Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Ektasia Kornea Pasca Lasik Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1583

Abstract

The objective of this paper to know prevention and management corneal ectasia after Lasik Corneal ectasia after lasik are weakening of cornea caused by central stromal laser or creation of the flap after lasik surgery. This conditions are feared complication of refractive surgeon. Corneal ectasia after lasik will happen several months until several years after lasik. Incidence of corneal ectasia is still unknown, about 1 over 100.000. Diagnosis of corneal ectasia was established by slitlamp appearance of corneal thinning, with progresif miop, progresif irreguler astigmat and refractive error cannot be corrected. Risk factors of corneal ectasia are family history, young age, corneal thickness lower than 500 micron, corneal asymmetri, abnormal topography, keratoconus and low residual stromal bed. The therapeutic options for corneal ectasia are Rigid Gas Permiable (RGP) contact lenses, eye drops for decreased intraocular pressure, corneal collagen crosslinking - riboflavin (C3-R), intacs implantation, and in the advanced stages, lamellar keratoplasty. A complete ophthalmologic examinations before surgery andfindings the risks factors are important to prevent corneal ectasia after lasik. The prognosis of corneal ectasia after lasik was good.Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui pencegahan dan pengelolaan ektasia kornea pasca lasik. Ektasia kornea pasca lasik adalah kelemahan kornea akibat ablasi stroma sentral atau pembuatan flap kornea sesudah operasi lasik. Kondisi ini merupakan komplikasi yang paling ditakuti ahli bedah refraktif. Kejadian ektasia kornea pasca lasik dapat terjadi beberapa bulan sampai beberapa tahun pasca lasik. Insidensinya tidak diketahui, diduga sekitar 1 per 100.000. Penegakan diagnosis dilakukan dengan menggunakan slitlamp tampak kornea menipis dan menonjol disertai gejala miop progresif, astigmat irreguler yang meningkat dan kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi. Beberapa faktor risiko ektasia kornea antara lain riwayat keluarga, umur muda, miop tinggi, ketebalan kornea kurang dari 500 mikron, asimetri kornea, abnormal topografi, keratokonus dan rendahnya residual bed. Beberapa pilihan terapi yang dilakukan yaitu pemakaian lensa kontak RGP, pemakaian obat penurun tekanan intraokuler, pemberian C3-R, implantasi intacs dan tahap lanjut dengan lamellar keratoplasti. Pemeriksaan pre operatif yang lengkap dan penemuan faktor risiko merupakan hal yang penting untuk menghindari terjadinya ektasia kornea pasca lasik. Prognosis pasien ektasia kornea pasca lasik adalah baik.
The success of glaucoma therapy in diabetes mellitus and non-diabetes mellitus Nur Shani Meida; Ahmad Ikliluddin; Yunani Setyandriana; Ilma Naafisa Anthrasita
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 6, No 1 (2022): Journal Qanun Medika Vol 6 No 01
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v6i1.7665

Abstract

ABSTRACT  Glaucoma is a disease marked with damage to the optic nerve, chronic and can cause blindness. Glaucoma needs regular therapy to prevent blindness. This study was an observational study using a case-control approach. Data were analyzed using the Mann-Whitney test to determine the differences in blood sugar levels in the DM and non-DM groups and the Chi-Square test to determine differences in the success of glaucoma therapy in DM and non-DM patients. There were 66 samples of glaucoma patients in this study, consisting of 14 men (21.2%) and 52 women (78.8%). The mean age of the patients was 61.12 ± 9.17 years. The sample was divided into 2 groups, namely 34 DM patients (51.5%) and 32 non DM patients (48.5%). The Mann-Whitney test showed significant differences in blood sugar levels between the DM and non-DM groups (p <0.05). Blood sugar levels in the DM group were 202.59 ± 73.5 mg / dL and in the non-DM group was 106.19 ± 16.3 mg / dL. In conclusion, there is no difference in the success of glaucoma therapy in DM and non-DM patients. Keywords             : glaucoma, glaucoma therapy, diabetes mellitusCorrespondence        :nurshani_meida@yahoo.com
Correlation between Cup Ratio and Optic Nerve Disc with High Myopia Nur Shani Meida; Ahmad Ikliluddin; Yunani Setyandriana; Nadia Dina Ayu
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 21, No 1 (2021): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v21i1.8615

Abstract

High myopia is one of the risk factors for glaucoma, which is often accompanied by abnormalities in the fundus due to excessive stretching. The object of the study is to determine correlation between cup ratio and optic nerve disc with high myopia. This is a non-experimental research, analytic observational  with cross-sectional study design. The subjects were patients with myopia with more than – 6.00 diopters at the Kebumen Eye Center Clinic and Purbowangi Gombong Hospital. Data collection was carried out in January - August 2019. The respondents  were 30 people, consisting of 14 men (46.7%), 16 women (53.3%), with an average age of 33.07 ± 18.04 years. Mean refraction of right eye (OD / Ocular Dextra) were -10.72 ± 4.82 diopters and left eye (OS / Ocular Sinistra) were -10.27 ± 4.52 diopters. The results of the correlation test using Spearman Test showed that there is no significant correlation (OD p = 0.115, OS p = 0.118) between the cup ratio and optic nerve disk with high myopia. It conclude that there is no significant correlation between cup ratio and optic nerve disc with high myopia.
Gambaran Diet Anak Usia Sekolah di Desa Sidoharjo, Kulon Progo, terhadap Standar Normal Pertumbuhannya Yoni Astuti; Nur Shani Meida
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1.1650

Abstract

Child growth and development are influenced by several factors including hereditary and environment factors. The environment factors that potentially influence child growth and differentiation are diet and health. Diet intake in children is expected to meet the Recommended Dietary Allowance (RDA) to enable good growth and development. The aim of this research is to identify diet description of school children in Sidoharjo District, Kulon Progo towards their normal standard of growth. The research subjects were 63 school children consisting of 33 girls and 30 boys aged 7-12 years old. This research was carried out by filling out a questionnaire consisting of respondent identity and diet survey form to record diet intake for 7 consecutive days. Subjects then underwent general physical examination i.e. bloodpressure, pulse, respiration rate, body height and weight. The results of this research showed that most children ( 80 %) had growth and development under 50% of percentile. The calorie intake was 50 % of RDA. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of boys was 85,32%; 5,2%; 9,48% respectively. The intake of carbohydrate, protein and lipid of the group of girls was 83,2%; 6,5%; and 10,3% respectively. Therefore, the school children diet was below the RDA level.Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor herediter dan lingkungan. Faktor lingkungan yang potensial mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain diet dan kesehatannya. Asupan makanan pada anak di harapkan sesuai dengan RDA(Recommended Dietary Allowance) nya, agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran diet anak usia sekolah (SD) di dusun Sidoharjo Kulon Progo terhadap standard normal pertumbuhannya. Subyek penelitian ini sebanyak 63 anak terbagi atas 33 anak perempuan dan 30 anak laki - laki, dengan kisaran umur 7-12 tahun. Penelitian dilakukan dengan cara mengisi kuesioner yang berisi identitas dan blangko survey diet untuk mencatat semua makanan yang dimakan berturut- turut selama 7 hari. Selanjutnya subjek diperiksa kesehatannya secara umum dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, tinggi dan berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak baik perempuan dan laki - laki sebagian besar ( 80 %) di bawah persentil 50%.Asupan kalori hanya terpenuhi 50%nya. Kelompok perempuan asupan karbohidrat, protein dan lemak berturut - turut terpenuhi sebesar 85,32% , protein 5,2% dan lemak 9,48%, sedangkan pada kelompok laki - laki berturut turut 83,2%, 6,5%, dan 10,3%. Kesimpulan penelitian ini adalah diet anak - anak usia sekolah di dusun Sidoharjo, Kulon Progo berada di bawah Standar Normal Pertumbuhannya (RDA).
Hubungan Faktor Genetik dan Gaya Hidup dengan Astigmatisma pada Anak Yunani Setyandriana; Nur Shani Meida; Ahmad Ikliludin; Amalia Nindya Ayuputri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180216

Abstract

Astigmatisma merupakan kelainan refraksi akibat bentuk kornea atau lensa yang tidak teratur, yang sering terjadi pada anak usia sekolah. Hingga saat ini penyebab astigmatisma belum diketahui walaupun faktor genetik dan gaya hidup diduga berperan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Penelitian dilakukan di RS JIH dan PKU Muhammadiyah Gamping, dari bulan Januari hingga Desember 2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan metode potong lintang. Didapatkan sampel sebanyak tujuh puluh enam anak, yang kemudian dilakukan pemeriksaan virus dan mengisi kuesioner tentang faktor genetic dan gaya hidup pasien. Data dianalisis menggunakan Uji Regresi Linear Berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor genetik dan gaya hidup dengan astigmatisma pada anak. Faktor genetik merupakan faktor yang paling berhubungan dengan astigmatisma pada anak (p=0,003, 95% CI for B=0,52-1,18) dibandingkan dengan faktor gaya hidup yaitu kebiasaan menggunakan gadget (p=0,015, 95% CI for B= 0,50-1,01), kebiasaan membaca (p=0,204, 95% CI for B= -0,49-0,46), dan kebiasaan menonton televisi lebih dari dua jam sehari (p=0,211, 95% CI for B= -0,55-0,25).
Poliunsaturated Fatty Acid (Pufa) Dapat Memodulasi Efek Polimorfisme Apoal G-a terhadap Kadar Hdl-kolesterol pada Sifat Jenis Kelamin Tertentu: Penelitian di Framingham Nur Shani Meida
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i1.1712

Abstract

Latar belakang : Substitusi G menjadi A di daerah promoter (pasangan basa 75) pada gen Apolipoprotein Al (APOA1) secara umum sudah dijelaskan. Di beberapa penelitian, allel A tampak berhubungan dengan peninggian kadar HDL-kolesterol tetapi tidak pada penelitian lain.Tujuan : Menilai bagaimana diet lemak dapat memodulasi huubngan antara polimorfisme dengan kadar HDL-kolesterol.Design : Populasi yang digunakan sebanyak 755 pria dan 822 wanita di Framingham Offspring Studi.
Pengaruh Madu terhadap Ketahanan Jasmani Yoni Astuti; Nurul Qomariah; Nur Shani Meida
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1752

Abstract

Everybody expects a healthy and a strong body. To achieve it, there must be some effort to be done, such as having a healthy diet and do agood physi¬cal activity. Honey, is one kind of food which is recommended by ALLAH as agood food and medicine. Honey consists high nutrition such as carbohydrat, lipid, protein, vitamin and mineral which are needed to maintance the health and the physical endurance. The aims of this study is to find a prove and give more information about the benefit of the honey. This study is experimantal research with a cross sec¬tional design. There are 10 soccer players in Gamping Ambarketawang area are involved in this study. Their physical endurance were checked before and after consuming honey for 7 days. The resulat showed that the participants have a good physical endurance, and the average of oxygen maximum Volume before consuming honey is 6,18 ± 1,04 ml/body weight/minute and afer consuming honey is 5,92 ± 0,98 ml/ body weight/minute. The conclusion is the physical endurance of the participants were increased, even statistically have no significant difference.Memiliki badan yang sehat dan kuat adalah harapan setiap orang. Untuk mendapatkannya sewajarnya harus ada usaha, antara lain dengan makan makanan yang seimbang dan melakukan aktifitas fisik dengan baik. Madu salah satu jenis makanan yang mendapat rekomendasi dari ALLAH sebagai makanan yang baik dan sekaligus sebagai obat. Madu dikenal banyak mengandung zat gizi tinggi antara lain karbohidrat, lipid, protein, vitamin dan mineral, yang sangat diperlukan untuk kesehatan dan stamina badan. Penelitian ini berjudul Pengaruh madu terhadap ketahanan jasmani dilakukan untuk membuktikan dan menginformasikan manfaat madu yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara cross sectional, yang melibatkan 10 subyek dari pria pemain sepak bola daerah gamping Ambarketawang. Subyek diperiksa ketahan jasmaninya sebelum dan sesudah pemberian madu selamaama 7 hari berturut- turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik subyek bagus, dan rerata ambilan oksigen maksimum subyek sebelum perlakuan madu sebesar (6,18 ±1,04)ml/ BB/menit dan rerata ambilan oksigen maksimum sesudah perlakuan sebesar (5,92 ± 0,98) ml/BB/menit.Hal ini dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani subyek mengalami peningkatan meskipun secara statistik tidak
TANGGAP DARURAT MATA DAN MENGENAL MANFAAT SERTA EFEK SAMPING OBAT MATA Sri Tasminatun; Nur Shani Meida
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.318 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.588

Abstract

Trauma mata bisa terjadi dimana saja dan sebagian besar terjadi di lingkungan rumah tangga. Akibat trauma mata yang tidak dangani dengan cepat dan tepat dapat meningkatkan morbiditas penyakit mata meningkat dalam hal ini dapat menurunkan tajam penglihatan sampai timbul kebutaan. Jenis obat yang digunakan pada mata sangat beragam, baik obat sistemik (obat diminum) maupun obat tetes atau salep mata. Setiap obat mata mempunyai manfaat dan efek samping. Penggunaan obat mata harus tepat agar tujuan terapi dapat tercapai. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada ibu-ibu Aisyiyah Nogotirto Gamping Sleman. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu Aisyiyah Nogotirto terkait kegawat daruratan mata dan obat-obat mata, serta skrining kesehatan mata dan meningkatkan produktifitas ibu-ibu Aisyiyah dengan penggunaan kaca mata bagi yang membutuhkan. Metode kegiatan pengabdian ini berupa ceramah, diskusi dan pengenalan macam dan bentuk obat-obatan mata, pemeriksaan mata dan pemberian bantuan kaca mata. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa ceramah dan diskusi dihadiri oleh 30 orang ibu-ibu Aisyiyah Nogotirto. Evaluasi hasil kegiatan menunjukkan pengetahuan ibu-ibu Aisyiyah tentang kegawatdaruratan mata dan obat-obat mata mengalami peningkatan. Peserta diskusi yang mengalami gangguan atau keluhan kesehatan mata dilakukan pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata. Pemeriksaan Kesehatan mata dilakukan di Klinik AMC diikuti oleh sebanyak 18 orang. Hasil pemeriksaan mata menunjukkan peserta tidak mengalami kelainan mata yang membahayakan seperti katarak atau gejala keganasan, sehingga tidak memerlukan penanganan lebih lanjut.. Semua peserta dinyatakan mengalami rabun jauh atau rabun dekat, sehingga perlu menggunakan kaca mata untuk dapat melihat dengan optimal. Pada kegiatan ini diberikan bantuan kaca mata sebanyak 11 buah . Dengan menggunakan kaca mata yang sesuai ibu-ibu merasa lebih nyaman. Evaluasi hasil kegiatan menunjukkan 70 % peserta sangat puas, 30 % peserta cukup puas.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SKRINING KASUS ANEMIA PADA PENGRAJIN BATIK Ika Setyawati; Nur Shani Meida
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.937 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.593

Abstract

Proses pembuatan batik tentu tidak dapat terhindarkan dari penggunaan pewarna untuk menghasilkan batik yang cantik. Secara umum, pewarnaan batik ada dua acara yaitu dengan bahan alami dan bahan sintetis. Saat ini, pewarnaan batik di Indonesia mulai banyak beralih dari pemakaian bahan alami menjadi bahan pewarna sintetis. Pewarna sintetis yang digunakan dapat mengandung logam berat diantaranya timbal (Pb) dan kromium (Cr). Pemakaian logam berat dalam waktu lama akan mengganggu kesehatan. Para pembatik juga sering tidak memakai sarung tangan saat melakukan pewarnaan sehingga hal ini akan dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah anemia tersebut jika berlangsung dalam waktu lama. Tujuan: meningkatkan pengetahuan penyakit anemia akibat penggunaan cat sintetis pada pembuatan batik dan bagaimana cara pencegahannya. Metode: Kegiatan Pendidikan kesehatan dilaksanakan secara tatap muka dengan dimulai dengan pretes kemudian sesi pemaparan materi dan diakhiri sesi postes untuk mengukur keberhasilan kegiatan dan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan sesi pemeriksaan kesehatan fisik secara umum meliputi pemeriksaan konjungtiva, pemeriksaan telapak tangan, pemeriksaan bibir, gingiva dan mucosa lidah. Hasil: kegiatan ini diikuti oleh 6 peserta secara penuh dari awal, pretes sampai dengan selesai termasuk postes. Terdapat peningkatan nilai postes dibandingkan nilai pretes. Simpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan tentang dampak penggunaan cat sintetis pewarnaan batik terhadap anemia. Sebaiknya dilakukan kegiatan sosialisasi secara rutin untuk meningkatkan kesadaran pengrajin batik dalam penggunaan alat pelindung diri di sentra-sentra batik lainnya sebagai upaya pencegahan penyakit anemia.
TINGKATKAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG TRAUMA MATA AKIBAT OLAHRAGA Yunani Styandriana; Nur Shani Meida; Ahmad Ikliluddin; Ika Setyawati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.365 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.696

Abstract

Kegiatan olahraga semakin meningkat akhir-akhir ini terutama masa pandemi COVID-19. Selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh, olahraga juga bermanfaat untuk mengisi waktu luang selama masa pandemi. Olahraga dapat mengakibatkan cedera antara lain cedera di mata. Beberapa kelainan mata akibat cedera olahraga dapat mengakibatkan kelainan di mata baik ringan maupun berat. Bentuk cedera mata akibat olahraga antara lain hematom palpebra, perdarahan subkonjungtiva, ruptur kornea, hifema, katarak traumatika, subluksasi lensa, ablatio retina dan lain sebagainya. Jenis trauma mata yang tidak dikenali dan tidak ditangani dengan baik secara cepat dan tepat dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut dan dapat berakibat fatal bahkan kebutaan. WHO tahun 2007 melaporkan terdapat lebih dari 7 juta orang menderita buta setiap tahun. Sampai saat ini terdapat 180 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan dan 40-45 juta menderita kebutaan. Indonesia memegang posisi tertinggi di South East Asia (1,50%) dibanding Bangladesh (1%), India (0,70%) dan Thailand (0,30%). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan trauma mata akibat olahraga dan penanganannya. Kegiatan Pendidikan kesehatan dilaksanakan secara daring dengan dimulai sesi pretes kemudian sesi pemaparan materi , dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab dan diakhiri sesi postes untuk mengukur keberhasilan kegiatan dan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan ini diikuti oleh 47 peserta secara penuh dari awal, pretes sampai dengan selesai termasuk postes. Terdapat peningkatan nilai postes dibandingkan nilai pretes (62,12 menjadi 84,25). Terdapat peningkatan pengetahuan tentang trauma mata akibat olahraga.