Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares Bonnatere 1788) DI TELUK TOMINI Siti Mardlijah; Mufti Petala Patria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 4, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2927.564 KB) | DOI: 10.15578/bawal.4.1.2012.27-34

Abstract

Penelitian biologi reproduksi bertujuan untuk mengetahui perkembangan gonad dan panjang pertama kali matang gonad ikan madidihang yang tertangkap di perairan Teluk Tomini. Jumlah sampel telur sebanyak 74 contoh dan sampel testes sebanyak 90 contoh dikumpulkan melalui tempat pendaratan ikan di Marisa, Gorontalo pada tahun 2007. Tingkat kematangan gonad diamati secara visual dan pembuatan preparat histologis serta analisis Gonado Somatic Index (GSI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemijahan ikan madidihang diperkirakan terjadi pada bulan Desember dan panjang pertama kali matang gonad pada ukuran 94 cm FL. Nisbah kelamin ikan madidihang jantan dan betina adalah seimbang. The objective of research on reproductive biology of yellowfin tuna is to study  gonad development and its length at first maturity.Gonad development were determined through the examination of 74 yellowfin ovaries samples and 90 testes samples collected from Marisa, Gorontalo in 2007.  Gonad maturity stages were identified histologically. Sexual maturity stages was identified through visual analyzed, preparation on histology and Gonado Somatic Index (GSI). The result showed that spawning season of yellowfin tuna in Tomini Bay occured in December.Meanwhile length at first maturity at 94,8 cm FL. The ratio of males and females of yellowfin tuna is well-balanced.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson Lacepede, 1800) DI PERAIRAN TELUK KWANDANG, LAUT SULAWESI Tegoeh Noegroho; Thomas Hidayat; Umi Chodriyah; Mufti P Patria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.4 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.69-84

Abstract

Penelitian tentang aspek biologi tenggiri di Indonesia masih jarang dilakukan, padahal upaya pemanfaatannya telah lama dilakukan oleh nelayan. Ikan tenggiri di Teluk Kwandang penangkapannya dilakukan dengan alat tangkap purse seine dan pancing ulur. Data-data terkait biologi reproduksi ikan tenggiri di perairan Kwandang belum tersedia dengan baik, oleh sebab itu perlu dilakukan kajian yang lebih lengkap. Pelabuhan Perikanan Pantai Kwandang merupakan pelabuhan baru, sehingga informasi terkait perikanan tenggiri pada khususnya sangat bermanfaat dalam pendataan dan rencana pengelolaannya. Penelitian telah dilakukan pada Februari-Desember 2012 di perairan Teluk Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, dengan tujuan mengkaji aspek perikanan meliputi struktur ukuran, panjang bertama kali tertangkap dan biologi reproduksi meliputi: Tingkat Kematangan Gonad, Gonado Somatic Index (GSI), nisbah kelamin, panjang pertama kali matang gonad, diameter dan jumlah telur. Dari penelitian ini diperoleh struktur ukuran pada kisaran 25-138 cmFL, dengan rata-rata modus 60 cmFL. Panjang pertama kali tertangkap dengan purse seine dan pancing ulur masing-masing 64,7 cmFL dan 71,9 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad ikan tenggiri didominasi oleh gonad belum matang 61,2%, dan kondisi matang gonad 38,8%. Puncak Gonado Somatic Index (GSI) terjadi pada bulan Mei, sehingga ikan tenggiri di Teluk Kwandang diduga memijah pada Mei-Juli. Nilai GSI mencapai puncaknya pada panjang ikan 98 cmFL, dan akan turun pada panjang ikan lebih dari 100 cmFL. Panjang pertama kali matang gonad ikan tenggiri adalah 80,4 cmFL, pada kisaran 79,3-81,6 cmFL. Jumlah telur ikan tenggiri berkisar 417.360-9.476.520 butir pada panjang ikan 65-103 cmFL. Berdasarkan perkembangan diameter telur setiap bulan menunjukkan tipe pemijahan ikan tenggiri adalah asynchronous dengan pola pemijahan partial spawner.The study on biological aspects of spanish mackerel in Indonesia is uncommon, whereas the exploitation have been conducted historically. Spanish mackerel in the Kwandang Bay caught by purse seiner and handliner. The reproductive biology of mackerel fish in Kwandang waters was unavailable, therefore more study needed. Kwandang is a new port, so the information related to Spanish mackerel in particular is very useful in data collection and management plan. This research aims to assess biological aspect such as the size structure, the length at first captured and reproductive biology aspects (gonad maturity stage, Gonado Somatic Index (GSI), sex ratio, length at first maturity, number and diameter of oosit). The study was conducted in February-December 2012 in the Kwandang Bay waters, North Gorontalo regency. The results showed that the size structure ranged between 25-138 cmFL, with average mode 60 cmFL. The length at first capture caught (Lc) with purse seine and handline by 64,7 cmFL and 71,9 cmFL, respectively. The gonad maturity stage of the was dominated by 61,2% of immature and 38,8% of mature gonad. Gonado Somatic Index (GSI) peak was reached in May, and from this GSI value it is concluded that the Spanish mackerel spawned in May-July. The maximum GSI reached at 98 cmFL and decreased at fish length exceeded 100 cmFL. Length at first maturity (Lm) of the gonad was approximately 80,4 cmFL, within the size range between 79,3-81,6 cmFL. The number of spanish mackerel oosit ranged between 417.360-9.476.520, with size ranged between 65-103 cmFL. The monthly fluctuations of oosit diameter implied that spawning type of spanish mackerel was asynchronous with partial spawner spawning pattern.
SEBARAN DAN HUBUNGAN PARAMETER REPRODUKSI IKAN TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares) DENGAN SUHU DAN KLOROFIL-a DI LAUT BANDA Karsono Wagiyo; Ali Suman; Mufti Petala Patria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.95 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.3.2015.183-191

Abstract

Laut Banda diketahui mempunyai kondisi lingkungan yangmendukung sebagai daerah pemijahan ikan tuna madidihang (Thunnus albacares). Sebaran parameter reproduksi dan hubungannya dengan lingkungan perlu diketahui sebagai dasar pengelolaan sumberdaya yang lestari. Penelitian dilakukan tahun 2011-2012 dengan basis pendataan di Bandaneira. Pengamatan parameter reproduksi dilakukan terhadap ikan sampel melalui observasi dan enumerasi. Suhu dan klorofil-a diperoleh = dari analisis citra satelit. Penelitian mendapatkan persentase gonad matang (100 %) dan indeks kematangan gonad tertinggi (3,75) serta nisbah kelamin seimbang, secara temporal ditemukan pada bulan antara September-Desember, secara spasial ditemukan di Perairan Gunung Api dan Selatan Kepulauan Lease. Tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad meningkat terjadi pada saat suhu mulai menghangat dan klorofil-a mulai menurun. Tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad menurun terjadi pada saat awal penurunan suhu dan awal kenaikan klorofil-a.Besides known as the Banda Sea region yellowfin tuna migration (Thunnus albacares) is also a spawning area. Distribution of Reproduction parameter and their relationship with environmental parameter should be known as the basis for sustainable resource management. The reproduction parameter obtaianed by observation and enumeration. Temperature and chlorophyll-a obtained by satellite image analysis. Research gets a high percentage of the gonads mature (100%) and gonad maturity index (3,75) and a balanced sex ratio, temporally be found in the September-December, spatially found in the waters of Pulau Gunung Api and Lease Islands. The maturity level of gonads and gonadal maturation index increases occurred when the temperatures begin to warm and chlorophyll-a start to decline. The maturity level of gonads and gonadal maturation index decreases occurred at the beginning of the early drop in temperature and increase in chlorophyll-a.
Analisis Kelimpahan Mikroplastik pada Ikan Sapu-Sapu Pterygoplichthys Pardalis (Castelnau, 1855), Air, dan Sedimen di Dua Daerah Ciliwung, Jakarta Selatan Audithiya Deriano; Erwin Nurdin; Mufti Petala Patria
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 4, No 2 (2021): JKPT Desember 2021
Publisher : Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpt.v4i2.10563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan dan bentuk mikroplastik pada insang dan saluran pencernaan ikan sapu-sapu Pterygoplichthys pardalis (Castelnau, 1855) air, dan sedimen di stasiun penelitian Tanjung Barat dan stasiun penelitian MT Haryono, Ciliwung, Jakarta Selatan. Pengambilan sampel ikan dilakukan sebanyak 10 ekor dari kedua lokasi. Pengambilan sampel air dan sedimen dilakukan pada 3 titik dari kedua lokasi. Insang dan saluran pencernaan dari setiap ikan sapu-sapu diisolasi dan dihancurkan menggunakan asam nitrat kuat (HNO3 65%). Sampel air diambil 20 liter yang disaring dengan plankton net. Sampel sedimen diambil 200 gram dan dikeringkan di oven. Larutan NaCl jenuh digunakan untuk mengapungkan mikroplastik. Sampel diletakan pada Sedgwick Rafter Chamber dan mikroplastik diamati menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan mikroplastik pada stasiun penelitian Tanjung Barat, Ciliwung yaitu 5.888 ±  611,7 partikel ind-1 pada insang ikan sapu-sapu,  5.344 ± 694,8 partikel ind-1 pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu,  341,9 ±  25,9 partikel L-1 pada air,  297.600 ± 16.185 kg-1 pada sedimen. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan mikroplastik pada stasiun penelitian MT Haryono yaitu 5.835 ± 421,0 partikel ind-1 pada insang ikan sapu-sapu,  5.581 ±  472,7 partikel ind-1 pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu, 346 ±  28,4 partikel L-1 pada air, dan  316.089 ± 6883,6 kg-1 pada sedimen. Hasil Uji T Dua Sampel menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelimpahan mikroplastik pada sampel insang, saluran pencernaan, air, dan sedimen dari kedua stasiun penelitian di Ciliwung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kandungan mikroplastik di kedua stasiun tersebut.
PERAN SIPUT TEREBRALIA (Gastropoda: Potamididae) DALAM MENGURAI DAUN MANGROVE RHIZOPORA DI PULAU PANJANG, SERANG-BANTEN Selvianti Asmara Putri; Mufti Petala Patria
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 1, No 2 (2018): JKPT Desember 2018
Publisher : Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.113 KB) | DOI: 10.15578/jkpt.v1i2.7380

Abstract

Penelitian mengenai peran siput Terebralia dalam mengurai daun mangrove telah dilakukan pada bulan November hingga Desember 2013 di Pulau Panjang, Banten. Dalam penelitian ini, aktivitas penguraian daun dilakukan pada mangrove yang didominasi oleh Rhizopora sp. Lokasi penelitian terletak di bagian intertidal yang merupakan bagian mangrove yang terkena pasang surut air laut. Penelitian yang dilakukan hanya menggunakan Terebralia dewasa yaitu, Terebralia palustris > 5 cmdan Terebralia sulcata > 3 cm. Rata-rata persentase penguraian daun oleh T. palustris adalah sebesar 3,48% ± 0,18 /hari untuk R. apiculata dan 8,28% ± 0,13/hari untuk R. stylosa, sedangkanT. sulcata mengurai daun rata-rata sebesar 4,07% ± 0,12/hari untuk R. apiculata dan 4,93 % ± 0,15 /hari untuk R. stylosa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi (P= 0,985; P= 0,875) antara panjang dan berat T.palustris  dengan persentase penguraiannya. Begitu pula dengan T.sulcata, tidak ditemukan korelasi antara berat dengan laju penguraiannya. Sebaliknya, terdapat korelasi antara panjang dengan persentase penguraiannya (P = 0,016).
Karakteristik Pasang Surut Surabaya Diamati Selama 5 Tahun (2015-2020) Dina Fitriana; Mufti Petala Patria; Eko Kusratmoko
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.72856

Abstract

Badan Informasi Geospasial sudah membangun, dan mengelola 200 stasiun pasang surut di seluruh Indonesia. Salah satu lokasi stasiun pasang surut adalah di Surabaya di Dermaga PT PAL. Keberadaaan stasiun pasang surut laut Surabaya sangat penting terutama bagi Badan Informasi Geospasial dan masyarakat sekitar, karena di wilayah tersebut hanya ada satu-satunya stasiun pasang surut permanen wilayah pesisir Surabaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pasang surut laut di Surabaya yang diperoleh berdasarkan data tahun 2015-2020. Proses pengolahan data mengggunakan perangkat lunak Geomatix Geotide 3.0.23 yang menggunakan metode Least Square dalam perhitungannya. Hasil penelitian membuktikan bahwa rata-rata nilai LAT, MSL, dan HAT adalah -0.636, 1.110, 2.850 dalam satuan m (meter) yang ber-referensi ke palem pasut, sehingga ini adalah nilai muka laut yang lokal di Stasiun Surabaya. Kemudian dari perhitungan bilangan Formzal di stasiun pasang surut Surabaya diperoleh nilai 0.749 – 1.391, hal ini menjadi bukti bahwa tipe pasang surut Staisun Surabaya adalah pasang surut campuran condong ke harian ganda dengan rata-rata bilangan formzahl 1.153. Sedangkan komponen pasang surut yang paling dominan mempengaruhi Stasiun Surabaya adalah K1 dan yang memiliki pengaruh yang kecil adalah MS4.
Status and Research Gaps of Microplastics Pollution in Indonesian Waters: A Review Corry Yanti Manullang; Mufti Petala Patria; Agus Haryono; Sabiqah Tuan Anuar; Suyadi Suyadi; Rafidha Dh Ahmad Opier
Indonesian Journal of Chemistry Vol 23, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.73485

Abstract

This study is the first review of current research on microplastics (MPs) in the marine environments at the national scale in Indonesia from 2015 to 2022. This review was conducted to measure the environmental risk and highlight the waste management issue in Indonesian waters. Our literature study found that: (1) the MPs research was mainly conducted in the western part of Indonesia, especially in Java Island; (2) current research has primarily focused on coastal waters (98%) rather than the deep-sea area (2%); (3) the comparability of data is still hampered by difference in quality, about 67% of articles published have not carried out the polymer confirmation; (4) MPs concentrations reported on the articles that did not carry out the polymer identification tended to report higher MPs concentrations. Finally, we propose to have a standard guideline for MPs analysis at a national level and to do more research in the eastern part of Indonesia and deep-sea areas. Further research is required to fill research gaps on plastic distribution and density in deep-sea areas in the eastern part of Indonesia.
KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN WADUK KRENCENG, CILEGON, BANTEN Handayani, Sri; Patria, Mufti P
Makara Journal of Science Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zooplankton communities in the Krenceng Reservoair, Cilegon, Banten. This research was carried out to know the structure of zooplankton communities and relations between the phytoplankton and zooplankton in the Krenceng Reservoair, Cilegon. The zooplankton abundance with used Sedwigck Rafter Counting Method, diversity and evenness were counted. Relations between zooplankton and the environmental factors as well as its relations to phytoplankton calculated with regression. The results showed that are 13 species of the zooplankton found which including in three classes with the highest abundance on Novembers 2002 and March 2003 of the Rotifera. The analysis of regression pointed out that the environmental factors such: pH, BOD5, nitrate, CO2 and abundance of phytoplankton influence the abundance zooplankton in November. While in March, the abundance of zooplankton is influenced by brigthtness, nitrate, orthophosphates and C organic. The abundance of phytoplankton influenced positively by the abundance of zooplankton
ECONOMIC VALUATION MODEL OF VANNAME SHRIMP CULTURE AND MANGROVE REHABILITATION Mongi, Elrin Meivian Mongi; Karuniasa, Mahawan; Patria, Mufti Petala
Journal of Environmental Science and Sustainable Development Vol. 6, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The current climate change is caused by anthropogenic activities involving energy and industry usage that affect the temperature and climate of the Earth. The Paris Agreement on climate change is a commitment by some countries to act to address climate change by developing sustainably and emitting low levels of carbon dioxide (CO2). Changes in the oceans include temperature increases, acidification, and changes in currents, leading to decreased productivity in fishing and aquaculture. Integrated mangrove shrimp farming, known as silvofisheries, has been recognized as environmentally friendly cultivation. The implementation of silvofishery is a form of mangrove ecosystem management that integrates ecology and economics. An economic and ecological valuation is needed in the Vannamei shrimp farming business. Therefore, this study aims to build an economic model of mangroves and shrimp farming. The data were analyzed and simulated using Systems Dynamic. Based on Business as Usual (BAU) simulation predictions for the 2023 mangrove area of 267 hectares, the best scenario for the mangrove area of 2033 is 1,770 hectares, the total economic value of shrimp of Rp 49,300,000,000 and the total economic value of mangrove is Rp 77,175,000,000. This research results in a potential trade-off between intensive shrimp farming businesses and mangrove rehabilitation to maintain a business's sustainability and the environment's carrying capacity.
Coastal Vulnerability Assessment to Tidal (ROB) Flooding In Indramayu Coast, West Java, Indonesia Putiamini, Sepanie; Patria, Mufti Petala; Soesilo, Tri Edhi Budhi; Karsidi, Asep
Indonesian Journal of Geography Vol 55, No 3 (2023): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.65549

Abstract

Aquaculture practices in developing countries, particularly Indonesia, are currently operating without effective control measures, leading to high tidal and other climate-related issues. Therefore, this study aimed to modify Coastal Vulnerability Index (CVI) assessment to evaluate the physical vulnerability of coastal areas in Indramayu Regency, West Java (62 sections) to tidal flooding (Rob). A total of 6 primary characteristics, including geomorphology, beach slope, water level rise sea, coastline alterations, tidal range, and high tide, as well as 2 additional parameters, namely land cover and mangrove breadth, were used for analysis. Based on the evaluation, CVI was divided into four groups, including (1) low, (2) moderate, (3) high, and (4) very high. The results showed that Indramayu District struggled to recover from tidal flooding, with 24.56%, 22.13%, 41.03%, and 12.28% being placed in the very high, high, moderate, and low categories. This underscored the role of local governments in improving coastal communities' capacity to respond to tidal flooding disasters. Furthermore, the results were expected to be used by local governments to enhance disaster mitigation systems, particularly for coastal areas in developing nations with comparable ecological conditions.