Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal Idea of History

EKSISTENSI BENTENG KONTARA TANGKOMBUNO DI PULAU WAWONII ABAD KE-17 Syahrun, Syahrun; Melamba, Basrin; Suraya, Rahmat Sewa; Suseno, Sandi; Sarman, Sarman; Alias, Alias
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/8z5fvk17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan (1) sejarah Benteng Kontara Tangkombuno diPulau Wawonii, dan (2) fungsi pembangunan benteng tersebut pada masa lampau. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber,interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Kontara Tangkombunomerupakan benteng utama masyarakat etnis Wawonii yang dibangun dengan memanfaatkan konturalam serta susunan batu besar sebagai sarana pertahanan. Sejarah benteng terbagi dalam dua periode,yaitu masa praaksara dan masa kerajaan tradisional (Mokole). Di dalam area benteng terdapat GuaUpasi dan Gua Jin yang berfungsi sebagai tempat pertemuan, serta ditemukan tinggalan arkeologisseperti makam, sisa dapur, dan tengkorak manusia maupun hewan. Fungsi utama benteng ini adalahsebagai tempat perlindungan dari ancaman luar, termasuk dari kelompok bajak laut yang disebutberasal dari Tobelo. Meskipun secara geografis letak benteng tidak berada di bibir pantai, posisinyayang strategis di dataran tinggi memberikan perlindungan alami. Akses masyarakat ke pantai melaluialiran sungai yang cukup deras juga menunjukkan adaptasi lingkungan yang kompleks dankemampuan mereka mengelola medan untuk tetap terhubung dengan wilayah pesisir tanpamengorbankan aspek keamanan.
IDENTITAS GEREJA KATOLIK PADA MASYARAKAT BALIDI SENDANG MULYA SARI: 1974-2023 Novianti, Andrea; Melamba, Basrin; Hasan, Hasni
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/fxwxp964

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan proses masuk dan berkembangnya Gereja Katolik di Sendang Mulya Sari 1974-2023 dan identitas Gereja Katolik pada Masyarakat Bali di Sendang Mulya Sari. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan kerja sebagai berikut: pertama, heuristik, kedua, kritik sumber, ketiga, interpretasi sumber, keempat, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masuknya Gereja Katolik di Sendang Mulya Sari dipengaruhi oleh kedatangan transmigrasi Banpres Bali pada masa Pemerintahan Orde Baru. Tepatnya pada tanggal 21 Juli 1974, para perintis Gereja Katolik ini sampai di Unaaha. Perjalanan hidup para perintis Gereja Katolik ini tidak terlaksana dengan baik terlebih lagi dengan status mereka sebagai transmigran Banpres banyak kesulitan yang dihadapi salah satunya tempat beribadah yang tidak disediakan oleh pemerintah saat itu. Karena tidak disediakan rumah ibadah oleh pemerintah, maka Umat Katolik meminjam gedung Gereja jemaat Sion Unaaha untuk merayakan Ekaristi. Namun, hal itu hanya berlangsung selama tiga bulan saja karena umat mulai membuat gereja darurat dengan ukuran 6x4 meter yang digunakan selama 1 tahun. (2) Identitas Gereja yang tercermin dalam kehidupan umat dapat terlihat dari masih digunakannya budaya Bali dalam gereja ini, seperti penggunaan arsitektur Bali dalam bangunan gereja, tabernakel, altar, tatakan patung serta setengah lingkaran di atas altar, juga kegiatan ngayah yang dilakukan saat menjelang hari-hari besar gereja, penggunaan Bahasa Bali dan pakaian adat Bali dalam liturgi Gereja, terbentuknya komunitas Suko Duko, tradisi ngejot yang masih dilakukan oleh umat menjelang hari raya, kesenian-kesenian Bali yang masih dipentaskan dan pengadaan pecalang di Gereja Katolik. Selain identitas budaya terdapat pula identitas gereja seperti penggunaan nama Santo/Santa pada anak, penggunaan alat musik organis untuk mengiringi lagu dan penggunaan bahasa Latin pada lagu-lagu dalam liturgi. Identitas gereja dan budaya ini saling berpadu satu sama lain dan dikenal dengan istilah inkulturasi.