Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

EFFECT OF EARTHQUAKE LOAD ON THE STRUCTURE OF THE HIGHWAY BRIDGE WITH I-GIRDER PRESTRESSED CONCRETE IN THE EVENT OF INACCURACIES IN PRESTRESSING LOSS PREDICTIONS: Pengaruh Beban Gempa pada Struktur Atas Jembatan Jalan Raya Dengan I-Girder Beton Prategang Apabila Terjadi Ketidaktepatan Prediksi Kehilangan Prategang Priyono, Pujo; Nurtjahjaningtyas, Indra
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 02 (2018): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.569 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v2i02.8016

Abstract

In planning a highway bridge girder using prestressed concrete, it must pay attention to two design categories, namely strength and service. Problems have arisen since the existence of earthquake resistance regulations for road bridges, so planners must calculate the amount of deflection and stress that occurs in the upper structure due to earthquake loads, which must be smaller than the deflection and voltage permits required by regulations. All of that was also greatly influenced by the accuracy of the predicted loss losses for prestressed concrete girders. The purpose of this study was to conduct a study which could be a solution for how to actually treat a good design, for the I-Girder design of prestressed concrete used as a highway bridge girder in the event of inaccurate prediction of loss of pressure during an earthquake, resulting in two design categories strength and service ability can be considered all well. The methodology of this study is to make as a starting point the prestressed concrete I girder whose dimensions are capable of being a highway bridge girder with a span of 30 m to 40 meters with standard loading for loading BM 100. For span bridges that have 100% prediction accuracy, use as a basic benchmark of deflection and stress values that occur for the type of combination of loads that have earthquake loads, then with the same span, varied values of inaccurate predictions lose pre-stress and analyzed deflection and stress values that occur for types of load combinations that have earthquake loads varied earthquake regions 1,2, 3 and 4, for medium soil types. The results of the study show that the greater the percentage of inaccurate prediction of loss of pressure, the greater the deviation ratio of deviations both deflection, upper fiber stress and lower fiber stress occur in the field. Which, if the prediction of losing pre-pressures is smaller than the actual one, then the level of the deviation ratio of the allowable deviation increases as well as vice versa. Also, predicting pre-suppression voltage loss that is located on the side greater than the actual loss of pressure that occurs will be on the part of the party that is harmful to the ability of service and the permissible power, when an earthquake occurs.
ANALISIS VARIASI DIAMETER TIANG PANCANG PADA PERANCANGAN PONDASI RUMAH SUSUN Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya; Arti, Farikha Mualida Nafi; Nurtjahjaningtyas, Indra; Putra, Paksitya Purnama; Prasetyo, Slamet Rohadi Budi
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 11 No. 02 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/rb.v11i02.4121

Abstract

Perencanaan pondasi tiang dapat dikatakan baik dengan syarat tidak mengalami kegagalan struktur serta mampu memikul beban dengan aman. Maka dari itu dalam perencanaan struktur pondasi memerlukan analisis dan perhitungan yang baik agar diperoleh perencanaan yang aman dan efisien. Pada penelitian ini dilakukan analisis daya dukung pondasi pada variasi diameter dan kedalaman dengan membandingkan perhitungan secara analitis dan numeris. Secara analitis menggunakan metode empiris Luciano De Court (1995) dan Mayerhoff (1976) berdasarkan data uji SPT, sedangkan perhitungan numeris menggunakan metode elemen hingga program Plaxis 2D V.8. Dari hasil perhitungan secara manual dan program terdapat perbedaan yang signifikan dari 4 pemodelan. Didapatkan nilai keamanan menggunakan program Plaxis 2D pada model 1 sebesar 2,9637, model 2 sebesar 2,8303, model 3 sebesar 3,1516, dan model 4 sebesar 3,2181. Perhitungan daya dukung menggunakan cara analitis didapatkan hasil pada model 1, 2, 3 dan 4 berturut-turut sebesar 430,4658 ton, 513,2086 ton, 576,6819 ton dan 678,1103 ton. Secara keseluruhan nilai keamanan (SF) yang diperoleh memenuhi untuk semua desain rencana, begitupun dengan nilai Qijin yang dihasilkan aman terhadap beban yang diterima serta penurunan elastis desain perencanaan telah memenuhi syarat penuruan maksimal (Sijin) pada tanah lempung yaitu ≤ 0,065.
Kebijakan Penilaian Kondisi Perkerasan Lentur Menggunakan Metode PCI dan Analisis Penyebab Kerusakan pada Ruas Jalan Genteng-Temuguruh Kabupaten Banyuwangi Hadiyono, Rama; Nurtjahjaningtyas, Indra; Sutjipto, Jojok Widodo
Cakrawala Vol. 18 No. 1: Juni 2024
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32781/cakrawala.v18i1.558

Abstract

Ruas Jalan Genteng – Temuguruh merupakan Jalan provinsi yang menghubungkan kecamatan Singojuruh dan Sempu menuju kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Sepanjang ruas jalan banyak ditemukan titik kerusakan perkerasan. Kerusakan terjadi pada lapis permukaan yang didominasi pada lajur kanan menuju kota kecamatan Genteng. Data kerusakan jalan dibutuhkan untuk penyusunan indeks kerusakan perkerasan pada metode Pavement Condition Index (PCI). Tujuannya untuk mengetahui kondisi perkerasan jalan dengan cara identifikasi kerusakan, jenis kerusakan dan tingkat kerusakan perkerasan (Shahin,1994). Hasil temuan di lapangan terdapat 7 jenis kerusakan dengan yakni retak pinggir 64,565%, kegemukan 11,874%, pelapukan & butiran 10,852%, retak memanjang & melintang 8,155%, retak buaya 3,272%, retak slip 1,073%, dan lubang sebesar 0,209%. Rata – rata nilai PCI sebesar 78,72 menunjukkan kondisi perkerasan sangat baik, tetapi kondisi riil masih terjadi kerusakan. Hasil analisa penyebab kerusakan jalan diperoleh nilai truk faktor lajur kiri 1,1003 dan lajur kanan 0,7441, untuk nilai TF>1 menunjukkan kerusakan jalan yang disebabkan overloading kendaraan berat.
Penguatan Budaya Sadar Bencana Bagi Generasi Muda Desa Terdampak Erupsi Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang Ali Badrudin; Banun Kusumawardani; Tecky Indriana; Agustina Dewi Setyari; Indra Nurtjahjaningtyas; Arif Mohammad Siddiq; Nindha Ayu Berlianti; Nilasari Dewi
Journal of Community Development Vol. 5 No. 3 (2025): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v5i3.676

Abstract

Mount Semeru as one of the highest mountains on the Java island has significant volcanic activity to date. The eruption of this volcano had a considerable impact on the surrounding area, including Sumberwuluh Village, Candipuro District, Lumajang Regency. The impact felt by the community is not only physical damage but also trauma. Therefore, a disaster awareness culture needs to be built and strengthened early in order to reduce the impact caused when a disaster occurs. The Institute for Research and Community Service (LP2M) of the University of Jember in collaboration with the Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Lumajang Regency carried out service activities for elementary school students and teachers in Sumberwuluh Village with the aim of strengthening the culture of disaster awareness. This activity has been attended by students and teachers from SDN Sumberwuluh 1, SDN Sumberwuluh 2, SDN Sumberwuluh 3, SDN Sumberwuluh 4, SDN Sumberwuluh 5 and MI Miftahul Ulum. This is carried out through two stages, socialization about the importance of disaster preparedness and direct practice of disaster preparedness consisting of water boat evacuation, webbing and trauma healing. This program has succeeded in increasing disaster preparedness awareness through disaster education from an early age. In addition, this activity also succeeded in improving knowledge and practical skills in disaster preparedness by 88% and building a better mentality and readiness in dealing with emergency situations.
Analisis Pengaruh Hujan Terhadap Kestabilan Lereng Bangunan Pelimpah Bendungan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Mulyani, Kurnia Dewi; Sadisun, Imam Achmad; Tohari, Adrin; Suparno, Fanteri Aji Dharma; Hidayah, Entin; Nurtjahjaningtyas, Indra; Riady, Gaizka Rabbani
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral (JENERAL) Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v7i1.60012

Abstract

Kejadian longsoran yang dipengaruhi hujan sering terjadi di Indonesia. Hujan dipahami sebagai faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan air pori dan kenaikan muka air tanah. Penelitian ini menggunakan data pengeboran, sifat mekanik, data curah hujan harian, kondisi hidrogeologi, dan data gempa. Longsoran yang terjadi merupakan longsoran dangkal, dengan kedalaman bidang gelincir 3 meter dibagian atas lereng dan 7 meter dibagian bawah lereng. Bidang gelincir longsoran memiliki bentuk rotasional. Material penyusun longsoran terdiri dari tanah dan batuan yang berasal dari pelapukan batuan vulkanik. Penampang bawah permukaan menunjukkan bahwa terdapat kontak antara breksi tufan lapuk sedang dan breksi tufan lapuk tinggi yang berperan sebagai bidang gelincir. Geologi lereng tersusun dari lava andesit-basaltik, breksi tufan lapuk sedang dan breksi tufan lapuk tinggi. Longsoran dangkal terjadi setelah dipengaruhi hujan hari-hari sebelumnya yang mempengaruhi peningkatan tekanan air pori. Proses terjadinya longsoran diawali dengan munculnya rekahan tarik. Hasil analisis menunjukkan pengaruh curah hujan tinggi secara drastis mempengaruhi penurunan matric suction pada lereng yang menyebabkan terbentuknya rekahan tarik. Pemodelan dilakukan dengan dua simulasi yaitu simulasi dengan pengaruh hujan pendahuluan durasi 47 hari dan pengaruh hujan durasi 10 hari dengan kondisi awal sama. Hasil analisis menunjukkan hujan pendahuluan 47 hari mempengaruhi terjadinya longsoran dibandingkan dengan curah hujan pendahuluan selama 10 hari. Hasil pemodelan durasi 10 hari memiliki nilai faktor keamanan yang lebih tinggi, menunjukkan tidak sesuai keadaan di lapangan karena mengabaikan kondisi hidrogeologi hari sebelumnya. Mekanisme terjadinya longsoran pada area penelitian dipengaruhi oleh tekanan air pori, rekahan tarik dan gempa bumi sehingga didapatkan faktor keamanan sebesar 0.986.
STUDI PERBANDINGAN SOIL NAILING DAN GABION UNTUK PERKUATAN LERENGPASCA LONGSOR: Studi Kasus Jalan Raya Gumitir KM 233+550, Jember-Banyuwangi, Indonesia Paksitya Purnama Putra; Anisa Umi Tressiana; Indra Nurtjahjaningtyas
Jurnal ARTESIS Vol. 6 No. 1 (2026): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/6f12m293

Abstract

Fenomena longsor merupakan bencana geoteknik yang sering terjadi di daerah tropis, termasuk Indonesia. Salah satu kejadian longsor yang terjadi pada Jalan Raya Gumitir KM 233+550 pada Juli 2023 mengancam kestabilan lereng yang vital bagi infrastruktur transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas lereng pasca longsor dan membandingkan efektivitas metode perkuatan soil nailing dan gabion. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis stabilitas lereng menggunakan perangkat lunak geoteknik berbasis Limit Equlibrium Method, dengan data sekunder berupa data boring dan Standard Penetration Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng pada kondisi eksisting memiliki faktor keamanan 0,944, yang menandakan kondisi kritis. Setelah perkuatan dengan soil nailing, faktor keamanan global meningkat menjadi 1,917, menunjukkan bahwa lereng berada dalam kondisi aman. Sementara itu, perkuatan gabion menghasilkan faktor keamanan 1,562, yang masih memenuhi kriteria aman meskipun lebih rendah dibandingkan soil nailing. Berdasarkan hasil analisa, dapat disimpulkan bahwa kedua metode perkuatan efektif, namun soil nailing lebih direkomendasikan untuk meningkatkan kestabilan lereng pada lokasi vital dengan risiko longsor tinggi. Penelitian ini memberikan rekomendasi teknis untuk memilih metode perkuatan yang sesuai dengan kondisi lapangan dan tingkat risiko, dengan mempertimbangkan faktor keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan.