahasa.Based on the research that has been conducted, most respondents RPDs cleaning by brushing without toothpaste 1 (3.3%) and brushing with toothpaste totaled 29 respondents (96.67%). A total of 13 respondents (43.3%) did immersion RPDs. Most respondents simply did immersion by using water that are 17 respondents (56.67%), and no one do immersion using a chemical solution. Most respondents, 13 respondents (43.3%) RPDs cleaning once a day, as many as 28 respondents (93.33%) did not find any difficulty in cleaning RPDs, all respondents (100%) did not get instruction after assembling, as many as 22 respondents (73.3%) using RPDs at night when sleeping.Conclusion: from the study based on behavior, most respondents use RPDs at night when sleeping. Based on how to brush, most respondents RPDs cleaning by brushing use a toothbrush and toothpaste. Based on how to care for the soaking, most respondents did soaking with water.Keywords: removable partial dentures, elderlyAbstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada rahang atas atau rahang bawah dan dapat dilepas oleh pasien. Kebiasaan pasien memelihara kebersihan gigi tiruan sebagian lepasan dapat dilihat dari frekuensi, waktu, dan cara yang digunakan untuk membersihkan gigi tiruan bervariasi pada setiap individu dan masyarakat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku dan cara merawat GTSL pada lansia di Panti Wredha Minahasa Induk. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel adalah semua lansia yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang berusia 60-80 tahun, menggunakan GTSL di tujuh Panti Wredha di Minahasa Induk. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat tanpa pasta gigi 1 orang (3,3%) dan menyikat gigi dengan pasta gigi berjumlah 29 responden (96,67%). Sebanyak 13 responden (43,3%) tidak melakukan perendaman GTSL. Responden terbanyak hanya melakukan perendaman dengan menggunakan air yaitu 17 responden (56,67%), dan tidak seorangpun yang melakukan perendaman dengan menggunakan larutan zat kimia. Sebagian besar responden yaitu 13 responden (43,3%) membersihkan GTSL sekali sehari, sebanyak 28 responden (93,33%) tidak menemukan kesulitan dalam membersihkan GTSL, semua responden (100%) tidak mendapatkan isntruksi setelah pemasangan, sebanyak 22 responden (73,3%) menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Simpulan: dari hasil penelitian berdasarkan perilaku, sebagian besar responden menggunakan GTSL pada saat malam hari ketika tidur. Berdasarkan cara menyikat, responden paling banyak membersihkan GTSL dengan cara menyikat memakai sikat gigi dan pasta gigi. Berdasarkan cara merawat dengan merendam, sebagian besar responden melakukan perendaman dengan menggunakan air.Kata kunci : gigi tiruan sebagian lepasan, lansia
GAMBARAN PENGETAHUAN PENCABUTAN GIGI SISWA SMA NEGERI 1 SANG TOMBOLANG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Dandel, Joandri P.; Mariati, Ni Wayan; Maryono, Jimmy
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8769

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the actions that are often done in the field of dentistry. Tooth extraction is done with an indication of severely damaged teeth and can not be manage.The most people visiting the dentist after the tooth is badly damaged, and eventually had to be taken tooth extraction. That is caused by a lack of public knowledge about the importance of maintaining healthy teeth and mouth. This study aims to reveal the students' knowledge of tooth extraction SMA 1 The Tombolang Bolaang Mongondow. This type of research used in this research is descriptive research with cross sectional study design. The total sample of 51 samples, obtained using Slovin formula. Results of the study are presented in the form of a frequency distribution table. The results showed the level of students' knowledge of tooth extractions in SMA Negeri 1 The Tombolang most have a moderate knowledge (52.9%).Keywords: Tooth Extraction, KnowledgeAbstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan yang sering dilakukan di bidang kedokteran gigi. Pencabutan gigi dilakukan dengan indikasi gigi yang rusak parah dan tidak bisa dirawat.Sebagian besar masyarakat berkunjung ke dokter gigi setelah gigi rusak parah, dan akhirnya harus dilakukan tindakan pencabutan gigi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pencabutan gigi siswa SMA Negeri 1 Sang Tombolang Kabupaten Bolaang Mongondow. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 51 sampel, diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMA Negeri 1 Sang Tombolang sebagian besar memiliki pengetahuan sedang (52,9%).Kata kunci: Pencabutan gigi, Pengetahuan
GAMBARAN XEROSTOMIA PADA KELOMPOK LANSIA YANG MENGGUNAKAN GIGI TIRUAN DI KABUPATEN MINAHASA Salampessy, Gracecylia R.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6458

Abstract

Abstack: A person who has entered the elderly group will experience a change in the composition of saliva, causing the production of saliva does not function normally and lead to a complaint of dry mouth or xerostomia. This study aimed to identify and clarify the picture of xerostomia in the elderly group who use denture in Minahasa district. Xerostomia is a common problem that many occur in the elderly. Clinically, patients with dry mouth will feel dry on the lips and the corners of the mouth become irritated. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was carried out in all elderly nursing homes in Minahasa district. The samples of this study were all elderly who used denture in nursing homes in Minahasa district. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 93.75% of the elderly, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (63.3%). Conclusion: Xerostomia was more common in female elderly, therefore, it is expected that the elderly have to maintain their oral health by eating nutritious foods and vitamin C.Keywords: denture, elderly, xerostomia.Abstrak: Seseorang yang sudah memasuki kelompok lansia akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva, sehingga menyebabkan produksi saliva tidak berfungsi dengan normal dan mengakibatkan keluhan mulut kering atau xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan gambaran xerostomia pada kelompok lansia yang menggunakan gigi tiruan di kabupaten Minahasa. Xerostomia merupakan masalah umum yang banyak terjadi pada lansia. Secara klinis pasien dengan mulut kering akan terasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini dilakukan di seluruh panti werda di kabupaten Minahasa. Sampel penelitian ini ialah semua lansia yang menggunakan gigi tiruan di panti werda di kabupaten Minahasa. Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode gelas ukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 93,75% dari populasi, kelamin lebih dominan pada perempuan (96,7%), dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (63,3%). Simpulan: Xerostomia sering terjadi pada lansia terutama yang berjenis kelamin perempuan. Diharapkan para lansia dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan mengonsumsi makanan bergizi dan kaya vitamin C.Kata kunci: gigi tiruan, lansia, xerostomia
Gambaran perawatan gigi tiruan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prodi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Unsrat tahun 2013-2014 Mariati, Ni Wayan; Wowor, Vonny N.S; Sari, Ni Putu Karuni M.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9129

Abstract

ABSTRAK: Kehilangan gigi dalam jangka waktu yang lama tanpa penggantian akan menyebabkan perubahan susunan gigi yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi bicara maupun pengunyahan. Seiring bertambahnya usia, semakin besar pula kerentanan seseorang untuk kehilangan gigi. Hal itu akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan gigi tiruan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perawatan gigi tiruan di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Prodi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran (FK) Unsrat tahun 2013 – 2014. Jenis penelitian yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian yaitu pasien yang telah menjalani perawatan gigi tiruan tahun 2013 – 2014 di RSGM PSPDG FK Unsrat yang datanya diperoleh dari rekam medik prostodonsia. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling dengan besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 353 sampel. Hasil penelitian menubnjukkan bahwa pada tahun 2013 terbanyak perawatan mahkota pasak 40,29%; diikuti perawatan mahkota penuh 38,13%; gigi tiruan jembatan 11,51%; gigi tiruan sebagian lepasan 6,47%; gigi tiruan penuh 3,60%. Tahun 2014 perawatan terbanyak perawatan mahkota penuh 32,71%; diikuti perawatan gigi tiruan penuh 19,16%; gigi tiruan sebagian lepasan 6,82%; perawatan mahkota pasak 16,82%; gigi tiruan jembatan 14,49.Kata Kunci: Perawatan gigi tiruan, RSGM PSPDG FK UnsratABSTRACT: Loss of teeth in the long term without replacement would lead to changes in the composition of the teeth which can cause interference with speech and mastication function. As people age, the greater the susceptibility to tooth loss. It will have an impact on the growing need for dentures. This study was conducted to determine the image denture care in Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Prodi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran (FK) Unsrat in 2013 - 2014. This type of research is descriptive retrospective approach. The population used was patients who have undergone treatment denture years 2013 - 2014 in the RSGM PSPDG FK Unsrat, the data obtained from the medical records of Prosthodontics. Sampling was done by total sampling method with large samples that met the inclusion criteria as much as 353 samples. The result showed that at 2013 the majority treatment was post crown 40,29%; followed by full crown 38,13%; denture bridge 11,57%; partial removable denture 6,47%; full denture 11,57%; at 2014 the majority treatment was full crown 32,71%; followed by full denture 11,16%; partial removable denture 16,82%; post crown 16,82%; denture bridge 14,49%.Keywords: denture treatment, RSGM PSPDG FK Unsrat
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TENTANG PENCABUTAN GIGI DI SMP NEGERI 2 LANGOWAN Harlindong, Gisela; Mariati, Ni Wayan; Hutagalung, Bernat
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5779

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the best solution to prevent the occurrence of abnormalities in the oral cavity. Tooth extraction often experience barriers, obstacles commonly occur in efforts dental care due to lack of knowledge of the people against the tooth extraction. The purpose of this study to describe the level of students' knowledge of tooth extraction in SMP Negeri 2 Langowan. This is a descriptive study with a total sample of 198 students taken by Slovin formula. The results showed that the students' knowledge of tooth extraction in SMP Negeri 2 Langowan in say less because of the students who answered correctly from the scoring just get a score of 822, or by 46.1%, while the students who answered incorrectly by 53.9%. It takes the role of the government, schools and parents to improve the students' knowledge of oral health. Keywords: knowledge, tooth extraction.     Abstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. Pencabutan gigi kadang mengalami hambatan, umumnya hambatan yang terjadi pada upaya pelayanan kesehatan gigi akibat dari kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pencabutan gigi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMP Negeri 2 Langowan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 198 siswa yang diambil dengan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang pencabutan gigi di SMP Negeri 2 Langowan di katakan kurang oleh karena siswa yang menjawab dengan benar dari hasil skoring hanya mendapatkan skor 822 atau sebesar 46,1 % sedangkan siswa yang menjawab salah sebesar 53,9%. Persentase pengetahuan siswa tentang indikasi pencabutan gigi sebesar 50%, Persentase pengetahuan siswa tentang kontra indikasi pencabutan gigi sebesar 47,2%. Persentase pengetahuan siswa tentang manfaat pencabutan gigi sebesar 38,9%. Persentase pengetahuan siswa tentang efek samping gigi yang merupakan indikasi tetapi tidak dicabut sebesar 46,6%. Kata kunci: pengetahuan, pencabutan gigi.
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA SMP NEGERI 1 TARERAN Wilar, Liefany Anastasia; Rattu, A. J. M.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5035

Abstract

Abstract: Malocclusion according to World Health Organization (WHO) is a defect or functional distruption that can be a hampered to a physical and emotional health from patient who needs treatment. The aim of this study is to know the needs of orthodontic treatment of students in SMPN 1 Tareran ages 13-14 years old according to IOTN. Index of Orthodontic Treatment Need consisted of two parts which are Aesthetic Component (AC) and Dental Health Component (DHC). This is a descriptive study, has done in SMPN 1 Tareran Rumoong village on March 2014. The population of this study is all the students of SMPN 1 Tareran ages 13-14 years old totaled 155 students and only 61 students included in the sampling frame. These sample observed using AC and DHC according to IOTN. The result of the study showed that according to AC (73,77%) don’t need treatment or need minor treatment, (22,95%) need a borderline treatment and (3,28%) really need treatment. According to DHC (16,39%) don’t need treatment or need minor treatment, (18,04%) need a borderline treatment and (65,57%) really need treatment. Keywords: Malocclusion, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.     Abstrak: Maloklusi menurut World Health Organization (WHO) adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan perawatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan perawatan orthodonsi siswa SMP Negeri 1 Tareran usia 13-14 tahun berdasarkan IOTN. Index of Orthodontic Treatment Need terdiri dari dua bagian yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Penelitian ini bersifat deskriptif, dilakukan di SMP Negeri 1 Tareran desa Rumoong pada bulan Maret 2014. Populasi penelitian ini yaitu seluruh siswa SMP Negeri 1 Tareran usia 13-14 tahun yang berjumlah 155 siswa dan hanya 61 siswa yang termasuk dalam sampling frame. Sampel kemudian diperiksa menggunakan AC dan DHC berdasarkan IOTN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan AC (73,77%) tidak atau butuh perawatan ringan, (22,95%) butuh perawatan borderline dan (3,28%) sangat butuh perawatan. Berdasarkan DHC (16,39%) tidak atau butuh perawatan ringan, (18,04%) butuh perawatan borderline dan (65,57%) sangat butuh perawatan. Kata kunci: Maloklusi, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PENCEGAHAN KARIES DAN STATUS KARIES MURID SD KELURAHAN MENDONO KECAMATAN KINTOM KABUPATEN BANGGAI Hamadi, Dewi A.; Gunawan, Paulina N.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6398

Abstract

Abstract: Knowledge of parents is very important in the formation of the under lying attitude and behaviors that support children soral health. Oral disease that affects many people of Indonesia are caries and periodontal disease. Hard dental caries is a disease that is email, dentin and cementum. Early caries in primary school children. Caries prevention can be done by brushing teeth reguler, paying attention to diet and make a visit to the dentist. The purpose of this studyis to describethe knowledge of parents about the prevention of caries and caries sstatus of primary school student village mendono districts Kintom Banggai. This study used a descriptive design with cross sectional approach. The sample of this study using total sampling method according to the inclusion and exclusion criteria totaling 82 pupil and their parents. Caries status examination performed on 5-6 class students aged 11-13 years and questionnaires to parents sampled. The results of examination of the status of caries in children aged 11-13 years have low category as big as 2,08 and knowledge of parents in whole have good knowledge 93.9%. Conclusion: parental knowledge about the prevention of caries by age, gender and occupation shows parents have good knowledge. Caries status by age and gender have DMF-T low.Keywords: parents knowledge, prevention of caries and caries statusAbstrak: Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya sikap dan perilaku yang mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah karies dan penyakit periodontal. Karies merupakan penyakit keras gigi yaitu email, dentin dan sementum. Awal terjadinya karies pada anak sekolah dasar. Pencegahan karies dapat dilakukan dengan cara menyikat gigi yang teratur, memperhatikan pola makan dan melakukan kunjungan kedokter gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan orang tua tentang pencegahan karies dan status karies murid SD kelurahan mendono kecamatan kintom kabupaten banggai. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling menurut kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 82 murid beserta orang tua murid. Pemeriksaan status karies dilakukan pada murid kelas 5-6 yang berumur 11-13 tahun pengisian kuesioner pada orang tua murid yang dijadikan sampel. Hasil pemeriksaan status karies pada anak umur 11-13 tahun mempunyai kategori rendah sebesar 2,08 dan pengetahuan orang tua secara keseluruhan mempunyai pengetahuan baik 93,9%. Simpulan: Pengetahuan orang tua tentang pencegahan keries berdasarkan umur, jenis kelamin dan pekerjaan menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan baik. Status karies anak berdasarkan umur dan jenis kelamin memiliki DMF-T rendah.Kata kunci pengetahuan orang tua, pencegahan karies dan status karies
GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA PEROKOK DI DESA BUKU KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Poana, Priska M.; Mariati, Ni Wayan; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8078

Abstract

Abstract: Smoking is a habit that we often encounter in daily life. Besides its systemic effect, smoking can also lead to pathological conditions in the oral cavity. Gingiva is one of the soft tissues of the mouth. Accumulation and combustion products of cigarettes can affect the response of gingival inflammation. This study aimed to describe the status of gingiva in smokers in Buku village Belang Southeast Minahasa. This was a descriptive study. Samples were males aged 35-40 years, worked as fishermen, and had the smoking habit. Samples were 72 people obtained by purposive sampling method. The results showed that 4.17% of smokers who smoked >20 cigarettes per day had moderate inflammation of the gingiva and 25% of smokers with smoking duration >10 years had mild inflammation of the gingiva. Conclusion: Based on the number of cigarettes smoked per day and duration of smoking, few smokers had normal gingival status and there was no smokers with severe inflammation of the gingiva.Keywords: smoker, gingival statusAbstrak: Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang sering dijumpai sehari-hari. Kebiasaan ini tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan kondisi patologis di rongga mulut. Gingiva merupakan salah satu bagian jaringan lunak mulut. Panas dan akumulasi produk hasil pembakaran rokok dapat mempengaruhi respon inflamasi gingiva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada perokok di Desa Buku Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel penelitian yaitu laki-laki umur 30-54 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan memiliki kebiasaan merokok. Sampel berjumlah 72 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 72 orang subjek penelitian yang diperiksa, 4,17% perokok yang menghisap rokok >20 batang per hari memiliki status gingiva inflamasi sedang dan 25% perokok dengan lama merokok > 10 tahun memiliki status gingiva inflamasi ringan. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari maupun lamanya merokok, hanya sedikit perokok yang memiliki status gingiva nomal dan tidak ditemukan perokok dengan status gingiva inflamasi berat.Kata kunci: perokok, status gingiva
GAMBARAN EFEK PEMBERIAN ANESTESI LOKAL DENGAN TEKNIK BLOK MANDIBULA FISHER PADA PEMINUM ALKOHOL Gugule, Ayu S.; Posangi, Jimmy; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1924

Abstract

Abstract: The habit of consuming alcoholic beverages have special characteristics when dealing with drugs, especially related to the anesthesia, when compared with those who did not consume alcoholic beverages because alcohol may alter the response to drugs given simultaneously. Anesthetic drugs and alcohol has the same content, namely the content of ether. Ether is a substance that is widely used as an anesthetic in medicine today. This study aims to describe the provision of local anesthetic effects with mandibular block technique fisher drinkers of alcoholic beverages and also to know the reaction to anesthesia and anesthesia reaction ratio. The research was conducted in a non-descriptive statistics, the data processing and analysis is based on data which is then treated observations described qualitatively. The data is processed and presented in tables and described textually. The results of research on the treatment of anesthesia and extraction indicate that there are differences in the duration of time to react calculated from first injection until such time as the disappearance of pain at the time of extraction. Similarly, there are differences in the duration of time when anesthesia is performed on the area of ​​the lips, tongue, buccal mucosa, and lingual mucosa based on the amount of alcohol you drink and the alcohol content. Keywords: Anesthesia, Mandibular block fisher, Alcoholic beverages.   Abstrak: Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol memiliki karakteristik khusus bila berhubungan dengan obat-obatan, terlebih berkaitan dengan anestesi, jika dibanding dengan orang yang tidak mengonsumsi minuman beralkohol karena alkohol dapat merubah respon terhadap obat yang diberikan secara bersamaan. Obat anestesi dan alkohol mempunyai kandungan yang sama yaitu kandungan eter. Eter ialah suatu zat yang banyak digunakan sebagai anestesi dalam dunia kedokteran hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian efek anestesi lokal dengan teknik blok mandibula fisher pada peminum minuman beralkohol dan juga untuk mengetahui masa reaksi anestesi serta perbandingan reaksi anestesi. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif non-statistik, yaitu pengolahan data dan analisis  yang  didasarkan pada data hasil observasi perlakuan yang kemudian dijelaskan secara  kualitatif. Data  diolah dan disajikan  dalam bentuk tabel serta diuraikan secara tekstual. Hasil penelitian pada perlakuan  anestesi dan ekstraksi menunjukkan bahwa  terdapat perbedaan durasi masa bereaksi dihitung dari injeksi pertama sampai dengan waktu hilangnya rasa sakit pada saat dilakukan ekstraksi. Begitu pula terdapat perbedaan durasi waktu ketika anestesi dilakukan pada area bibir, lidah, mukosa bukal dan mukosa lingual berdasarkan jumlah alkohol yang diminum serta kandungan kadar alkohol. Kata kunci: Anestesi, Blok mandibula fisher, Minuman beralkohol.
Co-Authors A. J. M Rattu A. J. M. Rattu A.A. Ketut Agung Cahyawan W Anna M. Maruanaya, Anna M. Ayu S. Gugule B. S. Lampus Bangun, Liasma K. Bawenti, Suryani Beatrix I. Pontoh Benedictus S. Lampus Bernat Hutagalung Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Catra H. E. Lengkey, Catra H. E. Christina Putri Amin Sinaga Christy Hansu Christy Mintjelungan Christy N. Mintjelungan D. H. C. Pangemanan Depthios, Richard F. Dewi A. Hamadi Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Dwi Nur Rakhman Eilen F. Sinaga, Eilen F. Ellys D Siagian Galong, Junistika Priskila Galongi, Junistika P. Gisela Harlindong Gonie, Lovely T. A. Gracecylia R. Salampessy I Made A. Yogasedana, I Made A. Indra Setiawan Inka J. Fenanlampir Jeiska Triska Tulangow Jimmy Maryono, Jimmy Jimmy Posangi Joandri P. Dandel, Joandri P. Johanna A Khoman Juliatri . Juliatri Juliatri Karel Pandelaki Liefany Anastasia Wilar Meilany F. Durry Michael A. Leman Mintjelungan, Christy N Ni Putu Karuni M. Sari, Ni Putu Karuni M. P. S. Anindita Pangemanan, Damajanty H. C. Pangemanan Paulina N. Gunawan Pingkan E.O. Lengkong Priska M. Poana, Priska M. Putri R. Dengah, Putri R. Radiah . Randy Gopdianto Rantetondok, Angelin L. Rawung, Regita M. Rizka Wahyuni Rompas, Sefti Selfijani Jehermia Shinta Sartika L., Shinta Sartika Shirley E. S. Kawengian Simanjuntak, Bintang Siwi, Jordan A. C. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sumajouw, Valentino C. J. Tasya, Maria Vania, Marella T. Victor T. Pamolango, Victor T. Vlorenzy O. Muluwere Vonny N. S. Wowor Vonny N.S Wowor, Vonny N.S Wulan Parengkuan, Wulan Yohanes I Gede K.K