Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENERAPAN PENGASAPAN CAIR PADA PENGOLAHAN ABON ROA (Hemirhamphus sp.) DAN PAMPIS CAKALANG (Katsuwonus pelamis L) DAN MUTU MIKROBIOLOGIS PRODUK YANG DIKEMAS MODIFIED ATMOSPHERIC PACKAGING (MAP) Bawole, Chintia S.F.; Mentang, Feny; Dien, Henny Adeleida
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.5.1.2017.14903

Abstract

Smoked Garp fish and smoke Skipjack a typical processed product in North Sulawesi. Roa smoke and smoke Skipjack can be further processed into abon Roa and Skipjack pampis, abon fish are foods processed fish flavored, processed by boiling and frying obtain dry product, while pampis fish is processed product of smoke Skipjack flavored and obtain the product half wet. The purpose of this study is to see and observe the presence of bacteria on the product abon Roa and Skipjack pampis are packed Modified Atmospheric Packaging (MAP) and stored at room temperature for 30 days. Total Plate Count (TPC),total of Salmonella sp., total E. coli and total Vibrio sp. observed every 10 days, at 0, 10, 20, and 30 days of storage. Based on observations Total Plate Count, abon Roa and Skipjack pampis can last for 30 days with the highest TPC value of 6.3x104 CFU/g and still be consumed. While Total Salmonella sp, total E. coli and total Vibrio sp. indicates a negative value to the day to 30 has a negative value. Keyword: Microbiological quality, abon Roa, Skicjack pampis, MAP packaging.   Roa asap dan Cakalang fufu merupakan produk olahan ikan asap khas Sulawesi Utara. Roa asap dan Cakalang fufu dapat diolah lebih lanjut menjadi abon roa dan pampis cakalang, abon ikan merupakan jenis makanan olahan ikan yang diberi bumbu, diolah dengan cara perebusan dan penggorengan yang memperoleh produk kering, sedangkan pampis ikan adalah produk olahan dari cakalang fufu yang diberi bumbu dan memperoleh produk setengah basah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat dan mengamati keberadaan bakteri pada produk abon Roa dan pampis Cakalang yang dikemas Modified Atmospheric Packaging (MAP) dan disimpan pada suhu ruang selama 30 hari. Angka Lempeng Total (ALT), total Salmonella sp, total E. coli dan total Vibrio sp diamati setiap 10 hari yaitu pada 0, 10, 20, dan 30 hari penyimpanan. Berdasarkan hasil pengamatan Angka Lempeng Total, abon Roa dan pampis Cakalang dapat bertahan selama 30 hari dengan nilai ALT tertinggi 6,3x104 CFU/g dan masih bisa dikonsumsi. Sedangkan Total Salmonella sp, total E. coli dan total Vibrio sp menunjukkan nilai negatif sampai pada hari ke 30 memiliki nilai negatif. Kata Kunci: Mutu mikrobiologis, abon Roa, pampis Cakalang, kemasan MAP.
Kajian Mutu Bakso Ikan Tuna yang Disubtitusi Tepung Karagenan Sitepu, Moon Ayu Kawanari; Mewengkang, Hanny Welly; Makapedua, Daisy Monica; Damongilala, Lena Jeane; Mongi, Eunike Louisje; Mentang, Feny; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.1.2020.27117

Abstract

Fishball is a fish product that knows for their distinctive taste and chewy texture. The quality of fishball greatly affects the attractiveness of consumers to consume it, regarding the taste and aroma. The ingredients of fishball that have properties as an emulsifying is  carrageenan. The purpose of this study was to determine the quality of tuna fishballs substituted with carrageenan flour with different concentrations and storage times. The treatment design used was RAL (completely randomized design) which consisted of 4 different concentration treatments of added carrageenan, for 0%, 1%, 2% and 3% with 2 days of storage and 2 times repetition. The quality parameters were organoleptic test, water content, pH and TPC (Total Plate Count). The results showed that the addition of carrageenan affected the water content and pH of fishballs. Tuna fishballs with the addition of a concentration of 2% are the best products with an average value of organoleptic values: 6.58; water content: 71.63; pH: 5.46; and TPC: 2.6 × 10 4. Water content in fishballl is not met SNI quality requirements. Total bacteria (TPC) in fishballs met SNI quality requirements.Keywords: tuna fishballs, carrageenan
KANDUNGAN TOTAL FENOL DALAM RUMPUT LAUT Caulerpa racemosa YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN Djapiala, Fera Yusniarti; Montolalu, Lita ADY; Mentang, Feny
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.1.2.2013.1859

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan total fenol dari ekstrak methanol rumput laut Caulerpa racemosa kering dan mempelajari aktivitas antioksidan yang diekstrak dengan methanol dari C. racemosa kering. Pada ekstrak methanol C. racemosa setelah diidentifikasi dengan beberapa uji yang diterapkan seperti uji total fenol, uji aktivitas antioksidan DPPH, uji FRAP dan uji pengkelat ion membuktikan bahwa adanya aktivitas antioksidan yang berada di dalam ekstrak. Dapat dilihat dari hasil pengujian pada setiap uji yang dilakukan berturut turut: pada uji total fenol didapat hasil 1335,59, 2165,62, 2624,62 mg GAE/gr, uji aktivitas antioksidan metode DPPH didapatkan nilai 31,33, 31,00 dan 30,88 % penghambatan, uji FRAP didapatkan nilai berturut-turut 46,76, 46,31, 46,62 mg/ml dan uji pengkelat ion didapatkan nilai 63,79, 64,22, 65,52%. Pada pengujian kandungan total fenol tidak berkorelasi positif dengan aktivitas antioksidan yang terdapat dalam ekstrak C. racemosa. Hal ini dikarenakan tidak semua senyawa fenol yang diekstrak dalam pelarut methanol merupakan senyawa fenol yang dapat berfungsi sebagai antioksidan yang dapat dilihat pada pengujian aktivitas antioksidan berbanding lurus dengan pengkelat ion.
KADAR AIR, pH, DAN KAPANG IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) ASAP CAIR YANG DIKEMAS VAKUM DAN NON VAKUM PADA PENYIMPANAN DINGIN Alinti, Zulviki; Timbowo, Semuel Marthen; Mentang, Feny
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.6.1.2018.16851

Abstract

Smoking fish with smoke liquid is a method of processing or preserving fish by utilizing a combination of drying treatment with oven and providing natural chemical compounds of liquid smoke. Vacuum packages could be applied to maintain the shelf life of smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L.). The main principle of vacuum packaging is to release oxygen (O2) from the product. The combinations with cold storage can be applied to vacuum packaged products so that it may prolong the shelf life. This study aims to observe the deterioration of smoked skipjack tuna quality stored for 0, 7 and 21 days at cold temperatures (± 5ºC), with 2 different packaging style (i.e. vacuum and non-vacuum) The analysis included pH, moisture content and total mold. Also, commercial smoked skipjack tuna, which is processed using conventional smoking process, were used as a comparison in this study. The results showed that the highest moisture content 58.8% was obtained in a sample treated with liquid smoke and vacuum packed, but the lowest moisture content 57% was found in a sample processed with liquid smoke without vacuum package. The highest pH value was 5,885 on the conventional smoked skipjack tuna and the lowest was 5.77 in the vacuum packed samples. The highest total mold value was 3.9x103 colonies in a vacuum packed sample, but the lowest was less than 10 found in a conventional smoked skipjack product. Pengasapan ikan dengan asap cair merupakan cara pengolahan atau pengawetan dengan memanfaatkan kombinasi perlakuan pengeringan dengan oven dan pemberian senyawa kimia alami asap cair. Salah satu cara yang dapat diplikasikan untuk mempertahankan daya awet ikan cakalang asap (Katsuwonus pelamis L.) yaitu dengan dikemas vakum. Prinsip utama dari pengemasan vakum adalah pengeluaran oksigen (O2) dari produk. Kombinasi dengan penyimpanan dingin dapat diterapkan pada produk yang dikemas vakum untuk mendapat masa simpan yang lebih panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemunduran mutu ikan cakalang asap yang disimpan selama 0, 7 dan 21 hari pada suhu dingin (±5ºC), yang dikemas vakum dan non vakum. Pengujian mutu meliputi pH, kadar air dan total kapang. Ikan cakalang yang diasap secara konvensional juga dibandingkan dengan sampel ikan asap cair pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air tertinggi diperoleh pada ikan cakalang asap cair yang dikemas vakum (58,8%) dan terendah (57%) ada pada ikan cakalang asap cair yang tidak dikemas vakum. Nilai pH tertinggi 5,885 pada ikan cakalang asap konvensional dan terendah 5,77 pada ikan cakalang asap cair yang dikemas vakum. Nilai total koloni kapang tertinggi diperoleh pada ikan cakalang asap cair yang dikemas vakum yaitu 3,9x103 koloni dan terendah dengan koloni kurang dari 10 ada pada ikan cakalang yang diasap secara konvensional.
KAJIAN MUTU IKAN TUNA (Thunnus albacares) SEGAR DI PASAR BERSEHATI MANADO Laismina, Ade Neni; Montolalu, Lita ADY; Mentang, Feny
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.2.1.2014.6853

Abstract

The purpose of this study was to determine the quality of tuna ( Thunnus albacares ) Fresh on the market Bersehati with testing TVB - N , pH , and organoleptic test by sampling time and different merchants. The method used is descriptive exploratory method , which collects data already available facts and observations in the field through pancatatan in detail and then systematically analyzed data based on quantitative and qualitative data. The results obtained by the average value of TVB-N in the Tuna (Thunnus albacares) ranged from 8.96 mg N / 100 g sample to 10.92 mg N / 100 g sample of the sampling clock 06:00 to 7:00 . The average value of TVB - N sampling clock 12:00 to 13:00 ranged between 12.16 mg N / 100 g sample to 12.88 mg N / 100 g sample . As for sampling at 16:00 to 17:00 hours ranged from 17.92 mg N / 100 g samples up to 20.72 mg N / 100 g sample. The average value of pH at 06:00 to 07:00 hours the same sample at 5.3 . Hours 12:00 to 13:00 ranged from 5.4 to 5.6 , while the hours of 16:00 to 17:00 ranged from 5.5 to 5.6. The average value of the currency organoleptic ranged from 7.6 to 7.8 on the sampling clock 6:00 a.m. to 7:00 , at 12:00 to 13:00 hours ranged from 7.0 to 7.3 , 4:00 p.m. to 17:00 hours ranged from 6.7 to 6 , 8 . The average value of organoleptic in the gills at 6:00 to 07:00 hour sampling ranged from 7.9 to 8.1, clock 12:00 to 13:00 ranged from 7.6 to 7.7 , range antara7,2 4:00p.m. to 17:00 Hours - 7.4 . The average value of the meat organoleptic sampling 6:00 to 07:00 hours ranged from 7.9 to 8.1 , 12:00 to 13:00 hours ranged from 7.5 to 7.6 , clock 16:00-17:00 ranged between 7.1 to 7 , 3 . The average value organoleptic texture sampling ranged from 6:00 to 7:00 hours to 8.0 to 8.4, 12:00 to 13:00 hours ranged from 7.2 to 7.3 , 16:00 to 17:00 hours ranged from 6.7 to 6, 8. Based on the research results of TVB-N value test, test and test the pH value value Appearance Tuna ( Thunnus albacares ) in Bersehati market is still suitable for consumption.Keywords: Tuna, Thunnus albacares, quality assessment, TVB-N, pH, appearance, freshness.
Organoleptic quality and TPC of smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis, L) in Jayapura, Papua Jeujanan, Samuel; Ijong, Frans G.; Onibala, Hens; Mentang, Feny
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.3.1.2015.12435

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Mutu organoleptik dan TPC ikan cakalang [Katsuwonus pelamis, L] asap di Kota Jayapura, Papua. This study was aimed at knowing the smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis, L) marketed in JayapuraMunicipality. Sampling sites were Youtefa market and Hamadi market. The organoleptic paramters observed were appearance,smell, taste, texture, and Total Plate Count (TPC). The TPC analysis used a quantitative dispersion method. Results showed that different smoking duration and temperature, and the use of poor-quality used wood caused differences in organoleptic value. The highest organoleptic value was smell, (6.8) from Youtefa marketand the lowest was appearance (6) from Hamadi market). The TPC analysis revealed that the highest TPC was the samples from Youtefa market in February and March (4.1 x 105 and 3 x 105) followed by those from Hamadi market in February (4.8 x 105). The lowest TPC was recorded in April (3.7 x 103) in samples from Youtefa market and Hamadi market in March and April (4.7 x 104and 7.8 x 104). High contamination occurred at each processing phase to marketing. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian mutu ikan cakalang (Katsuwonus pelamis, L) asap yang dipasarkan di Kota Jayapura. Lokasi pengambilan sampel adalah Pasar Youtefa dan Pasar Hamadi. Mutu organoleptik yang diamati adalah kenampakan, bau, rasa, tekstur, dan mutu Total Plate Count (TPC). Analisis TPC menggunakan metode sebar yang bersifat kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan lama waktu pengasapan, suhu, dan penggunaan kayu bekas yang kurang baik menyebabkan perbedaan nilai organoleptik. Nilai organoleptik tertinggi adalah bau dengan nilai 6,8 (Pasar Youtefa) dan terendah adalah kenampakan dengan nilai 6 (Pasar Hamadi). Hasil analisis TPC menunjukkan bahwa jumlah nilai TPC tertinggi adalah  sampel dari Pasar Youtefa pada bulan Februari dan Maret, (4,1x105 dan 3x105)  diikuti Pasar Hamadi pada bulan Februari (4,8x105). Kemudian perolehan nilai TPC terendah pada bulan April (3,7x103) di  Pasar Youtefa dan Pasar Hamadi bulan Maret dan April (4,7x104 dan 7,8x104). Tingginya kontaminasi terjadi pada setiap tahapan pengolahan sampai pada pemasaran.
Physical characteristics of eddible film from carrageenan with liquid smoke addition Moga, Tomy; Montotolalu, Roike I; Berhimpon, Sigfried; Mentang, Feny
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 6, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.6.1.2018.24811

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Karakteristik fisik edible filmdarikaraginan dengan penambahan asap cair Packaging materials food which are multifunctional and safe for consumers and the environment is thefocus of today’sfood packaging studies. Edible films that are made from carrageenan is one form of primary packaging for food. The physical properties of the packaging has become an important component to be consideredin choosing packaging. Thestudywasconducted to determine the effect of carrageenan concentration on the physical properties of solubility, thickness, tensile strength, percentage of elongation and water vapor transmission rate. The result showed that edible film processed fromcarrageenan with different concentrations have different physical properties. The higher the concentration of carrageenan used in the manufacture of edible film, the stronger the solubilityof the edible film, the stronger the attractiveness, andthe thicker and more resistant. Vapor transmission rateis getting lower, or in other word the ability to withstand wateris high.Kemasan bahan pangan yang multifungsi dan aman bagi konsumen dan lingkungan menjadi fokus kajian kemasan bahan pangan saat ini. Edible filmdari bahan karaginan merupakan salah satu bentuk kemasan primer bagi bahan pangan. Sifat fisik kemasan menjadi komponen penting yang dipertimbangkan dalam memilih kemasan. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi karaginan terhadap sifat fisik kelarutan, ketebalan, kuat tarik, persentasi perpanjangan putus dan laju transmisi uap air. Hasilnya diperolehedible filmyang diproses dari karaginan dengan konsentrasi yang berbeda memiliki sifat fisik yang berbeda. Semakin tinggi  konsentrasi karaginan yang digunakan di dalam pembuatan edible film, maka edible filmyang dihasilkan semakin tinggi kelarutannya, semakin kuat daya tariknya, semakin tebal dan semakin tahan serta laju transmisi uapnya makin rendah atau kemampuan menahan airnya tinggi.
Fatty acid profile of mixed tuna (Euthynnus spp.) oil and catfish (Clarias sp.) oil in different combinations Ibrahim, Yudin; Suwetja, I K.; Mentang, Feny
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 4, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.4.1.2016.14407

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Profil asam lemak dari campuran minyak ikan tongkol (Euthynnus spp.) dan ikan lele (Clarias sp.) dalam berbagai perbandingan. The purpose of this study was to determine the fatty acid profile. Samples of mixed tuna (Euthynnus spp.) oil and catfish (Clarias sp.) oil of 1 ml : 1 ml, 1 ml : ¾ ml, and 1 ml : ½ ml ratio were prepared. The fatty acid profile analysis used gas chromatography. Results showed that saturated fatty acids (SFA) consisted of myristic acid, pentadecanoic acid, palmitic acid, eikosatetranoic acid and stearic acid. The SFA content in 1 ml: 1 ml ratio reached 42.79%, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 41.23 %,and then 1 ml : ½ ml ratio, 40.07 %. Mono unsaturated fatty acids (MUFA) comprised palmitoleic acid, eicosenoic acid, and oleic acid. MUFA content was the highest, 28.19% at  1 ml: 1 ml ratio, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 26.66 %, and 1 ml : ½ ml ratio, 24.24%. Poly unsaturated fatty acids (PUFAs) consisted of linoleic acid, eicosatetranoic acid, EPA, and linolenic acid. PUFA content was 34.18% in 1 ml : 1 ml ratio, followed by 1 ml : ¾ ml ratio, 29.45 %, and 1 ml : ½ ml ratio, 22.89 %. As conclusion, the oil mixture of tuna fish (Euthynnus spp.) and catfish (Clarias sp.) contains saturated fatty acids (SFA), mono unsaturated fatty acids (MUFA), and poly unsaturated fattyacids (PUFA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil asam lemak. Sampel minyak ikan campuran minyak ikan trongkol (Euthynnus spp.)dan ikan lele (Clarias sp.) dibuat dengan perbandingan 1 ml : 1 ml, 1 ml : ¾ ml dan 1 :ml : ½ ml. Analisis profil asam lemak menggunakan Gas Kromotografi (GC).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam lemak jenuh (SFA) terdiri atas asam miristat, asam pentadekanoat, asam palmitat, asam eikosatetranoat dan asam stearat. Kandungan SFA pada perbandingan 1 ml : 1 ml sebesar 42,79%, 1 ml : ¾ ml sebesar 41,23%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 40,07% . Asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) terdiri atas asam palmitoleinat, asam eikosenat dan asam oleat. Kandungan MUFA pada perbandingan 1ml : 1 ml sebesar 28,19%, 1 ml : ¾ ml sebesar 26,66%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 24,24%. Asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA) terdiri atas asam linoleat, asam eikosatetranoat, EPA dan asam linolenat. Kandungan PUFA pada perbandingan 1 ml : 1 ml sebesar 34,18%, 1 ml : ¾ ml sebesar 29,45%, dan 1 ml : ½ ml sebesar 22,89%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa campuran minyak ikan trongkol (Euthynnus spp.)dan ikan lele (Clarias sp.) mengandung asam lemak jenuh (SFA), asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA) dan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA).
Kadar Pigmen Total, Antosianin, dan Angka Lempeng Total Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L) Asap yang Direndam Larutan Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L) Alfianto, Fauzan; Onibala, Hens; Mentang, Feny; Agustin, Agnes Triasih; Sanger, Grace; Makapedua, Daisy Monica; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.27115

Abstract

Tujuan penelitian ini. Untuk mendapatkan esktrak kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet. Hasil yang diperoleh dari ikan cakalang asap yang direndam dalam larutan kulit buah Manggis memiliki nilai Total Plate Count  tertinggi terdapat pada hari ke 10  waktu pengeringan 8 hari lama perendaman 15 menit dengan nilai 1,50 koloni/gram. Sedangkan Nilai terendah 0 hari dengan waktu pengeringan 4 hari lama perendaman 30 menit dengan nilai 2,6 koloni/gram. Data Hasil Pigmen Total kandungan tertinggi terdapat pada pengeringan hari ke 4 dengan nilai 68,67g/g. sedangkan nilai terendah pengeringan 8 hari dengan nilai 19,95g/g. Data hasil Antosianin waktu pengeringan 4 hari memperoleh kadar 191,12 mg/L sedangkan Antosianin waktu pengeringan 8 dengan kadar 62,37 mg/L.
Metabolit Sekunder Ekstrak Air Mendidih Daun Mangrove Sonneratia alba Dotulong, Alfani Rezky; Dotulong, Verly; Wonggo, Djuhria; Montolalu, Lita A.D.Y; Harikedua, Sivana Dinaintang; Mentang, Feny; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28437

Abstract

Daun mangrove Sonneratia alba  secara tradisional sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit yang disebabkan karena radikal bebas, hal ini mengindikasikan bahwa daun mangrove ini mengandung komponen metabolit sekunder yang dapat menghilangkan radikal bebas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menidentifikasi komponen metabolit sekunder pada ekstrak air mendidih daun mangrove Sonneratia alba. Metode yang digunakan dalm penelitian ini bersifat eksploratif yaitu mendapatkan data secara kualitatif yaitu  ada tidaknya senyawa fenolik, flavonoid, saponin, triterpenoid, tannin dan alkaloid didalam ekstrak air mendidih daun mangrove s.alba  yang dikeringkan dibawah sinar matahari (KSM) dan diangin-anginkan di dalam ruangan (KDR) selama 40,50, dan 60 menit. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: Ekstrak air mendidih selama 40 menit baik untuk cara pengeringan KSM maupun KDR mengandung semua komponen metabolit sekunder yang diuji yaitu fenolik, flavonoid, tannin, saponin, triterpenoid dan alkaloid, sedangkan untuk ekstrak dengan  lama ekstraksi 50 dan 60 menit tidak mengandung flavonoid dan saponin.