Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : EDUSAINS

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON-ELEKTROLIT Rizki Nurhidayah; Dedi Irwandi; Nanda Saridewi
EDUSAINS Vol 7, No 1 (2015): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.309 KB) | DOI: 10.15408/es.v7i1.1397

Abstract

Abstract This research aims to develop a guided inquiry-based modules in the material of the electrolyte and nonelectrolytes solution. Module development using 4-D models (Define, Design, Develop and Disseminate). In this study, the development of modules is limited at the stage of develop. Data obtained from the development of guided inquiry-based modules and the results of questionnaire responses by student. Validation of the contents of the module is done by two expert lecturers and one chemistry teacher. The trial of the module is conducted by 36 students of X MIA 2 class in SMAN 66 Jakarta. Based on data from the test results of questionnaire responses by students, obtained a percentage of each component. Module characteristics component at 80.12%, The quality element of the module component at 77.24%, inquiry learning component at 75.96%, consistency component at 75.53% and 74.25% of the linguistic component. Overall, the average percentage of modules is at76.62% with good criteria. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul berbasis inkuiri terbimbing pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Pengembangan modul menggunakan model 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate). Namun, dalam penelitian ini hanya dibatasi pada tahap Develop saja. Data diperoleh dari proses pengembangan modul berbasis inkuiri terbimbing dan hasil angket respon siswa. Validasi isi modul dilakukan oleh dua orang dosen ahli dan satu orang guru kimia dan uji coba modul dilakukan terhadap 36 siswa kelas X MIA 2 di SMAN 66 Jakarta. Berdasarkan data hasil uji coba dari angket respon siswa diperoleh persentase rata-rata tiap aspek komponen, yaitu komponen karakteristik modul sebesar 80,12%, komponen elemen mutu modul sebesar 77,24%, komponen pembelajaran inkuiri sebesar 75,96%, komponen konsistensi sebesar 75,53% dan komponen kebahasaan sebesar 74,25%. Secara keseluruhan, persentase rata-rata modul sebesar 76,62% dengan kriteria baik.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i1.1397
ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI PADA SOAL UJIAN NASIONAL KIMIA Ani Syahida; Dedi Irwandi
EDUSAINS Vol 7, No 1 (2015): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.009 KB) | DOI: 10.15408/es.v7i1.1404

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas soal Ujian Nasional (UN) Kimia SMA pada tahun 2011/2012 dan 2012/2013 ditinjau dari proporsi keterampilan berpikir tingkat tinggi yang ditanyakan pada masing-masing ujian. Kategori keterampilan berpikir tingkat tinggi pada penelitian ini didasarkan pada tiga jenjang dimensi proses kognitif teratas pada Taksonomi Bloom Revisi (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dokumen. Pemilihan sampel sumber data dilakukan melalui teknik purposive sampling. Sampel sumber data pada penelitian ini adalah dokumen soal UN Kimia SMA tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas soal UN Kimia pada tahun ajaran 2011/2012 (92,5%) maupun 2012/2013 (85%) menuntut keterampilan berpikir tingkat rendah siswa. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diujikan pada soal-soal tersebut hanya mewakili jenjang kognitif menganalisis. Sub kategori menganalisis yang dikembangkan pada soal UN Kimia tahun 2011/2012 dan 2012/2013 tersebut hanya meliputi proses kognitif membedakan dan mengorganisasi. Berdasarkan jenjang kognitif yang dikembangkan pada masing-masing ujian, kuantitas pertanyaan yang menuntut jenjang kognitif menganalisis lebih banyak terdapat pada soal yang ditanyakan dalam UN Kimia tahun ajaran 2012/2013 (15%) dibandingkan pada soal yang ditanyakan dalam UN Kimia tahun ajaran 2011/2012 (7,5%). Dengan demikian, ditinjau dari perbandingan kuantitas soal yang menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa pada masing-masing ujian, kualitas soal UN Kimia tahun ajaran 2012/2013 lebih baik dibandingkan soal UN Kimia tahun ajaran 2011/2012. Soal-soal yang menuntut tiga jenjang dimensi proses kognitif teratas pada Taksonomi Bloom Revisi sebaiknya lebih ditingkatkan lagi jumlahnya pada ujian-ujian, seperti Ujian Nasional Kimia. Hal itu dikarenakan ketiganya merupakan salah satu indikator untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.   Kata Kunci : Soal Ujian Nasional Kimia, Taksonomi Bloom Revisi, Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERBASIS EKSPERIMEN PADA KONSEP LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT Chaerani Azizah; Dedi Irwandi
EDUSAINS Vol 6, No 2 (2014): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v6i2.1147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang tertuang dalam lembar kerja siswa (LKS) selama mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran problem solving berbasis eksperimen pada konsep larutan elektolit dan nonelektrolit. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di SMA Negeri 89 Jakarta tahun ajaran 2012/2013. Metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif. Perolehan data dilakukan dengan menggunakan instrumen lembar kerja siswa (LKS) untuk kemampuan memecahkan masalah. Analisis data untuk kemampuan memecahkan masalah yang tertuang dalam lembar kerja siswa (LKS) dengan nilai persentase. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang tertuang dalam lembar kerja siswa (LKS) yaitu kemampuan siswa dalam mengemukakan hipotesis, menentukan judul eksperimen, menentukan tujuan eksperimen, membuat prosedur kerja eksperimen, mencatat data pengamatan, membuat kesimpulan, membuat abstraksi, dan menyelesaikan tugas konsolidasi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dikategorikan sebagai baik dan sangat baik.
AN ANALYSIS OF CHEMISTRY HIGH SCHOOL END-OF-YEAR EXAMS ACCORDING TO BLOOM’S COGNITIVE COMPLEXITY Salamah Agung; Amrina Alhumaira; Dedi Irwandi Yuskar; Tika Reformatika Fuadi
EDUSAINS Vol 13, No 2 (2021): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v13i2.24110

Abstract

ANALISIS UJIAN AKHIR KIMIA BERDASARKAN KOMPLEKSITASKOGNITIF TAKSONOMI BLOOMAbstractSchool exams has been used by teachers to determine the success of students’ learning. This research is aimed to determine the extent of students learning through an analysis of end-of-year exam items based on Bloom’s cognitive complexity. The exam instruments are gathered from chemistry teachers of 5 public schools, consisting of in total 190 5-multiple-choice items. Qualitative approach and theory-driven content analysis method using Bloom’s revised taxonomy of cognitive complexity were employed in the research.  The result of this research showed that the majority of items (82.7%) determined students learning lower order cognitive skills (remember, understand, and apply). Skill of the analysis is the only higher order cognitive skill that has been found in the exam questions (17.3%). With regards to knowledge dimension, it was found that conceptual knowledge weighed the most among other dimensions (54.7%). It is interesting to see, however, that, the highest procedural knowledge was seen in the application skills (27.9%).  This research suggests that chemistry teachers need to carefully determine exam questions according to the cognitive complexity in order to ensure the extent of students learning. For curriculum developer, this research can be used to consider the depth of students’ learning outcomes as they serve as the foundation for exam development. Further research can be done to determine the gap between the exams and the expected learning outcomes. This will be beneficial to understand the extent to which schools can go higher than the minimun learning outcomes determined by the government.AbstrakUjian sekolah telah digunakan oleh guru untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa belajar kimia melalui analisis materi ujian akhir sekolah berdasarkan kompleksitas kognitif Bloom. Instrumen ujian dikumpulkan dari 5 sekolah umum, yang terdiri dari 190 item soal pilihan ganda. Pendekatan kualitatif dan metode analisis isi yang digerakkan oleh teori menggunakan taksonomi kompleksitas kognitif Bloom yang telah direvisi digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar soal (82,7%) merupakan soal-soal dengan tingkat kognitif rendah (mengingat, memahami, dan menerapkan). Keterampilan analisis adalah satu-satunya keterampilan kognitif tingkat tinggi yang ditemukan dalam soal-soal ujian (17,3%). Untuk dimensi pengetahuan, ditemukan bahwa pengetahuan konseptual paling banyak di antara dimensi lainnya (54,7%). Menarik untuk dilihat, bagaimanapun, bahwa pengetahuan prosedural tertinggi terlihat pada keterampilan aplikasi (27,9%). Penelitian ini menyarankan guru untuk mempertimbangkan kompleksitas kognitif untuk memastikan sejauh mana siswa belajar.
THE INFLUENCE OF PROBLEM BASED LEARNING MODEL TOWARD SAINS LITERACY ‎SKILL OF STUDENT ON REACTION RATE MATERIALS Dede Fitriani; burhanudin milama; dedi irwandi
EDUSAINS Vol 9, No 2 (2017): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v9i2.1402

Abstract

This study was aimed to know the effect of problem-based learning model on the ability of students scientific literacy in reaction rate material. Scientific literacy that is examined in this study only on competency dimension of science. This research was conducted at SMAN 8 South TangerangCity. The method used was quasi-experimental with nonequivalent control group design. The sample was taken byusing purposive sampling technique. The data was taken by using an essay test of scientific literacy ability in competency dimension of science. The analysis of data used is t-test that obtained tcountvalue totaled 8.27 and ttable on significant level0.05is 1.99, so that thetcount>ttable. So we can concludethat Ho was refuse. This indicatesthatthe application of problem-based learning model provides a significant impact on the ability of students scientific literacy in reaction rate material. Keywords: Problem Based Learning Model; Scientific Literacy; Competency Dimension of Science; reaction Rate.