Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Produksi Flavonoid pada Kultur Kalus Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) Josiah Herald Matheos; Ratih Restiani; Dwi Adityarini
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 20, No 2 (2022): BIOTIKA DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v20i2.41419

Abstract

Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) merupakan tanaman obat dengan berbagai manfaat karena memiliki metabolit sekunder yang beragam seperti saponin, tanin, triterpenoid, hingga flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang dominan dihasilkan oleh daun Ginseng Jawa. Flavonoid dapat ditingkatkan produksinya melalui kultur in vitro dengan penambahan sukrosa pada konsentrasi optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sukrosa pada berbagai konsentrasi terhadap peningkatan biomassa dan produksi flavonoid kalus. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu konsentrasi sukrosa (0 ; 10 ; 20 ; 30 dan 40 g/L) sebanyak 5 ulangan. Kalus diinisiasi dari eksplan daun yang dikulturkan dalam media MS dengan penambahan 3 mg/L Kinetin + 2 mg/L 2,4-D + variasi konsentrasi sukrosa. Kalus dipanen pada hari ke-28, dikeringkan menggunakan oven pada suhu 400 C sampai diperoleh berat kering konstan kemudian diekstraksi menggunakan metanol 96% dengan metode maserasi. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa 30 g/L dapat meningkatkan biomassa kalus secara optimal (0,081 g) dan konsentrasi sukrosa 40 g/L meningkatkan kandungan flavonoid total (TFC) sebesar 19,04 mg QE/g berat kering kalus. Hasil penelitian ini berperan penting sebagai informasi dasar mengenai kondisi optimal untuk peningkatan biomassa dan produksi flavonoid melalui kultur kalus T.paniculatum.
Browning Prevention Method in Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) in Vitro Culture Devi Sonti Sibarani; Ratih Restiani; Aniek Prasetyaningsih
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS (JPBN) Vol 10, No 1 (2024): Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus March 2024
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v10i1.5464

Abstract

Browning of explants is a common problem in Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) in vitro culture, resulting in low explant in vitro regeneration of Kepel. Using nodal explant, the effect of explant immersion in ascorbic acid, the addition of ascorbic acid to the media, and dark and light incubation conditions were investigated. The browning prevention method was selected based on the delayed browning appearance time, the lowest broning intensity, and the highest percentage of callus. This present study used a completely randomized design with treatment variations: immersion explant in ascorbic acid 100 mg/L, addition of ascorbic acid 100 and 200 mg/L to the media, addition of ascorbic acid 100 and 200 mg/L and activated charcoal 1 g/L to the media, and incubation in dark and light conditions for 28 days. The results showed that the combination of the addition of ascorbic acid 200 mg/L to MS media and incubation in dark conditions were effective browning prevention methods in inhibiting browning appearance time (5 DAP), significantly reducing browning intensity (0.3), and increasing callus growth (100%) of kepel node explants during 28 days of culture. The results of this study are useful in establishing protocols for in vitro culture of Kepel plants, especially at the initiation stage, and can be expected to support the successful conservation of Kepel plants through in vitro propagation. Keywords: Ascorbic acid, Activated Charcoal, Browning, In Vitro Culture, Stelechocarpus burahol
INDUKSI KALUS DARI EKSPLAN NODUS Stelecocharpus burahol (Blume) Hook. f & Thomson SEBAGAI UPAYA KONSERVASI IN VITRO Sekar, Astrid Ayu; Restiani, Ratih; Prasetyaningsih, Aniek
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 21, No 1 (2023): BIOTIKA JUNI 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v21i1.42869

Abstract

Tanaman Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. f. & Thomson) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang mengandung metabolit sekunder dan potensial sebagai antioksidan, antibakteri, antifungi, anti inflamasi, dan anti implantasi. Namun, saat ini tanaman kepel berstatus conservation dependent, sehingga diperlukan perbanyakan tanaman kepel melalui kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan metode perbanyakan tanaman kepel secara in vitro melalui tahap induksi kalus dengan mengoptimasi kombinasi dan konsentrasi BAP (Benzylaminopurin) dan IAA (Indole-3-acetic acid). Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan kombinasi konsentrasi BAP dan IAA (0,1,2,5, dan 5 mgL-1 ) sebanyak 16 perlakuan masing-masing 3 ulangan. Eskplan nodus yang ditanam dalam medium MS dengan penambahan BAP dan IAA dikultur pada suhu 25 ± 2 0C, kondisi terang 24 jam dengan intensitas cahaya 3000 flux selama 30 hari. Pengamatan waktu induksi kalus, persentase pertumbuhan kalus dan intensitas kalus dilakukan setiap minggu selama 28 hari masa tanam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan tidak dilanjutkan uji Duncan karena hasil yang diperoleh tidak berbeda signifikan (p ≥0,05). Hasil menunjukkan bahwa penambahan 1 mgL-1 BAP dan 5 mgL-1 IAAmenghasilkan waktu induksi tercepat yaitu 4,67 ± 1,15 hari, sedangkan medium MS dengan penambahan 5 mgL-1 BAP dan 2,5 mgL-1 IAAmerupakan kombinasi konsentrasi terbaik dalam pembentukan kalus (100%) dan intensitas kalus sebesar 0,57 ± 0,34 dengan tekstur remah berwarna kehijauan. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi penting dalam upaya konservasi tanaman kepel secara in vitro.
Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa dan BAP (6-Benzylaminopurin) terhadap Regenerasi In vitro Protokorm Dendrobium stratiotes x Dendrobium wulaiense Agustinus, Vania; Restiani, Ratih; Prasetyaningsih, Aniek
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 2 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i2.7728

Abstract

Kultur in vitro merupakan salah satu solusi alternatif untuk mengatasi kesulitan perbanyakan anggrek melalui biji. Keberhasilan regenerasi protokorm anggrek dipengaruhi oleh penambahan ZPT dan air kelapa ke dalam medium. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi air kelapa dan BAP terhadap regenerasi protokorm Dendrobium hibrida. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi air kelapa dan BAP. Paramater yang diamati meliputi persentase tunas, jumlah tunas, tinggi protokorm, dan persentase akar. Hasil menunjukkan bahwa penambahan air kelapa dan BAP ke dalam medium VW berpengaruh nyata terhadap tinggi dan persentase akar protokorm. Konsentrasi air kelapa (10%) tanpa penambahan BAP dapat meningkatkan persentase tunas, akar, jumlah tunas, dan tinggi protokorm Dendrobium hibrida. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan air kelapa secara tunggal maupun kombinasi dengan hormon sitokinin (BAP) signifikan dalam mempercepat regenerasi protokorm Dendrobium hibrida. Ini merupakan penelitian pertama yang melaporkan penggunaan air kelapa dan BAP pada regenerasi protokorm hasil persilangan Dendrobium stratiotes x Dendrobium wulaiense.
Effect of Ascorbic Acid, Activated Charcoal and Dark Incubation on Browning Intensity of Saurauia bracteosa In Vitro Culture Putri Octaviana Ginting, Naomi Bastanta; Restiani, Ratih; Prasetyaningsih, Aniek; Meyga Semarayani, Cokorda Istri
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 15, No 3 (2023): December 2023
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v15i3.48439

Abstract

Saurauia bracteosa, also known as Pirdot, is an endemic woody plant of the Actinidiaceae family with medicinal properties. Its population decline in nature has led to a vulnerable status, prompting conservation efforts, such as in vitro culture. Browning poses a significant challenge in the woody plant in vitro culture. Browning inhibitors such as ascorbic acid, activated charcoal and dark incubation can be used to address this issue. This study aims to determine the effect of ascorbic acid, activated charcoal and incubation conditions on browning inhibition of S.bracteosa. The study employed a Completely Randomized Design with 12 treatments on leaf explants, repeated five times. Observations, including the time of browning formation, percentage of browning, intensity of browning and percentage of live explant were carried out for 30 days and analyzed using ANOVA followed by DMRT. The results showed that the addition of activated charcoal in MS media with dark incubation delayed the browning formation time (12.40 DAI) while the adding ascorbic acid in MS media and dark incubation resulted in the lowest browning intensity (0.22). These research findings can serve as a foundational protocol for browning prevention, supporting the successful in vitro conservation of S. bracteosa.
Analysis of secondary metabolites and antioxidant activities of ethanol extract of Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) in Sapuran, Central Java Haryono, Sevien Elamaria; Aditiyarini, Dwi; Restiani, Ratih
Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sci and Tech, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/bio.v12i1.40323

Abstract

Dendrophthoe pentandra (L.) Miq. are known to have the potential for health because they can be used as natural medicines to cure several diseases, including measles, coughs, diuretics, pain relievers, anti-inflammatory medications, as well as wound healing and infections. The local community in Indonesia has believed the health beneficial of tea mistletoe, but the information of its pharmacological activity is still limited. This research was conducted to explore the species and diversity of secondary metabolites of D. pentandra (L.) Miq. found in Sapuran, Wonosobo and its antioxidant activity. Extraction was performed by maceration in 96% ethanol. It is followed by phytochemical screening, determination of total secondary metabolite compounds, and antioxidant activity assay using DPPH. The results of this study confirmed that mistletoe is D. pentandra (L.). Its leaf extract has a yield of 8.76% that contains alkaloids, saponins, tannins, steroids, phenols, and terpenoids. Its total content of flavonoids, tannins, phenols and saponins was, respectively, 48.584 mg QE/g extract, 1.350 ± 0.140 mg TAE/g extract, 1.756 ± 0.171 g GAE/g extract, 4.665 ± 0.142 g SE/g extract. Its ethanolic extract has very high antioxidant activity with an IC50 value of 49.10 ppm. D. pentandra (L.) Miq. of Sapuran, Wonosobo, has great potential to be developed in the pharmacological field.
The Effect of Callus Age on Biomass and Flavonoid Production in Talinum paniculatum In Vitro Culture Restiani, Ratih; Aditiyarini, Dwi; Dolonseda, Anggel Christia; Nathania, Yohana Elsa
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 10, No 1: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus March 2024
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v10i1.5417

Abstract

Talinum paniculatum (Javanese Ginseng) is an herbaceous plant belonging to Talinaceae family that has been known as an important medicinal plant. Flavonoid is one of the prominent bioactive compounds that are contained in all parts of T. paniculatum and has been known for its several bioactivities, including antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial, antidiabetic, and anti-cancer. Callus culture can be used to ensure the quantity and quality of flavonoid production. Callus age is one of the important factors that needs to be considered in order to produce optimum biomass and flavonoid production. Therefore, this research aimed to investigate the effect of callus age on biomass and flavonoid production in T. panicultaum in vitro culture. Young leaves were used as an explant, and callus induction was performed using MS solid media supplemented with kinetin 3 mg/L and 2.4-D 2 mg/L. Biomass and flavonoid production were observed during 0, 28, 35, 42, and 49 days. Results showed that biomass and flavonoid production were influenced by callus age. The production of flavonoid in T. paniculatum callus culture was not linear with the growth of callus (biomass), and the optimum flavonoid production resulted in the 28th days of callus age (49.100 mg QE/g), while the optimum biomass resulted in the 49th days of callus age (4.295 g). It can be concluded that the optimum conditions for biomass and flavonoid production in T. paniculatum callus culture are influenced by different callus ages
Kultur jaringan tumbuhan dasar sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa Restiani, Ratih; Kaban, Sarah Mega Pratenna; Sekar, Astrid Ayu; Matheos, Josiah Harold; Galgani, Gemma
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v5i2.21800

Abstract

Perkembangan IPTEK saat ini berkontribusi dalam meningkatnya implementasi bioteknologi dalam kehidupan manusia. Kultur jaringan tumbuhan merupakan salah satu aplikasi bioteknologi di bidang pertanian. Pengenalan kultur jaringan tumbuhan sejak dini bagi siswa SMA menjadi salah satu upaya mempersiapkan SDM yang terampil. Namun demikian, siswa SMA masih mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran bioteknologi terutama pada topik ini. Pembelajaran yang berfokus pada teori dan tidak dilengkapi dengan kegiatan praktikum merupakan penyebab siswa sulit memahami pelajaran tersebut. Kendala ini terutama dialami oleh siswa kelas XII SMA BOPKRI I Yogyakarta. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar siswa pada materi kultur jaringan tumbuhan. Metode kegiatan pengabdian adalah participatory Action Research (PAR) yang diberikan dalam bentuk pelatihan. Pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi dua sesi yaitu pemaparan materi pengantar, demonstrasi praktikum dan kegiatan praktikum. Acara praktikum meliputi pembuatan media kultur dan sterilisasi serta inokulasi eksplan. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan pengabdian ini telah berhasil sebesar 100% dalam meningkatkan pengetahuan berdasarkan hasil tanya jawab selama pelatihan serta keterampilan dalam melaksanakan tahapan kultur jaringan tumbuhan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini lebih lanjut dapat diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran biologi di kelas sehingga proses pelatihan dan pendampingan mengenai kultur jaringan tumbuhan dapat berlangsung lebih intensif. Selain itu, project kelompok yang diberikan selama kegiatan pengabdian dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran bioteknologi di kelas.
Effect of Citric Acid and Polyvinylpyrrolidone (PVP) on Browning of Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) Nodes Marendeng, Yunita Kendek; Viorenta, Miranda Gardha; Sinaga, Meisi Olivia; Christy, Nita Elvira; Sibarani, Devi Sonti; Restiani, Ratih
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i4.7647

Abstract

Browning is a major constraint in in vitro propagation of Kepel (S. burahol). Therefore, the selection of an effective anti-browning compound can be useful to prevent browning in Kepel in vitro culture and produce explants that are able to regenerate. This study was aimed to investigate the effect of the addition of citric acid and PVP at different concentrations and incubation conditions on the prevention of browning in in vitro cultures of S. burahol. This research is an experimental study using S.burahol node explants. The research design used a Completely Randomized Design (CRD) with citric acid and PVP treatments of 300 and 400 ppm respectively and control incubated in dark and light conditions. Each treatment was repeated twice. The culture was incubated for 28 days. Observations were conducted on browning initiation time, browning intensity and callus initiation time. Data were analyzed descriptively. The results showed that citric acid treatment of 300 and 400 ppm and incubation of cultures in dark conditions effectively reduced the intensity of browning (0.2) and browning initiation time (6 DAI). In addition, the suplementation of 400 ppm citric acid and incubation in light conditions was also effective in initiating the fastest callus at 2 DAI. The results suggest that the addition of citric acid at concentrations of 300 and 400 ppm is more effective at slowing browning and reducing browning intensity for S. burahol node explants than PVP. The results of this study play an important role in supporting efforts to increase the productivity of S. burahol nodes growth through in vitro culture.
Edukasi Kultur Jaringan Tumbuhan bagi Siswa SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Restiani, Ratih; Galgani, Gemma; Ayu Sekar, Astrid; Kendek Marendeng, Yunita; Rolas Sinambela, Gracia; Gardha Viorenta, Miranda
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i2.3211

Abstract

Kultur jaringan tumbuhan merupakan bagian dari topik bioteknologi yang dipelajari siswa SMA pada mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas. Meskipun demikian, dalam prosesnya siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran bioteknologi terutama kultur jaringan tumbuhan karena pembelajaran berfokus pada pemberian teori tanpa dilengkapi dengan kegiatan praktikum. Selain itu, fasilitas laboratorium yang belum memadai menjadi faktor pembatas bagi pelaksanaan praktikum ini. Kesulitan dalam pembelajaran kultur jaringan tumbuhan ini juga dialami oleh siswa kelas X di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Dalam upaya mendukung capaian pembelajaran topik Bioteknologi di kelas X dan mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran, maka kegiatan pengabdian dalam bentuk edukasi perlu dilakukan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman praktikum pada topik kultur jaringan tumbuhan. Tahap pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan kegiatan (pemberian materi dan demonstrasi) dan tahap evaluasi. Hasil yang diperoleh selama kegiatan berlangsung adalah siswa terlibat secara aktif dalam proses diskusi dan tanya jawab, sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan selama diskusi dan semua siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan praktikum serta mampu menyelesaikan kegiatan praktikum sesuai waktu yang diberikan. Berdasarkan hasil pelaksanaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian berupa edukasi ini dapat membantu siswa dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran kultur jaringan tumbuhan.