Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bangunan

PELATIHAN K3 BAGI PARA PEKERJA BANGUNAN DALAM PENGGUNAAN ALAT KERJA MESIN PADA PROYEK KONSTRUKSI Made Wena; Sugiyanto Sugiyanto; Priyono Priyono; Fadila Fitria Wulandari
BANGUNAN Vol 28, No 1 (2023): In-Press Maret 2023
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um071v28i12023p30

Abstract

Berdasarkan hasil wawancara dengan kordinator pekerja bangunan wilayah Karangbesuki  dan kordinator wilayah Sumbersari  bahwa para pekerja bangunan di wilayahnya sama sekali tidak pernah dilatih tentang K3, lebih-lebih K3 dalam penggunaan alat kerja mesin konstruksi.   Pengenalan K3 hanya diberikan sepintas oleh mandor atau oleh pekerja senior saat akan menggunakan alat-alat kerja mesin. Dengan kondisi pemahaman dan ketrampilan K3 yang rendah maka tidak mengherankan sering terjadi kecelakaan kerja saat menggunakan alat kerja mesin.  Berpijak pada paparan analisis situasi di atas, dapat disimpulkan bahwa para pekerja  bangunan di Wilayah sekitar kampus I UM  belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam penerapan K3 pada penggunaaan alat kerja mesin pada proyek Konruksi.  Dengan demikian masalah pokok kegiatan ini dirumuskan sebagai berikut:  Para pekerja bangunan  bangunan di Wilayah Malang memerlukan pembinaan  pengetahuan dan ketrampilan tentang  penerapan K3 pada penggunaaan alat kerja mesin pada proyek Konstruksi. Untuk memecahkan masalah rendahnya/kurangnya pengetahuan dan ketrampilan para pekerja bangunan terkahap K3 penggunaaan alat-alat mesin pada proyek konstruksi dengan beberapa solusi sebagai berikut: (l)  Pelatihan dan(2)  pendampingan lapapangan. Pada akhir kegiatan peserta diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam penerapan K3 dalam penggunaaan alat-alat mesin pada proyek konstruksi. Berdasarkan hasil evaluasi persepsi peserta terhadap indikator kesesuain/relevansi  materi pelatihan dengan kebutuhan peserta, ketekunan peserta mengikuti pelatihan, kualitas materi pelatihan dan  kompetensi fasilitator, termasuk kategori  baik.  Pada sisi lain telah terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta secara signifikan terhadap manajemen risiko, hal ini nampak dari kemampuan peserta dalam membuat rancangan implementasi manajemen risiko proyek konstruksi.
PENINGKATAN KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DALAM MEMBUAT SOAL PILIHAN GANDA BERBASIS HOTS Sutrisno, Sutrisno; Wulandari, Fadila Fitria; Winahyo, Antelas Eka; Wena, Made
BANGUNAN Vol 29, No 1 (2024): BANGUNAN EDISI MARET
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um071v29i12024p%p

Abstract

Serapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang rendah sebagai salah satu indikasi relevansi pendidikan SMK belum baik. Relevansi dapat berarti kedalaman materi pembelajaran. Relevansi kedalaman dapat diakibatkan kurangnya peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi, kreativitas dan memecahkan masalah. Peningkatan kemampuan berpikir dapat dilakukan secara bertahap melalui penilaian yang tepat. Soal sebagai alat penilaian perlu dibuat dan dikembangkan oleh guru secara benar. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam membuat soal pilihan ganda berbasis ketrampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Solusi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru SMK dalam membuat soal pilihan ganda HOTS adalah melalui pelatihan. Pelatihan dilakukan terhadap sejumlah 30 guru SMK, selama tujuh kali pertemuan pada bulan Juli hingga September 2023. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa melalui pelatihan terjadi meningkatkan kemampuan professional guru SMK dalam membuat soal pilihan ganda HOTS sebesar 23 persen dan menunjukkan peningkatan yang signifikan. The low uptake of Vocational High School (SMK) graduates as an indication of the relevance of vocational education has not been good. Relevance can mean depth of learning material. Relevance depth can result from a lack of improved higher-order thinking skills, creativity and problem solving. Improvement of thinking skills can be done gradually through proper assessment. Questions as an assessment tool need to be created and developed by the teacher correctly. The purpose of this activity is to improve teachers’ ability to make multiple-choice questions based on higher-order thinking skills (HOTS). The solution to improve the ability of SMK teachers in making HOTS multiple-choice questions is through training. The training was conducted on a total of 30 vocational teachers, during seven meetings from July to September 2023. The results of the activity showed that through the training there was an increase in the professional ability of vocational teachers in making HOTS multiple-choice questions by 23 percent and showed a significant improvement.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBUAT SOAL PILIHAN GANDA BERBASIS STIMULUS DAN KETRAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI BAGI GURU SMK Sutrisno, Sutrisno; Wulandari, Fadila Fitria; Winahyo, Antelas Eka; Wena, Made
BANGUNAN Vol 29, No 2 (2024): BANGUNAN EDISI OKTOBER
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um071v29i22024p123-130

Abstract

Rendahnya penyerapan lulusan SMK di lapangan pekerjaan kemungkinan sebagai akibat dari relevansi pendidikan dalam kemampuan memecahkan masalah. Akar dari kemampuan pemecahan masalah adalah ketrampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Peningkatan HOTS dapat dilakukan melalui penerapan soal ujian HOTS. Penerapan ujian ini dapat dilakukan bila guru telah mempunyai kemampuan yang baik dalam membuat soal HOTS. Karena kemampuan guru dalam membuat soal HOTS belum baik, maka diperlukan adanya peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam membuat stimulus dan soal pilihan ganda HOTS setelah penerapan model gabungan sharing, praktik, tutorial, dan presentasi hasil. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen one group pretes-postes. Teknik pengumpulan data menggunakan tes sebelum dan sesudah penerapan model. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan guru dalam membuat stimulus sebesar 27,57 persen dan signifikan, serta peningkatan kemampuan guru dalam membuat soal pilihan ganda HOTS sebesar 33,34 persen dan signifikan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan model gabungan sharing, praktik, tutorial, dan presentasi hasil dapat meningkatkan kompetensi guru dalam membuat soal pilihan ganda berbasis HOTS secara signifikan.