Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI Streptomyces sp. TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Sclerotium rolfsii PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BATANG TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Ersyaf, Ihza Muhammad; Mujoko, Tri; Wiyatiningsih, Sri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6844

Abstract

ABSTRAK Sclerotium rolfsii adalah salah satu patogen yang tergolong penting pada tanaman kacang tanah. Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kandungan senyawa antibiotik Streptomyces sp. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penghambatan Streptomyces sp. terhadap S. rolfsii. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) skala in-vitro dan in-vivo dengan perlakuan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. terhadap pertumbuhan S. rolfsii pada skala in-vitro tetapi pada skala in-vivo aplikasi perlakuan belum sepenuhnya optimal. Aplikasi 25% menunjukkan hasil terbaik pada seluruh parameter dibanding konsentrasi lainnya pada skala in-vitro dan in-vivo.
EFEKTIVITAS Streptomyces sp. SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI CEKAMAN PESTISIDA DI PERTANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) KECAMATAN BAGOR KABUPATEN NGANJUK Lius, Michelle; Mujoko, Tri; Nirwanto, Herry
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6847

Abstract

ABSTRAK Pestisida merupakan bahan beracun yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Pengaplikasian pestisida secara langsung pada tanaman dapat meninggalkan residu yang berdampak pada kesehatan serta mengendap di dalam tanah dan menyebabkan kesuburan tanah terganggu. Bioremediasi merupakan pengembangan di bidang bioteknologi lingkungan yang memanfaatkan agen biologis untuk mengendalikan pencemaran.  Streptomyces sp. dapat menjadi agen bioremediasi yang membantu menurunkan nilai residu klorpirifos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Streptomyces sp. sebagai agen bioremediasi serta untuk mengetahui konsentrasi Streptomyces sp. yang efektif. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol atau tanpa Streptomyces sp., penambahan konsentrasi Streptomyces sp. 10 ml/100 ml aquades dan 20 ml/100 ml aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. pada tanah tercemar residu klorpirfos dengan konsentrasi 20 ml mampu menurunkan nilai residu klorpirifos sebanyak 94% yaitu dari 1.08 ppm menjadi 0.06 ppm dalam waktu 21 hari.    
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR PATOGEN Colletotrichum sp. SECARA IN VITRO Firmansyah, Moch Ryan; Purnawati, Arika; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7270

Abstract

Peningkatan permintaan cabai di Indonesia diiringi dengan tantangan produksi, salah satunya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. Penyakit ini menurunkan hasil dan kualitas buah, dan umumnya dikendalikan dengan fungisida kimia. Penggunaan fungisida kimia menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang putih sebagai agen hayati terhadap Colletotrichum sp. secara in vitro dan membandingkannya dengan fungisida propineb. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan dua faktor, yaitu jenis perlakuan (ekstrak bawang putih dan fungisida kimia) dan konsentrasi (5%, 10%, dan 15%). Parameter yang diamati meliputi diameter koloni, persentase hambatan, intensitas serangan pada buah, serta karakteristik makro dan mikroskopis jamur. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih 15% mampu menghambat pertumbuhan jamur sebesar 38.73% dan intensitas serangan sebesar 21.33%, sedangkan fungisida propineb 5% menunjukkan hambatan tertinggi sebesar 78.43% dan intensitas serangan terendah sebesar 2.67%. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki potensi antijamur. namun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan propineb.
POTENSI BIOPESTISIDA FOBIO DALAM MENEKAN PENYAKIT BERCAK DAUN (Helminthosporium oryzae) PADA TANAMAN PADI GOGO ORGANIK DI MOJOKERTO Wiyatiningsih, Sri; Eben, Philipus Wahyu Baskoro; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7358

Abstract

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium oryzae merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman padi. Terdapat strategi pengendalian dalam pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan, salah satunya menggunakan biopestisida ramah lingkungan yang dapat menekan perkembangan penyakit tanaman. Penggunaan biopestisida Fobio diharapkan mampu mengandung berbagai mikroorganisme, baik yang sengaja diisolasi dari perakaran tanaman maupun yang terkandung didalam medium pembawanya. Tujuan penelitan ini adalah mengetahui potensi berbagai konsentrasi biopestisida Fobio dalam menekan perkembangan patogen  H. oryzae penyebab penyakit bercak daun pada tanaman padi gogo organik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitan ini adalah KT sebagai kontrol (konsentrasi 0 ml/liter), FA (konsentrasi 5 ml/liter), FB (konsentrasi 10 ml/liter), FC (konsentrasi 15 ml/liter) dengan dosis 8 liter/plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula biopestisida Fobio pada konsentrasi 10 ml/liter paling efektif dalam menghambat infeksi patogen penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh H. oryzae dibanding perlakuan lainnya. Pada perlakuan ini intensitas serangan penyakit akibat H. oryzae adalah yang paling rendah, yaitu 53.47% pada 10 MST, menghasilkan bobot basah gabah 979.0 gram dan bobot kering gabah 887.33 gram.